NovelToon NovelToon
Supir Ketos Nona Manja

Supir Ketos Nona Manja

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius / Action
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Kenalkan, namaku Arkan Jaya. Aku bekerja sebagai supir di salah satu rumah orang kaya yang ada di daerahku.

Kebetulan, putri dari orang kaya tempat saya bekerja adalah orang yang sering saya hukum di sekolah dulu karena suka membuat onar.

Awalnya aku ragu untuk bekerja di rumah anak ini. Namun, karena aku terlahir miskin, mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus menerimanya.

Orang tuanya bernama Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia.
Pria itu adalah Pak Frans Sanjaya. Di sampingnya, pintu mobil lain terbuka dan muncul sosok wanita anggun yang tak lain adalah Bu Sofia, ibunya. Hari itu adalah kali pertama aku melihat langsung kedua orang tua Clara secara jarak dekat. Aku yang saat itu hanya seorang Ketua OSIS dari keluarga biasa, tentu tidak pernah membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian, Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia-lah yang akan membayar gajiku sebagai supir pribadi putri manja mereka ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Penyekapan dan Strategi Umpan

Derap langkahku melangkah se pelan mungkin, menyusuri dinding luar gudang tua yang sudah dipenuhi lumut dan lapisan karat. Debu tipis dan aroma besi tua yang menyengat langsung menyergap indra penciumanku. Aku mematikan mesin motor butut ku beberapa puluh meter di balik rimbunnya semak belukar agar deru mesinnya tidak memancing kecurigaan para pelaku.

Dari celah dinding seng yang berlubang dan jendela kaca yang sudah pecah, aku mengintip ke dalam area tengah gudang.

Pandanganku langsung tertuju pada sebuah kursi kayu tua di tengah ruangan. Di sana, tubuh Clara terikat erat dengan tali tambang tebal, kedua tangannya dibelit di belakang sandaran kursi, dan mulutnya ditutup isolasi hitam tipis. Wajah cantiknya pucat pasi, matanya masih terpejam rapat akibat pengaruh obat bius yang diberikan saat berada di dalam mobil tadi.

Di sekeliling Clara, berdiri sekitar sepuluh pria bertubuh kekar dengan wajah beringas dan pakaian serba gelap. Salah satu dari mereka—pria bertopi hitam yang membawa mobil tadi—sedang menggenggam ponsel pintar, mengarahkan kameranya ke arah Clara yang tak berdaya.

"Ambil foto dari angle sini! Biar bapaknya langsung panik melihat anak kesayangannya sudah tidak berkutik!" perintah seorang pria bertubuh paling besar yang tampaknya merupakan ketua dari komplotan penculik ini.

Pria bertopi itu merekam video singkat yang memperlihatkan kondisi Clara, lalu menekan tombol panggil pada layar ponselnya. Dia memasang mode speaker agar seluruh kawanannya bisa mendengar pembicaraan tersebut. Suara nada dering berbunyi beberapa kali sebelum akhirnya terdengar suara berat dan cemas dari seberang telepon.

"Halo? Ini siapa?!" suara Pak Frans Sanjaya terdengar gemetar namun berusaha tetap tegas.

"Halo... apa benar ini dengan Pak Frans Sanjaya yang terhormat?" tanya si ketua penculik dengan nada suara berat yang dibuat-buat dan dipenuhi intimidasi.

"Iya, benar! Saya Frans Sanjaya! Siapa Anda dan ada keperluan apa telepon saya?!"

Tanpa menjawab pertanyaan itu, si ketua penculik langsung mengirimkan foto dan rekaman video kondisi Clara melalui pesan singkat. Suasana hening sejenak, disusul suara hembusan napas panik dan seruan tertahan dari Pak Frans di seberang telepon.

"Clara?! Apa yang sudah kalian lakukan pada putri saya?! Jangan macam-macam kalian!" bentak Pak Frans, nada suaranya diliputi kepanikan luar biasa.

"Dengar baik-baik, Pak Tua!" potong si ketua penculik dengan suara dingin yang kejam. "Kalau Bapak mau putri kesayangan Bapak ini pulang dalam keadaan bernapas dan selamat tanpa lecet sedikit pun, cepat siapkan satu unit mobil Pajero Sport keluaran terbaru dan uang tunai sebesar dua puluh miliar rupiah!"

"Dua puluh miliar?! Dengarkan saya, saya akan siapkan uang dan mobilnya sekarang juga, tapi tolong jangan sentuh atau sakiti anak saya sedikit pun!" ratap Pak Frans penuh kepasrahan seorang ayah.

"Bagus! Kami beri waktu tiga jam! Dan ingat satu hal paling penting..." Si ketua penculik mendekatkan wajahnya ke ponsel, memberikan gertakan Pamungkas. "Jangan coba-coba menghubungi polisi atau melapor pada siapa pun! Kalau sampai saya melihat ada anggota polisi yang mendekat ke kawasan ini... Bapak tahu sendiri akibatnya!"

Untuk makin menakut-nakuti Pak Frans, si ketua penculik mengisyaratkan anak buahnya untuk mendekati Clara. Salah satu pria dengan berani mengarahkan tangannya, menyentuh bagian dada Clara yang sedang pingsan, lalu memfoto momen kurang ajar tersebut untuk dikirimkan sebagai ancaman tambahan.

"Bangsat kalian! Jangan sakiti putri saya! Iya, saya turuti semua kemauan kalian!" teriak Pak Frans histeris sebelum si penculik secara sepihak mematikan sambungan telepon tersebut.

Gelak tawa puas membahana di dalam gudang tua yang sepi itu. "Hahaha! Mudah sekali menguras uang orang kaya! Tiga jam lagi kita semua bakal jadi miliarder mendadak!" seru si ketua penculik disambut sorak-sorai sembilan anak buahnya.

Di balik dinding seng, tanganku mengepal erat hingga buku-buku jariku memutih. Menyaksikan tindakan kurang ajar mereka pada Clara membuat darahku berdesir hebat menahan amarah. Namun, aku sadar penuh bahwa mengandalkan emosi semata adalah tindakan bunuh diri. Jumlah mereka sepuluh orang bertubuh kekar, sedangkan aku hanya seorang diri. Aku harus menggunakan otak, bukan sekadar otot.

Aku mundur beberapa langkah perlahan, merogoh saku celanaku, lalu mengambil ponsel milikku. Nama pertama yang terlintas di kepalaku untuk dimintai bantuan adalah Egi. Hanya dia orang yang paling bisa ku percaya dalam situasi hidup dan mati seperti ini.

Panggilanku langsung diangkat pada deringan kedua.

"Halo, Kan? Kamu di mana? Kok belum balik ke rumah?" tanya Egi santai dari seberang telepon.

"Gi, dengarkan aku baik-baik dan jangan potong perbincanganku," bisikku cepat dengan nada sangat serius.

"Clara Adelin diculik. Aku mengikutinya sampai ke gudang tua terabaikan di kawasan industri ujung kota. Ada sepuluh orang penculik di dalam. Aku butuh bantuanmu sekarang juga!"

Suasana di seberang telepon mendadak hening sejenak sebelum suara Egi berubah menjadi sangat tegang. "Kamu serius, Arkan?! Jangan bercanda soal begini!"

"Aku tidak bercanda, Egi! Cepat datang ke sini bawa mobil bak galon kita. Tapi jangan lewat jalan utama, masuk dari lorong samping. Aku sudah punya rencana untuk memecah konsentrasi mereka."

"Oke! Sepuluh menit lagi aku sampai! Bertahan di sana, jangan bertindak nekat sendirian!" pesan Egi tegas sebelum mematikan telepon.

Sambil menunggu kedatangan Egi, aku kembali mengamati posisi kesepuluh penculik itu. Lima orang berkumpul di dekat Clara sambil merokok dan minum-minum, sementara tiga orang berjaga di area tengah, dan dua orang lainnya berdiri di dekat pintu masuk utama gudang.

Sepuluh menit kemudian, suara halus roda mobil bak yang bergulir di atas tanah berbatu terdengar dari lorong samping. Egi menghentikan mobilnya di balik pepohonan rindang, lalu merangkak mendekat menghampiriku.

"Bagaimana situasinya, Kan?" bisik Egi dengan napas agak terengah-engah.

"Mereka ada sepuluh orang, Gi. Rencananya begini: kamu urus dan pancing orang-orang yang berjaga di depan, buat keributan supaya perhatian mereka teralih ke luar. Aku akan masuk lewat pintu belakang yang jebol untuk melumpuhkan sisanya dan menyelamatkan Clara."

Egi menatapku mantap, menyunggingkan senyum tipis yang penuh percaya diri. "Oke, sip! Kamu tenang saja, urusan memancing dan membereskan orang-orang di depan serahkan padaku. Tapi kamu harus hati-hati di dalam, Arkan!"

"Pasti, Bro. Hati-hati juga," balasku sambil menepuk bahunya.

Egi kembali ke mobil bak galonnya, mengambil sebuah galon kosong di bagian belakang, lalu melangkah santai menuju pintu depan gudang seolah-olah sedang mengantarkan pesanan seperti biasa.

"Galon...! Galon air isi ulang! Permisi, ada yang pesan galon air di sini?!" teriak Egi dengan suara yang sangat keras dan mantap, menggema di pelataran gudang yang sepi.

Dua penculik yang berjaga di depan pintu langsung tersentak kaget. Mereka saling pandang dengan raut wajah heran bercampur amarah, lalu melangkah keluar sambil memegang pipa besi di tangan mereka.

"Heeeh! Siapa kamu?! Nggak ada yang pesan galon air di sini! Pulang kamu, Anjing! Jangan cari gara-gara di sini!" bentak salah satu penculik bertato ular dengan muka sangat beringas.

Egi menyeringai santai, tetap memegang galon kosongnya dengan rileks. "Santai dong, Bang... Jangan galak-galak begitu. Siapa tahu bos kalian di dalam haus butuh minum."

"Banyak bacot kamu, Bocah!" jerit penculik bertato itu emosi. Dia melangkah maju dengan cepat, mengayunkan tinju kerasnya mengarah tepat ke wajah Egi.

Namun, ada satu hal penting yang sama sekali tidak diketahui oleh para penculik bodoh ini: sebelum menjadi supir pengantar galon air, Egi adalah mantan atlet Taekwondo tingkat provinsi yang pernah meraih sabuk hitam dan menyabet berbagai medali emas!

Sret!

Dengan gerakan refleks yang sangat cepat, Egi memiringkan kepalanya sedikit mengelak dari pukulan itu. Sebelum si penculik sempat menarik kembali tangannya, Egi memanfaatkan momentum tersebut dengan melayangkan satu tendangan memutar yang sangat cepat dan bertenaga—Dollyo Chagi—tepat mengenai dagu si penculik bertato!

Brak!

Pria bertubuh kekar itu langsung terpelanting ke belakang, menghantam tanah keras dan pingsan seketika dalam sekali serangan kilat!

1
Alissia
hai thor🤭🤭🤭🤭
Markario Putra: malas nih,kok cerita aku nggak ada yang mau baca sih
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!