NovelToon NovelToon
Kapten Hatiku

Kapten Hatiku

Status: tamat
Genre:Asmara / Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

Keira Liem cuma mau hidup tenang.
Setelah dikhianati mantan pacar dan dijebak rekan kerja, pilot muda ini nyaris kehilangan segalanya—karier, reputasi, bahkan harga diri. Satu-satunya jalan keluar? Nikah siri dengan pria asing yang ditemuinya di parkiran bawah tanah SCBD di malam terburuk hidupnya.
Pria itu bilang namanya Kai. Katanya pengangguran. Senyumnya menyebalkan, mulutnya pedas, tapi entah kenapa... Keira merasa aman di dekatnya.
Yang tidak Keira tahu: "Kai" adalah Kaizan Tanujaya—CEO Nusantara Airlines, pewaris konglomerat Tanujaya, dan legenda penerbangan yang fotonya sudah ditempel Keira di dinding kamar sejak SMA.
Setiap hari, Keira memuja Kapten Kaizan Tanujaya di kantor.
Setiap malam, Keira memarahi "suami kontrak pengangguran"-nya di rumah.
Mereka adalah orang yang sama.
Dan Kaizan? Dia menikmati setiap detiknya.
Tapi rahasia tidak bisa bertahan selamanya. Ketika topeng terbuka, ketika masa lalu yang kelam menyerang, ketika satu-satunya orang yang pernah membuatnya jatuh cinta berbalik pergi—Kaizan harus membuktikan bahwa cinta yang dimulai dari kebohongan bisa menjadi hal paling nyata di hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21

Saingan Baru

"Keira Liem," jawab staf yang kartunya baru dikembalikan.

Kevin mengulang nama itu pelan. "Pilot?"

"Iya. Nilai evaluasinya paling tinggi kuartal ini."

Keesokan paginya, Kevin sudah berdiri di luar ruang briefing dengan dua gelas kopi. Kali ini tidak ada kamera di belakangnya.

"Selamat pagi, Keira."

Keira melihat jam dinding, lalu wajahnya. "Kita kenal?"

"Kemarin kamu menyelamatkan kartu identitas staf saya. Kevin Liauw."

"Saya ingat kartunya."

Kevin tertawa. Dia menyodorkan salah satu gelas. "Americano tanpa gula. Kata staf kantin, pilot biasanya memilih itu sebelum penerbangan pagi."

"Terima kasih, tapi saya tidak menerima minuman terbuka sebelum bertugas."

Tangan Kevin berhenti di udara. Bukannya tersinggung, dia memandang tutup gelas yang tidak bersegel lalu mengangguk.

"Masuk akal. Saya ceroboh."

Dia memberikan kedua gelas kepada petugas kebersihan di ujung lorong dan kembali dengan tangan kosong.

"Sekarang boleh berkenalan?"

"Tergantung tujuanmu."

"Aku tertarik padamu."

Keira tidak siap menghadapi kejujuran secepat itu. Dua teknisi yang lewat melambatkan langkah.

"Kita bahkan belum bicara lima menit."

"Berarti aku punya banyak waktu untuk memperbaiki kesan pertama."

"Aku tidak sedang mencari hubungan."

"Aku dengar. Aku tidak akan mengganggu saat kamu bekerja."

Kevin menepati kalimat itu selama tiga hari. Dia tidak mengirim bunga ke kokpit, tidak menunggu di pintu ruang kru, dan tidak memakai nama keluarganya untuk meminta jadwal Keira. Namun setiap kali mereka bertemu di area umum, dia selalu menyapa. Kadang dia mengirim tautan video keselamatan penerbangan untuk meminta pendapat. Kadang dia hanya bertanya apakah Mochi benar-benar sebesar yang terlihat di foto layar ponselnya.

Pada pertemuan kedua, dia membawa kopi kemasan yang masih bersegel lengkap dengan struk. Keira tetap menolak karena sedang menuju simulator. Kevin tidak memaksa dan meminumnya sendiri.

Pada pertemuan ketiga, Kevin menunjukkan potongan video tentang turbulensi yang hendak dia unggah.

"Kalimat ini salah," kata Keira setelah menonton. "Sabuk pengaman tidak menjamin penumpang tidak cedera. Fungsinya mengurangi risiko. Jangan beri kepastian palsu."

Kevin langsung meminta editor mengganti narasi. "Ada lagi?"

"Jangan gunakan cuplikan orang panik untuk hiburan."

"Baik."

Dia tidak membantah demi mempertahankan ide. Sikap itu membuat Keira sedikit menurunkan pertahanan, meski bukan dengan cara yang Kevin harapkan. Baginya, Kevin tetap mitra media yang cukup mau mendengar.

Kaizan mengetahui semuanya sebelum Keira sempat bercerita.

Di kantor pribadinya, Moreno meletakkan tablet di atas meja. "Kevin Liauw. Cucu mantan pejabat senior industri penerbangan, pembuat konten dengan 3,8 juta pengikut, tidak punya catatan pidana, tidak punya utang bermasalah, dan belum menikah."

Kaizan membaca profil itu tanpa mengubah wajah. Jam tangan anak bertali biru tampak aneh di balik manset jasnya.

"Kenapa kamu menyebut status pernikahannya?"

"Bos meminta latar belakang lengkap."

"Aku meminta risiko terhadap perusahaan."

"Tentu. Risiko itu kebetulan tampan, kaya, terkenal, dan sedang mendekati Bu Keira."

Kaizan mengangkat mata.

Moreno langsung menegakkan punggung. "Saya akan periksa kerja sama medianya dengan NusAir."

"Periksa apakah dia pernah menyalahgunakan foto kru untuk konten. Jangan sentuh keluarganya dan jangan menghalangi akses resminya."

"Bos ingin penyelidikan yang etis karena tidak cemburu. Saya paham."

"Keluar."

Masalah datang sore itu juga.

Kevin mengunggah rangkaian foto kunjungannya ke NusAir. Foto ketiga menampilkan Keira berjalan di dekat jendela koridor, seragam rapi, rambut disanggul, cahaya hanggar jatuh di sisi wajahnya. Dia bukan latar yang kebetulan. Fokus kamera jelas berada padanya.

Keterangan fotonya berbunyi: Ada orang yang membuat langit terlihat lebih dekat.

Dalam dua puluh menit, foto itu sudah masuk grup percakapan karyawan.

"Keira, kamu kenal Kevin Liauw?"

"Dia memotret kamu khusus, kan?"

"Komentarnya sudah tiga belas ribu!"

Keira menutup pintu loker lebih keras dari yang diperlukan. "Aku tidak pernah mengizinkan foto itu."

Dia menelepon Kevin di depan rekan-rekannya.

"Hapus."

Di seberang, musik latar langsung berhenti. "Foto yang di koridor?"

"Iya. Seragamku terlihat, lokasi kerja terlihat, dan kamu tidak meminta izin."

"Kamu benar. Aku minta maaf. Fotografer saya mengambilnya saat dokumentasi, tapi saya yang memilih untuk mengunggah. Itu kesalahan saya."

"Tolong jangan jadikan aku bahan konten lagi."

"Tidak akan. Beri aku dua menit."

Foto tersebut hilang sebelum dua menit berakhir. Kevin mengunggah koreksi tanpa menyebut nama Keira: satu foto telah dihapus karena dipublikasikan tanpa persetujuan subjek. Tanggung jawab sepenuhnya ada pada saya.

Permintaan maaf itu menghentikan tuduhan bahwa Keira sengaja mencari perhatian. Namun tangkapan layar sudah menyebar, dan tatapan orang di lorong tidak ikut terhapus.

Keira tetap mengirim laporan singkat kepada komunikasi perusahaan. Dia tidak meminta Kevin dilarang masuk, hanya meminta aturan persetujuan foto kru diberlakukan pada seluruh mitra konten. Sore itu, tim komunikasi mengedarkan formulir izin gambar dan menetapkan area mana yang tidak boleh direkam.

Kevin menandatangani aturan baru tanpa menggunakan hubungan keluarganya untuk protes.

"Aku salah," katanya saat berpapasan dengan Keira. "Meminta maaf tidak menghapus dampaknya. Mulai sekarang, kamu yang menentukan apakah kamera saya boleh mengarah padamu."

"Bagus. Berlakukan itu kepada semua orang, bukan hanya aku."

"Sudah."

Keira mengangguk. Kesalahan tersebut selesai secara prosedural. Gosipnya belum.

Malamnya, Kai sedang memotong sayur ketika Keira pulang.

"Kamu lihat foto itu?" tanyanya.

"Foto apa?"

"Bagus. Tidak perlu tahu."

Pisau di tangan Kai berhenti sepersekian detik. "Kevin Liauw?"

Keira menaruh tas. "Katanya tidak tahu."

"Moreno mengirim berita perusahaan."

"Ko Moreno rajin sekali mengirim gosip kepadamu."

"Dia peduli pada keselamatan informasi."

Keira duduk di kursi dapur. "Kevin sudah menghapus dan meminta maaf. Selesai."

"Dia mendekatimu selama tiga hari."

"Ko Moreno juga melaporkan itu?"

Kai membuang potongan wortel ke mangkuk dengan tenaga berlebihan. "Orang seperti Kevin selalu punya tujuan."

"Tujuannya jelas. Dia bilang tertarik."

"Lalu jawabanmu?"

Keira menahan senyum. "Kenapa kamu ingin tahu?"

"Karena aku suamimu."

"Suami enam bulan yang bilang tidak mencampuri perasaan masing-masing."

Kaizan tidak punya jawaban yang tidak membongkar isi hatinya. Dia kembali memotong sayur, kali ini terlalu tipis.

"Aku sudah bilang tidak mencari hubungan," kata Keira akhirnya.

Pisau itu berhenti.

"Kepada Kevin?"

"Kepada siapa lagi? Mochi?"

"Kalimat itu tidak sama dengan menolak dia."

"Kalau aku bilang aku sudah punya seseorang, kamu akan berhenti menghancurkan wortel?"

Kaizan melihat irisan tipis yang hampir transparan. "Mungkin."

Keira mengambil satu potong dan memasukkannya ke mulut. "Kalau begitu, belajar sabar."

Seminggu setelah pertemuan pertama, NusAir mengumumkan program team building di Yogyakarta. Keira menerima undangan resmi dari bagian SDM, disusul pesan pribadi dari Kevin.

Aku ikut sebagai mitra konten acara. Datang, ya? Aku janji tidak ada foto tanpa izin.

Keira sedang mengisi formulir ketika ponselnya bergetar di meja. Kai duduk di seberang, memeriksa daftar belanja sambil memegang pena.

Layar menyala. Nama Kevin dan seluruh pesan terlihat jelas.

Terdengar bunyi kecil.

Pena di tangan Kai patah menjadi dua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!