NovelToon NovelToon
Salah Pintu, Menikahi Sang Pewaris

Salah Pintu, Menikahi Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / CEO / Psikopat itu cintaku
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sasi

Selama tujuh tahun, Keira Halim mencintai Rafael Atmadja sambil membiarkan pekerjaannya dicuri, rasa sakitnya diremehkan, dan tubuhnya disebut rusak. Malam ketika Rafael mempermalukannya di depan para mitra bisnis demi membela Celine Hartono, sentuhan paksa seorang klien memicu serangan panik yang nyaris membuat Keira kehilangan kesadaran. Kali ini ia tidak memohon untuk dipercaya. Ia mengembalikan cincin pertunangannya, pergi, lalu mengetuk pintu yang salah.
Pria di balik pintu itu adalah Adrian Wijaya—dingin, penuh rahasia, tetapi tidak pernah menyentuh Keira tanpa izin. Di dekatnya, tubuh Keira yang selalu siaga akhirnya bisa bernapas. Dalam waktu empat puluh delapan jam, mereka menyepakati batas, menandatangani perjanjian harta dan berita acara di hadapan saksi, lalu mencatatkan pernikahan mereka secara resmi. Bagi Keira, itu adalah jalan keluar. Bagi Adrian, pernikahan tersebut jauh lebih pribadi daripada yang berani ia akui.
Ketika Keira membangun Lentera Brand Lab dan merebut kembali namanya, Rafael mulai menyadari perempuan yang telah ia sia-siakan tidak akan pernah pulang. Namun penyesalan sang mantan berubah menjadi kepanikan saat identitas Adrian terbuka: suami “biasa” Keira ternyata pengendali Asterion Capital sekaligus pewaris keluarga Wijaya.
Di tengah perang reputasi, sebuah jam saku lama mengungkap bahwa Keira bukan yatim piatu tanpa asal-usul. Ia adalah satu-satunya penyintas keluarga Halim, pewaris aset lintas negara, dan saksi hidup pembunuhan sembilan belas orang yang selama ini ditutupi keluarga Atmadja. Untuk merebut kembali warisan dan nama keluarganya, Keira harus menghadapi pria berjari pendek dari ingatannya, membongkar perusahaan pencemar, dan memastikan para pelaku diadili—tanpa membiarkan cinta Adrian berubah menjadi sangkar baru.
Karena kali ini, Keira tidak sedang menunggu seorang pria menyelamatkannya. Ia sedang memilih siapa yang boleh berjalan di sisinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 13

Rem yang Hampir Putus

"Jangan sentuh mobilnya," kata Keira.

Felix berdiri di samping pilar parkir, dua meter dari mobil Keira. Senter kecilnya mengarah ke noda hitam di dekat roda, tetapi tangannya tidak lagi mendekat.

"Saya hanya melakukan pemeriksaan visual," katanya. "Saat melihat sealant tidak wajar, saya berhenti."

Keira menghubungi polisi dari tempatnya berdiri. Adrian meminta pengelola gedung menutup akses ke dua petak di sekeliling, tetapi tidak memerintahkan siapa pun membongkar kendaraan.

Rani Wibowo tiba lima belas menit kemudian. Ia memperkenalkan diri sebagai koordinator keamanan perempuan yang akan menjadi kontak langsung Keira.

"Saya bisa menunggu di sini bersama Ibu," katanya. "Pak Felix menangani komunikasi gedung. Tidak ada yang akan menyentuh kendaraan sebelum petugas datang."

"Panggil saya Keira."

"Baik, Keira."

Garis polisi dipasang setelah petugas tiba. Seorang penyidik memotret mobil dari empat sisi, kondisi lantai, posisi roda, noda sealant, dan jalur kamera terdekat. Nomor foto serta waktu pengambilan dicatat sebelum kap mobil dibuka oleh teknisi yang ditunjuk dalam pengawasan polisi.

"Selang minyak rem ini disayat sebagian," kata teknisi. "Belum putus saat mobil diam. Sealant menutup luka sementara. Setelah panas dan tekanan meningkat, cairan bisa bocor dan daya pengereman turun mendadak."

Keira melihat garis hitam yang tampak kecil di layar dokumentasi. Pagi tadi ia hampir membawa mobil itu ke Bandung.

Lututnya mengunci.

"Merah atau kuning?" tanya Rani tanpa menyentuh.

"Kuning. Jangan tutup pandanganku."

Rani bergeser agar Keira tetap melihat pintu keluar. Adrian berada di sisi lain garis polisi. Ia tidak mendekat sampai Keira mengangkat telapak hijau.

"Kamu mau pulang dulu?" tanyanya.

"Tidak. Ini mobilku dan laporanku."

Petugas meminta keterangan awal. Keira menjelaskan kapan terakhir memakai mobil, siapa yang memiliki kunci, dan bahwa kendaraan diparkir sejak pertemuan dengan Theresia. Felix menyerahkan log keamanan serta jadwal pemeriksaan tanpa menghapus nama staf.

Seorang remaja berjaket pengantar makanan mengamati dari dekat lift. Ia beberapa kali melihat mobil, lalu hendak pergi.

"Tunggu," kata Keira, bukan mengejarnya. "Apa kamu melihat sesuatu?"

Remaja itu menelan ludah. "Kemarin ada orang jongkok di sana. Saya kira montir."

Petugas mendekat. "Namamu?"

"Dimas Saputra."

"Umur?"

"Enam belas."

Begitu mendengar usia itu, penyidik menghentikan pertanyaan rinci. Dimas hanya diminta memberi nomor wali dan menunggu di ruang keamanan terbuka. Rani memastikan tidak ada staf proyek yang memotretnya.

"Kamu tidak perlu menghadapi orang yang kamu lihat," kata Keira. "Sampaikan hanya yang benar-benar kamu ingat kepada petugas setelah walimu datang."

Ibu Dimas tiba hampir satu jam kemudian. Penyidik menjelaskan hak mereka, tujuan permintaan video, dan bahwa identitas anak tidak akan diberikan kepada media. Setelah persetujuan wali dan prosedur ramah anak dipenuhi, Dimas memberikan keterangan.

"Saya mengantar pesanan ke lantai tujuh," katanya. "Waktu kembali, pria itu menutupi tangan kanan. Tapi saat mengambil alat, saya lihat dua jarinya pendek."

"Apakah kamu mengenali wajahnya?" tanya penyidik.

"Tidak jelas. Dia pakai topi dan masker."

"Apakah dia bicara denganmu?"

"Tidak."

Dimas memakai kamera kecil di helm karena pernah ditabrak saat bekerja. Rekaman asli masih berada di kartu memori. Polisi mendokumentasikan perangkat, membuat salinan forensik, mencatat hash, lalu mengembalikan helm setelah kartu pengganti disiapkan sesuai persetujuan wali.

Dalam video, seorang pria bertopi berjalan dari mobil Keira menuju sedan hitam. Wajahnya tidak terlihat penuh. Tangan kanannya tampak sesaat ketika membuka pintu.

Plat kendaraan terbaca pada tiga bingkai.

Pemeriksaan awal menunjukkan mobil terdaftar atas nama perusahaan pemasok acara yang pernah bekerja untuk Hartono Group.

"Berarti Celine menyuruhnya," kata Adrian.

Keira menoleh tajam. "Tidak. Berarti kendaraan terkait pemasok Hartono. Itu saja yang kita tahu."

Adrian mengoreksi diri. "Benar."

Penyidik mencatat hubungan itu sebagai jalur pemeriksaan, bukan kesimpulan. Perusahaan pemilik kendaraan akan diminta menyerahkan daftar pengguna dan GPS jika tersedia melalui prosedur yang sah.

Mobil Keira diangkat ke truk derek resmi. Selang rusak, sisa sealant, cairan, dan bagian terkait akan diperiksa tanpa melepaskan rantai penguasaan. Keira hanya menerima nomor laporan dan daftar barang yang diamankan.

Teknisi menjelaskan bahwa sayatan tidak menjamin rem langsung gagal saat mesin dinyalakan. Bahayanya justru tersembunyi: sealant dapat bertahan ketika mobil diam, lalu terlepas setelah selang menerima panas, getaran, dan tekanan berulang. Karena itu tidak ada seorang pun mencoba mengemudikan mobil untuk “membuktikan” kerusakan. Pengujian dilakukan di fasilitas pemeriksaan dengan penampung cairan dan dokumentasi video.

Polisi juga mengambil sampel sealant dari bagian yang menempel tanpa menyatakan merek atau pembelinya. Komposisi kimia hanya dapat dibandingkan jika kelak ada barang pembanding yang diperoleh secara sah. Keira meminta kalimat itu dicantumkan agar tidak ada tim pribadi yang mencoba membeli semua produk serupa lalu menuduh orang berdasarkan kecocokan biasa.

Di kantor polisi terdekat, Rani duduk di sisi Keira saat berita acara dibacakan ulang. Setiap kata yang terlalu pasti dikoreksi.

Pak Hendrik datang membawa tiga map berbeda. Ia tidak mencampur laporan perusakan kendaraan dengan sengketa kerja atau foto lama Villa Dago.

"Peristiwa hari ini dilaporkan sebagai dugaan sabotase kendaraan," katanya. "Rekaman Dimas menjadi bahan perkara ini. Foto Matius, fax Antonius, dan riwayat Sagara diserahkan sebagai informasi hubungan yang masih perlu diuji, bukan ditempelkan agar laporan terlihat lebih besar."

Keira meminta salinan daftar barang dan nomor petugas penerima. Mobil memiliki nomor segel sendiri. Potongan gambar dari kamera helm diberi nomor lain. Rekaman gedung tetap dikuasai pengelola, yang menerima surat pelestarian agar data tidak tertimpa otomatis.

"Bagaimana dengan ponsel atau perangkat Dimas?" tanya Keira.

"Tidak ada alasan mengambil ponselnya," jawab penyidik. "Yang relevan kartu kamera. Kami sudah membuat citra, mengembalikan perangkat, dan mencatat persetujuan wali. Jika diperlukan pemeriksaan lanjutan, kami hubungi melalui ibunya."

Ibu Dimas menandatangani tanda terima. Rani memberi mereka nomor kontak perlindungan saksi anak tanpa menjanjikan hadiah atau meminta Dimas mencari pria itu lagi.

"Besok dia tetap sekolah," kata ibunya tegas.

"Ya," jawab Keira. "Dia tidak bekerja untuk kami dan tidak perlu melakukan apa pun lagi."

Hendrik juga meminta agar nama dan wajah Dimas disamarkan pada salinan yang beredar di luar berkas terbatas. Tidak ada seorang pun dari tim Adrian yang menyimpan video mentah di ponsel pribadi.

"Saya tidak melihat pelaku," kata Keira. "Saya menerima keterangan saksi. Jangan tulis saya mengenali Matius."

Petugas mengubah kalimat itu.

Adrian menyerahkan foto Matius dari arsip digital melalui pengacaranya. Ketika Keira melihat tanggal file, amarahnya kembali.

"Kamu sudah memiliki foto ini sebelum rekaman Lentera."

"Ya."

"Dan kamu hanya bilang ada petugas bernama Matius."

"Gambarnya buram. Aku tidak yakin ciri tangannya sama."

"Kamu masih tidak mengerti." Keira menahan suaranya agar tidak mengganggu meja lain. "Kepastian boleh menunggu. Informasi bahwa foto itu ada tidak boleh disembunyikan."

"Aku meminta maaf."

"Maaf tidak mengembalikan kesempatan yang kamu ambil dariku untuk menilai sendiri."

Adrian meletakkan daftar log arsip di meja. "Ada tujuh bahan yang belum kubagikan penuh. Tiga terikat perjanjian kerahasiaan sumber, dua belum diverifikasi, satu foto buram Matius, dan satu memo tentang Amara."

"Aku baru tahu jumlahnya sekarang."

"Ya. Itu kesalahanku."

"Kirim daftar tujuhnya malam ini. Untuk bahan yang belum bisa dibuka, tulis siapa pemilik haknya dan langkah apa yang diperlukan. Jangan memakai kalimat 'demi keselamatanmu' tanpa menjelaskan bahayanya."

"Aku akan melakukannya."

"Dan jangan mengirim Felix untuk meminta aku pulang."

Felix yang berdiri dekat pintu langsung berkata, "Saya tidak akan menghubungi Ibu tanpa permintaan langsung atau keadaan darurat yang terukur."

Keira menatapnya. "Terima kasih."

Adrian berdiri tanpa mendekat. "Apa yang kamu butuhkan sekarang?"

"Satu jam tanpa kamu."

Wajahnya menegang, tetapi ia mengangguk. "Rani bisa mengantarmu?"

Keira menoleh kepada Rani. "Kamu bersedia?"

"Ya."

"Aku pulang dengannya. Kamu kirim semua bahan yang pernah kamu tahan kepada Pak Hendrik malam ini. Jangan menungguku tenang agar isinya terlihat lebih baik."

"Akan kukirim."

Rani mengambil kunci kendaraan operasional. Adrian tidak menghalangi jalan atau memakai kekhawatiran sebagai alasan untuk memaksa satu mobil.

Sebelum berangkat, Rani menjelaskan perubahan keamanan untuk persetujuan Keira. Kendaraan pengganti akan diperiksa oleh teknisi berbeda setiap pergantian giliran. Rute tidak dibagikan di grup umum. Lokasi hanya diteruskan kepada petugas yang sedang bertugas. Keira tetap dapat menolak pengawalan, kecuali ada ancaman langsung yang sudah dicatat dan harus dijelaskan kepadanya.

"Saya mau satu pengemudi perempuan untuk tiga hari ke depan," kata Keira. "Setelah itu kita evaluasi. Tidak ada petugas masuk ke ruang terapi, rapat klien, atau kamar saya."

"Disetujui," kata Rani. "Saya tulis batas waktunya."

"Kamera rumah?"

"Hanya area luar dan akses bersama. Tidak ada kamera di kamar atau ruang privat."

Keira menandatangani rencana sementara. Adrian mendapat salinan yang sama, tetapi tidak diberi hak mengubahnya sendirian.

Saat Keira hendak keluar dari kantor polisi, penyidik memanggilnya kembali.

"Ada barang tambahan dari pemeriksaan bawah kendaraan."

Di layar dokumentasi terlihat sebuah gesper logam kecil yang tersangkut dekat rangka. Petugas belum menyatakan apakah benda itu milik pelaku atau sudah lama berada di sana.

Namun satu ukiran masih terbaca di permukaannya.

Nomor itu difoto dengan skala ukur dan belum dibersihkan.

Kode aset gudang lama Aruna Vista.

1
Hary Nengsih
bahasa nya susah ngerti tapi penasaran
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!