NovelToon NovelToon
Menantu Yang Tak Pernah Dianggap

Menantu Yang Tak Pernah Dianggap

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:554
Nilai: 5
Nama Author: Tina Mehna 2

Kupikir menikah dengan pria yang kucintai adalah awal dari kehidupan yang bahagia. Namun, aku tidak pernah menyangka bahwa musuh terbesarku justru tinggal serumah denganku.
Mertuaku menganggapku hanya menumpang hidup. Aku dipaksa mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, difitnah di depan tetangga, diperas secara materi, bahkan harga diriku diinjak setiap hari. Sementara suamiku... selalu memilih mengalah demi ibunya.
"Fitri, mengalah dulu ya. Mama cuma ingin yang terbaik."
Kalimat itu terus kudengar selama tiga tahun pernikahan kami.
Hingga suatu hari, aku sadar. Seorang istri tidak seharusnya berjuang sendirian mempertahankan rumah tangga.
Saat kesabaranku habis dan perceraian menjadi satu-satunya jalan, penyesalan justru datang kepada mereka yang selama ini menghancurkan hidupku.
Sayangnya, beberapa penyesalan memang selalu datang ketika semuanya sudah terlambat.


ikuti untuk bab selanjutnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25. Tamparan Keras Mertua

Di saat yang sama, pintu depan terbuka. Mas Viyan pulang lebih cepat. Beliau langsung berhenti begitu melihatku memegang pipi.

"Sayang? Ada apa ini" Tatapan Mas Viyan berpindah kepadaku, lalu kepada ibunya.

Tidak ada yang menjawab. Dinda justru lebih dulu menangis.

"Bang...Mbak Fitri bentak-bentak aku." Ucapnya berbohong.

Aku langsung menoleh. "Aku enggak..."

"Dia nyuruh aku nyetrika sendiri. Katanya aku malas." Ucap Dinda memotong perkataan ku.

Tangis Dinda semakin menjadi. Bu Mirna langsung ikut berbicara.

"Mama cuma menegur. Eh dia malah membantah." Ucap mertuaku sinis menatap ku.

Aku mengepalkan tangan. Fitnah itu kembali terjadi. Mas Viyan menatap pipiku yang mulai memerah.

"Siapa yang nampar?" Tanya mas Viyan padaku.

Ruangan kembali sunyi. Ia hanya menatap bekas tamparan di wajahku. Dan sorot matanya perlahan berubah. Bukan marah kepadaku. Melainkan kecewa. Sangat kecewa.

Sementara Bu Mirna mulai merasa gelisah. Karena kali ini... Bekas tamparan di pipiku tidak bisa disembunyikan dengan air mata atau cerita yang diputarbalikkan. Dan tanpa disadari siapa pun... Sebuah batas kesabaran baru saja terlampaui.

"Sayang...Ada apa ini" Suaranya terdengar pelan.

Aku menggeleng. "Enggak apa-apa, Mas."

"Siapa yang nampar kamu?"

Aku melirik Bu Mirna.

Beliau langsung memotong. "Mama."

Mas Viyan menoleh. "Mama?"

"Mama cuma menampar sedikit. Soalnya istrimu mulai kurang ajar."

Dadaku kembali terasa sesak. Aku ingin menjelaskan.

Namun aku memilih diam. Aku ingin melihat... Kali ini Mas Viyan akan berpihak pada siapa.

"Apa yang dilakukan Fitri?" Tanya Mas Viyan dengan suara datar.

Bu Mirna langsung menjawab lebih dulu. "Dia ngajarin Dinda. nyuruh Dinda nyetrika baju sendiri."

"Memangnya salah?" Mas Viyan kembali bertanya.

Bu Mirna tampak sedikit terkejut. "Lho? Ya salah lah. itu adiknya. Harus dibantu."

Mas Viyan menoleh ke arahku.

"Sayang. Kamu ngomong apa ke Dinda?"

Aku menarik napas panjang. "Aku cuma bilang....Dinda sudah dewasa, bisa tanggung jawab atas dirinya sendiri...jadi sebaiknya belajar menyetrika bajunya sendiri. itu saja."

Mas Viyan mengangguk pelan. "Lalu?"

"Aku enggak membentak. Aku juga enggak marah. Mas bisa tanya sendiri."

***

Ruangan kembali hening. Dinda langsung berdiri.

"Bang!"

"Jangan percaya sama Mbak."

"Dia ngomongnya halus."

"Tapi nyindir aku."

Mas Viyan menatap adiknya.

"Menyindir bagaimana?"

"Dia bilang aku enggak bertanggung jawab."

Aku menggeleng.

"Aku bilang...kamu harus belajar bertanggung jawab."

"Itu berbeda."

Dinda langsung mendecak. "Tuh kan!"

"Mas dengar sendiri."

"Dia ngerendahin aku."

Aku mulai sadar.

Apa pun yang keluar dari mulutku...

Akan selalu dipelintir.

Bu Mirna kembali angkat bicara.

"Yan."

"Iya, Ma."

"Mama enggak suka."

"Istrimu sekarang mulai melawan."

Mas Viyan menghela napas panjang.

Beliau kemudian berjalan mendekati ibunya.

"Ma."

"Apa?"

"Fitri kerja dari pagi."

"Pulang masih cuci piring, Masak, ngepel, nyuci, Kenapa baju Dinda enggak bisa disetrika sendiri?"

Aku membelalakkan mata karena kaget mendengar ucapan suamiku. Begitu juga Bu Mirna.

"Yan...Mama memanjakan Dinda."

"Itu urusan Mama. Tapi jangan jadikan Fitri pembantu."

Kalimat itu membuat ruang tamu kembali sunyi. Aku bahkan sampai menahan napas.

Ini...Adalah pertama kalinya. Mas Viyan mengucapkan kalimat itu di depan ibunya secara penuh membela ku.

Wajah Bu Mirna langsung berubah merah.

"Apa Maksud kamu? Mama enggak pernah anggap dia pembantu.

"Lalu kenapa semua pekerjaan rumah dikerjakan dia?"

Bu Mirna terdiam. "Dinda kuliah." Jawab beliau cepat.

"Kalau hari libur?"

Bu Mirna kembali terdiam.

"Ma.. fitri juga kerja. Gajinya bahkan ikut dipakai buat kebutuhan rumah. Dia bukan pengangguran." Setiap kalimat yang keluar dari mulut Mas Viyan membuat mataku mulai berkaca-kaca.

Selama ini... Aku selalu merasa berjuang sendirian. Hari ini... Untuk pertama kalinya... Suamiku benar-benar berdiri di sisiku.

Namun Bu Mirna belum menyerah. "Jadi sekarang....kamu lebih membela istrimu?"

"Bukan membela."

"Terus?"

"Aku sedang membela yang benar."

Jawaban itu membuat Dinda langsung menangis. "Bang...Abang berubah. Sejak nikah...Abang enggak sayang aku lagi."

Mas Viyan menatap adiknya cukup lama. "Bukan. Abang tetap sayang. Tapi bukan berarti semua keinginanmu harus selalu dituruti."

Dinda langsung memeluk ibunya sambil menangis keras. "Tuh kan, Ma. Abang berubah. Semua gara-gara Mbak Fitri."

Aku memejamkan mata. Lagi. Namaku kembali dijadikan penyebab.

Bu Mirna berdiri sambil menunjuk wajahku. "Kamu puas?"

Aku menggeleng. "Enggak, Ma."

"Kalau bukan karena kamu...anak Mama enggak mungkin berani ngomong begitu." bentak mertuaku.

Aku menatap beliau dengan tenang. "Ma.. Aku enggak pernah menyuruh Mas melawan Mama. Mas bicara karena melihat sendiri."

Bu Mirna langsung tertawa sinis. "Pintar ya. Mulutmu memang halus. Tapi racunnya pelan-pelan."

Aku menggigit bibir. Hatiku sakit. Tetapi aku tidak ingin membalas.

Mas Viyan kembali berbicara.

"Sudah ma.. Fitri sama sekali tidak pernah menyuruh ku apapun apalagi buat lawan mama. Tapi sekarang, mama memang keterlaluan. Mulai hari ini."

Semua orang menoleh kepadanya.

"Pekerjaan rumah dibagi." lanjut suamiku.

Bu Mirna langsung memotong. "Apa maksudnya?"

"Fitri tetap masak karena dia memang suka masak dan Fitri nyuci baju hanya baju aku dan dia saja.karena itu tanggung jawab kami sebagai suami istri. Lalu? Dinda mencuci bajunya sendiri. Mama juga."

Wajah Dinda langsung berubah. "Aku enggak mau!"

"Kenapa?"

"Tugas kuliahku banyak."

Mas Viyan tersenyum tipis. "Serius ngerjain tugas din? Bukannya kuliah kamu mulai semester depan lagi? Kamu juga kalau bisa main HP berjam-jam..harusnya bisa cuci baju lima belas menit."

Dinda terdiam. Bu Mirna semakin kesal. "Yan! Kalau Mama enggak mau?"

Mas Viyan menarik napas panjang. "Kalau Mama sehat...Viyan yakin Mama mampu."

Aku melihat wajah Bu Mirna seperti tidak percaya. Anak laki-lakinya... Yang selama ini selalu menurut... Hari ini makin berani mengatakan "tidak".

Bersambung..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!