Sepuluh tahun lalu, seorang bocah laki-laki menolong Keira dari tangan kakak angkatnya yang kejam. Wajahnya terekam di ingatan — dan di hatinya.
Sepuluh tahun kemudian, Keira bertemu lagi dengannya di zona perang. Kali ini, dia bukan bocah. Dia Brigadir Jenderal Darren Tanuwijaya, komandan pasukan elite TNI yang paling ditakuti di medan pertempuran.
Keira memberanikan diri menyatakan cinta. Ditolak.
Tapi malam itu, Darren datang ke tendanya dan berkata:
"Bukan pacaran. Tapi menikah."
Pernikahan kilat di KUA. Suami yang memasak sarapan tapi bisa membunuh dengan satu peluru. Keluarga mertua yang ternyata keturunan jenderal besar. Dan keluarga angkat yang tidak pernah berhenti mempermalukannya.
Kamu cuma anak angkat. Nikah sama tentara miskin. Kasihan.
Tapi mereka tidak tahu — tentara "miskin" itu adalah Brigjen termuda dalam sejarah TNI. Kakeknya mantan Panglima. Dan suami yang mereka hina... tidak pernah membiarkan siapa pun menyakiti istrinya.
Yang lebih tidak mereka sangka:
Keira bukan anak angkat biasa.
Dia adalah pewaris Lim Group International — konglomerat terbesar kedua di Indonesia — yang diculik musuh bisnis saat berusia enam tahun dan dianggap sudah meninggal.
Satu per satu, empat kakak kandungnya mendekati secara diam-diam. Aktor terkenal. Ilmuwan antariksa. Atlet bela diri. Pengusaha misterius. Mereka sudah mencarinya selama tujuh belas tahun.
Sementara itu, kakak angkatnya semakin nekat: alergi yang hampir membunuhnya, narkoba, dan pisau di tengah malam.
Antara tugas negara dan cinta yang tak pernah goyah, antara keluarga yang hilang dan keluarga yang dipilih — Keira harus menemukan siapa dirinya yang sebenarnya.
Dan ketika seluruh kebenaran terungkap...
Yang dulu menghina, sekarang berlutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14
Sepuluh Tahun
Budiman Hartono tersenyum terlalu sering malam itu.
Meja makan dipenuhi hidangan yang biasanya hanya keluar saat ada tamu penting. Sri menyuruh asisten rumah tangga menambah piring terbaik, Vania mengenakan gaun baru, dan Dimas bahkan pulang sebelum makan malam dimulai.
Keira duduk di samping Darren dengan perasaan tidak nyaman.
Undangan itu datang tiga hari setelah insiden di kantor. Budiman menyebutnya makan keluarga untuk memperbaiki hubungan. Keira tidak percaya, tetapi ia tetap datang karena ingin mendengar tujuan sebenarnya.
Tujuan itu muncul sebelum sup pertama habis.
"Darren," kata Budiman, "Hartono Media sedang mengajukan kerja sama produksi dokumenter tentang keluarga prajurit. Proyeknya bagus untuk citra TNI dan masyarakat."
Darren meletakkan sendok. "Kalau proposalnya memenuhi syarat, kirim melalui jalur resmi."
"Tentu. Tapi proses resmi lama." Budiman tertawa kecil. "Kamu pasti kenal orang di bagian penerangan. Cukup bantu atur satu pertemuan."
"Saya tidak menggunakan jabatan untuk kepentingan bisnis keluarga."
Senyum Budiman menegang. "Bukan kepentingan pribadi. Ini kerja sama media."
"Tetap harus melalui seleksi."
Sri menyela, "Membantu keluarga istri sendiri bukan korupsi, kan?"
"Menghindari proses karena hubungan keluarga adalah perlakuan istimewa. Saya tidak melakukannya."
Keira menurunkan pandangan ke piring agar mereka tidak melihat kelegaannya. Darren tidak membiarkan dirinya dijadikan jalan pintas.
Vania memutar gelas. "Kaku sekali. Pangkat juga belum tentu tinggi, tapi bicara seperti jenderal."
Darren tidak menanggapi.
Dimas sejak tadi juga tidak ikut percakapan. Ia duduk berhadapan dengan Darren, memperhatikan garis rahang, alis, dan cara pria itu memegang gelas.
Tatapannya mulai membuat Keira gelisah.
"Mas Dimas, ada apa?"
Dimas tidak menjawab. Ia menyipitkan mata, seolah mencoba melihat wajah lain di balik wajah Darren sekarang.
Sepuluh tahun lalu, di belakang gedung sekolah, Dimas mendorong Keira yang berusia tiga belas tahun ke tanah karena ia menolak mengerjakan tugasnya. Seorang pemuda asing yang kebetulan lewat menarik Dimas menjauh. Perkelahian singkat berakhir dengan Dimas pulang membawa bibir pecah dan harga diri yang lebih terluka.
Pemuda itu tidak memukul membabi buta. Ia hanya menahan serangan Dimas, menjatuhkannya, lalu berdiri di depan Keira sampai buku-buku yang berserakan selesai dipungut. Sebelum pergi, ia memperingatkan Dimas agar tidak menyentuh gadis itu lagi.
Dimas pernah menertawakan wajah pemuda itu bersama teman-temannya, berpura-pura tidak takut. Namun bertahun-tahun kemudian, ia masih bisa mengingat tatapan yang membuatnya merasa kecil di halaman sekolahnya sendiri.
Ia tidak pernah melupakan mata pemuda itu.
Dimas berdiri mendadak. Kursinya bergeser kasar.
"Kamu!"
Semua orang menoleh.
Jarinya menunjuk Darren. "Kamu yang dulu memukulku di belakang sekolah!"
Tangan Keira berhenti di atas meja.
Sri mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
"Sepuluh tahun lalu." Dimas berjalan mengitari meja. "Waktu aku bertengkar dengan Keira, ada orang datang dan memukulku. Itu dia. Aku ingat wajahnya."
Vania memandang Darren, lalu Keira. Kecurigaan muncul seketika.
Darren tetap duduk. "Aku ingat kejadian itu."
"Jadi benar?" Dimas tertawa tanpa humor. "Kamu pura-pura tidak mengenalku saat pertama datang ke sini?"
"Kamu tidak penting untuk diingat setiap hari."
Wajah Dimas memerah.
Budiman mengetuk meja. "Cukup. Darren, kenapa kamu memukul anak saya?"
"Dia mendorong Keira dan menendang buku-bukunya. Ketika diminta berhenti, dia menyerang lebih dulu."
"Aku masih sekolah!" bantah Dimas.
"Keira juga."
Keira merasakan telapak tangannya dingin. Rahasia yang ia simpan selama sepuluh tahun membuka diri di meja makan, bukan pada waktu yang ia pilih.
Vania menangkap perubahan wajahnya.
"Kamu sudah tahu, ya?" tanyanya. "Sejak awal kamu tahu Darren orang yang sama."
Keira tidak menjawab.
"Tentu saja tahu." Vania bersandar, senyumnya kembali. "Pantas saja berani mengaku suka, lalu menikah secepat itu. Semua sudah kamu rencanakan."
"Mbak Vania, jangan memelintir."
"Lalu jelaskan."
Sri menatap Keira tajam. "Kamu mengenalnya selama sepuluh tahun dan tidak pernah cerita kepada kami?"
Keira ingin mengatakan bahwa tidak pernah ada ruang aman untuk bercerita di rumah ini. Setiap perasaan yang ia tunjukkan selalu berubah menjadi senjata.
Namun kali ini ia tidak akan bersembunyi.
Ia berdiri.
"Ya. Aku mengenali Darren sejak pertemuan kami di Afrika."
Darren menoleh kepadanya.
Keira memaksa suaranya tetap jelas. "Sepuluh tahun lalu, saat Mas Dimas mendorongku di belakang sekolah, Darren satu-satunya orang yang berhenti dan menolong. Setelah itu aku mencari namanya, tetapi tidak pernah menemukan apa pun."
"Lalu kamu bertemu lagi dan langsung mengejarnya?" ejek Vania.
"Aku bertemu dia di zona konflik. Dia menyelamatkan hidupku. Enam bulan kemudian kami bertemu lagi. Kali itu aku mengatakan perasaanku dan dia menolak."
Keira menarik napas. Setelah rahasia itu terbuka, tidak ada gunanya menyisakan setengah kebenaran.
"Selama sepuluh tahun aku mencoba mencarinya. Aku tidak tahu nama lengkapnya. Aku bertanya kepada guru, mencari foto kegiatan sekolah, dan memeriksa media sosial setiap kali menemukan wajah yang sedikit mirip. Tidak pernah berhasil."
Ia menekan ibu jari pada cincin pernikahannya.
"Setiap ulang tahun kejadian itu, aku menulis satu halaman di jurnal pribadi. Bukan karena berharap dia datang. Aku hanya tidak ingin lupa bahwa pernah ada seseorang yang membelaku tanpa meminta apa pun. Saat hidup di rumah ini terasa terlalu berat, kenangan itu mengingatkanku bahwa perlakuan kalian bukan satu-satunya cara seseorang bisa memperlakukanku."
Wajah Sri menegang. Budiman membuang pandangan, tetapi Vania justru tampak semakin marah.
Budiman memandang Darren. "Menolak?"
"Dia bilang tentara tidak punya waktu untuk pacaran," jawab Keira. "Aku tidak pernah tahu keluarganya, rumahnya, atau pangkatnya. Aku menyukai orang yang pernah berdiri di depanku ketika tidak ada orang lain yang mau."
Matanya mulai panas, tetapi Keira tidak menunduk.
"Saat Darren mengajakku menikah, itu mungkin terlihat mendadak bagi semua orang. Bagi dia mungkin memang keputusan cepat. Tapi bagiku bukan."
Ia menatap Darren penuh.
Ruangan, keluarga Hartono, dan suara sendok dari dapur seolah menghilang.
"Menikahimu bukan keputusan impulsif," katanya. "Itu tujuan hatiku selama sepuluh tahun."
Darren tidak bergerak.
Hanya jarinya yang mengencang perlahan di tepi meja.
"Kenapa kamu tidak memberitahuku di Afrika?" tanyanya.
Keira menelan gumpalan di tenggorokan. "Kamu tidak mengingatku."
"Kamu bisa mengingatkanku."
"Aku takut kenangan itu hanya penting bagiku." Suaranya turun, tetapi tetap terdengar oleh seluruh meja. "Aku tidak ingin rasa terima kasihku menjadi beban yang memaksamu membalas. Aku juga tidak ingin kamu mengira aku menyukai seragam atau orang yang menyelamatkanku, bukan dirimu."
"Lalu saat aku melamarmu?"
"Aku ingin mengatakan semuanya setelah kita saling mengenal. Setiap kali mencoba, aku takut kamu akan merasa pernikahan ini dibangun dari sesuatu yang tidak kamu ingat."
Darren memandangnya tanpa berkedip. Keira tidak bisa membaca apakah ia terluka, terkejut, atau tersentuh. Namun tangannya sudah meninggalkan tepi meja dan terbuka di antara mereka, seolah menunggu tangan Keira.
Keira meletakkan jemarinya di sana.
Keira melanjutkan, suaranya sedikit bergetar. "Aku tidak menikahimu untuk melarikan diri dari Jason. Aku tidak mendekatimu karena seragam atau keluargamu. Aku memilihmu jauh sebelum tahu kamu akan memilihku."
Mata Darren berubah. Ketegasan yang biasa menutupinya retak, memperlihatkan sesuatu yang lebih dalam dan belum sempat diberi nama.
Sri berdiri sambil menepuk meja. "Tidak tahu malu! Jadi selama tinggal di rumah kami, kamu diam-diam merencanakan semua ini?"
"Aku tidak merencanakan apa pun, Mama. Aku bahkan tidak tahu apakah akan bertemu Darren lagi."
"Jangan bohong." Budiman menunjuk cincin Keira. "Kamu memanfaatkan status anak keluarga Hartono agar terlihat pantas bagi seorang tentara."
Keira tertawa pendek karena sakit. "Kalian sendiri selalu bilang aku bukan anak kandung. Sekarang status keluarga Hartono mendadak dianggap berguna untukku?"
Wajah Budiman menggelap.
Vania bersedekap. "Kamu cuma terobsesi pada orang yang pernah menolongmu. Itu bukan cinta."
"Bukan kamu yang menentukan perasaanku."
"Dan Darren menikahimu karena kasihan," balas Vania. "Begitu dia bosan, kamu akan kembali ke sini menangis."
Darren tidak melihat Vania. Ia tetap menatap Keira.
"Apakah kamu menyesal menikah denganku?" tanyanya.
Keira menggeleng tanpa ragu. "Tidak pernah."
Darren berdiri.
Tangannya mencari tangan Keira di atas meja dan menggenggamnya. Hangat, kuat, tidak ragu.
"Jangan bicara kepada istriku seperti itu."
Budiman ikut berdiri. "Kalau kamu punya harga diri, ceraikan dia. Perempuan yang menyembunyikan obsesi sepuluh tahun tidak sehat."
Keira menegang.
Genggaman Darren bertambah erat.
"Perceraian bukan keputusan Bapak."
"Dia anak saya."
"Tadi Bapak sendiri bilang dia hanya anak angkat ketika membahas harta. Jangan menggunakan kata anak hanya saat ingin mengendalikan hidupnya."
Budiman kehilangan jawaban selama satu detik.
Darren menarik kursi Keira agar ia bisa keluar dari meja. "Kami permisi."
"Duduk!" bentak Budiman. "Pembicaraan belum selesai."
"Bagi kami sudah."
Dimas berdiri di sisi pintu, tetapi tidak menghalangi. Tatapannya berpindah antara tangan mereka dan wajah Keira. Ada sesuatu seperti penyesalan, terlalu tipis untuk disebut perubahan.
Sri masih memaki tentang tidak tahu balas budi. Vania mengatakan Keira akan menyesal. Darren tidak membalas satu pun.
Ia membawa Keira melewati ruang tamu, menuju pintu depan.
Di ambang pintu, Darren berhenti dan menoleh kepada keluarga Hartono.
"Dia memilihku, dan aku memilih dia. Itu bukan urusan kalian."
Pintu tertutup di belakang mereka.
Udara malam menyentuh wajah Keira. Setelah keberanian di meja makan habis, lututnya mulai lemas.
Darren tetap menggenggam tangannya sepanjang jalan menuju mobil.
Ia belum mengatakan apa pun tentang sepuluh tahun itu.
Namun ia juga tidak melepaskan Keira.
kalian bakalan stroke kalo tau keluarga asli Keira 🤣🤣🤣🤣
review bintang 🌟 5 untuk pemula 😲😲😲😲👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻