Hannah pernah kehilangan segalanya—rumah tangga, impian menjadi seorang ibu, dan kepercayaan pada cinta. Saat ia mulai menata hidupnya kembali, Rayyan hadir tanpa memaksa, hanya perlahan membuktikan bahwa cinta yang tulus tidak pernah lahir dari paksaan. Namun ketika masa lalu kembali muncul, Hamnah harus memilih, tetap hidup bersama luka, atau memberi kesempatan pada hati untuk percaya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nathasya90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DBL8
SALING MELENGKAPI 2
Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil Romi memasuki pelataran parkir gedung tempat Hannah bekerja. Seperti biasa, lalu lintas Jakarta sudah mulai padat meski hari masih pagi. Romi mematikan mesin mobil, tetapi tidak langsung membuka sabuk pengamannya. Ia justru memandang ke arah Hannah yang sedang memastikan tas, ponsel, dan beberapa berkas penting yang harus dibawa untuk perjalanan dinas nanti.
"Barang-barangnya sudah lengkap?"
Hannah kembali memeriksa isi tasnya sekilas sebelum mengangguk.
"Insyaallah sudah. Kalau ada yang ketinggalan paling nanti beli di sana."
"Yakin?"
"Iya."
Romi masih belum terlihat tenang.
Hannah menoleh sambil tersenyum geli.
"Mas."
"Hm?"
"Aku cuma pergi dinas loh ini."
"Aku tahu."
"Tapi mukanya kayak aku mau pindah negara."
Romi mengembuskan napas pelan, lalu tersenyum tipis.
"Mas lagi banyak kepikiran."
Hannah memahami maksud suaminya. Luka itu memang tidak mungkin sembuh hanya dalam satu malam. Masih ada banyak ketakutan yang harus mereka hadapi bersama.
Ia mengulurkan tangan, lalu merapikan kerah kemeja Romi yang sedikit terlipat.
"Jangan terlalu dipikirin."
"Kalau nggak dipikirin malah kepikiran, Na."
Hannah terkekeh pelan.
"Kamu tahu nggak?"
"Apa?"
"Akhir-akhir ini Mas jadi lebih cerewet."
"Cerewet?"
"Iya."
"Terus kira-kira itu karena siapa?"
Hannah mengangkat kedua bahunya pura-pura tidak tahu.
"Nggak tahu."
"Padahal gara-gara istrinya loh."
"Kenapa istrinya?"
"Karena bikin suaminya takut kehilangan."
Kalimat itu membuat Hannah terdiam beberapa detik. Tatapannya melembut. Ia bisa merasakan bahwa Romi tidak sedang bercanda. Ada ketulusan yang begitu jelas di balik sorot matanya.
Pelan-pelan Hannah menggenggam tangan suaminya.
"Aku nggak ke mana-mana, Mas."
Romi membalas genggaman itu tanpa mengalihkan pandangan.
"Janji?"
"Janji," jawab Hannah dengan mengangguk cepat.
Baru kali ini Romi benar-benar mengembuskan napas lega. Ia mengangkat tangan Hannah, lalu mengecup punggung tangan istrinya dengan pelan.
"Makasih ya."
"Untuk apa?"
"Karena masih milih bertahan."
Hati Hannah terasa hangat mendengar kalimat itu. Tanpa sadar matanya mulai berkaca-kaca.
"Aku kan sudah bilang."
"Apa?"
"Kita sempurna bukan karena kita nggak punya kekurangan."
Romi menatapnya lekat.
"Tapi karena kita saling melengkapi."
Untuk beberapa saat, tidak ada lagi yang mereka ucapkan. Keheningan justru terasa nyaman. Mereka saling memandang, seolah ingin mengingat baik-baik wajah satu sama lain sebelum dipisahkan oleh perjalanan beberapa hari.
Tiba-tiba Romi membuka kedua tangannya.
"Peluk dulu, boleh?"
Hannah tertawa kecil.
"Mas..."
"Bentar aja. Lama loh ini lima hari."
Hannah akhirnya mengalah. Ia memajukan tubuhnya dan memeluk Romi erat. Pelukan itu berlangsung beberapa detik, tetapi cukup untuk membuat keduanya merasa jauh lebih tenang.
"Udah?"
"Belum. Casnya baru enam puluh persen."
Hannah menggeleng sambil tertawa.
"Nanti aku telat masuk, Mas."
"Ya sudah."
Romi akhirnya melepaskan pelukannya, meski dengan wajah yang masih enggan.
Hannah membuka pintu mobil, lalu turun sambil membawa tas kerjanya. Baru beberapa langkah berjalan, ia mendengar suara Romi memanggil dari balik kaca mobil yang sudah terbuka.
"Na!"
Hannah menoleh.
"Hati-hati," ujar Romi.
Hannah mengangguk sambil tersenyum.
"Iya, Mas."
"Jangan lupa kabarin kalau sudah berangkat nanti."
"Pasti."
"Dan..."
Hannah menunggu kelanjutan kalimat itu.
"Aku sayang kamu."
Senyum Hannah mengembang tanpa bisa ditahan.
"Aku juga sayang kamu, Mas."
Setelah itu ia melangkah memasuki gedung kantornya. Sementara Romi masih tetap duduk di balik kemudi, memandangi punggung istrinya hingga menghilang di balik pintu lobi.
Entah kenapa, ada firasat aneh yang sejak tadi mengusik pikirannya. Ia mencoba mengabaikannya, meyakinkan diri bahwa itu hanyalah rasa cemas yang muncul setelah semua yang mereka alami beberapa hari terakhir.
Namun Romi tidak tahu.
Perjalanan dinas Hannah kali ini akan membuka kembali luka-luka yang selama ini mereka kira telah selesai.
Jangan lupa kasih ⭐⭐⭐⭐⭐ biar othor makin semangat up nya ya.
Ditunggu semua komenannya.
Love sekeboon buat kalian💐