Di kehidupan yang hanya sekali ini, tentu menikahi orang yang dicintai dan mencintai diri kita juga adalah impian semua orang. Laila pun begitu, gadis manja dan ceria itu selalu menyematkan do'a terbaik untuk kehidupan cintanya. Namun, wasiat Ibunya dan permintaan Ayah yang tak bisa ia tolak memaksa Laila untuk menikah dengan laki-laki yang bahkan jauh dari tipenya.
Siapakah sosok lelaki yang dijodohkan dengan Laila?
Apakah bisa Laila melewati perjodohan dan menjalani kehidupan pernikahan tanpa cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Singkat
Gedung pertemuan di pangkalan udara TNI AU itu perlahan mulai sepi. Sisa-sisa kemegahan resepsi pernikahan, papan bunga yang berjejer di sepanjang pagar luar, rontokan kelopak mawar putih di atas karpet merah, hingga aroma parfum mahal yang bercampur dengan kelembapan udara AC aula menjadi saksi bisu atas bersatunya dua takdir yang tak sama.
Bagi ribuan tamu yang hadir, hari itu adalah pesta pernikahan penyatuan dua keluarga besar yang sempurna. Namun bagi Laila, hari ini adalah awal dari sebuah masa penahanan yang legal.
Sesuai rencana yang sudah disepakati demi efisiensi waktu dan kenyamanan, sebelum mereka menempati rumah Ayah Laila untuk sementara keesokan harinya. Laila memutuskan untuk mengajak Arjuna menginap satu malam di sebuah hotel bintang lima yang berada di pusat kota. Semua barang bawaan, termasuk koper pakaian Laila, sudah dipindahkan terlebih dahulu oleh ajudan Arjuna ke dalam mobil.
Laila duduk sendirian di bangku panjang ruang transit pengantin yang pintunya dibiarkan sedikit terbuka. Ia sengaja meminta ajudan Arjuna untuk menunggunya di depan, dengan alasan ingin meluruskan kakinya yang mati rasa setelah berdiri berjam-jam di atas pelaminan megah itu.
Di dalam dekapannya, Laila memeluk sebuah tas dengan erat. Gaun putih gading yang melekat di tubuhnya terasa begitu berat dan mencekik, seolah-olah pakaian pengantin itu adalah rantai besi yang mengunci takdir barunya. Kepalanya berdenyut pening, namun yang lebih menyiksa adalah rasa hampa yang menggerogoti dadanya sejak kalimat 'Sah' bergema di meja akad tadi pagi.
Sret...
Sebuah bayangan memotong pantulan lampu lorong di lantai ubin. Laila mendongak dengan cepat. Jantungnya seketika mencelos, melompat ke tenggorokan saat melihat siapa yang berdiri di ambang pintu ruang transit.
Pria dengan kemeja batik gelap, berambut rapi namun dengan gurat wajah yang layu dan pucat.
"Devan," bisik Laila, nyaris tak terdengar.
Devan melangkah masuk dengan sangat perlahan, seolah takut langkah kakinya akan memicu alarm bahaya di pangkalan militer itu. Ia segera menutup pintu ruang transit di belakangnya, menguncinya dari dalam, lalu berbalik menatap Laila.
Untuk beberapa detik, mereka hanya saling melempar pandang dalam kesunyian yang menyiksa. Mata Devan memancarkan luka yang begitu dalam, merah dan berkaca-kaca.
Melihat pria yang dicintainya selama tiga tahun lebih itu berdiri di depannya, pertahanan yang Laila bangun mati-matian tadi runtuh seketika. Air mata yang sedari tadi ia tahan agar tidak merusak riasan pengantinnya langsung tumpah membasahi pipi. Isak tangis yang menyesakkan dada lolos begitu saja dari bibirnya.
"Sayang maafin aku," Laila terisak hebat, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya. Bahunya terguncang dahsyat.
Devan tidak bisa lagi menahan dirinya. Ia melangkah cepat, berlutut di depan bangku Laila, lalu menarik kedua tangan gadis itu dari wajahnya. Devan menggenggam jemari Laila yang terasa sangat dingin, mengabaikan fakta bahwa di jari manis tangan kiri Laila kini sudah melingkar sebuah cincin emas putih murni milik pria lain.
"Jangan minta maaf sayang. Kamu gak salah," suara Devan bergetar hebat, menahan tangis yang ikut mendesak di tenggorokannya. Ia mengusap air mata di pipi Laila dengan ibu jarinya yang gemetar. "Aku yang harusnya minta yang maaf karena cuma bisa nonton kamu dari jauh tadi. Kamu... kamu cantik banget hari ini, sayang."
"Aku gak mau di sini, sayang! Aku mau pulang sama kamu," tangis Laila pecah lagi, suaranya parau dan putus-putus.
"Tadi pas akad, pas Arjuna ngucapin kabul rasanya aku mau mati, sayang. Aku ngerasa berkhianat sama kamu. Tapi Papi, Papi bahagia banget," sambung Laila.
"Dengerin aku, Laila," Devan menangkup kedua pipi Laila, memaksa gadis itu menatap langsung ke dalam matanya yang memancarkan kerapuhan.
"Kita udah sepakat, kan? Ini cuma status di atas kertas demi Papi. Cuma satu tahun. Kamu harus kuat sayang. Aku bakal nunggu di sini, di tempat yang sama, gak bakal ke mana-mana. Satu tahun itu gak akan lama kalau kita saling pegang janji."
Laila menatap mata Devan, mencoba mencari kekuatan di sana melalui sisa-sisa air matanya. Ia mengangguk perlahan, meski dadanya masih terasa sangat sesak.
Devan tersenyum sangat tipis, lalu meraih sebuah tas cokelat polos yang sedari tadi ia letakkan di lantai samping tempatnya berlutut. Dari dalam tas itu, ia mengeluarkan sebuah kotak persegi yang dibungkus kertas kado cokelat sederhana.
"Aku ke sini bukan cuma mau lihat kamu," kata Devan lembut, menyerahkan kotak itu ke atas pangkuan Laila.
"Ini kado pernikahan buat kamu dan sekalian kado wisuda yang belum sempat aku kasih ke kamu waktu kita di Bali. Isinya gak mewah kayak kado-kado yang ada di luar sana, tapi aku harap ini bisa nemenin kamu kalau kamu lagi ngerasa kesepian di rumah baru."
Laila menerima kotak itu, mendekapnya erat ke dada seolah benda itu adalah benda paling berharga di seluruh dunia. "Makasih ya sayang, makasih banyak."
"Aku harus pergi sebelum suamimu... maksudku, sebelum Arjuna itu dateng," Devan berdiri, mengusap puncak kepala Laila dengan kelembutan yang menyiratkan perpisahan sementara. "Jaga diri baik-baik sayang. Jangan keseringan nangis, nanti dia curiga."
Laila mengangguk pasrah, menatap Devan yang mulai berjalan mundur menuju pintu ruang transit. Devan membuka kunci pintu, melemparkan satu tatapan penuh cinta terakhir sebelum menyelinap keluar dan menghilang di belokan lorong.
Sementara itu, di ujung lorong yang tidak jauh dari posisi ruang transit, berdiri sosok tegap Arjuna.
Urusan administrasi gedung dan pembayaran vendor sebenarnya sudah selesai sepuluh menit yang lalu. Arjuna awalnya berjalan kembali ke ruang transit dengan senyum santai, bermaksud mengajak istrinya itu untuk segera berangkat ke hotel.
Namun, langkah kakinya terhenti total ketika matanya yang tajam menangkap seorang pria berkemeja batik gelap memasuki ruang transit dengan gerak-gerik mencurigakan, lalu mengunci pintunya dari dalam.
Sebagai seorang perwira yang memiliki insting intelijen yang kuat, Arjuna tidak langsung mendobrak pintu atau membuat keributan yang bisa mencoreng nama baik keluarganya di pangkalan. Ia memilih berdiri di sudut lorong, bersandarkan dinding dengan kedua tangan yang bersedekap di dada.
Dari posisinya, karena dinding pembatas ruang transit itu tidak terlalu kedap suara, Arjuna bisa mendengar samar-samar suara tangisan Laila. Ia mendengar bagaimana Laila menumpahkan seluruh rasa frustrasinya, bagaimana Laila menyebut namanya dengan nada penuh penolakan, dan bagaimana pria bernama Devan itu memberikan kalimat penyemangat tentang janji 'satu tahun' dan hubungan mereka yang akan tetap berlanjut.
Wajah Arjuna yang biasanya dipenuhi ketengilan dan senyum jenaka, sore itu mendadak berubah menjadi sedingin es. Rahangnya mengeras, tatapan mata elangnya menajam menatap pintu kayu di depannya. Ada sengatan rasa perih dan ego seorang pria yang terluka hebat di dalam dadanya.
Arjuna akhirnya tahu kebenaran seutuhnya sekarang. Laila dan Devan tidak sekadar memiliki masa lalu yang belum selesai. Mereka masih memiliki hubungan. Mereka sedang menjalankan rencana backstreet di balik pernikahan suci yang baru saja ia ikrarkan di depan Tuhan dan negara beberapa jam lalu. Di mata mereka berdua, Arjuna tak lebih dari sebuah hambatan sementara yang harus dihadapi selama 365 hari.
Napas Arjuna berembus berat melalui hidungnya. Ia melihat pintu ruang transit terbuka dan sosok Devan keluar dengan tergesa-gesa, berjalan ke arah berlawanan tanpa menyadari keberadaannya.
Arjuna memejamkan matanya sejenak, menenangkan gemuruh amarah dan kekecewaan di dalam dadanya. Ketika ia membuka matanya kembali, ekspresi dinginnya perlahan terkubur, digantikan oleh senyuman tipis yang sulit diartikan.
Tok! Tok!
"Dek Laila? Wah, lama amat ya meratapi kaki pegelnya. Ayo berangkat, Mas sudah lumutan nungguin di lorong nih," panggil Arjuna dengan nada suara easy going yang sangat natural, seolah-olah ia tidak tahu bahwa beberapa detik yang lalu, hatinya baru saja dihantam kenyataan paling pahit sebagai seorang suami.
Suara bariton yang kini berhak memanggilnya dengan sebutan itu terdengar dari arah pintu. Arjuna masuk setelah menyelesaikan urusan administrasi dan berpamitan dengan panitia dekorasi.
Pria tegap itu sudah melepas jas PDU-nya, menyisakan kemeja putih yang lengannya sudah digulung hingga sikut, serta dasi hitam yang sedikit dilonggarkan. Kesan formal ketentaraannya sedikit luntur, berganti dengan aura santai namun tetap memancarkan wibawa yang kuat.
"Mobil sudah siap di depan. Barang-barang juga sudah masuk semua. Ayo, kita berangkat sekarang sebelum jalanan kota macet jam pulang kantor," ajak Arjuna. Ia berjalan mendekat, lalu mengulurkan tangannya dengan gerakan natural ke hadapan Laila. Senyum tipis yang hangat terukir di wajahnya.
Laila mendongak, menatap telapak tangan Arjuna yang besar dan sedikit kapalan itu. Ada rasa enggan yang luar biasa di dalam dadanya, namun mengingat mereka masih berada di lingkungan pangkalan, Laila terpaksa berdiri tanpa menyambut uluran tangan tersebut. Ia membetulkan posisi gaunnya dengan ketus.
"Iya, bentar Arjuna. Gue ambil tas dulu," jawab Laila dingin. Ia mengambil tasnya dan kado yang diberikan Devan tadi.
"Eh, panggilnya apa tadi? Kan Mas sudah bilang kemarin kalau sudah sah, panggilnya Mas. Jangan 'gue-lo' terus, rasanya kayak asing banget Dek," potong Arjuna cepat.
Ketengilannya langsung aktif dalam hitungan detik. Ia mencondongkan tubuhnya, menatap Laila dengan binar kejenakaan di mata elangnya. "Atau mau Mas gendong sampai mobil nih biar panggilannya langsung ganti?"
"Nggak usah aneh-aneh ya deh!" desis Laila tajam, matanya mendelik kesal. Namun, karena tidak mau memperpanjang perdebatan di tempat umum, ia akhirnya berjalan dulu meninggalkan Arjuna sebelum pria itu semakin menggila di sana.
Arjuna mempercepat langkahnya menyusul Laila, ia merapatkan tubuhnya di sisi Laila untuk menjaganya berjalan karena ia tahu gaun Laila itu berat dan membuat Laila kesusahan berjalan.
"Wah, gerak cepat banget, Dek. Mas belum juga minta jatah buka kado, kamu sudah nemu kado yang paling estetik duluan," celetuk Arjuna dengan nada easy going, sengaja berpura-pura tidak tahu asal dari kado itu.
...Bersambung......