NovelToon NovelToon
Suci Tak Selalu Berdarah

Suci Tak Selalu Berdarah

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Penyesalan Suami / Cintapertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Langit 2

Suci Tak Selalu Berdarah, karena tak semua bunga gugur saat mekar. Namun ketika harga diri Niken Ayuningrum diukur dari setetes merah, maka malam pertama yang katanya paling indah, kini berubah sunyi penuh prasangka.

Tatapan Danendra Pradipta seketika berubah, ketika ia mengetahui bahwa tidak ada tanda yang diyakini sebagai bukti kesucian sang istri.

"Jangan hukum aku dengan mitos lama, yang menjadikan perempuan tersangka. Jika cinta benar ada, maka pecayalah bahwa suci tak selalu berdarah."

Ia pendam tangis dalam doa, berharap waktu akan membuka mata suaminya, karena kesucian bukan tentang darah, melainkan menjaga hati hingga akhirnya. Dan biarkan dunia berkata apa, tapi Niken tetap suci meski tak berdarah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebuah Kebiasaan Baru

 Azan subuh berkumandang memecah kesunyian pagi. Udara dingin khas pegunungan seolah menembus kulit hingga ke tulang. Saat itu Niken membuka mata lebih dulu, ia bangun tanpa membangunkan Danendra. Perlahan kakinya terayun ke bawah, lalu mengambil wudhu, kemudian membuka mukena yang masih terlipat rapi.

 Usai salat Subuh, Niken duduk beberapa menit di atas sajadah, bibirnya berkomat-kamit melantunkan doa.

 Saat melipat sajadah, ia menoleh ke arah ranjang. Danendra ternyata sudah bangun, lelaki itu duduk bersandar di kepala ranjang sambil memandangi dirinya.

 "Mas, maaf. Apa aku membangunkanmu?"

 Danendra mengeleng pelan. "Tidak, aku memang sudah bangun."

 Niken tersenyum tipis, "aku mau ke dapur. Mas mau kubuatkan teh atau kopi?"

 "Kopi hitam saja." Katanya.

 Niken mengangguk, "iya."

 Tak sampai lima belas menit, aroma kopi memenuhi ruang makan. Niken mengenakan celemek sederhana. Tangannya tampak sibuk menata sarapan yang baru selesai dimasaknya bersama Bi Inah.

 "Mbak Niken, biar saya saja," ujar Bi Inah.

 "Tidak apa-apa, Bi. Sekalian belajar."

 Bi Inah tersenyum. "Semoga rumah ini cepat ramai sama tawa anak-anak Mbak Niken dan Mas Danen."

 Ucapan itu membuat senyum Niken sedikit memudar, namun ia tetap mengangguk sopan. "Aamiin."

 Tak lama kemudian, Pradipta memasuki ruang makan. "Wah, pagi-pagi sudah wangi sekali."

 Niken segera berdiri lalu menyapanya. "Selamat pagi, Yah."

 "Pagi, Nak."

 Pradipta melirik hidangan di atas meja. "Kamu yang masak?"

 "Saya cuma bantu Bi Inah sedikit, Yah."

 "Bagus." Ucap Pradipta sambil tersenyum bangga.

 Tak lama berseling, Ratih juga datang. Tatapannya sempat berhenti pada Niken yang sedang menuangkan air minum.

 Niken yang menyadari, langsung menyapanya dengan hangat. "Pagi, Bu."

 "Pagi." Jawab Ratih datar.

 Meski tidak lagi menyinggung soal kehormatan, namun sikap dinginnya masih belum berubah.

 Beberapa saat kemudian, Danendra turun dari lantai atas dengan kemeja putih dan celana bahan, membuat Niken spontan menatapnya.

 "Mas, kopinya." Ucapnya sambil memberikan secangkir kopi yang tadi diminta Danendra.

 Danendra menerima cangkir kopi itu. "Terima kasih."

 Ratih yang melihat pemandangan tersebut, merasa sedikit terkejut. Sebelumnya Danendra mengambil sendiri apa yang dibutuhkannya. Namun kini ia membiarkan istrinya yang melayani, dan yang lebih mengejutkan lagi bagi Ratih, Danendra mengucapkan terima kasih kepada Niken.

 Perubahan kecil itu tak luput dari perhatian Pradipta. Ia hanya tersenyum tipis tanpa berkata apa-apa.

 Sarapan berlangsung cukup tenang, hingga akhirnya Niken menatap jam yang melekat di dinding.

 "Mas."

 "Iya?"

 "Ternyata sudah jam enam lewat. Aku bersiap dulu."

 Danendra mengangguk, "ya sudah, cepat."

 Niken pun bersiap, tidak lama kemudian ia berdiri di dekat Danendra sambil menatapnya seolah ingin memastikan apakah benar yang dia katakan semalam.

 "Ayo." Kata Danendra sambil berdiri.

 Ratih menoleh bingung. "Mau ke mana?" tanyanya.

 "Ngantar Niken ke sekolah, Bu." Jawab Danendra.

 Sendok di tangan Ratih berhenti di udara. "Kamu?"

 "Iya."

 "Biasanya ojol yang mengantar."

 Danendra menyeka sudut bibirnya dengan tisu. "Pagi ini aku yang akan antar." Katanya.

 "Lalu kantor?"

 "Masih sempat."

 Ratih hendak mengatakan sesuatu, tetapi Pradipta lebih dulu menyela.

 "Bagus," kata Pradipta sambil menepuk pelan bahu putranya. "Sesekali mengantar istri itu bukan pekerjaan yang merugikan."

 Danendra hanya mengangguk kecil.

 Niken menatap suaminya dengan sorot mata penuh rasa syukur. Ia tahu keputusan itu bukan sesuatu yang biasa.

 Tidak lama kemudian....

 Mobil hitam milik Danendra melaju perlahan membelah jalanan Wonosobo yang masih diselimuti kabut pagi. Di kiri kanan jalan, hamparan kebun sayur tampak basah oleh embun.

 Suasana di dalam mobil masih canggung. Niken sesekali melirik Danendra, tetapi segera mengalihkan pandangannya ke luar jendela.

 Danendra yang menyadari hal itu akhirnya berdehem pelan. "Anak-anak di sekolahmu, ada berapa?"

 Niken menoleh cepat. "Empat puluh dua anak, Mas."

 "Banyak juga."

 "Iya, mereka dibagi menjadi dua kelas."

 Danendra mengangguk. "Kamu hafal nama mereka semua?"

 Niken terkekeh pelan. "Harus hafal, masa gurunya lupa sama murid."

 Tanpa disadari, sudut bibir Danendra ikut terangkat membentuk senyum tipis.

 Melihat senyum itu, Niken terdiam. Sudah beberapa hari ini, ia baru melihat wajah suaminya kembali menghangat. Meski hanya sesaat, senyum kecil itu cukup membuat pagi Niken terasa jauh lebih indah dari pada dua hari sebelumnya.

 Mendekati TK Tunas Arunika, Danendra melambatkan mobilnya hingga berhenti tepat di depan gerbang sekolah tersebut. Di halaman sekolah bagian depan, terlihat ada beberapa orang tua yang sedang mengantar anak-anak mereka.

 "Terima kasih sudah mengantar, Mas." Ucap Niken sambil melepas sabuk pengamannya.

 Danendra hanya tersenyum tipis sambil mengangguk pelan.

 Niken hendak membuka pintu, tetapi suara Danendra menghentikannya.

 "Niken."

 Niken menoleh pelan. "Iya, Mas?"

 "Semangat ya, ngajarnya."

 Senyum tulus langsung menghiasi wajahnya. "Insya Allah, Mas."

 Ia turun dari mobil sambil melambaikan tangan kecil kepada suaminya. "Assalamu'alaikum."

 Danendra membalas dengan lambaian tangan yang sama. "Wa'alaikumussalam."

 Niken memasuki gerbang dengan penuh rasa semangat. Sementara Danendra tidak langsung menjalankan mobilnya. Entah mengapa, rasanya ia ingin sekali melihat seperti apa keseharian perempuan yang belum lama menjadi istrinya itu.

 "Selamat pagi, Bu Niken!"

 Seorang anak laki-laki terlihat berlari kecil menghampiri lalu mencium tangan Niken.

 "Pagi juga, Dimas." Balas Niken.

 Ia lalu membungkuk, merapikan kerah seragam Dimas yang sedikit terlipat.

 "Wah, hari ini Dimas ganteng sekali." Puji Niken yang membuat Dimas terkekeh malu.

 Tak lama kemudian, beberapa anak lain ikut berlarian.

 "Bu Niken!"

 "Bu Guru!"

 "Aku bawa bekal kesukaan Bu Guru."

 Suara mereka begitu riuh, namun Niken tidak merasa keberatan melayani mereka satu per satu. Ada yang minta dipeluk, ada yang menunjukkan tas baru, ada pula yang bercerita tentang gigi susunya yang lepas semalam.

 Danendra menurunkan kaca mobilnya, ia memperhatikan wajah Niken yang terlihat begitu bahagia, bahkan Danendra tidak pernah melihat Niken tertawa sebebas itu selama berada di rumah.

 Kemudian seorang ibu muda yang baru mengantar putrinya menghampiri Niken. "Bu Niken."

 "Iya, Bu Lala."

 "Terima kasih ya, kemarin sudah sabar menemani Hana. Alhamdulillah sekarang Hana sudah berani masuk kelas sendiri."

 Niken tersenyum hangat. "Sama-sama, Bu. Hana anak hebat, hanya butuh waktu untuk beradaptasi."

 "Hana setiap pulang sekolah selalu cerita tentang Bu Niken." Katanya lagi.

 "Iya?"

 "Iya. Katanya nanti kalau sudah besar mau jadi guru seperti Bu Niken."

 Mendengar itu, Niken tertawa kecil. "Masya Allah, semoga Allah kabulkan cita-citanya."

 Danendra yang mendengar percakapan mereka, tanpa sadar ikut tersenyum. Ia jadi paham, mengapa Niken begitu menyukai pekerjaannya.

 "Pak!"

 Suara satpam membuyarkan lamunan Danendra.

 "Maaf, Bapak mau cari siapa?"

 Danendra tersenyum, "oh tidak, Pak. Saya hanya mengantar istri."

 "Oh," satpam itu tersenyum lalu menoleh ke dalam sebentar. "Berarti Bapak suaminya Bu Niken?"

 Danendra mengangguk. "Iya."

 "Bu Niken itu guru kesayangan di sini, Pak."

 Danendra menatap satpam itu. "Kesayangan?"

 "Iya. Anak-anak suka sekali sama beliau. Orang tua murid juga, kalau ada anak yang menangis, biasanya cukup digendong Bu Niken sebentar langsung diam."

 Danendra kembali mengarahkan pandangannya ke arah halaman sekolah. Saat itu, Niken sedang berjongkok di depan seorang anak perempuan yang menangis. Niken tampak mengusap lembut air mata anak itu, lalu membisikan sesuatu.

 Beberapa detik kemudian....

 Tangisan anak itu benar-benar berhenti, bahkan kini anak itu tertawa sambil menggenggam tangan Niken menuju kelas.

 Satpam itu tersenyum bangga. "Orang sebaik Bu Niken jarang ada, Pak." Pujinya.

 Danendra langsung teringat pada semua tuduhan yang pernah ia lontarkan kepada Niken, seorang wanita yang begitu penyayang anak-anak, wanita yang tetap menghormati suaminya meski hatinya tersakiti. Benarkah wanita seperti itu sanggup mengkhianati kehormatannya?

 Ia lalu menyalakan mesin mobil, tetapi tidak langsung pergi. Pandangannya masih tertuju pada ruang kelas dimana Niken mengajar.

 Kemudian Danendra mengukir senyum di wajahnya. "Jaga dirimu baik-baik, Niken..."

 Kalimat itu hanya terdengar di dalam hatinya.

 Sementara itu di dalam kelas, Niken sama sekali tidak menyadari bahwa ternyata sejak tadi suaminya memperhatikannya dari balik gerbang. Bahkan ia tak melihat ketika tatapan Danendra yang perlahan berubah menjadi tatapan seorang lelaki yang mencintai istrinya tanpa prasangka.

...****************...

1
Anam
Semangat update thor
Nina Melliana
laki2 pengecut pake ngadu ke ibunya, weuleuh mending pisah rmh sm mertua , niken.
Nina Melliana
betul gk kesucian diukur dg darah, itu cm mitos, yg penting " kepercayaan" , jaman sdh canggih, soal darah bisa dibuat ( dioprasi) bisa ber " kali" perawan 🤣
Kale
lanjut terus thor
Kale
kak Thor jngn sampai ada pelakor dlm pernikahan Danendra dn Niken,,hempaskn Alana jauh" thor
Kale
kisah ini sprti kisahku,,mlm pertama istriku tk meneteskn darah,,tp aku lihat dia sangat kesakitan,,bedanya aku tk perna menanyakn pda istriku tentang hal itu,,dn aku coba tanya ke temanku yg berprofesi dokter kandungan,,mmng sejatinya ada wanita yg tk mengeluarkan darah saat mlm pertama,,karena bentuk selaput dara yg menyerupai cincin,,
Kale
semoga pernikahanmu kekal tanpa ada orang ketiga
Kale
seharusnya nih ya Daren,,kau tak perlu cerita ke ibu mu,masalah mlm pertama mu ,,kau sekolah tinggi percuma,jika ilmu cetek,,baca buku,,tanya dokter,jngn langsung menuduh niken yg bukan",,dasar kau Daren
Kale
berarti si Danen sdh cerita ke orang tuanya soal mlm pertamanya,,,laki"mulut lemes
Kale
mulai para penggibah dn profokator menunjukkan muka
Kale
hanya laki"picik dn tidak berpikir rasional,jika mlm pertama harus ada tetes darah perawan, ,,
Kale
memang laki" picik jika malam pertama harus identik dengan adanya tetesan darah perawan, gk pernah sklh atau baca buku kan suaminya,,,kayaknya seru nih novelnya,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!