"Apa gunanya menjadi istri CEO kalau hatinya saja sedingin es kutub?"
Hidup Aratala Arasunya Grita tak pernah mudah. Sejak kecil di panti asuhan hingga berjuang demi biaya kuliah semester dua, Aratala sudah kenyang dengan kerasnya hidup. Namun, sebuah insiden sepeda listrik mempertemukannya dengan seorang wanita elegan—yang secara mengejutkan memintanya menjadi istri anaknya.
Elio Lerian Raymond, CEO muda yang dingin dan ceplas-ceplos, bukanlah pria yang mudah ditaklukkan. Awalnya Aratala menolak, namun angka fantastis yang ditawarkan mampu membungkam egonya.
Lagipula, ini cuma kontrak, pikir Aratala.
Namun, bagaimana jika pernikahan atas dasar kontrak dan kebutuhan biaya panti ini justru membawanya ke dalam pusaran perasaan yang tidak pernah ia rencanakan? Apalagi saat sang CEO mulai menunjukkan sisi posesifnya yang tak terduga.
Selamat datang di kehidupan penuh drama antara Cewe Cegil vs CEO dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kecegilan aratala telah kembali.
Proses pemeriksaan dan pengobatan berlangsung dalam keheningan yang menyiksa. Aratala menepati janjinya; ia berbaring kaku bagaikan manekin bernyawa. Matanya menatap kosong ke arah langit-langit ruangan putih itu, sementara tangannya mencengkeram erat ujung seprai hingga buku-buku jarinya memutih. Setiap kali rasa perih dari sentuhan medis itu menyengat, ia hanya menggigit bagian dalam pipinya sendiri sampai mengecap rasa amis darah, menolak untuk mengeluarkan satu rintihan pun yang bisa membuat Elio merasa menang.
Di sisinya, jemari besar Elio terus mengusap surai legam Aratala dengan gerakan lambat dan memuja. Pria itu tampak sangat terpuaskan. Kepatuhan mutlak yang ditunjukkan Aratala seolah menjadi candu baru baginya, menghapus semua sisa kecurigaan yang sempat melintas di benaknya tadi pagi.
"Bagus sekali. Anak pintar," bisik Elio lembut, mengecup pelipis istrinya yang berkeringat dingin saat dokter akhirnya mundur dan melepaskan sarung tangan karetnya.
"Luka robeknya sudah saya bersihkan dan obati, Tuan. Saya juga sudah menyuntikkan pereda nyeri dan antibiotik," lapor sang dokter paruh baya, menunduk hormat dengan nada kaku, tidak berani menatap langsung ke arah Aratala. "Nyonya Aratala harus beristirahat total selama beberapa hari ke depan. Tolong... hindari aktivitas fisik dan hubungan apa pun hingga lukanya benar-benar pulih."
Elio hanya mengangguk pelan sebagai jawaban, Dengan gerakan protektif yang kini terasa begitu memuakkan di mata Aratala, pria itu kembali merapikan jubah yang membalut tubuhnya. Ia mengangkat Aratala kembali ke dalam dekapannya seolah gadis itu adalah porselen rapuh miliknya yang paling berharga.
🌴🌴🌴
Perjalanan pulang terasa sedikit berbeda. Efek obat pereda nyeri mulai menjalar di aliran darah Aratala, membuat otot-ototnya yang semula tegang dan kebas kini perlahan melemas. Rasa kantuk menyerang hebat, namun ia memaksa otaknya untuk tetap sadar.
Kepalanya bersandar pasrah di dada bidang Elio, memainkan peran istri yang lemah dan tak berdaya dengan begitu sempurna. Tangan Elio melingkar posesif di pinggangnya, sesekali memberikan usapan menenangkan, sementara sebelah tangan pria itu sibuk mengecek tablet kerjanya.
Dari balik bulu matanya yang setengah terpejam, tatapan Aratala kembali tertuju pada saku jas Elio yang sedikit tersingkap karena posisi duduk pria itu. Ponsel cadangan itu masih ada di sana, mencuat sedikit dari balik kain mahal tersebut.
Detak jantung Aratala berpacu, namun napasnya tetap ia buat sedemikian teratur. Berkat kepatuhan palsu yang baru saja ia tunjukkan di klinik.
Pikiran Aratala langsung melayang pada janji yang harus ia tepati hari ini. Bi Nisa dan anak-anak di Panti Asuhan Kasih Sari pasti sedang menunggu kehadirannya. Jika ia tidak datang atau setidaknya memberi kabar, mereka pasti akan khawatir dan menunggu nya.
Aratala perlahan mendongakkan kepalanya dari dada bidang sang suami.
"Pa Elio..." panggilnya dengan suara pelan dan sengaja dilemahkan, membuat intonasinya terdengar begitu rapuh dan memohon.
Elio menoleh, menghentikan aktivitas tangannya pada tablet. Netra hitam pria itu menatap manik mata Aratala dengan alis terangkat sebelah.
"Hemm?" gumam Elio rendah, menunggu kelanjutan kalimat istrinya.
"Bisa tidak... kita mampir sebentar ke Panti Asuhan Kasih Sari?" cicit Aratala, jemarinya secara perlahan meremas ujung jubah tidur yang ia kenakan, menampilkan gestur ragu-ragu yang sangat meyakinkan. "Aku... aku sudah berjanji pada Bi Nisa dan anak-anak akan datang hari ini. Kalau aku tidak muncul dan tidak memberi kabar, mereka pasti cemas. Sebentar saja, Pa... kumohon."
Dengan bibir yang sengaja ia gigit pelan dan mata yang mulai berkaca-kaca, Wajah pucatnya ia dongakkan semakin dekat, menampilkan ekspresi paling memelas yang bisa ia ciptakan.
"kasihan mereka, Pa... saya sudah berjanji sore ini akan berkunjung" rintih Aratala, suaranya terdengar bergetar hebat, sangat pas dengan kondisi fisiknya yang baru saja dari klinik.
"Bi Nisa pasti menunggu dari pagi.
kalau pa Elio ga izinin aku minjem hp bapa aja bentar, buat ngasih tahu bi Nisa kalau aku ga bisa berkunjung "
Elio terdiam sejenak. Pria itu mengamati wajah pucat Aratala, menimbang-nimbang permintaan sang istri di balik sorot matanya yang tajam. Melihat betapa lemahnya Aratala saat ini, serta ekspresi memohon yang tampak begitu tulus, pertahanan Elio akhirnya runtuh. Lagi pula, istrinya hanya meminta untuk meminjam ponsel sebentar dan tidak berniat turun dari mobil.
"Baiklah," ucap Elio akhirnya dengan nada mengalah. Ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan ponsel cadangan, lalu menyerahkannya langsung ke tangan Aratala. "Tapi hanya untuk menelepon atau mengirim pesan, dan harus di depanku. Jangan macam-macam, Tala."
Aratala menerima ponsel itu dengan jemari yang sengaja ia buat sedikit bergetar, sengaja acting nya harus sempurna.
Dengan cepat, ia membuka aplikasi pesan, jarinya menari di atas layar untuk mencari kontak Bi Nisa. Ia tahu ia harus menyusun pesan sesingkat singkatnya.
Memastikan kata-katanya tidak mengundang kecurigaan Elio yang duduk di sampingnya sambil mengawasi setiap gerakannya.
“Bi, maaf banget hari ini aku belum bisa datang ke panti karena keadaanku kurang sehat. Tapi jangan khawatir, aku berencana akan berkunjung 3 hari lagi. Tolong kabari anak-anak ya, Bi.”
Setelah memastikan pesan itu terkirim, Aratala langsung menyerahkan kembali ponsel itu kepada Elio dengan tangan yang sedikit gemetar, memasang ekspresi lega yang dibuat-buat.
"Sudah..." cicit Aratala pelan, menyandarkan kembali kepalanya dengan lemah, sementara matanya diam-diam melirik ke arah luar jendela mobil yang mulai memasuki area pekarangan rumah mewah Elio.
🌴🌴🌴
Hari berganti, membawa serta tiga hari yang dihitung mati oleh Aratala dalam kepungan dinding-dinding mewah.
Di kamar utama yang megah—tempat ia dan Elio sebelumnya berbagi atap dan ranjang meskipun tersedia dua kasur di satu ruangan besar—suasana kini telah berubah total. Berkat alasan pemulihan medis dan rasa trauma fisik yang masih melekat, Aratala menggunakan situasi itu untuk menuntut batas tegas: ia pindah kamar secara permanen ke sayap utara rumah, menjauh dari jangkauan napas Elio yang menyesakkan.
Pagi ini, topeng wanita rapuh dan penurut yang ia kenakan selama tiga hari terakhir resmi dilucuti.
Di depan cermin besar kamarnya, Aratala berdiri tegak. Sisa-sisa nyeri di tubuhnya masih ada, Ia bukan lagi Aratala yang menangis di bawah tekanan; ia adalah cegil (cewek gila) yang siap menebar teror psikologis untuk membalas setiap inci luka yang ditorehkan Elio.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka tanpa aba-aba. Elio melangkah masuk dengan setelan rapi, rahangnya mengeras sempurna begitu melihat Aratala sudah berdiri berkacak pinggang dengan tatapan menantang, jauh berbeda dari bayangan istri penurut yang ia tinggalkan tidur semalam.
"Tala, apa yang kamu lakukan di luar kamar? Dokter bilang kamu harus—"
"Berhenti menceramahi aku, pa Elio!" potong Aratala tajam, suaranya melengking nyaring memecah keheningan pagi. Ia melangkah mendekati suaminya tanpa rasa takut, matanya menyala liar.
Elio tertegun, terkejut mendadak oleh perubahan drastis sang istri. Namun, sebelum pria itu sempat membuka suara untuk menuntut dominasinya kembali, Aratala sudah menyambar vas bunga kristal di atas meja nakas dan membantingnya tepat di lantai tepat di depan sepatu Elio hingga pecah berkeping-keping.
Pecahan kaca berhamburan, sementara Aratala malah tertawa kecil—sebuah tawa renyah namun sarat akan kewarasan yang mulai menguap.
"Selamat pagi, suamiku tersayang," bisik Aratala tepat di depan wajah Elio, matanya mendelik lebar dengan seringai mengerikan.
Elio tidak langsung bereaksi pada pecahan vas bunga di lantai. Pria itu hanya menunduk sejenak menatap serpihan kristal yang berserakan, lalu kembali mendongak. Sorot matanya menggelap, rahangnya mengetat, dan dalam satu langkah cepat, ia sudah mencengkeram pergelangan tangan Aratala—bukan dengan kasar, melainkan dengan cengkeraman mutlak yang tidak memberi ruang untuk kabur.
"Bisa jelaskan kenapa kamar tidur utama tiba-tiba kosong, Aratala?" suara Elio terdengar rendah, berbahaya, dan sarat akan tuntutan. "Barang-barang kamu sudah dipindah ke sayap utara. Tanpa izin aku. Apa-apaan ini?"
Aratala mendengus keras. Ia sama sekali tidak terlihat gentar, bahkan memutar bola matanya malas sambil menarik tangannya agar lepas dari cengkeraman Elio.
"Ya ampun, pa Elio, telinga kamu mendadak tuli atau gimana? Kamar utama itu pengap, bau apek, dan yang paling penting: aku butuh ruang napas!" balas Aratala ceplas-ceplos, menatap suaminya dengan dagu terangkat. "Emangnya kurang jelas ya instruksi dokter kemarin? Harus istirahat total, hindari hubungan apa pun sampai pulih. Kalau aku tetep tidur sekamar sama kamu, yang ada aku bukan sembuh, malah lumpuh kedua kalinya gara-gara nafsu kamu yang nggak tahu tempat!"
Elio tertegun seketika. Alis tebal pria itu menukik tajam, tidak menyangka Aratala akan melontarkan kalimat seterus terang dan secerewet itu tanpa filter sama sekali.
"Tala! Jaga mulut kamu," desis Elio, wajahnya mengeras menahan jengkel. "Kita suami istri. Memisahkan kamar tidur dengan dalih apa pun tidak akan aku izinkan. Kasur di kamar utama itu besar, bahkan ada dua kasur terpisah di ruangan yang sama. Kamu tidak punya alasan valid untuk—"
"Alasan valid?," potong Aratala cepat, menyilangkan tangan di dada dengan gaya menyebalkan.
"Istri, my foot!"
"Halo, Tuan Elio yang terhormat, tolong ingat-ingat lagi isi surat perjanjian konyol kita!" serobot Aratala, sengaja mencecar suaminya dengan nada ceplas-ceplos.
"Kita ini cuma suami istri kontrak, ya! Kamu bayar aku mahal cuma buat jadi pajangan pas kamu harus tampil di depan keluarga besarmu yang sok suci itu. Titik. Selesai."
Aratala menunjuk-nunjuk dada bidang Elio dengan jari telunjuknya, mengabaikan tatapan mata pria itu yang kini sudah menyipit tajam penuh bahaya.
"Bahkan di hadapan publik aja kita nikahnya sembunyi-sembunyi kayak maling jemuran, nggak ada resepsi, nggak ada pengumuman resmi, cuma 'pernikahan rahasia' demi ambisi warisan atau apalah itu versi kamu! Jadi, tolong banget, sadar posisi. Nggak usah akting seolah-olah kamu suami tersayang yang posesif banget sama istrinya. Kita tahu batasan masing-masing, kan? Jadi, urrusin urusanmu, biarin aku tinggal tenang di sayap utara, dan jangan ganggu privasi aku!"
Semburan kata-kata pedas dan telak itu meluncur begitu saja dari bibir Aratala, sukses membuat keheningan yang mencekam langsung menyergap ruangan tersebut.
🌴🌴🌴