"Sekali saja kita melangkah melewati batas ini, Arden... semuanya tidak akan pernah sama lagi."
Alyssa tidak pernah menyangka pernikahannya akan menyeretnya ke dalam pusaran dosa yang terlarang. Sebagai istri yang berbakti, ia selalu menekan keinginan pribadinya demi menjaga kehormatan keluarga besar suaminya.
Namun, benteng pertahanan itu runtuh saat Arden—adik iparnya—kembali dari luar negeri.
Arden bukan lagi remaja tanggung yang dulu ia kenal. Pria itu telah menjelma menjadi sosok dewasa yang penuh pesona, perhatian, dan diam-diam menawarkan kehangatan yang tak pernah Alyssa dapatkan dari suaminya sendiri.
Di sisi lain, Arden tersiksa. Semakin ia mencoba menjauh, semakin ia mendambakan Alyssa—wanita yang seharusnya haram untuk ia sentuh.
Kini, keduanya terjebak dalam tarik ulur perasaan yang menyiksa. Antara kesetiaan pada keluarga, atau menyerah pada godaan gairah yang candu.
Saat batas suci itu akhirnya dilanggar, siapkah mereka membayar harga yang teramat mahal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.18 -Kedatangan Arden
Adrian menatap layarnya yang masih menampilkan deretan pesan singkat untuk Hanum. Tak ada satu pun balasan dari kekasih gelapnya itu, membuat Adrian dilanda rasa cemas yang membakar dada.
Ingin rasanya ia menyusul atau menelepon Hanum terus-menerus, tapi meninggalkan Alyssa sendirian di Bali sungguh tidak mungkin. Pikirannya buntu; jika Maya sampai tahu, ia pasti akan dimarahi habis-habisan oleh ibunya.
"Ada apa, Mas?" tanya Alyssa yang menyadari gestur gelisah Adrian sejak tadi.
"Gak apa-apa. Ayo kita keluar mencari makan siang," ajak Adrian, berusaha mengontrol raut wajahnya serapi mungkin.
Alyssa hanya mengangguk pelan lalu berjalan mengekor di belakang Adrian. Keduanya melangkah dalam hening, sibuk memandangi layar ponsel masing-masing dengan pikiran yang sama-sama berkelana.
Sementara itu, di Jakarta...
Arden sudah rapi dengan pakaian santainya, siap menyusul Alyssa ke Bali. Logika Arden menolak keras membiarkan wanita yang dicintainya itu berduaan saja dengan sang kakak.
"Mau ke mana, Den?" tanya Maya yang berpapasan dengannya di ruang tengah.
"Mau pergi sama teman SMA, Ma," kilah Arden tenang, memberikan alasan yang paling masuk akal.
"Oh... ya sudah. Rumah jadi sepi, deh," keluh Maya seraya mendesah pelan.
Arden tersenyum tipis, lalu mendekati ibunya dan berbisik menggoda, "Mama ini... kan ada Papa. Kalian bisa pacaran lagi mumpung rumah lagi sepi."
Maya tertawa pelan seraya memukul lengan Arden gemas. "Kamu ini... Ya sudah, sana pergi. Hati-hati di jalan, ya!"
"Siap, Mama."
Arden mencium pipi sang ibu dengan penuh kasih, lalu melangkah keluar rumah menuju ojek online yang sudah menunggunya di depan pagar. Tujuannya hanya satu: Bandara Soekarno-Hatta, demi Alyssa.
Beberapa jam berlalu. Suasana restoran pinggir pantai di Nusa Dua terasa hangat, namun meja makan Adrian dan Alyssa justru diselimuti kecanggungan.
Makanan di piring Adrian bahkan hampir tak tersentuh. Matanya terus-terusan melirik ke layar ponsel yang telungkup di meja, berharap ada notifikasi balasan dari Hanum. Gelisah, panik, dan merasa bersalah bercampur menjadi satu, merusak seluruh atmosfir makan siang itu.
Alyssa yang menyadari hal tersebut hanya bisa menghela napas pelan. Ia memilih tidak peduli dan menikmati es kelapanya seraya memandangi pemandangan laut.
Tiba-tiba, ponsel Adrian bergetar pendek.
Buru-buru Adrian menyambar ponselnya. Sebuah pesan masuk dari nomor yang ia kenal di Jakarta, asisten dari Hanum.
"Pak Adrian, tolongin Hanum! Dari tadi dia nangis terus di kamar dan kurung diri, gak mau makan sama sekali..."
Jantung Adrian serasa berhenti berdetak seketika. Raut wajahnya mendadak pucat pasi.
"Alyssa..." panggil Adrian gagap, tangannya gemetaran saat mengusap wajahnya kasar. "Aku... aku harus balik ke Jakarta sekarang."
Alyssa menaikkan sebelah alisnya, terkejut. "Maksud Mas apa? Kita baru sampai Bali beberapa jam yang lalu."
"Ada urusan pekerjaan yang sangat mendadak dan darurat di kantor. Aku gak bisa tinggalin ini," alibi Adrian berantakan, tak berani menatap mata Alyssa karena rasa bersalah. "Kamu... kamu di resort aja dulu, ya? Nanti aku nyusul lagi ke sini kalau urusannya sudah beres."
Tanpa menunggu jawaban Alyssa lebih lanjut, Adrian langsung berdiri, meninggalkan beberapa lembar uang di atas meja, dan bergegas pergi memanggil taksi menuju bandara—meninggalkan istrinya sendirian di pulau asing itu.
Alyssa hanya bisa mematung menatap punggung Adrian yang menjauh. Ada rasa sesak yang menghantam dadanya, bukan karena cemburu, tapi karena merasa sangat dihina dan tidak dihargai sebagai seorang istri.
Sendirian di meja restoran yang luas itu, air mata Alyssa menetes tanpa bisa ditahan. Ia mengusap pipinya kasar, berusaha menguatkan diri. Lagi dan lagi, dia di tinggalkan.
Ponsel Alyssa bergetar. Sebuah nomor baru tanpa nama tertera di layar. Alyssa menghapus sisa air matanya lalu mengangkat panggilan itu dengan suara serak.
"Halo?"
"Jangan nangis. Aku benci lihat kamu nangis gara-gara pria itu," suara bass yang sangat familiar terdengar dari seberang telepon.
Tubuh Alyssa membeku. "Arden?"
"Liat ke belakang," bisik Arden pelan dari gagang telepon.
Alyssa serta-merta membalikkan badannya.
"Arden." Lirih Alyssa.
Di sana, tak jauh dari tempatnya duduk, berdiri Arden. Cowok itu menyampirkan sebuah ransel hitam di salah satu bahunya—tas yang tampak tak terlalu besar, hanya cukup untuk menampung beberapa potong pakaian daruratnya. Dengan kacamata hitam yang terselip di kerah kaus, Arden menatap Alyssa dengan tatapan hangat, dalam, dan penuh perlindungan.
Arden menurunkan ponsel dari telinganya, lalu melangkah pelan mendekati meja Alyssa.
"Aku bilang juga apa..." bisik Arden seraya mengusap lembut sudut mata Alyssa yang basah oleh air mata. "Dia gak akan pernah bisa ngejaga kamu dengan benar, Sa."
Bersambung ...
udah'lh Al., lepasin aja., laki² seperti itu tidak pantas d'tunggu
Aku muak sama Kamuuuu...!!!
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣