TOXIC AND CONTROL
Karya: Parkha
Bagi Kinara Jose, hidup sebagai siswi penerima beasiswa berpenampilan polos dengan kacamata tebal adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dengan tenang di SMA Elite. Namun, seluruh dunianya runtuh saat ia tidak sengaja menarik perhatian Rian Pradifta.Rian—sang Tiran berwajah malaikat namun berhati iblis, cowok terkaya, terdingin, dan paling ditakuti satu sekolah. Sekali Rian mengunci pandangannya pada Kinara, tidak ada jalan keluar. Cowok itu terobsesi mengontrol setiap jengkal hidup Kinara, memutuskan dengan siapa ia bicara, ke mana ia pergi, hingga apa yang harus ia pakai.Kehidupan Kinara yang tenang kini berubah menjadi labirin yang mencekik. Rian adalah racun, namun juga satu-satunya oksigen yang tersisa untuknya. Di tengah kepungan obsesi gila itu, sebuah rahasia besar perlahan terkuak: di balik kacamata tebal dan sikap penurutnya, Kinara menyimpan pesona tersembunyi yang siap menjungkirbalikkan kuasa Rian sang Tiran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TOXIC AND CONTROL* *BAB 34: GEJOLAK DI BALIK PINTU VANDA*
*TOXIC AND CONTROL*
*BAB 34: GEJOLAK DI BALIK PINTU VANDA*
Langkah kaki Kinara Jose terasa kaku menyusuri koridor senyap lantai sembilan khusus Suite VIP Vanda. Di bawah pendar temaram lampu dinding rumah sakit, jemari mungilnya berulang kali naik, menyentuh permukaan bibir bawahnya yang masih menyisakan rasa kebas dan berdenyut halus. Detak jantung di balik rongga dadanya masih bertalu gila-gilaan, menyisakan rona merah padam yang enggan turun dari kedua pipi polosnya.
Kinara mengembuskan napas panjang, mencoba meredam paranoianya yang berkecamuk hebat. Dia memejamkan mata sesaat di depan pintu kayu jati tebal berkode Kamar 901, meremas tali tas bakulnya demi menata kembali sisa kewarasannya yang sempat porak-poranda akibat "mimpi" mesum di dalam kabin mobil sport Rian tadi. Sesuai instruksi tiran sang kakak kelas, dia tidak boleh memperlihatkan wajah lelah atau ekspresi berantakan yang bisa membuat ibunya cemas.
Cklek.
Kinara mendorong daun pintu tebal itu dengan perlahan. Aroma menenangkan dari terapi lavender langsung menyapa indra penciumannya, berbaur dengan hawa sejuk pendingin ruangan yang melingkupi fasilitas mewah kamar Suite VIP tersebut.
Di atas brankar medis elektrik yang nyaman, Ibu Lusi tampak sedang bersandar tenang pada tumpukan bantal lembut. Wajah paruh bayanya yang semula sayu seketika berbinar cerah saat menangkap sosok anak gadisnya melangkah masuk.
"Kinara... anak Ibu sudah datang?" sapa Ibu Lusi dengan suara lembut yang terdengar jauh lebih bertenaga berkat penanganan medis terbaik dari dokter spesialis utusan Pradifta.
Kinara memaksakan seulas senyum manis di wajah polosnya, melangkah mendekat lalu meletakkan tas bakulnya di atas meja nakas. "Iya, Ibu. Maaf Kinara baru bisa datang jam segini karena tadi harus menyelesaikan tugas kelompok di sekolah dulu."
Ibu Lusi tersenyum teramat tulus, meraih tangan mungil putrinya dan mengelusnya perlahan. Namun, naluri tajam seorang ibu tidak bisa dibohongi. Pandangan mata Ibu Lusi mendadak menyipit halus saat menangkap rona merah padam yang masih membekas aneh di pipi dan daun telinga Kinara. Ditambah lagi, Ibu Lusi menyadari putrinya sedang mengenakan sebuah jaket rajut tebal berwarna abu-abu yang ukurannya terlampau longgar di tubuh mungil Kinara, menyisakan aroma parfum maskulin pekat yang sangat familiar.
"Kinara... kamu sakit, Nak? Kenapa wajahmu merah sekali begitu?" Ibu Lusi menyentuh kening Kinara dengan raut cemas, lalu melirik jaket longgar yang menenggelamkan tubuh anaknya. "Bibirmu juga sedikit bengkak. Apa udara di luar sangat dingin? Dan ini... jaket siapa yang kamu pakai, Nak?"
DEG.
Jantung Kinara melewatkan satu detakan kaku. Pertanyaan polos dari ibunya seketika menghantam hancur pertahanannya, membuat kilat kepanikan masif kembali pecah di dalam kepalanya. Sensasi kebas di bibirnya mendadak terasa kian menyengat, memaksanya buru-buru memalingkan wajah ke samping demi menyembunyikan salah tingkahnya yang kian tidak keruan. Dia baru sadar bahwa karena terlalu panik saat terbangun di parkiran bawah tadi, dia malah membawa masuk jaket abu-abu milik Rian yang semula menyelimuti tubuhnya.
"Ah... tidak apa-apa, Ibu! Di luar memang agak berangin, dan AC di dalam mobil teman Kinara tadi terlalu dingin," dusta Kinara terbata-bata dengan wajah memerah padam, merutuki otaknya yang justru kembali memutar bayangan kebrutalan pagutan Rian murni karena kata "mobil" baru saja lolos dari bibirnya.
"Teman kamu?" Ibu Lusi mengangguk-angguk paham, sebelum seulas senyum penuh arti terbit di bibirnya yang pucat. "Maksudmu... Nak Rian? Pacar tampanmu yang waktu itu mengurus semua fasilitas VIP ini? Berarti aroma wangi di jaket ini milik Nak Rian, ya?"
Mendengar nama sang penguasa sekolah disebut begitu takzim oleh ibunya, ulu hati Kinara kembali berdenyut nyeri yang luar biasa pekat oleh luapan emosi campur aduk. Kontrak pelayan tiga bulan dan manipulasi dana tiga ratus juta rupiah yang dirancang Rian secara tiran seketika membayang, mengingatkannya bahwa jerat sangkar emas cowok itu telah mengunci mati seluruh jalan kebebasannya.
"I-iya, Ibu. Tadi Kak Rian yang mengantarkan Kinara sampai lobi bawah," cicit Kinara jujur, menelan bulat-bulat rasa jengahnya murni demi kedamaian batin sang ibu. "Tapi Kak Rian tidak bisa ikut naik karena hari sudah terlalu malam. Kakak tidak mau mengganggu waktu istirahat Ibu."
Ibu Lusi tampak terharu, matanya berkaca-kaca menatap Kinara penuh rasa syukur. "Ya ampun... Nak Rian itu benar-benar pemuda yang sangat baik dan penuh perhatian, Kinara. Meskipun pembawaannya kaku dan tegas, tapi dia sangat memikirkan kondisi Ibu. Kamu harus menjaga hubungan kalian dengan baik ya, Nak. Ibu merasa sangat tenang dan aman karena tahu ada sosok sekuat Nak Rian yang menjagamu di luar sana."
Kinara hanya bisa terdiam membisu, meremas ujung rok seragamnya kuat-kuat di balik jaket longgar Rian hingga buku jarinya memutih kaku. Getaran manis yang asing bercampur rasa jengah yang teramat menakutkan mendadak melebur menjadi satu di relung hatinya. Sang ibu mengira Rian adalah malaikat pelindung, tanpa pernah tahu bahwa cowok gila kontrol itulah yang telah mengunci kebebasannya lewat kontrak pelayan hitam di atas putih, dan menghancurkan sisa eksistensi siapa saja yang berani mengusik wilayah kekuasaannya. Kendati Rian sudah menurunkan egonya untuk meminta maaf secara tulus atas kebrutalannya di Aston Club dulu, tetap saja sifat tiran cowok itu dalam mengatur hidup Kinara selalu berhasil membuat batinnya bergejolak tidak keruan.
Tok! Tok!
Ketukan pelan di pintu memutus keheningan kamar rawat inap tersebut. Seorang perawat senior melangkah masuk sembari membawa selembar papan klip berisi dokumen rincian rekam medis harian.
"Permisi, Ibu Lusi, Kinara... Maaf mengganggu waktunya sebentar sebelum jam istirahat malam," ujar perawat itu dengan sikap yang teramat ramah dan membungkuk hormat. "Saya hanya ingin mengantarkan salinan berkas pembaruan administrasi obat khusus harian dan laporan berkala dari dokter spesialis."
Kinara seketika menegang di tempatnya berdiri. Bayangan mimpi buruk finansial tentang tagihan ratusan juta yang sempat memojokkannya ke ujung tanduk langsung membuat paranoianya bangkit kembali. "Sus... apakah ada kendala atau sisa biaya administrasi yang harus saya tanda tangani malam ini?" tanya Kinara cepat dengan suara yang bergetar cemas.
Kinara melirik lembaran kertas di atas papan klip tersebut. Ekor matanya menangkap nominal angka puluhan juta rupiah untuk deretan obat impor pasca-operasi harian yang tertulis di sana. Dada Kinara seketika berdesir lemas; dia sadar, dengan sisa uang tabungannya atau gajinya di Aston Club sekalipun, mustahil baginya menebus nominal sebesar itu sendirian.
Perawat itu tersenyum lebar, menggelengkan kepalanya dengan sopan. "Oh, sama sekali tidak ada, Kinara. Justru kami ingin menginformasikan bahwa seluruh biaya deposit tindakan medis lanjutan, pasokan obat impor pasca-operasi untuk satu bulan ke depan, hingga biaya perpanjangan kamar Suite VIP Vanda ini sudah dilunasi seluruhnya secara tuntas sekitar satu jam yang lalu menggunakan otorisasi kartu hitam Black Card milik Tuan Muda Rian Pradifta."
Perawat itu menjeda kalimatnya, menatap Kinara dengan pandangan kagum yang kentara. "Pihak jajaran direksi rumah sakit bahkan sudah menerima instruksi mutlak dari perwakilan keluarga Pradifta untuk memasukkan seluruh tagihan perawatan Ibu Lusi sampai sembuh total tanpa batas waktu langsung ke rekening utama mereka. Jadi, keluarga Anda tidak perlu memikirkan urusan administrasi lagi."
DEG.
Darah di sekujur tubuh Kinara mendadak terasa mendesir sedingin es yang mencekam. Sepasang matanya membelalak sempurna menatap lembaran kertas di tangan perawat. Satu jam yang lalu? Itu artinya, tepat saat Kinara sedang tertidur pulas dan "bermimpi" dihajar pagutan brutal di dalam kabin mobil Porsche di area parkir bawah, Rian secara diam-diam telah menggunakan ponselnya untuk mengeksekusi seluruh pelunasan finansial ini tanpa sepengetahuannya.
Sifat dominan, royal, dan tiran finansial Rian Pradifta lagi-lagi bekerja dengan sangat mutlak tanpa bisa diintervensi oleh siapa pun. Sisi tiran di dalam batin sang penguasa sekolah tampaknya benar-benar tidak sudi melihat barang miliknya memasang wajah menyedihkan memikirkan uang di hadapannya.
Setelah perawat itu pamit keluar dan Ibu Lusi kembali tertidur lelap akibat pengaruh obat bius harian, Kinara melirik jam dinding yang perlahan bergerak mendekati batas waktu tiga puluh menit yang diberikan Rian.
Dengan dada yang bergemuruh hebat oleh luapan amarah jengkel akibat harga dirinya yang kembali merasa diinjak-injak oleh kekuasaan uang Rian, bercampur getaran manis dari sensasi kebas bibirnya yang kian tidak kendali, Kinara menyambar tas bakulnya kasar. Dia melangkah lebar keluar dari Kamar 901, menutup pintu jati itu rapat-rapat, lalu berjalan setengah berlari menyusuri lorong rumah sakit menuju lift.
Malam ini, di area parkir bawah yang sepi, Kinara bersumpah akan menuntut perhitungan langsung di depan wajah kaku sang monster gila kontrol atas seluruh skenario sewenang-wenang yang telah cowok itu perbuat pada sisa hidupnya.
---
semoga Kinara terselamatkan dr jebakan Randy
kalian yang awal bab maki2 Rian ..tetap maki2 ya soalnya Rian tobatnya masih lama wkkwkwk