NovelToon NovelToon
SISTEM WINGER

SISTEM WINGER

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Pemain Terhebat
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

Setiap bek senior menganggapnya beban tim. Alex cuma winger kurus dari klub kasta tiga yang gajinya sering telat. Tapi malam itu, sebuah Sistem aktif di kepalanya — dan mengubah anak kampung jadi ancaman nyata bagi bek terbaik dunia.

#SportsSystem #SistemWinger #FromZeroToHero #RonaldoVibes #EvolusiFisik #FiksiOlahraga #NovelSepakBola #SkillTreeSepakBola #WingerLegendaris #ProgressionFantasy

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Reporter di Gerbang Kedatangan

Pesawat yang membawa Alex, Dimas, dan Reno mendarat di Bandara Soekarno-Hatta menjelang siang, disambut hiruk-pikuk kota besar yang jauh berbeda dari suasana tenang Padang. Alex menempelkan wajahnya ke jendela pesawat sejak turun dari ketinggian, matanya berbinar menyaksikan lautan gedung pencakar langit yang selama ini hanya dia lihat lewat layar televisi tua di rumah.

"Woy, tutup mulut lo," ledek Dimas sambil menyenggol bahunya, "kayak baru pertama kali naik pesawat aja."

"Ya emang baru pertama kali, goblok," balas Alex sambil tertawa, tak sedikit pun tersinggung dengan ledekan itu. "Lo kira gue tajir kayak lo, bisa mondar-mandir naik pesawat tiap bulan?"

"Ya kali gue tajir," Dimas memutar bola mata, "orang tua gue jual sawah buat biayain gue masuk akademi, taulo."

Reno, yang duduk di baris belakang mereka, menyembulkan kepala di antara kursi. "Udah ah, berhenti curhat soal sawah. Kita fokus, jangan sampe nyasar begitu turun dari pesawat. Gue denger bandara ini gede banget, orang kampung kayak kita bisa nyasar tiga jam nyari pintu keluar doang."

"Lah, lo juga orang kampung," sahut Alex cepat, memicu tawa dari keduanya.

Suasana di dalam bus penjemputan menuju asrama pelatnas terasa hangat oleh candaan ringan yang terus mengalir sepanjang perjalanan. Alex sesekali mengintip keluar jendela, menyaksikan jalanan Jakarta yang padat dan riuh, sebuah dunia baru yang terasa begitu jauh dari lapangan tanah kampung halamannya, namun anehnya tidak lagi terasa menakutkan seperti saat pertama kali dia tiba di Akademi Semen Padang dulu.

```

[NOTIFIKASI SISTEM]

Mental: 78 → 82

Penyebab: Lingkungan sosial positif dan antisipasi tantangan baru yang sehat

Catatan Sistem: Kondisi psikologis Host berada pada level tertinggi sepanjang pencatatan Sistem.

```

Sesampainya di kompleks pelatnas PSSI yang cukup megah dengan beberapa lapangan latihan berstandar tinggi, para pemain dari berbagai akademi se-Indonesia mulai berdatangan, membawa tas masing-masing dengan ekspresi campuran antara gugup dan bersemangat.

Di area pendaftaran, sekelompok kecil wartawan dan fotografer sudah berjejer, mengabadikan momen kedatangan pemain-pemain muda yang digadang-gadang menjadi generasi emas berikutnya Timnas Indonesia.

"Permisi, boleh wawancara sebentar?"

Alex menoleh, mendapati seorang gadis muda berdiri di depannya dengan mikrofon kecil bertuliskan logo media olahraga nasional, wajahnya ramah dengan senyum yang terlihat profesional namun tetap hangat. Usianya tampak sebaya dengannya, rambut sebahu diikat rapi, membawa buku catatan kecil di tangan yang lain.

"Eh... saya?" Alex menunjuk dirinya sendiri, sedikit gugup, jauh lebih gugup dibanding saat menghadapi bek-bek tangguh di lapangan.

"Iya, kamu," gadis itu tertawa kecil melihat reaksi canggungnya. "Nama saya Sasha, dari Garuda Sport Network. Kamu Alex Pratama kan? Yang gol knuckleball waktu final turnamen Sumbar kemarin, videonya viral banget."

"Oh, iya... itu saya," jawab Alex, merasakan pipinya sedikit menghangat, entah karena gugup diwawancara atau karena sesuatu yang lain yang tak ingin dia akui secara sadar.

Dimas, yang berdiri tak jauh darinya, langsung menyikut pelan sambil berbisik jahil. "Cieee, ditanyain reporter cakep langsung gagap."

"Berisik lo," bisik Alex balik, berusaha menjaga ekspresi tenang meski telinganya memerah.

Sasha membuka buku catatannya, tersenyum ramah. "Gimana perasaannya bisa lolos seleksi awal buat ikut training camp ini? Denger-denger kamu baru dua bulan gabung akademi, tapi udah langsung direkomendasikan."

"Ya... rasanya masih kayak mimpi sih," Alex menjawab jujur, mencoba menenangkan degup jantungnya yang entah kenapa terasa lebih kencang dari biasanya. "Beberapa bulan lalu saya masih main di klub kasta tiga, hampir didepak malah. Sekarang tiba-tiba udah di sini, ketemu banyak pemain hebat dari seluruh Indonesia."

"Perjalanan yang keren buat diceritain," Sasha mencatat cepat, matanya sesekali melirik ke arah Alex dengan tatapan yang tulus penasaran, bukan sekadar formalitas kerja. "Ada pesan buat pendukung yang udah nonton video kamu viral kemarin?"

Alex terdiam sejenak, memikirkan kata-kata yang tepat, sebelum akhirnya tersenyum kecil. "Mungkin... terima kasih udah percaya, meski saya sendiri sempet nggak percaya diri sendiri. Dan buat yang ngerasa lagi di titik terendah kayak saya dulu—jangan berhenti, karena kadang titik terendah itu justru awal dari sesuatu yang lebih baik."

Sasha berhenti mencatat sejenak, menatap Alex dengan ekspresi yang sedikit berubah—bukan lagi sekadar wartawan yang menjalankan tugas, melainkan seseorang yang benar-benar tersentuh oleh jawaban jujur yang tak dia duga akan sedalam itu.

"Itu jawaban yang bagus banget," katanya pelan, tersenyum tulus. "Semoga sukses ya di training camp-nya. Saya bakal liput terus perkembangan kamu."

"Makasih," jawab Alex, membalas senyum itu meski jantungnya masih berdebar aneh.

Setelah Sasha berlalu menuju pemain lain untuk diwawancarai, Dimas langsung merangkul pundak Alex dengan seringai lebar. "Wih, gaya lo tadi, bro. 'Titik terendah itu awal dari sesuatu yang lebih baik.' Puitis amat, kayak abis baca novel."

"Diem lo," Alex mendorong pelan lengan Dimas, meski dia sendiri tak bisa menahan senyum yang terus muncul di wajahnya. "Emang kenapa? Jujur doang kali."

"Iya, jujur," Reno ikut menimpali sambil tertawa, "jujur juga kalo lo demen tuh sama reporter tadi, kelihatan banget mukanya merah pas diajak ngomong."

"APAAN SIH," Alex berteriak protes, wajahnya semakin memerah, memicu tawa lebih keras dari kedua sahabat barunya itu.

Di tengah tawa dan candaan ringan itu, Alex melangkah menuju gerbang pendaftaran resmi training camp, membawa tas dan keripik balado pemberian Dimas yang masih tersimpan rapi di dalamnya—seorang pemuda yang, meski baru saja melalui titik tergelap dalam hidupnya, kini berjalan menuju babak baru dengan hati yang jauh lebih ringan dari sebelumnya.

1
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Otw
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
the misterius author 🐐: jangan lupa bintang 5 nya bg biar semangat up nya bg 🙏
total 3 replies
Protocetus
Novel yang menarik from Zero to Hero
Protocetus
Semangat2
the misterius author 🐐: makasih bg bintang 5 nya
total 1 replies
Protocetus
Wuih jadi keinget Manhwa namanya Build Up. Si MC berusaha menghancurkan tembok penghalang dirinya.
Protocetus
Divisi berapa ini min?
the misterius author 🐐: devisi 3 kak
total 1 replies
the misterius author 🐐
bantu support nya kak bg kalau mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!