Semua sudah berakhir. Aku yang sulit dalam bergaul, pasti akan mudah dilupakan oleh orang – orang. Tidak dekat dengan siapapun, mau itu teman atau bahkan keluarga, pasti membuat kematianku sama seperti angin yang berlalu. Tidak dikenang oleh siapapun. Hanya kesendirianan yang tersisa. Akhir yang pantas bagi orang sepertiku. Seharusnya begitu, tapi …,
Kenapa aku bisa merasakan tetesan air mata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shourizzz BP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PESTA BELUM BERAKHIR
Sekarang sudah pukul 10 malam, lewat dikit. Awan bilang masih bisa datang ke pesta kalau aku ingin. Acara biasa selesai tengah malam. Dalam keadaanku yang sekarang, tentu saja aku menolak untuk datang. “Kamu aja kalau mau,” kataku padanya karena tidak enak kalau harus menemaniku pulang ke rumah. Kulihat – lihat, Awan sudah sangat siap untuk pergi ke pesta. Dia menggunakan outfit terbaik. Aku tidak tau bagaimana dia kalau jalan biasa, bisa juga pakaian yang dia pakai sekarang adalah pakaian yang sering dia gunakan, tapi kurasa bukan. Dia menggunakan pakaian tuxedo. “Santai! Lagian biasanya aku juga gak ikut.”
“Justru itu!” Awan terlihat bingung. Dia menghabiskan sisa minuman dalam sekejap. “Aku tau!” Dia mengambil ponsel dan mulai menelpon seseorang. Dia sedikit menjauh dariku saat ada yang bicara, membuatku tidak tau percakapan yang mereka lakukan. Sekilas terdengar seperti suara cowok, tapi belum pasti juga, entahlah. Tidak lama, Awan kembali dengan ekspresi senang. “Ayo ikut aku!”
“Kemana?”
“Udah ikut aja.” Awan menarikku dan membukakan pintu mobil. “Motormu tinggal sini aja. Harusnya aman, asalkan kunci stang.” Aku melakukan apa yang dia sarankan. Mengunci stang, membawa helm, dan ikut naik ke mobilnya. “Siap?” Aku mengiyakan meski tidak tau apa yang dia rencanakan.
Perjalanan menempuh waktu lebih dari 20 menit. Selama itu, aku hanya fokus memperhatikan jalan. Tidak ada yang kulakukan. Aku bahkan hampir ketiduran. Mataku yang lelah tidak bisa kusembunyikan. Saat aku hampir terlelap, Awan pasti mengajakku bicara. Seolah – olah dia membiarkanku tetap terjaga, atau bisa juga dia kesal karena kepalaku selalu jatuh kearah kopling mobil setiap hampir tertidur. Terlepas dari alasannya, selama perjalanan polanya terus berulang, sampai pada akhirnya aku tidak bisa tertidur lagi. Aku mulai sadar kemana Awan membawaku setelah kami melewati kawasan hutan. Jalannya menanjak keatas, membuatku memikirkan suatu tempat, daerah perbukitan. Aku tidak pernah berkunjung, tapi aku sering mendengar orang membicarakannya.
Tahura Sultan Adam, merupakan salah satu destinasi wisata yang berada dekat wilayahku. Kawasan ini sering dijadikan tempat untuk orang – orang berlibur. Menurut orang yang pernah kesana, fokus yang menjadi daya tariknya adalah pemandangannya yang sangat bagus, “lautan awan.” Orang – orang sedang heboh membicarakannya. Mungkin karena alasan itu Awan mengajakku. Dia ingin mengikuti sesuatu yang sedang viral.
Susana malam yang dingin menyelimuti seluruh tubuhku. Angin – angin berlalu lalang dengan nyaman. Embusannya terasa bagaikan kebebasan. Padahal aku baru saja menginjakkan kaki, aku tidak tidak pernah kemari sebelumnya, tapi entah kenapa, rasanya seperti sudah sangat lama tidak kembali. Seperti ada perasaan rindu yang terobati. Kupejamkan mata seraya menarik napas dalam – dalam. Sekilas aku mengenang kembali kejadian yang menimpaku. Dikejar orang tidak dikenal, dikeroyok rame – rame, sampai diselamatkan dan membicarakan soal pertemanan. Kejadian singkat yang terasa begitu panjang. Kubuka mata dan mencoba membuang semua perasaan buruk, menyisakan kenangan baik seraya menghembuskan napas secara perlahan.
“Syukurlah aku mengajakmu kesini.” Awan tersenyum padaku. Aku juga berterimakasih padanya karena sudah mengajakku, meski tidak kuungkapkan secara langsung. “Ayo ikut aku, masih ada yang harus kamu liat.” Tidak jauh berjalan, kulihat banyak tenda yang terbangun. Semua menghadap kesudut yang sama, kearah pemandangan kota. Aku memang tidak bisa melihat lautan awan karena sudah malam, tapi melihat kelap - kelip perkotaan dari kejauhan, bukanlah hal yang buruk. Pemandangan langka yang belum pernah kulihat sebelumnya. “Itu dia!” Awan menunjuk ke salah satu tenda berwarna abu – abu, tenda berjenis tunel.
“Awan!” Seorang cowok dewasa sedang duduk didalam tenda tersebut. Dia tertawa cukup keras sebelum menjabat tangan Awan dan tanganku secara bergantian. Dia menertawakan pakaian yang digunakan Awan. Sebenarnya selama berjalan ke tenda, banyak orang yang melihat kearah kami, awalnya aku kira itu hal yang wajar untuk melihat orang yang lewat, tapi saat aku mendengar suara tawa dari mereka dan melihat kearah Awan, aku baru sadar kalau aku sedang bersama anomali.
“Males kalau harus balik ke rumah dulu.” Alasan yang dibuat Awan ketika ditanya tentang pakaian yang dia gunakan. “Lagian ini keren buat foto – foto,” sambungnya dengan bangga.
“Terserahlah!” Awan memanggilnya Bang Nanang, tapi dilihat dari umurnya, kemungkinan dia seumuran dengan Ayahku, mungkin lebih muda beberapa tahun. Dia lebih cocok dipanggil om daripada abang, tapi karena Awan memanggil begitu, aku ikut – ikutan saja. “Yaudah sini!” Dia mempersilahkan kami duduk. “Tunggu.” Dia mengambil sebuah barang didalam tasnya. Setelah kusadari, itu adalah kotak P3K. “Biar aku obatin.” Bang Nanang membersihkan lagi luka yang terbuka ditubuhku, menutupnya dengan kapas, dan membalutnya dengan perban. Luka bengkak yang tidak bisa kusembuhkan, dia tutup juga dengan perban elastis. Rasa sakit ditubuhku jauh berkurang. “Nah lebih baik!”
“Dokter?” Aku ditertawakan olehnya saat bertanya, bahkan Awan ikut tertawa. “Salah ya?”
“Kebetulan Bang Nanang pernah ikut MAPALA. Dia cuman pengangguran yang ngaku – ngaku kerja freelance.”
“Enak aja ngaku - ngaku! Aku memang freelance.”
Mereka berdua terlihat akrab. Aku jadi penasaran apa hubungan mereka. Setauku Awan anak Tunggal. Ayahnya? Sepertinya bukan. Masa panggilannya pakai bang? Bisa aja sebenarnya, aku tidak pernah lihat muka ayahnya. Tapi, muka mereka terlihat tidak mirip. “Saudara ya?” Sekali lagi aku ditertawakan oleh mereka saat bertanya.
“Mana sudi aku sekeluarga sama orang yang suka ngeluh! Padahal masih muda.”
“Eh! Jaman kita beda, hidup digenerasi kami jauh lebih berat! Wajar ngeluh!”
“Nah! Mulai!” Bang Nanang kembali memeriksa isi tasnya. “Udahalah! Daripada ribut – ribut, mending kita makan.” Dia mengeluarkan mie dari tasnya. “Kalian pasti lapar.”
Aku dan Awan saling menatap lalu mengangguk bersama. Aku tidak tau dengan Awan, tapi aku sengaja tidak makan karena tau akan pergi ke pesta. Ternyata aku tidak jadi pergi kesana dan malah berakhir disini. Sekarang aku benar – benar kelaparan. Bersama Bang Nanang, kami segera mempersiapkan masakan. Bang Nanang dengan sengaja membawa tiga kompor portable karena tau aku dan Awan akan datang. Masing – masing dari kami menjaga satu kompor, aku ditugaskan untuk menyiapkan mie, Awan dengan sukarela menawarkan dirinya untuk menyiapkan telur, Bang Nanang sendiri bertugas menyiapkan minuman kopi.
Selama memasak, Awan dan Bang Nanang membicarakan banyak hal, aku tidak terlalu menyimak, fokusku teralihkan pada pemandangan indah yang jarang bisa kulihat. Aku kembali takjub dengan ciptaan tuhan yang sering kuabaikan. Kemana saja aku selama ini? Baru menemukan pemandangan yang begitu luar biasa. Tidak pernah terlintas dipikiranku untuk datang melihat pemandangan, menghabiskan waktu hanya untuk memandanginya. Kalau bukan karena ajakan Awan, aku tidak akan pernah merasakannya. Perasaan nyaman saat sedang tidak melakukan apa – apa. Hanya diam melihat sekitar. Perasaan baru yang belum pernah kurasakan selama aku hidup.
Semua yang perlu dimasak telah siap. Bang Nanang mulai menyusun piring dan gelas. Kulanjutkan menuangkan mie di masing – masing piring, kuusahakan membaginya secara rata. Awan membantu menuangkan kopi ke dalam gelas plastik. Sekarang semua benar – benar sudah siap. Tidak ada lagi yang perlu kami lakukan selain menikmati hidangan yang telah dibuat. “Mari berdoa!” Bang Nanang memimpin menurut agama dan kepercayaan masing – masing.
Kucicipi secara perlahan mie yang berada dipiringku, kutiup sedikit jika panasnya melebihi kapasitas ketahanan mulutku. Mungkin karena kurang lama saat dimasak, teksturnya kurang lembut. Telor dimasak setengah masak, membuatnya mudah ditelan. Minuman kopi terasa normal, aku tidak bisa membedakan mana yang enak mana yang tidak, dimulutku rasanya sama semua, pahit.
“Gimana Bang Nanang, enak kan telor yang kumasak?”
“Kurang asin ini.”
“Masa?” Awan mencoba memastikan sendiri. Suara ecapannya terdengar sampai telingaku. “Bener juga, kurang garam – Woy! Kan emang gak ada garam!”
Bang Nanang terlihat puas menertawakan Awan. Meski kesal, Awan ikut tertawa setelahnya, begitu juga denganku. Waktu sesaat yang kuhabiskan bersama mereka terasa sangat menyenangkan. Padahal kami tidak punya hubungan darah, kami hanya orang asing yang dipertemukan, bahkan aku baru saja mengenal Bang Nanang, tapi perasaan apa ini? Perasaan yang sudah lama tidak kusarakan. Rasanya seperti sebuah keluarga yang sedang makan bersama. Sudah berapa lama aku tidak merasakannya? Makan bersama disertai canda tawa.
Mie terenak yang pernah kumakan seumur hidup.