Wang Chan hanyalah pemuda biasa dari Desa Hitam. Berkali-kali ditolak oleh sekte karena bakat rendah dan kekuatan lemah.
Namun saat desa mereka dihancurkan oleh monster iblis, ia tak punya pilihan selain melarikan diri sambil membawa seorang teman wanitanya.
Di tengah dunia kultivasi yang kejam, Wang Chan harus bertahan hidup dengan kekuatan yang nyaris tak berarti. Dari pelarian putus asa itulah, takdirnya mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Dua kekuatan besar
Di medan perang, Wen Tianren tiba-tiba melompat ke udara. Tubuhnya melayang puluhan meter di atas tanah, dan untuk pertama kalinya, senyum di wajahnya hilang.
"Kalau begitu..."
Pedangnya terangkat tinggi ke langit. Energi biru mulai berkumpul di ujung bilah, mula-mula hanya setitik, lalu membesar, membesar, dan membesar.
Langit berubah warna.
Awan di atas mereka berputar membentuk pusaran raksasa. Pusaran itu perlahan turun, seolah tersedot oleh pedang Wen Tianren.
Angin bertiup kencang, membuat debu beterbangan, membuat pakaian para penonton berkibar liar.
"Teknik Pedang Langit Biru!"
Bzzzttt!
Sebuah pedang energi raksasa muncul di atas langit.
Panjangnya ratusan meter, membentang dari awan hingga hampir menyentuh tanah.
Warnanya biru pekat, dengan kilatan-kilatan listrik di permukaannya yang berdetak krek krek krek.
Aura mengerikannya membuat banyak kultivator pucat pasi.
"B-Besar sekali..." bisik seseorang di antara kerumunan.
"Apakah itu kekuatan seorang jenius?"
"Tidak heran dia disebut yang terkuat di bawah Nirvana..."
Wen Xiang menahan napas. Tangannya yang menutup mulut kini menekan lebih erat, sampai buku-buku jarinya memutih.
Wang Chan berdiri di tanah, menatap ke atas.
Pedang raksasa itu jatuh.
Perlahan di awal, lalu semakin cepat, semakin cepat, hingga seperti meteor yang meluncur dari langit dengan kecepatan yang mengerikan.
Udara di sekitarnya terdesak, menciptakan suara melengking yang menyakitkan telinga.
Wang Chan mengangkat kepalanya. Matanya bersinar semakin terang, hampir menyilaukan.
Dalam penglihatannya yang ditingkatkan oleh Mata Immortal, ia bisa melihat jalur energi di dalam pedang raksasa itu. Setiap untaian Qi, setiap getaran energi, setiap titik lemah.
Terlalu besar untuk dihindari. Pedang itu mencakup radius puluhan meter, tidak ada ruang untuk melompat, tidak ada celah untuk berlari.
Kalau begitu...
Ia akan menghancurkannya.
Boom!
Aura hitam keemasan meledak keluar dari tubuh Wang Chan. Ledakan itu begitu kuat hingga tanah di sekelilingnya ambruk membentuk kawah dangkal.
Rambutnya berkibar liar, matanya menyala, dan aura yang terpancar membuat beberapa penonton yang terlalu dekat mundur karena tercekik.
Tombak hitam di tangannya bergetar hebat. Getaran itu merambat ke lengan, ke bahu, ke seluruh tubuhnya.
Seolah tombak itu sendiri bersemangat, seolah ia sudah menunggu saat ini.
"Bangkitlah..."
Wang Chan menggenggam tombak dengan kedua tangan. Jari-jarinya mengerat, buku-buku jarinya memutih.
Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh energi spiritual yang ia miliki, lalu mengarahkannya ke tombak.
Kemudian, ia menusukkannya ke langit.
"Tombak Penghancur Surga!"
Boooom!
Cahaya keemasan melesat ke atas dari ujung tombak. Sinar itu setebal lengan orang dewasa, padat, panas, dan terang. Di ujungnya, sinar itu berubah bentuk.
Seekor naga energi raksasa muncul.
Naga itu besar. Tidak sebesar pedang Wen Tianren, tapi cukup besar untuk ditakuti.
Tubuhnya terbuat dari cahaya keemasan yang berdenyut seperti jantung, sisik-sisiknya terlihat jelas, matanya menyala merah, dan rahangnya terbuka lebar.
Naga itu meraung.
ROOOARRR!
Raungannya mengguncang langit. Awan-awan yang tersisa hancur. Tanah di bawah Wang Chan retak lebih parah.
Naga itu melesat ke atas, menabrak pedang raksasa biru.
Dunia seakan berhenti sesaat ketika dua kekuatan raksasa itu bertemu. Tidak ada suara. Tidak ada gerakan.
Hanya cahaya, terang, menyilaukan, putih pekat, memenuhi seluruh penglihatan siapa pun yang melihat.
Lalu...
BOOOOOOOOMMMM!
Ledakan dahsyat mengguncang seluruh Medan Pertempuran Langit.
Gelombang kejut menyapu segala arah seperti badai yang tidak bisa dihentikan. Bebatuan besar yang tadinya berdiri kokoh hancur menjadi kerikil.
Tanah terangkat, terlempar, berhamburan ke langit. Awan di langit terbelah menjadi dua, menciptakan cekungan raksasa yang memperlihatkan langit biru di baliknya.
Para kultivator mundur puluhan langkah. Beberapa jatuh, beberapa berteriak, beberapa hanya bisa membisu sambil menutup telinga dan mata.
Bahkan para tetua yang mengawasi dari kejauhan ikut terkejut. Mata mereka terbuka lebar.
"Asal usul bocah itu..."
"Teknik itu bukan teknik biasa. Aku belum pernah melihat teknik seperti itu seumur hidupku."
"Dari mana ia mendapatkannya?"
Debu memenuhi seluruh medan perang. Tidak ada yang terlihat, hanya abu-abu pekat yang menutupi segalanya.
Beberapa detik berlalu. Mungkin satu menit. Mungkin lima. Tak seorang pun bisa memastikan.
Kemudian, angin bertiup.
Debu perlahan tersingkap.
Dua sosok masih berdiri.
Wang Chan.
Wen Tianren.
Keduanya terengah-engah. Dada mereka naik turun cepat, napas mereka pendek-pendek.
Pakaian mereka rusak di beberapa bagian, robek, terbakar, atau hancur terkena ledakan.
Wang Chan memiliki luka gores di lengan kirinya, darah mengalir membasahi lengan bajunya. Bibirnya pecah di sudut, dan ada lebam di tulang pipinya.
Wen Tianren tidak lebih baik. Jubah putihnya yang tadinya bersih kini kotor, hitam, dan robek di bahu kanan.
Rambutnya yang terikat rapi kini terurai dan kusut. Ada bekas gesekan di pipinya, merah, dan dari ujung jarinya, darah menetes.
Tapi mereka masih berdiri.
Tatapan mereka tetap tajam.
Lalu, Wen Tianren tersenyum. Untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai, senyum seorang jenius yang menemukan lawan sepadan.
Bukan senyum sombong, bukan senyum meremehkan. Tapi senyum tulus, senyum yang lahir dari rasa hormat.
"Bagus," ucapnya pelan, suararnya serak tapi jelas.
Pedangnya perlahan terangkat lagi. Aura yang jauh lebih kuat mulai muncul dari tubuhnya.
Aura itu berbeda dari sebelumnya. Lebih berat. Lebih padat. Lebih... tua.
Seolah selama ini ia hanya bermain-main.
Mata Wang Chan menyipit.
Karena ia bisa merasakan...
Aura Wen Tianren masih terus meningkat.
Dan pertarungan yang barusan terjadi...
Ternyata hanya pemanasan.
Wang Chan menggigit bibirnya yang sudah pecah. Darah terasa asin di lidahnya.
'Jadi ini kekuatan seorang jenius sejati...' pikirnya.
Tangannya mengepal lebih erat di batang tombak.
Tapi ia tidak mundur.
Ia tidak akan mundur.
Mata kirinya menyala lebih terang.
"Kalau begitu," bisiknya, "tunjukkan padaku. Seluruh kekuatanmu."
Wen Tianren tertawa. Kali ini tawanya keras, menggema di seluruh dataran.
"Seperti yang kau mau!"
Dan pertarungan pun memasuki babak kedua.