NovelToon NovelToon
SIAPA TAKUT Jadi BEDA?

SIAPA TAKUT Jadi BEDA?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:538
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Di saat fisiknya yang sawo matang selalu dihina oleh geng Ivanka, Alisha membuktikan bahwa kecerdasan dan rasa percaya diri jauh lebih memikat daripada standar kecantikan dunia. Namun, ketangguhannya diuji oleh Reyshaka, rival abadi berotak encer yang hobinya berdebat, tapi diam-diam selalu pasang badan paling depan saat Alisha direndahkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kotak Susu Cokelat dan Taktik Sang Juara Kelas

Hari Senin pagi di SMA Pelita Bangsa selalu dimulai dengan ritual yang sama: langkah kaki yang malas menyusuri koridor, kepulan asap tipis dari kantin belakang yang mulai menyiapkan gorengan, dan kepeningan massal menanti jam pelajaran pertama. Namun, bagi kelas XII-A, hari Senin ini dibuka dengan sebuah pemandangan yang sukses membuat mata semua orang melek seketika.

Alisha berjalan memasuki kelas dengan wajah lempeng, menenteng tas sekolahnya yang terasa lebih berat dari biasanya. Semuanya tampak normal, kecuali satu hal: di poni rambut panjangnya yang biasa terurai rapi, bertengger sebuah jepit plastik kecil berbentuk kepala beruang berwarna cokelat yang sangat mencolok. Jepit beruang kekanak-kanakan pemberian Shaka hari Sabtu kemarin.

Alisha sebenarnya sudah berniat melepas jepit itu sebelum turun dari angkot. Ia bahkan sudah memegang jepit tersebut selama lima menit penuh di dalam angkutan umum, menahan malu karena dilirik oleh ibu-ibu yang mau ke pasar. Tapi begitu mengingat ancaman Shaka yang akan mogok mengajar sesi mentoring siang nanti dan membiarkannya berdiri sendirian di depan kelas, Alisha terpaksa menelan harga dirinya bulat-bulat.

Begitu Alisha duduk di bangkunya, Amelia yang sedang memakai lip balm langsung menghentikan aktivitasnya. Matanya melotot, menatap jepit di kepala Alisha seolah-olah sahabatnya itu baru saja menumbuhkan tanduk di atas kepala.

"Sha... lo sehat?" tanya Amelia dengan suara setengah berbisik, matanya tak lepas dari jepit beruang itu. "Sejak kapan selera lo berubah jadi se-imut ini? Ini lo dapet dari hadiah ciki atau gimana? Jujur sama gue, lo gak lagi ikutan sekte pencinta beruang madu, kan?"

Alisha mengembuskan napas pasrah, menaruh kepalanya di atas meja dengan lemas, membiarkan pipi sawo matangnya menempel pada permukaan kayu meja yang dingin. "Jangan nanya, Mel. Kalau lo masih sayang sama gue dan pengen persahabatan kita langgeng, anggap aja jepit ini gak pernah ada di muka bumi."

Belum sempat Amelia menginterogasi lebih lanjut, pintu kelas digeser dengan bunyi sret yang pelan. Suasana koridor yang tadinya bising mendadak agak tenang saat dua cowok paling populer di angkatan mereka melangkah masuk. Raihan dan Shaka.

Raihan berjalan dengan gaya kasualnya yang khas—seragam yang rapi namun kancing paling atas sengaja dibuka, tas sekolah tersampir santai di satu bahu, dan wajah cool dengan rahang tegas yang selalu sukses membuat siswi-siswi di koridor mencuri pandang. Di belakangnya, Shaka mengekor dengan ekspresi dingin nan datar seperti biasa, melangkah lebar dengan tangan terbenam di saku celana abu-abunya.

Namun, begitu mata Shaka mendarat tepat pada jepit beruang di rambut panjang Alisha, langkahnya sempat tertahan satu detik. Sudut bibir cowok jangkung itu langsung terangkat, membentuk senyuman tipis yang penuh kemenangan. Sialan, batin Alisha, dia benar-benar puas melihatku menderita begini.

Sementara itu, Raihan tidak langsung menuju ke bangkunya di barisan belakang. Langkah kakinya yang tegap berbelok, berjalan lurus menuju meja Amelia. Karisma cool yang melekat pada dirinya mendadak berubah menjadi aura playboy kelas kakap saat ia berhenti tepat di samping kursi Amelia, lalu bersandar santai pada pinggiran meja gadis itu.

Raihan menunduk sedikit, menatap Amelia yang mendadak kaku dan menghentikan napasnya. Jantung Amelia langsung berdegup ugal-ugalan. Ini dia, cowok yang beberapa hari lalu ia ceritakan ke Alisha sampai mulutnya berbusa—cowok yang benar-benar membuatnya tergila-gila sampai hampir gila beneran.

"Pagi, Mel," sapa Raihan. Suaranya yang berat, serak khas bangun tidur, dan tenang terdengar begitu seksi di telinga Amelia.

"P-pagi, Han," jawab Amelia, berusaha mati-matian menjaga suaranya agar tidak bergetar seperti ponsel mode getar.

Tanpa diduga, Raihan merogoh saku jaket yang ia jinjing, lalu mengeluarkan satu kotak susu rasa cokelat berukuran sedang yang masih dingin berembun dan sebuah permen lolipop rasa stroberi. Dengan gerakan yang sangat halus dan terkesan effortless, Raihan meletakkan kedua benda itu di atas buku catatan Amelia.

"Gue denger dari anak-anak, lo tadi buru-buru pas berangkat sampai gak sempat sarapan karena bangun kesiangan," ucap Raihan, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Amelia dengan senyuman tipis yang mematikan. "Diminum ya. Gue gak suka liat cewek gue... maksudnya, temen kelas gue, lemes di jam pelajaran pertama. Nanti gak ada yang bisa gue tanyain pas ulangan."

Wajah Amelia langsung memanas hebat, rona merah menjalar hingga ke telinganya. Kalimat ambigu Raihan barusan benar-benar absurd, tipikal gombalan playboy yang harusnya bikin ilfeel, tapi entah kenapa kalau Raihan yang melakukan dengan wajah lempeng dan tatapan se-intens itu, efeknya justru membuat dada Amelia serasa mau meledak karena baper.

Belum selesai rasa terkejut Amelia, Raihan mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat, hingga Amelia bisa mencium wangi parfum maskulin maskulinitas tajam milik cowok itu. Raihan berbisik pelan, "Nanti istirahat, ke kantinnya bareng gue, ya? Gak ada penolakan."

Setelah melempar senyuman jail yang super tampan, Raihan menegakkan badannya kembali, mengacak pelan rambut Amelia dengan gemas sebelum akhirnya berjalan santai menuju bangkunya sendiri di belakang bersama Shaka. Amelia membeku di tempatnya, menatap kotak susu cokelat di mejanya dengan senyum-senyum sendiri seperti orang yang baru saja memenangkan lotre materiil.

Di tengah drama instan di meja sebelah, Shaka memanfaatkan momen itu untuk berdiri di samping kursi Alisha. Ia melipat tangan di dada, menatap jepit beruang cokelat yang bertengger di kepala gadis itu.

"Pilihan yang bagus, Partner," bisik Shaka, suaranya rendah namun penuh nada mengejek yang kental. "Ternyata lo tipe orang yang nepatin janji, ya. Jujur, tingkat keimutan lo hari ini naik jadi lima belas persen. Tadinya cuma minus lima belas."

Alisha mendongak, menatap Shaka dengan pandangan membunuh demi menutupi rasa malunya yang sudah meluap-luap. "Gue pake ini cuma karena terpaksa ya, Reyshaka! Awas aja kalau nanti siang lo gak mau bantuin gue jelasin soal gelombang elektromagnetik ke anak-anak!"

Shaka terkekeh pelan. Tanpa diduga, tangan jangkungnya terulur, memperbaiki posisi jepit beruang di rambut panjang Alisha yang agak miring dengan gerakan yang sangat lembut. Sentuhan jemari Shaka di helai rambutnya membuat Alisha mendadak kaku, merasakan hangat yang menjalar dari kulit tangan cowok itu.

"Tenang aja. Pawang singa betina kan bertanggung jawab," ujar Shaka santai, memberikan satu tepukan pelan di puncak kepala Alisha sebelum akhirnya berjalan kembali ke mejanya, duduk di sebelah Raihan yang sedang bersiul gembira.

Amelia yang baru saja tersadar dari sihir Raihan langsung menyenggol lengan Alisha dengan heboh sampai kursinya berderit. "HEH! Alisha! Jadi... jepit beruang itu dari Shaka?! Demi apa seorang Reyshaka ngasih jepit imut begitu?! Terus... lo liat Raihan tadi, kan? Sha, tolongin gue, jantung gue kayaknya mau copot dari tempatnya!"

Wajah Alisha yang semula kesal kini ikut merona merah padam sempurna akibat perlakuan Shaka barusan. Akhirnya, kedua sahabat itu kompak menenggelamkan wajah mereka di atas meja, sama-sama menyembunyikan senyuman dan debaran jantung yang ugal-ugalan sebelum bel masuk berbunyi nyaring.

***

Sementara itu, di lantai satu gedung kelas X, keadaannya tidak kalah membara. Malah cenderung membuat pusing. Aleta, si bungsu yang terkenal galak dan vokal di komplek rumahnya, hari ini harus menghadapi ujian kedewasaan yang sesungguhnya di sekolah barunya.

Aleta baru saja keluar dari toilet dan berniat kembali ke kelasnya sambil memegang sebuah draf buku tugas sosiologi. Namun, langkah kakinya terhenti ketika tiga orang kakak kelas laki-laki dari kelas XII yang sedang nongkrong di depan mading sekolah tiba-tiba memperhatikannya. Salah satu dari mereka, cowok berambut agak ikal dengan seragam dikeluarkan bernama Kevin, langsung berdiri menghadang jalan Aleta.

"Wah, ada dedek gemes kelas sepuluh nih," goda Kevin dengan senyuman manis yang sengaja dibuat-buat untuk memikat anak baru. "Mau kemana nih buru-buru amat? Sini dong kenalan dulu sama kakak kelas. Namanya siapa, Dek? Cantik banget sih hari ini."

Aleta menghentikan langkahnya, menatap tiga kakak kelas itu dengan dahi berkerut dalam. Di dalam hatinya, Aleta mengumpat habis-habisan. Apalagi sih ini? Kemarin di komplek digodain bocil asbun, sekarang di sekolah malah digodain kakak kelas yang kelakuannya gak jauh beda sama bocil komplek! batin Aleta kesal.

"Maaf Kak, saya mau ngumpulin tugas ke ruang guru. Permisi," jawab Aleta sedingin mungkin, mencoba bergeser ke kanan untuk lewat.

Namun, Kevin kembali bergeser menghalangi jalannya, sementara dua temannya di belakang malah tertawa-tawa sambil menggoda. "Galak amat sih, Dek. Makin galak malah makin bikin penasaran tahu. Minta nomor WhatsApp-nya dong, nanti Kakak temenin ke ruang gurunya deh, sekalian kita jajan di kantin."

Napas Aleta mulai memburu. Pening di kepalanya langsung menyerang. Rasanya ia ingin sekali mengamuk dan meneriaki kakak kelas ini seperti yang ia lakukan pada Fino di jalanan komplek hari Sabtu kemarin. Ia ingin bilang, “Heh, daki leher lo aja masih keliatan dari balik kerah seragam, gak usah sok-sokan godain gue!”

Tetapi, Aleta masih waras. Ini lingkungan sekolah, dan orang-orang di depannya adalah senior tingkat akhir. Kalau dia membuat keributan di sini, bisa-bisa dia dipanggil ke ruang BK dan merepotkan Mbak Alisha serta Ibunya lagi. Menahan diri untuk tidak mengeluarkan kata-kata mutiara khasnya ternyata jauh lebih melelahkan daripada berlari keliling lapangan sepak bola.

"Kak, tolong minggir," ucap Aleta sekali lagi, kali ini suaranya ditekan dengan nada mengancam yang sangat kentara. Matanya menatap Kevin lurus-lurus tanpa ada rasa takut sedikit pun. "Atau saya teriak di sini biar guru piket datang?"

Melihat tatapan Aleta yang tajam dan tidak ada ramah-ramahnya sama sekali, Kevin akhirnya menurunkan tangannya sambil mendengus. "Dih, sombong amat jadi anak baru. Ya udah sana lewat."

Aleta langsung melenggang pergi dengan langkah dihentak-hentak kesal. Sepanjang koridor menuju kelas XII-A, tempat kakaknya berada, Aleta terus mengomel dalam hati. Kepalanya benar-benar pening menghadapi spesies laki-laki zaman sekarang yang hobi sekali mengganggu perempuan dengan kalimat asal bunyi. Ia butuh bertemu Mbak Alisha sekarang juga untuk menumpahkan segala kepeningannya, walaupun ia tahu kakaknya sendiri pun sebenarnya sedang sibuk mengurusi jantungnya yang sedang diaduk-aduk oleh Reyshaka.

1
S3C
semangat author 👍👍👍👍
Anisa Nurlatifah: siap,Makasihhhh😍😍😍😍👍💪
total 1 replies
Anisa Nurlatifah
😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!