Tryas menganggap Jati tak lebih dari "barang antik" yang membosankan, hingga ia melemparkan perjodohan itu kepada sahabatnya, Gayuh. Namun, di balik sikap kuno itu, Jati adalah seorang CEO dengan kasih sayang yang tak terbatas. Saat Jati mulai "meratukan" Gayuh dalam sandiwara yang ia susun sendiri, Tryas tersadar telah membuang permata. Kini, sang sahabat dituduh pengkhianat. Akankah Jati melepaskan wanita yang tulus mencintainya demi tuntutan perjodohan awal, atau justru membawa sang "pemeran pengganti" ke pelaminan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Sementara itu, matahari sudah meninggi di kediaman mewah keluarga Adiguna.
Di dalam kamarnya yang luas dan ber-AC dingin, Tryas baru saja menggeliat bangun.
Ia duduk di tepi ranjang, mengusap wajahnya yang masih sisa-sisa riasan semalam, lalu meraih ponselnya untuk mengecek media sosial.
Tak lama kemudian, terdengar ketukan pintu. Papa Yudha melangkah masuk dengan raut wajah penuh tanya.
Ia masih mengenakan setelan kantor, namun menyempatkan diri menemui putrinya sebelum berangkat.
"Bagaimana semalam, Tryas? Apakah semuanya lancar?" tanya Papa Yudha sambil berdiri di dekat balkon kamar.
Tryas menghentikan kegiatannya bermain ponsel.
Ia teringat laporannya dari Gayuh semalam—meski Gayuh memuji Jati, bagi Tryas pujian itu hanyalah standar rendah seorang penulis miskin. Dengan wajah yang dibuat selesu mungkin, ia menatap ayahnya.
Tryas menganggukkan kepalanya perlahan, berpura-pura sedih.
"Lancar, Pa. Kami sudah bertemu dan makan malam bersama."
"Lalu? Bagaimana pendapatmu tentang Jati?"
Tryas menarik napas panjang, lalu membuangnya dengan kasar.
"Sepertinya aku tidak cocok, Pa. Dan aku tidak bisa meneruskan perjodohan ini. Dia, terlalu jauh dari duniaku. Kami tidak nyambung sama sekali."
Papa Yudha terdiam cukup lama. Ia menghela napas berat, tampak ada kekecewaan yang mendalam di matanya.
Ia sangat mengenal putra sahabatnya, dan ia yakin Jati bukanlah pria sembarangan.
"Baiklah," ucap Papa Yudha akhirnya dengan nada rendah.
"Papa tidak akan memaksamu jika itu memang keputusanmu. Papa ingin kamu bahagia. Tapi, satu pesan Papa. Jangan sampai kamu nanti menyesal Tryas."
Tryas mendengus kesal mendengar kalimat terakhir ayahnya. Ia memutar bola matanya dengan angkuh.
"Menyesal? Untuk pria seperti itu? Tidak akan pernah, Pa. Aku tidak akan pernah menyesal membuang pria yang bahkan tidak bisa membelikanku satu tas bermerek," jawab Tryas dengan nada meremehkan.
Papa Yudha hanya menggelengkan kepala, lalu berbalik meninggalkan kamar tanpa berkata apa-apa lagi.
Baginya, Tryas baru saja menutup pintu keberuntungan yang paling besar dalam hidupnya.
Setelah ayahnya keluar, Tryas langsung melempar ponselnya ke kasur dan tersenyum puas.
"Akhirnya, beban itu hilang juga. Sekarang terserah Gayuh mau diapakan pria itu. Syukur-syukur kalau mereka berjodoh, jadi aku tidak perlu merasa berutang budi lagi karena sudah memberi Gayuh seorang suami," gumamnya sambil tertawa sinis, benar-benar tak menyadari bahwa pria yang ia tolak baru saja menghabiskan pagi dengan membelikan "istana" untuk sahabatnya.
Di sisi lain setelah menempuh perjalanan cukup jauh mengantarkan sisa orderan, Jati menepikan motornya di pinggir jalan.
Ia membuka aplikasi di ponselnya dengan wajah yang tampak sumringah, pura-pura menghitung pendapatan hari ini di depan Gayuh.
"Alhamdulillah, dapat 380 ribu hari ini. Tarikannya lagi ramai," ucap Jati sambil menyeka keringat di pelipisnya.
Gayuh tersenyum tulus, merasa ikut bahagia. "Alhamdulillah, itu banyak sekali, Jat. Kamu bisa istirahat sekarang."
Namun, bukannya pulang ke kontrakan, Jati justru memacu motornya menuju sebuah kawasan elit.
Ia menghentikan motor tuanya tepat di depan sebuah butik mewah yang bangunannya didominasi kaca-kaca besar dengan koleksi pakaian kelas atas.
Gayuh turun dari motor dengan wajah bingung sekaligus cemas.
Ia menatap papan nama butik tersebut, lalu beralih menatap Jati.
"Jati, kenapa kita ke sini?" tanya Gayuh setengah berbisik.
Jati melepaskan helmnya dan merapikan rambutnya sebentar.
"Pilihlah baju yang kamu suka. Sebagai ucapan terima kasih karena sudah menemaniku bekerja hari ini."
Gayuh seketika menggelengkan kepalanya dengan kuat.
Ia mundur satu langkah, merasa tidak enak hati. "Enggak, Jati. Ini mahal sekali. Pendapatanmu hari ini bisa habis dalam sekejap kalau masuk ke sini."
"Tidak mahal, Tryas. Percayalah padaku," jawab Jati dengan nada suara yang tenang namun mutlak.
Ia menatap Gayuh dengan tatapan yang seolah mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Baru saja Gayuh ingin membantah lagi, Jati sudah melangkah masuk dan memanggil salah satu pelayan butik yang berpakaian sangat rapi.
"Mbak, tolong bantu nona ini memilih pakaian yang paling nyaman dan cocok untuknya," perintah Jati.
Pelayan itu mengangguk hormat. Meski melihat Jati hanya mengenakan jaket ojek, pelayan itu tidak menunjukkan wajah meremehkan—ia telah dilatih untuk mengenali pelanggan VIP, dan ia tahu betul siapa pria di balik masker hitam tadi.
"Mari, Nona. Sebelah sini kami punya koleksi terbaru yang sangat anggun," ucap pelayan itu sambil membimbing Gayuh yang masih terpaku.
Gayuh menoleh ke arah Jati dengan wajah memelas, namun Jati hanya memberikan jempol dan duduk di kursi tunggu butik dengan santai, seolah-olah ia memang memiliki seluruh tempat itu.
Gayuh akhirnya pasrah, ia membiarkan dirinya dibawa masuk ke dalam barisan pakaian indah, sementara di dalam hatinya ia terus bertanya-tanya, Uang dari mana Jati bisa seberani ini?
Di dalam butik yang harum dan tenang itu, Gayuh melangkah ragu di antara deretan manekin.
Ia menyentuh bahan kain dengan ujung jarinya, lalu segera menariknya kembali saat melihat label harga yang tertera.
Matanya terus mencari sudut ruangan yang mungkin menyediakan koleksi diskon.
Sementara itu, Jati berdiri di depan meja kasir yang cukup jauh dari jangkauan pendengaran Gayuh.
Dengan gerakan yang sangat cepat dan tenang, ia mengeluarkan beberapa lembar uang tunai bernominal besar dari dompetnya dan meletakkannya di atas meja.
"Mbak," bisik Jati kepada kasir tersebut, matanya tetap mengawasi punggung Gayuh.
"Ini uang untuk membayar pakaian yang dipilih nona itu. Tolong, nanti pura-pura saja kalau butik ini sedang mengadakan undian hadiah. Katakan padanya kalau pakaian itu gratis atau hadiah dari butik."
Kasir itu sempat tertegun sejenak, melihat tumpukan uang yang jumlahnya jauh melebihi harga rata-rata pakaian di sana. Namun, melihat tatapan Jati yang penuh wibawa, ia segera menganggukkan kepalanya dengan patuh.
"Baik, Pak. Saya mengerti."
Setelah beberapa menit yang terasa lama bagi Gayuh, ia akhirnya keluar dari ruang ganti.
Di tangannya, ia memegang dua potong pakaian: sebuah kemeja berbahan katun lembut dan satu midi skirt berwarna pastel.
Keduanya adalah barang dengan harga paling rendah yang bisa ia temukan di butik itu.
"Hanya ini, Jati. Aku tidak mau yang lain," ucap Gayuh saat menghampiri Jati. Wajahnya tampak tidak enak hati.
Jati tersenyum tipis dan mengangguk. "Bawa saja ke kasir, biar mereka hitung."
Gayuh meletakkan kedua baju itu di atas meja kasir dengan ragu. Namun, belum sempat ia bertanya soal harga, sang kasir sudah tersenyum lebar ke arahnya.
"Selamat, Nona! Anda adalah pelanggan ke-100 hari ini yang beruntung mendapatkan promo Golden Ticket kami," ucap kasir itu dengan akting yang sangat meyakinkan.
Gayuh mengerutkan kening, bingung. "Maksudnya? Golden Ticket?"
"Iya, Nona. Khusus hari ini, pelanggan yang terpilih mendapatkan dua item pakaian secara gratis sebagai bentuk perayaan ulang tahun butik kami. Jadi, Nona tidak perlu membayar sepeser pun," lanjut kasir itu sambil mulai mengemas baju-baju Gayuh ke dalam paper bag mewah.
Gayuh ternganga. Ia menoleh ke arah Jati yang hanya mengangkat bahu seolah ikut terkejut.
"Masa sih? Keberuntungan macam apa ini?"
"Tuh kan, Tryas. Rezeki anak baik tidak akan ke mana," sahut Jati sambil terkekeh pelan.
"Ayo diambil, mumpung gratis."
Gayuh menerima paper bag itu dengan tangan gemetar.
Ada rasa senang, namun juga rasa heran yang luar biasa.
Ia tidak tahu bahwa di balik masker hitamnya, Jati sedang tersenyum puas karena berhasil memanjakan "penulis favoritnya" tanpa membuat wanita itu merasa terbebani oleh uang.
"Terima kasih banyak, Mbak," ucap Gayuh tulus kepada kasir.
"Sama-sama, Nona. Silakan datang kembali."
Jati segera menuntun Gayuh keluar menuju motor.
Di bawah terik matahari, Gayuh memeluk paper bag itu erat-erat.
Ia merasa hari ini penuh dengan keajaiban, tanpa menyadari bahwa keajaiban itu duduk tepat di depannya, sedang menyalakan mesin motor tua yang sengaja ia parkir di antara mobil-mobil mewah.