🌹 Kelopak Bunga dan Duri Jiwa
Shen Yue, dokter psikologi tegas berusia 25 tahun, berpindah jiwa ke tubuh Su Xinyi, gadis penjaga toko bunga yang hidup menderita di bawah kekejaman kerabatnya. Takdir mempertemukannya dengan Xiao Chen, penguasa mafia kejam yang menyimpan rahasia: ia mengidap gangguan kepribadian ganda—berubah dari sosok dingin mematikan menjadi pemuda ceria yang memuja bunga.
Di tengah bahaya, intrik musuh, dan tingkah laku Xiao Chen yang sering kali konyol, Shen Yue berusaha menyeimbangkan jiwa orang yang dicintainya. Di antara kelopak bunga indah dan duri tajam, tumbuhlah cinta gelap antara penyembuh jiwa dan pria yang terbelah hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kawaichanopi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Ambang Mimpi Dan Kenyataan
Lorong-lorong panjang di dalam kediaman Xiao masih diselimuti keheningan malam yang pekat. Hanya suara langkah kaki halus Shen Yue dan suara napas berat A-Ming yang terdengar memecah kesunyian, saat mereka berjalan membawa tubuh besar Xiao Chen menuju kamar utamanya yang terletak di sayap paling dalam bangunan.
Setelah melewati serangkaian pintu kayu berukir rumit dan lorong yang dihiasi lukisan-lukisan kuno, mereka tiba di depan sebuah pintu besar berwarna hitam pekat dengan gagang pintu dari perak murni berbentuk kepala naga. A-Ming mendorong pintu itu terbuka perlahan, dan aroma khas—campuran wangi kayu cendana, aroma dingin, dan sedikit bau obat—langsung menyapa hidung.
Ruangan itu luas, megah, namun terasa sangat dingin dan sunyi. Lantai marmer putih berkilauan di bawah cahaya lampu minyak yang redup. Di tengah ruangan terdapat tempat tidur besar berkanopi dengan tirai beludru tebal berwarna hitam dan biru tua. Di dinding-dindingnya tergantung senjata-senjata tajam yang terawat baik, dan di sudut ruangan terdapat rak buku tinggi yang berisi tumpukan buku-buku tua tebal.
Ini adalah ruangan yang sangat cocok untuk pemiliknya: indah, berharga, namun kaku, sepi, dan penuh jarak. Tidak ada sedikit pun barang yang terlihat lembut, hangat, atau bersifat pribadi. Semuanya terlihat seperti barang pajangan di museum, bukan benda yang digunakan untuk hidup dan beristirahat.
A-Ming menggendong tuannya itu menuju tempat tidur, lalu dengan hati-hati meletakkan tubuh yang tidak sadarkan diri itu di atas kasur empuk. Xiao Chen berbaring diam, wajah tampannya yang pucat terlihat tenang namun masih menyisakan jejak rasa sakit dan kelelahan yang mendalam di garis alisnya yang sedikit berkerut. Napasnya teratur namun dangkal, seolah-olah bahkan dalam tidurnya pun ia tidak berani benar-benar rileks sepenuhnya.
Shen Yue berdiri di sisi tempat tidur, menatap wajah pria itu dengan pandangan yang penuh perhatian dan kelembutan. Ia perlahan mendekat, lalu dengan lembut menyisir rambut hitam panjang yang berantakan itu ke belakang, menjauhkannya dari dahi yang berkeringat dingin. Sentuhan itu begitu halus, begitu penuh kasih sayang, hingga membuat A-Ming yang berdiri di ujung tempat tidur pun menundukkan kepalanya dengan penuh rasa hormat.
"Bawa air hangat dan kain bersih, A-Ming," perintah Shen Yue pelan namun tegas, tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Xiao Chen. "Dan pastikan tidak ada siapa pun yang mendekat ke lorong ini malam ini. Tuannya butuh ketenangan mutlak. Bahkan suara sekecil apa pun bisa membangunkannya dengan cara yang buruk."
A-Ming mengangguk patuh. "Baik, Nona Su. Saya akan menjaga pintu depan. Tidak ada satu nyawa pun yang boleh lewat, kecuali melewati mayat saya."
Pria itu berbalik pergi, meninggalkan Shen Yue sendirian di ruangan luas itu bersama pria yang kini menjadi pusat dunianya.
Setelah pintu tertutup kembali, keheningan menyelimuti mereka berdua sepenuhnya. Shen Yue menarik kursi kayu ukiran yang berdiri di samping tempat tidur, lalu duduk dengan tenang. Ia menatap sosok yang berbaring di hadapannya ini. Sosok yang memiliki tiga jiwa, tiga kepribadian, namun semuanya terikat oleh rasa sakit dan kesepian yang sama besarnya.
Ia mengingat kembali percakapan singkat namun berat dengan Xiao Mo tadi. Ingatan tentang tatapan mata kosong itu, tentang rasa lelah yang mendalam, dan tentang ketakutan kehilangan yang begitu ekstrem hingga memilih untuk tidak memiliki apa pun.
Dia bukan monster, batin Shen Yue pelan sambil mengusap pelan punggung tangan Xiao Chen yang tergeletak diam di atas selimut tebal. Dia adalah bagian yang paling terluka. Dia adalah benteng yang dibangun untuk menahan segala rasa sakit agar sisi lain dirinya tetap bisa bernapas. Dan selama ini, tidak ada yang pernah berterima kasih padanya. Tidak ada yang pernah memeluknya.
Tak lama kemudian, A-Ming kembali membawa baskom berisi air hangat dan kain putih bersih. Ia meletakkannya di meja samping tempat tidur, lalu sekali lagi menatap Shen Yue dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran rasa syukur dan harapan.
"Nona Su... terima kasih," ucap A-Ming tiba-tiba, suaranya rendah namun jelas. "Sudah bertahan. Sudah berani masuk ke tempat yang tidak berani didatangi siapa pun. Selama belasan tahun saya melayani Tuan Muda... baru malam ini saya melihat ada cahaya di taman itu. Baru malam ini saya melihat dia... atau mereka... berani membuka sedikit saja pintu hati mereka."
Shen Yue menoleh, tersenyum tipis namun tulus. "Ini baru permulaan, A-Ming. Perjalanan ini masih sangat panjang dan berliku. Tapi selama aku ada di sini, aku tidak akan membiarkan mereka kembali ke dalam kegelapan sendirian."
A-Ming mengangguk dalam-dalam, lalu mundur perlahan meninggalkan ruangan, menutup pintu dengan sangat hati-hati hingga tidak menimbulkan suara sedikit pun.
Kini benar-benar tinggal berdua.
Shen Yue membasahi kain itu dengan air hangat, lalu memerasnya hingga lembap. Ia mulai mengelap wajah Xiao Chen dengan gerakan lembut dan perlahan, mulai dari dahi, turun ke pelipis, pipi, hingga rahang yang tegas itu. Ia ingin membersihkan sisa kelelahan, sisa rasa sakit, dan sisa ketegangan yang tersimpan di otot-otot wajah itu.
Saat kain hangat itu menyentuh kulit dinginnya, alis Xiao Chen yang tadinya berkerut perlahan melemas. Bibirnya yang tertutup rapat sedikit terbuka, mengembuskan napas panjang yang terdengar lega, seolah tubuhnya secara naluriah mengenali kehadiran dan sentuhan itu sebagai sesuatu yang aman dan nyaman.
"Tenanglah..." bisik Shen Yue pelan, suaranya berirama lembut seperti nyanyian pengantar tidur. "Tidak ada bahaya di sini. Tidak ada musuh. Tidak ada rasa sakit. Hanya ada aku. Aku ada di sini, menjagamu."
Ia melanjutkan gerakannya ke leher, bahu, dan lengan yang terbalut jubah hitam itu. Saat tangannya bergerak untuk membuka sedikit kancing jubah agar lebih lega bernapas, tiba-tiba tangan besar Xiao Chen bergerak cepat, menangkap pergelangan tangan Shen Yue dengan cengkeraman yang kuat namun tidak menyakitkan.
Shen Yue tersentak sedikit, namun tidak ketakutan. Ia mengangkat wajahnya, melihat mata Xiao Chen yang perlahan terbuka.
Bukan mata yang dingin tajam milik Xiao Yi, bukan pula mata yang ceria berbinar milik Xiao Lei, dan bukan juga mata yang kosong hampa milik Xiao Mo. Mata yang menatapnya saat ini terlihat kabur, mengantuk, namun sangat lembut, sangat rapuh, dan penuh ketergantungan. Itu adalah tatapan asli dari jiwa utuh Xiao Chen yang muncul sesaat di antara tidur dan sadar.
"Jangan... pergi..." gumam Xiao Chen parau, suaranya berat dan serak karena belum sepenuhnya sadar. Cengkeramannya di pergelangan tangan Shen Yue sedikit dipererat, seolah gadis itu akan lenyap seketika jika ia melepaskannya sedikit saja. "Jangan... tinggalkan aku... seperti mereka..."
Air mata tidak mengalir, namun rasa sedih yang mendalam tergambar jelas di wajah tampan itu. Di saat sadar, Xiao Yi akan menutupi segala kelemahannya dengan kekejaman. Xiao Lei akan menyembunyikannya di balik tawa. Xiao Mo akan menguburnya dalam kebencian. Namun saat tidur, saat pertahanan diri mereka runtuh... yang tersisa hanyalah seorang anak kecil yang kesepian dan takut ditinggalkan.
Shen Yue merasa hatinya teriris sakit melihat pemandangan itu. Ia membiarkan tangannya ditangkap, lalu dengan tangan lainnya ia menyentuh pipi pria itu, mengusapnya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Aku tidak pergi. Aku di sini. Aku tidak akan pernah pergi," jawab Shen Yue berbisik, suaranya tegas dan menenangkan. Ia mendekatkan wajahnya, hingga jarak antara mereka hanya beberapa inci saja. "Lihat aku. Aku nyata. Aku ada di sini, bersamamu. Selamanya."
Xiao Chen mengerjap pelan, berusaha memfokuskan pandangannya yang kabur. Ia menatap wajah gadis itu lama sekali, seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini bukanlah mimpi buruk atau khayalan belaka. Perlahan, perlahan sekali, cengkeramannya melemas, lalu berubah menjadi genggaman lembut yang hangat. Ia menarik sedikit tangan Shen Yue, mendekatkannya ke wajahnya, lalu menempelkan telapak tangan gadis itu ke pipinya, merasakan kehangatan dan tekstur kulit itu sebagai bukti nyata.
"Yue..." bisiknya pelan, nama itu meluncur dari bibirnya seperti doa, seperti satu-satunya kata yang ia ingat dan ia percaya di dunia ini. "Yue... jangan... biarkan aku sendiri..."
"Aku janji," jawab Shen Yue mantap, matanya sedikit berkaca. "Sekarang tidurlah. Istirahatlah. Biarkan aku yang menjaga mimpimu malam ini."
Perlahan, berat kelopak matanya kembali menang. Tatapan lembut itu perlahan tertutup kembali, napasnya kembali menjadi teratur dan tenang. Namun kali ini, tidak ada lagi kerutan di dahinya. Tidak ada lagi jejak rasa takut di wajahnya. Ia tidur dengan damai, dengan tangan yang masih menggenggam erat tangan Shen Yue di sampingnya, seolah itu adalah jangkar yang menahannya agar tidak hanyut kembali ke lautan kegelapan.
Shen Yue duduk kembali di kursinya, membiarkan tangannya tetap berada dalam genggaman hangat itu. Ia tidak berniat melepaskannya sepanjang malam. Ia akan duduk di sana, menemaninya, menjaganya, sama seperti sumpah yang ia ucapkan.
Ia menatap sekeliling ruangan yang dingin dan sepi itu. Di sudut meja, ada sebuah kotak kayu kecil yang terbuka sedikit. Karena penasaran, namun tetap dalam posisi duduk, Shen Yue melirik isinya. Di dalamnya terdapat sebuah foto tua yang sudah agak pudar. Foto seorang wanita cantik dengan senyum lembut dan mata yang sangat mirip dengan Xiao Lei, serta seorang pria berwibawa dengan sorot mata tajam dan dingin seperti Xiao Yi.
Orang tua mereka.
Dan di sudut paling dalam kotak itu, terselip selembar kertas kecil yang tertulis tulisan tangan anak-anak, tulisan yang miring dan tidak rapi: Aku ingin ayah dan ibu pulang. Aku ingin tidak ditakuti lagi. Aku ingin punya teman. Aku ingin... dicintai.
Jantung Shen Yue bergetar hebat. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetes jatuh, membasahi punggung tangan mereka yang bertautan.
Jadi, selama bertahun-tahun, di balik kekuasaan, kekayaan, dan ketakutan yang ia sebarkan ke seluruh kota... di balik sosok iblis yang ditakuti semua orang... yang tersimpan di dalam hati pria ini hanyalah keinginan sederhana seorang anak manusia: untuk dicintai, untuk diterima, dan untuk tidak sendirian.
Shen Yue menyeka air matanya dengan tangan bebasnya, lalu menundukkan kepalanya, mencium punggung tangan kasar dan kuat itu dengan penuh rasa hormat dan kasih sayang yang mendalam.
"Kau tidak perlu menginginkan itu lagi, Xiao Chen," bisik Shen Yue di antara isak tangis halusnya. "Karena mulai hari ini... kau sudah memilikinya. Kau sudah memilikiku. Dan aku akan memberikan semua cinta, semua penerimaan, dan semua kebersamaan yang hilang itu kepadamu, sampai napas terakhirku."
Malam berjalan lambat. Di luar jendela, bulan purnama perlahan bergerak ke barat, cahayanya masuk lewat celah tirai, menerangi dua sosok itu di atas tempat tidur besar. Di taman belakang sana, bibit-bibit bunga yang baru ditanam berdiri tegak di bawah cahaya bulan, menyerap kehangatan dan energi damai yang kini mulai menyebar ke seluruh kediaman.
Dan jauh di dalam lorong kesadaran itu, di balik tidur yang damai itu, tiga jiwa yang berbeda itu sama-sama merasakan kehadiran itu. Xiao Lei tersenyum dalam tidurnya, bahagia karena tidak lagi sendirian. Xiao Yi merasa aman untuk pertama kalinya, karena tahu ada yang menjaga punggungnya. Dan Xiao Mo... sisi yang paling terluka itu... untuk pertama kalinya dalam hidupnya, berani membuka sedikit matanya di dalam kegelapan, melihat cahaya kecil yang bersinar terang di ujung lorong, dan berani berharap... berani percaya... bahwa mungkin, hanya mungkin... kali ini berbeda.
Mungkin kali ini, cahaya itu tidak akan padam.
Shen Yue tetap duduk diam di sana sepanjang malam, tidak beranjak sedikit pun, menjadi penjaga setia bagi pria yang telah menjadi seluruh dunianya di dunia asing ini. Dan saat cahaya fajar mulai menyelinap masuk dari ufuk timur, membawa sinar keemasan yang lembut, satu hal yang pasti: pagi ini bukan hanya sekadar pergantian hari, tapi awal dari kehidupan baru bagi jiwa-jiwa yang terluka itu.