Saskia Mahendra adalah dokter hewan brilian yang mati kelelahan di laboratorium. Kini ia terbangun sebagai Saskia Utami, 20 tahun, terlilit utang koperasi, dikepung Bibi dan Paman serakah yang siap merampas tanahnya.
Namun, ia membawa sesuatu dari alam kematian: Air Suci. Warisan jiwa yang bisa menyembuhkan ternak dan memicu pertumbuhan ajaib. Setiap tetes bisa mengubah sapi kurus jadi Wagyu bernilai fantastis, tapi setiap tetesnya juga menguras nyawanya sendiri. Harga yang harus ia bayar diam-diam.
Ketika hasil peternakannya menembus standar daging termahal Indonesia, CEO agribisnis raksasa datang membawa kontrak, dan bahaya. Daniel Hardjono. Jenius, arogan, dan terlalu berbahaya untuk dipercaya. Di antara klausul kontrak berdarah dan ciuman yang tak direncanakan, Saskia harus menghadapi ancaman yang lebih ganas dari preman desa, mata-mata korporat internasional yang tahu ada rahasia di kandangnya, dan akan membunuh untuk mendapatkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Kau Tidak Tahu
"Besok sidang," kata Daniel, memecah keheningan.
"Besok."
"Yakin bisa handle sendiri?"
Saskia menyesap tehnya. "Aku sudah handle hal-hal yang lebih sulit dari ini. Melahirkan sungsang di pinggir jalan. Sianida di sumber air. Kau yang ngambek karena aku makan mie instan."
Daniel mendengus. "Aku tidak ngambek."
"Kau buang mie instanku ke tempat sampah."
"Itu tindakan tegas demi kualitas pikir mitra bisnis."
"Itu ngambek."
Keheningan lagi. Tapi kali ini lebih ringan. Jangkrik masih bernyanyi. Angin masih berhembus.
"Reza sudah kita amankan," kata Daniel, suaranya lebih rendah sekarang. "Tadi sore. Budi yang pimpin. Dia tidak melawan."
"Ardiansyah?"
"Masih dalam pengawasan. Kita tunggu dia bergerak dulu. Siapa tahu dia membawa kita ke ikan yang lebih besar."
Saskia mengangguk. "Dan data yang bocor ke jurnal itu?"
"Tim IT-ku sedang coba tarik. Tapi jurnal akademis punya aturan sendiri. Begitu sudah terbit, susah ditarik. Paling tidak, mereka bisa hapus nama sponsor dari Global Beef Corp. Itu sudah cukup untuk mempermalukan mereka."
Saskia tidak menjawab. Matanya menatap ke kegelapan di depan, ke arah kandang di mana delapan sapi Wagyu dan tiga sapi lokal sedang tidur.
"Aku tidak bisa berhenti memikirkan dua sapi yang mati," katanya akhirnya. "WF-007. Dan yang nomor tag 03. Mereka mati karena aku tidak cukup cepat. Atau karena aku terlalu percaya."
"Kau tidak bisa menyelamatkan semuanya."
"Aku tahu. Tapi aku bisa lebih berhati-hati."
Daniel menoleh, menatapnya. "Kau tampak seperti orang yang sedang menghukum diri sendiri."
"Aku tidak menghukum. Aku mengevaluasi."
"Itu sama saja."
"Beda. Evaluasi ada gunanya. Hukuman cuma buang-buang waktu."
Daniel menghela nafas. Jemarinya mengetuk-ngetuk lututnya sendiri. "Waktu ibuku meninggal, aku menghabiskan dua tahun menghukum diri sendiri. Dua tahun. Aku berhenti kuliah. Aku putus kontak sama semua teman. Aku cuma duduk di kamar, menatap dinding, dan menyalahkan diriku sendiri karena tidak bisa menyelamatkannya."
Saskia menoleh. "Ibumu?"
"Kanker. Stadium empat. Terlambat terdeteksi. Aku yang pertama kali menemukan benjolan di lehernya. Waktu aku SMA. Tapi aku pikir itu cuma jerawat. Aku suruh dia ke dokter. Dia bilang nanti. Dan aku... aku tidak memaksa."
"Kau masih kecil waktu itu."
"Aku tujuh belas tahun. Cukup besar untuk tahu bahwa jerawat tidak muncul di leher. Tapi aku terlalu sibuk dengan ujian. Dengan nilai. Dengan angka-angka di rapor. Sama seperti sekarang."
Saskia diam.
"Akhirnya aku berhenti menghukum diri sendiri. Bukan karena aku memaafkan diriku. Tapi karena aku sadar, menghukum diri sendiri tidak menghidupkan kembali ibuku. Yang bisa kulakukan cuma satu: memastikan tidak ada orang lain yang mati karena kelalaianku."
"Itu sebabnya kau selalu mengukur segalanya dengan angka?"
"Itu sebabnya aku tidak bisa terima kalau ada aset yang mati di bawah pengawasanku." Daniel menatapnya. "Termasuk kau."
Angin berhembus lagi. Daun-daun pohon besar di belakang kandang berdesir. Di dalam kandang, salah satu sapi melenguh pelan. Suara yang rendah, mengantuk.
"Si Belang," kata Saskia.
"Apa?"
"Sapi yang melenguh itu. Itu bukan Si Belang. Si Belang sudah mati. Tapi lenguhannya mirip."
Daniel menatap ke arah kandang. "Kau masih ingat suara lenguhannya?"
"Setiap malam."
Keheningan lagi. Tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang menggantung di antara mereka. Sesuatu yang tidak diucapkan.
"Kau tahu," kata Daniel, suaranya pelan. "Waktu kau di ICU, aku duduk di kursi itu selama dua hari. Dua hari tanpa tidur. Dua hari tanpa kopi. Dan aku terus berpikir..."
"Berpikir apa?"
"Kalau kau mati, aku tidak tahu apa yang akan kulakukan."
Saskia menatapnya. "Kau akan cari peternak lain. Tandatangani kontrak baru. Jalan terus seperti biasa."
"Mungkin." Daniel menatap langit. "Tapi mungkin juga tidak."
Suara langkah kaki mendekat. Budi muncul dari arah pos satpam, membawa termos. "Tehnya sudah dingin, ya? Ini saya bawa air panas lagi."
"Terima kasih, Budi."
Budi menuangkan air panas ke cangkir Saskia, lalu ke cangkir Daniel. "Malam semakin dingin. Apa Bapak dan Mbak Saskia tidak mau pindah ke dalam?"
"Sebentar lagi," kata Daniel.
Budi mengangguk dan kembali ke pos satpam. Langkah kakinya menjauh.
"Budi orang baik," kata Saskia. "Kau beruntung punya dia."
"Aku tahu."
"Jangan sia-siakan dia."
Daniel menatap Saskia dengan ekspresi aneh. "Kenapa kau bicara seperti orang yang mau pergi?"
Saskia tidak menjawab. Ia menyesap tehnya yang sekarang sudah hangat lagi. Matanya masih menatap ke arah kandang.
"Besok sidang," katanya. "Besok semuanya berubah. Paman Harto dan Bibi Laras akan diadili. Reza dan Ardiansyah akan ditangkap. Peternakan ini akan bersih dari semua gangguan."
"Itu bagus."
"Itu bagus. Tapi setelah semuanya bersih, aku harus mulai lagi dari awal. Dua sapi mati. Data bocor. Kepercayaan runtuh. Aku harus membangun semuanya lagi."
"Kau tidak sendiri."
Saskia tersenyum tipis. "Aku tahu."
Di dalam kandang, suara lenguhan terdengar lagi. Kali ini lebih panjang. Lebih keras. Seperti memanggil.
"Si Belang?" tanya Daniel.
"Bukan. Itu Dara. Si Belang sudah mati."
"Kau yakin? Lenguhannya mirip."
Saskia tertawa kecil. "Kau bahkan tidak tahu suara lenguhan sapi."
"Aku CEO agribisnis. Aku seharusnya tahu."
"Tapi kau tidak tahu."
"Tidak."
Mereka berdua tertawa.