NovelToon NovelToon
Terpaksa Menjadi Istri Sang Miliarder

Terpaksa Menjadi Istri Sang Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

Hidup Arumi hancur saat ayahnya terjerat utang besar kepada keluarga konglomerat Wijaya. Untuk melunasi utang tersebut, ia terpaksa menikah dengan Renard, sosok miliarder dingin yang dikenal kejam dan penuh rahasia. Bagi Renard, Arumi hanyalah alat untuk memenuhi tuntutan keluarga. Namun, di balik topeng arogan dan gengsinya, Renard menyimpan sisi lembut yang ia sembunyikan dari dunia, termasuk hobi rahasia yang tidak sengaja terbongkar oleh Arumi. Tanpa Renard sadari, Arumi adalah sosok penyelamat masa kecil yang selama ini ia cari. Mampukah Arumi mencairkan hati sang miliarder sebelum masa kontrak pernikahan mereka berakhir dan rahasia masa lalu terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Komitmen yang Tak Tertulis

Sisa sarapan pagi itu ditutup dengan kehangatan yang belum pernah tercipta sebelumnya di dalam ruang makan Mansion Wijaya.

Mama Sofia, dengan kearifan seorang ibu yang telah kenyang makan asam garam kehidupan, tahu persis kapan waktu yang tepat untuk menarik diri.

Beliau meletakkan cangkir tehnya yang telah kosong, lalu perlahan mengangkat si Oyen ke dalam pelukannya.

"Mama tiba-tiba rindu udara segar di taman belakang. Bi Sumi, tolong bantu Mama bawakan beberapa camilan ke gazebo, ya. Kita biarkan dua anak muda ini menyelesaikan urusan mereka," ujar Mama Sofia sembari mengedipkan sebelah matanya ke arah Arumi, sebuah isyarat penuh arti yang membuat menantunya itu kembali tersipu.

Bi Sumi tersenyum lebar, mengangguk patuh, dan dengan cekatan membereskan piring-piring di atas meja sebelum menyusul langkah kaki Mama Sofia keluar dari ruangan.

Kini, ruang makan raksasa itu hanya menyisakan Renard dan Arumi.

Sunyi kembali merayap, namun kali ini bukan sunyi yang mencekam dan dingin seperti malam-malam sebelumnya, melainkan sunyi yang dipenuhi oleh getaran emosi yang manis dan mendebarkan.

Renard memutar-mutar cangkir kopi hitamnya yang tinggal menyisakan ampas di dasar porselen. Pria itu tampak menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan kembali sisa-sisa ketenangannya yang sempat kocar-kacir akibat godaan sang ibu.

Ia menoleh ke samping, menatap Arumi yang kini sedang menunduk memandangi jemarinya sendiri di atas pangkuan.

"Arumi," panggil Renard, suara baritonnya terdengar rendah dan bergetar halus di keheningan ruangan.

Arumi mendongak, mempertemukan sepasang mata indahnya langsung dengan manik mata elang Renard. "Iya, Renard?"

Pria itu menggeser posisi duduknya agar bisa menghadap Arumi sepenuhnya. "Tentang apa yang kita bicarakan di lorong semalam... aku ingin menegaskan satu hal padamu. Aku tidak pernah menarik kembali kata-kata yang sudah kuucapkan."

Arumi merasakan dadanya kembali berdesir hebat.

Ia tersenyum tipis, mencoba menguji sejauh mana pria kaku di hadapannya ini bisa mempertahankan sisi romantisnya yang langka. "Termasuk bagian di mana Anda... maksud saya, kamu, mengatakan bahwa surat perjanjian di dalam brankas itu sudah tidak ada artinya lagi?"

Renard terdiam sejenak.

Rona merah tipis kembali mengintip di balik kulit lehernya yang kokoh, namun kali ini ia menolak untuk memalingkan wajah. Dengan gerakan yang pasti, ia mengulurkan tangan besarnya, menyelimuti telapak tangan Arumi yang terasa hangat.

"Benar. Kontrak itu sudah selesai," tegas Renard mutlak.

"Hari ini, jika kamu mau, kita bisa membuka brankas di ruang kerjaku, mengambil dokumen itu, dan menghancurkannya bersama-sama. Aku tidak lagi membutuhkan selembar kertas hukum untuk mengikatmu di rumah ini. Aku menginginkanmu di sini karena ini adalah tempatmu, di sampingku. Sebagai istriku yang sesungguhnya."

Mendengar ketegasan yang tanpa ragu dari mulut Renard, setitik rasa haru kembali membuncah di dalam hati Arumi.

Perempuan itu membalikkan telapak tangannya, membalas genggaman erat Renard, menyatukan jemari mereka di atas meja makan. Setelah sekian lama berjalan di atas ketidakpastian, akhirnya ia menemukan fondasi yang nyata untuk berpijak.

"Bagaimana jika suatu hari nanti saya berubah pikiran dan memilih untuk pergi?" goda Arumi lagi, matanya berkedip jenaka, sengaja ingin melihat reaksi sang CEO.

Renard menyipitkan matanya, kembali menampilkan seringai arogan khasnya yang defensif, namun kali ini terasa begitu hangat. "Cobalah saja kalau kamu berani. Aku memiliki seluruh jaringan informasi dan sumber daya di negara ini, Arumi. Ke mana pun kamu melangkah, aku akan selalu menemukanmu kembali dalam hitungan menit. Jadi, lupakan saja niat konyol itu."

Arumi tertawa renyah, sebuah suara tawa lepas yang begitu indah hingga membuat tatapan mata Renard melunak sepenuhnya.

Pria itu mengagumi bagaimana tawa tersebut bisa mengubah atmosfer mansion yang dulunya kaku dan dingin menjadi begitu penuh dengan warna kehidupan.

Jarum jam dinding antik di sudut ruang makan berdentang sembilan kali, mengingatkan Renard bahwa dunia bisnis di luar sana sudah mulai bergerak dan menuntut kehadirannya.

Hari ini ada rapat pemegang saham tahunan di kantor pusat Wijaya Group, sebuah agenda krusial yang tidak bisa ia tunda atau wakilkan, terutama setelah ancaman terbuka yang ia berikan kepada keluarga Dirgantara semalam.

Renard berdiri dari kursinya, merapikan letak kemeja putihnya yang mulai sedikit kusut di bagian lengan. "Aku harus segera berangkat ke kantor. Ada beberapa dokumen yang harus kutandatangani sebelum rapat dimulai."

Arumi ikut berdiri dari posisinya.

Secara alami, tanpa perlu diperintah atau dipikirkan terlebih dahulu, ia melangkah mendekati Renard.

Ia meraih jas abu-abu gelap yang semalam sempat ia kenakan, yang kini sudah tersampir rapi di sandaran kursi, lalu membantu Renard mengenakannya.

Renard terpaku di tempatnya berdiri, tubuhnya mendadak kaku saat merasakan kedekatan fisik mereka yang begitu intim di pagi hari.

Arumi berdiri tepat di depannya, jemari lentiknya bergerak dengan sangat telaten merapikan kerah jas abu-abu tersebut, lalu beralih membetulkan letak simpul dasi hitam Renard yang sedikit miring.

Aroma harum sisa mandi pagi dari tubuh Arumi menyeruak masuk ke indra penciuman Renard, mengaburkan fokusnya selama beberapa saat.

Pria itu menahan napasnya, menatap lekat-lekat helai demi helai rambut hitam Arumi yang bergerak halus mengikuti gerakan tubuhnya. Ini bukan lagi sebuah akting yang mereka lakukan di depan kamera atau di hadapan para kolega ini adalah realitas baru yang mereka rajut dengan ketulusan.

"Selesai," ucap Arumi lembut, menepuk pelan dada bidang Renard setelah memastikan penampilan suaminya sudah sangat sempurna tanpa cela.

Ia mendongak dan memberikan senyuman manisnya yang paling tulus. "Semoga rapatmu hari ini berjalan lancar, Renard."

Renard tidak langsung menjawab.

Pria itu meraih kedua tangan Arumi yang masih berada di dadanya, menggenggamnya erat, lalu perlahan menundukkan wajahnya.

Sebelum Arumi sempat menyadari apa yang akan terjadi, sepasang bibir hangat Renard mendarat dengan lembut di atas keningnya. Sebuah kecupan yang lama, penuh dengan rasa hormat, perlindungan, dan kasih sayang yang mendalam.

Arumi memejamkan matanya, menikmati sensasi hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya, membuat lututnya terasa sedikit lemas.

Ketika Renard melepaskan kecupannya, pria itu menatap mata Arumi dengan pandangan yang begitu dalam.

"Tunggu aku pulang nanti malam. Kita akan makan malam di luar, hanya berdua saja," bisik Renard dengan suara parau yang terdengar sangat seksi di telinga Arumi.

"Iya, aku akan menunggumu," jawab Arumi dengan suara yang tidak kalah lirih.

Renard melepaskan genggaman tangannya dengan berat hati, lalu berbalik dan melangkah mantap keluar dari ruang makan menuju lobi utama di mana mobil SUV hitam beserta sopir pribadinya sudah bersiap di halaman depan.

Arumi berjalan perlahan menuju teras depan, mengantarkan kepergian suaminya hingga mobil mewah itu melaju membelah gerbang besi tinggi mansion dan menghilang di balik tikungan jalan kompleks perumahan elite tersebut.

Angin pagi yang sejuk menerpa wajahnya, membawa sisa-sisa aroma hujan semalam yang kini telah berganti dengan cerahnya langit biru.

Arumi menyandarkan tubuhnya di salah satu pilar megah teras, menyilangkan kedua tangannya di dada dengan senyuman yang tidak kunjung pudar dari bibirnya.

Ia melihat ke atas, ke arah jendela kamar Mama Sofia di lantai dua, dan mendapati sang ibu sedang melambaikan tangan padanya dari balik kaca sembari tersenyum bahagia.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama hidup dalam bayang-bayang kehancuran nama besar keluarga Baskoro, Arumi merasa ia akhirnya bisa bernapas dengan lega.

Masa lalunya mungkin penuh dengan luka dan cemoohan dunia, namun di tempat ini, di dalam dekapan hangat seorang pria bernama Renard Wijaya, ia tahu bahwa ia telah menemukan sebuah perisai yang sesungguhnya.

Komitmen mereka kini bukan lagi tentang lembaran kertas hukum berharga miliaran rupiah, melainkan tentang janji bisu yang telah terpatri kuat di dalam hati mereka masing-masing.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!