NovelToon NovelToon
The Duchess Of Silent Tears

The Duchess Of Silent Tears

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Elara Vane, putri seorang Baron yang jatuh miskin, dipaksa menikah dengan Duke Kaelen Draxos, pria yang dikenal sebagai "Iblis Utara" karena kekejamannya di medan perang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Iblis yang Bermimpi

Malam turun di Kastil Blackiron bukan secara perlahan, melainkan seperti tirai beludru berat yang dijatuhkan tiba-tiba, memadamkan sisa cahaya abu-abu dari langit dan menggantinya dengan kegelapan pekat.

Di luar jendela perpustakaan yang tebal, badai salju kembali mengamuk, melolong dengan suara tinggi yang terdengar seperti jeritan hantu-hantu yang kelaparan.

Namun di dalam, dunia menyusut menjadi lingkaran cahaya oranye yang hangat dari perapian dan aroma lilin lebah yang meleleh.

Elara duduk di sofa beludru merah marun di sudut ruangan. Kakinya terlipat rapi di bawah gaun tidurnya, dan sebuah selimut bulu domba tebal—yang dibawakan Silas dengan wajah penuh permohonan maaf—menutupi tubuhnya sampai ke dagu.

Di hadapannya, di seberang ruangan yang terasa seluas samudra, Duke Kaelen Draxos masih bekerja.

Jam dinding besar di sudut ruangan berdetak dengan irama yang lambat dan berat. Tik. Tok. Tik. Tok. Setiap detak terasa memanjang, meregangkan waktu menjadi benang-benang kesunyian yang tegang.

Silas telah membawakan makan malam dua jam yang lalu. Itu adalah peristiwa yang canggung luar biasa. Sebuah meja kecil diletakkan di antara meja kerja Kaelen dan sofa Elara. Mereka makan dalam diam. Tidak ada percakapan, tidak ada denting gelas untuk bersulang.

Hanya suara garpu beradu dengan piring porselen dan suara Kaelen membalik halaman dokumen di sela-sela suapannya. Pria itu makan dengan efisiensi militer—cepat, tanpa menikmati rasa, seolah makanan hanyalah bahan bakar agar mesin tubuhnya tidak mogok.

Sekarang, piring-piring kotor telah diangkut pergi. Silas telah pamit undur diri, menutup pintu perpustakaan dengan hati-hati, meninggalkan Tuan dan Nyonya rumah terkunci dalam sangkar emas yang hangat ini.

Elara seharusnya tidur. Matanya terasa berat, pasir kantuk mulai menggerogoti kelopak matanya. Namun, otaknya menolak untuk padam. Bagaimana ia bisa tidur ketika "Iblis Utara" duduk hanya sepuluh langkah darinya?

Ia berpura-pura memejamkan mata, mengatur napasnya agar terdengar teratur, namun di balik bulu matanya yang lentik, ia mengintip. Ia mengamati suaminya.

Kaelen telah melepas rompinya, menyisakan kemeja putih yang kini kancing teratasnya dibuka, memperlihatkan sedikit kulit leher dan tulang selangkanya. Pria itu tampak... manusiawi. Tanpa baju zirah hitamnya, tanpa jubah bulu tebal yang membuatnya tampak dua kali lebih besar, Kaelen hanyalah seorang pria yang kelelahan.

Cahaya api perapian menari-nari di wajahnya, menciptakan bayangan yang mempertegas garis rahangnya yang keras dan cekungan di bawah matanya.

Elara melihat kerutan halus di antara alis Kaelen yang tidak pernah hilang, bahkan saat ia sedang diam membaca. Itu adalah tanda dari seseorang yang selalu berpikir, selalu waspada, seseorang yang memikul beban dunia di pundaknya yang lebar.

Tiba-tiba, Kaelen meletakkan pena bulunya. Gerakannya kasar, seolah ia marah pada kertas di depannya. Ia memijat pangkal hidungnya dengan ibu jari dan telunjuk, lalu menyisir rambut hitamnya ke belakang dengan frustrasi. Helaian rambut itu jatuh kembali ke dahinya, memberontak.

Kaelen tidak berdiri untuk pergi ke kamarnya. Ia tidak beranjak menuju pintu keluar. Sebaliknya, ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kulit yang tinggi itu. Ia meluruskan kakinya yang panjang di bawah meja, lalu memejamkan mata.

Elara menahan napas. Apakah dia akan tidur di sini? Di kursi itu?

Menit demi menit berlalu. Napas Kaelen mulai terdengar berat dan dalam. Pria itu benar-benar tertidur. Kelelahan rupanya telah memenangkan pertempuran melawan kewaspadaannya.

Elara merasa aneh. Mengapa dia tidak pindah ke kamar tidurnya yang nyaman di sayap timur? Mengapa dia memilih tidur dalam posisi tidak nyaman di kursi kerja, di ruangan yang sama dengan istri yang diabaikannya?

Mungkin jarak ke kamarnya terlalu jauh. Atau mungkin, pikir Elara dengan getir, dia hanya tidak ingin repot.

Keheningan malam semakin dalam. Api di perapian mulai meredup, menyisakan bara merah yang berkedip-kedip lemah. Bayang-bayang di ruangan itu memanjang, merayap dari sudut-sudut gelap seperti tentakel yang ingin menyentuh mereka.

Elara akhirnya benar-benar tertidur, terbuai oleh kehangatan selimut.

Elara terbangun karena suara.

Bukan suara angin. Bukan suara detak jam. Itu adalah suara manusia. Suara mengerang yang tertahan, seperti seseorang yang sedang dicekik.

Jantung Elara berpacu seketika. Ia membuka matanya, kegelapan ruangan membuatnya buta sesaat sebelum matanya beradaptasi dengan cahaya bara api yang tersisa. Ia duduk tegak di sofa, telinganya dipasang tajam.

"Tidak..."

Suara itu berasal dari meja kerja.

Elara menoleh. Di sana, di kursi kulit besarnya, Kaelen tidak lagi tidur dengan tenang. Tubuhnya bergerak-gerak gelisah. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri dengan gerakan tersentak-sentak, seolah sedang menghindari pukulan yang tak terlihat. Keringat mengkilap di dahinya, memantulkan sisa cahaya api yang redup.

"Mundur..." desis Kaelen dalam tidurnya. Suaranya serak, penuh urgensi dan kepanikan. "Formasi... pertahankan sisi kiri... sialan!"

Tangannya mencengkeram lengan kursi kayu itu begitu erat hingga Elara bisa mendengar bunyi kayu yang berderak, seolah akan remuk di bawah tekanannya. Kakinya menendang udara pelan.

Elara terpaku. Ia sedang menyaksikan mimpi buruk Iblis Utara.

Ia pernah mendengar rumor itu. Orang-orang di ibu kota berbisik bahwa Kaelen Draxos menjadi gila setelah perang perbatasan lima tahun lalu. Bahwa dia membantai musuh dan kawan tanpa pandang bulu. Bahwa jiwanya telah dijual pada iblis demi kemenangan. Namun, melihatnya sekarang, Elara tidak melihat monster yang haus darah. Ia melihat seorang pria yang sedang disiksa.

"Lyra..."

Nama itu lolos dari bibir Kaelen. Bukan teriakan perintah perang, melainkan bisikan yang penuh dengan rasa sakit yang menyayat hati. Suaranya pecah, rapuh, seperti kaca yang diinjak.

"Jangan pergi... Lyra..."

Nama itu. Elara pernah mendengarnya. Lyra. Putri dari Duke tetangga, wanita yang dikabarkan meninggal secara tragis sebelum sempat bertunangan dengan Kaelen. Cinta pertama yang tak tergantikan. Hantu yang menghantui pernikahan mereka bahkan sebelum dimulai.

Mendengar nama itu diucapkan dengan nada penuh kerinduan dan penderitaan membuat dada Elara terasa sesak. Ada rasa cemburu yang aneh, namun segera tertutup oleh rasa iba yang mendalam. Kaelen tampak begitu kesakitan. Wajahnya berkerut, air mata—atau mungkin keringat—mengalir di pelipisnya.

Tanpa sadar, Elara menurunkan kakinya dari sofa. Lantai karpet terasa dingin di telapak kakinya yang telanjang. Ia berdiri, selimutnya jatuh ke lantai. Ia berjalan mendekat, langkahnya pelan dan ragu-ragu.

Naluri kemanusiaannya berteriak untuk membangunkannya. Tidak ada orang yang pantas terjebak dalam teror seperti itu, bahkan suami yang dingin sekalipun.

Elara sampai di depan meja kerja. Dari jarak dekat, Kaelen tampak lebih buruk. Napasnya memburu, putus-putus. Kemejanya basah oleh keringat.

"Kaelen," panggil Elara pelan. Ia tidak berani menggunakan gelar 'Yang Mulia' atau 'Duke'. Di saat seperti ini, gelar tidak ada artinya.

Pria itu tidak bangun. Erangannya semakin keras. "Darah... terlalu banyak darah..."

Elara memberanikan diri. Ia mengulurkan tangannya. Jemarinya gemetar saat mendekati bahu Kaelen yang tegang. Ia ingin mengguncangnya pelan, hanya untuk menariknya keluar dari neraka mimpinya.

Ujung jarinya baru saja menyentuh kain kemeja Kaelen yang lembap.

Reaksi itu terjadi dalam sepersekian detik.

Mata Kaelen terbuka lebar. Bukan mata orang yang baru bangun tidur, melainkan mata binatang buas yang disergap.

Dengan kecepatan yang mengerikan, tangan Kaelen melesat, mencengkeram pergelangan tangan Elara. Cengkeramannya sekeras besi, meremukkan tulang.

"Argh!" Elara memekik kesakitan.

Kaelen menariknya kasar, refleks seorang prajurit yang menghadapi musuh. Elara terhuyung ke depan, pinggangnya menghantam tepi meja kerja dengan keras. Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa inci.

Mata abu-abu Kaelen liar, pupilnya melebar, napasnya memburu menerpa wajah Elara. Ia tidak melihat Elara. Ia masih melihat musuh dalam mimpinya. Tangan kanannya meraba pinggangnya mencari belati yang tidak ada di sana.

"Kaelen! Ini aku!" seru Elara, menahan rasa sakit di pergelangan tangannya yang terasa mau patah. "Elara! Lepaskan!"

Suara itu menembus kabut di otak Kaelen.

Kedipan matanya melambat. Fokusnya perlahan kembali. Ia melihat wajah pucat di depannya. Rambut cokelat panjang yang berantakan. Mata cokelat yang terbelalak ketakutan.

Bukan musuh. Bukan hantu masa lalu.

Istrinya.

Kaelen melepaskan cengkeramannya seolah tangan Elara terbakar. Ia mendorong dirinya mundur, kursi kerjanya berdecit keras di lantai kayu. Napasnya masih menderu, dadanya naik turun dengan cepat.

Elara mundur selangkah sambil memegangi pergelangan tangannya yang kini memerah dan membentuk bekas jari. Jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdengung. Ia gemetar, campuran antara rasa sakit dan teror murni. Sesaat tadi, ia benar-benar berpikir Kaelen akan membunuhnya.

Keheningan yang mengikuti kejadian itu berat dan menyesakkan. Hanya suara napas mereka yang mengisi ruangan.

Kaelen menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangannya yang besar. Bahunya tegang. Ia sedang berusaha mengendalikan dirinya, menekan kembali iblis-iblis itu ke dalam sangkarnya.

"Keluar," suara Kaelen terdengar parau, teredam di balik tangannya.

Elara tidak bergerak. Kakinya terpaku di lantai. "Kau bermimpi buruk," katanya pelan. Itu bukan pertanyaan.

Kaelen mengangkat wajahnya. Tatapannya tajam, dingin, dan penuh peringatan. Topeng itu telah kembali, meski retak di sana-sini. "Aku bilang keluar, Elara. Jangan buat aku mengulanginya."

"Aku tidak bisa keluar," jawab Elara, suaranya bergetar namun ia memaksakan diri untuk tetap berdiri tegak. "Pintunya dikunci. Dan di luar badai. Dan aku tidur di sini, ingat?"

Kaelen terdiam. Ia tampak lupa pada realitas situasi mereka. Ia melihat ke sekeliling ruangan, menyadari di mana ia berada. Ia mengusap wajahnya kasar, menyeka keringat dingin.

"Tidurlah kembali," gumam Kaelen akhirnya, nadanya lelah, bukan lagi marah. Ia menghindari tatapan Elara, menolak untuk mengakui momen kerentanan yang baru saja terjadi. Ia merasa telanjang, terhina karena istrinya—wanita yang ia anggap lemah—melihatnya dalam keadaan sekacau ini.

"Tanganmu gemetar," ucap Elara tiba-tiba.

Kaelen mengepalkan tangannya di atas meja, menyembunyikan tremor itu. "Jangan sok peduli, Elara. Kau tidak tahu apa-apa."

"Aku memang tidak tahu," Elara melangkah maju sedikit, mengabaikan instingnya yang menyuruh lari. "Kau menyebut nama Lyra."

Nama itu jatuh seperti bom di antara mereka.

Rahang Kaelen mengeras seketika. Urat di lehernya menonjol. Aura bahaya yang sempat surut kini kembali dengan kekuatan penuh. Ia menatap Elara dengan tatapan yang bisa membekukan api perapian.

"Jangan pernah," Kaelen berdiri perlahan, tubuhnya menjulang tinggi di atas meja, "menyebut nama itu lagi dengan mulutmu. Kau tidak berhak. Kau tidak layak."

Setiap kata adalah pisau. Tajam, presisi, dan dirancang untuk melukai. Kaelen sedang menyerang sebelum diserang. Ia menggunakan kemarahan sebagai perisai untuk menutupi rasa sakitnya.

Elara merasakan matanya panas. Kata-kata itu menyakitkan, ya. Tapi anehnya, ia tidak merasa hancur. Ia melihat pria di hadapannya bukan sebagai sosok yang mahakuasa lagi, melainkan sebagai pria yang patah hati dan belum sembuh. Pria yang terjebak di masa lalu.

"Maaf," kata Elara lembut. "Aku tidak bermaksud tidak sopan."

Ia berbalik, mengambil selimutnya yang jatuh di lantai, dan kembali ke sofa. Ia memunggungi Kaelen, menarik selimut itu menutupi kepalanya, menciptakan benteng kecil yang rapuh.

Di belakangnya, Kaelen masih berdiri. Elara bisa merasakannya. Ia bisa merasakan tatapan pria itu membakar punggungnya.

Kaelen tidak kembali duduk. Ia berjalan menuju jendela, menatap kegelapan badai di luar. Ia tidak tidur lagi malam itu.

Dan Elara, dari balik selimutnya, tetap terjaga, mendengarkan langkah kaki suaminya yang mondar-mandir seperti harimau yang terkurung dalam kandang, menyadari bahwa pernikahan ini akan jauh lebih rumit—dan jauh lebih menyakitkan—daripada sekadar menahan dinginnya angin utara.

Malam itu, di antara debu buku dan bara api yang mati, sebuah batas tak terlihat telah dilanggar. Elara telah melihat luka sang naga, dan Kaelen tahu ia tidak bisa lagi menyembunyikannya sepenuhnya.

1
jamanku
😍👍
jamanku
ceritanya sangat menarik dan baru
Sofia
😍
Sofia
😍😍😍
Sofia
😍
Sofia
seru banget ceritanya
Op L
terus berjuang lady, cerita yang sangat bagua
Yuu Li
semoga bahagia lady
Roaffi Jj
mantap ceritanya
Lamia Dante
ceritanya menarik
kiu kiu
good...pasangan yg cocok.klu bisa saling bekerjasama mencairkan suasana di kastil yg sedingin salju itu.elara apa dia tk tertarik bermain pedang...dilihat dari sikapnya dia wanita yg tangguh.mampu menembus pertahanan duke draxos.semangat ya thor...lanjutkan...
Jake King
semangat lady
Irzad
go ladyyy
ikyar
mohon dukungannya terima kasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!