NovelToon NovelToon
Menghancurkan Suami Benalu Dan Adik Tiriku

Menghancurkan Suami Benalu Dan Adik Tiriku

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nila KingShop Wati

HANCURLAH BERSAMA "SUAMI PARASIT DAN ADIK BENALU"
Selama dua tahun pernikahan, Violet hidup sebagai istri yang selalu mengalah. Ia tidak pernah menyangka suami yang dicintainya ternyata diam-diam berselingkuh dengan Eliana, adik tirinya sendiri.
Lebih kejam lagi, mereka hanya memanfaatkannya demi merebut perusahaan keluarga yang menjadi haknya. Saat kebenaran terungkap, Violet kehilangan segalanya—ayahnya koma karena sebuah kecelakaan yang ternyata direncanakan, hartanya dirampas, dan nyawanya dihabisi oleh orang-orang yang paling dipercayainya.
Dalam detik terakhir sebelum kematian, Violet mengutuk mereka dan memohon kesempatan untuk mengulang hidupnya.
Ketika membuka mata, ia kembali ke dua tahun lalu.
Ke hari saat Arga datang melamar.
Kali ini Violet tidak akan memilih pria yang menghancurkan hidupnya.
Sebagai gantinya, ia memilih Sherkan—paman Arga yang terkenal dingin, kejam, dan menjadi penguasa dunia bisnis.
Keputusan itu mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nila KingShop Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melihat kenyataan

Bab 4 - Melihat kenyataan

Akhirnya aku berhenti tepat di depan pintu kamar yang sesuai dengan nomor yang sempat kubaca tadi. Pintu itu tertutup rapat, tidak ada suara apa pun yang terdengar dari baliknya, seolah ruangan itu kosong melompong. Aku berdiri diam di sana cukup lama, menatap permukaan kayu pintu itu dengan pandangan kosong, berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa aku sedang bertindak berlebihan, bahwa aku akan terlihat gila jika terus berprasangka seperti ini tanpa bukti, dan bahwa pasti ada penjelasan logis yang akan mematahkan semua kecurigaanku. Namun ketenangan itu hanya bertahan sebentar saja. Tiba-tiba aku mendengar suara tawa perempuan, terdengar pelan namun cukup jelas menembus celah pintu. Suara yang sangat kukenal, suara yang sering aku dengar berbicara manis di telepon atau bercerita riang di ruang tamu rumahku. Eliana. Tubuhku langsung menegang kaku, jantungku seolah berhenti berdetak sejenak, dan darahku terasa mendidih bercampur rasa sakit yang luar biasa. Aku mendekatkan telingaku sedikit ke permukaan pintu, dan kali ini terdengar suara laki-laki yang menjawab tawa itu, suara berat dan rendah yang menjadi suamiku, Arga. Aku tidak bisa mendengar dengan jelas apa isi percakapan mereka, namun nada bicara dan tawa yang terdengar kembali itu begitu akrab, begitu hangat, dan begitu intim, sesuatu yang tidak pernah aku dengar saat Arga berbicara dengan anggota keluarga lainnya.

Tanganku mulai gemetar hebat, keringat dingin membasahi telapak tanganku, dan aku terus berusaha membisikkan kata-kata penyangkalan di dalam kepalaku. Tidak mungkin, mereka masih keluarga, mereka saudara sedarah meski berbeda ibu, mereka tidak mungkin melakukan hal kotor dan memalukan seperti ini. Namun penyangkalan itu runtuh seketika saat pintu kamar itu terbuka sedikit dari dalam. Dengan cepat dan reflek aku bersembunyi di balik dinding pembatas di sudut koridor, menahan napas sekuat tenaga agar tidak terdengar. Beberapa detik berlalu terasa begitu lama, dan saat aku memberanikan diri mengintip perlahan dari balik dinding, pemandangan yang kulihat membuat seluruh darah di tubuhku seolah membeku dan kakiku terasa lemas tak bertulang. Arga berdiri di ambang pintu dengan santai, sementara tangan kanannya melingkar dan bertumpu lembut di pinggang ramping Eliana, gerakan yang terasa begitu wajar, begitu lepas, dan begitu terbiasa, seolah sentuhan itu sudah dilakukan ribuan kali dan sudah menjadi kebiasaan lama bagi mereka berdua. Eliana tertawa kecil sambil memukul pelan dada bidang Arga dengan gerakan manja dan akrab, sebuah interaksi yang terlalu dekat, terlalu pribadi, dan terlalu intim untuk sekadar hubungan kakak ipar dan adik ipar.

Duniaku seolah berputar terbalik saat itu juga, pandanganku mulai kabur dan berkunang-kunang, namun sebelum aku sempat melihat atau mendengar lebih jauh, mereka berdua kembali masuk ke dalam kamar dan pintu itu tertutup rapat lagi, memisahkan mereka dari dunia luar. Aku berdiri terpaku di tempat itu, pikiran menjadi kosong melompong, dan hatiku berteriak keras menolak untuk mempercayai apa yang baru saja disaksikan oleh kedua mataku sendiri. Namun kenyataan tidak bisa dibohongi, mataku tidak mungkin salah melihat, dan semua bukti itu ada di depan mata. Aku melihat sendiri bagaimana Arga menyentuh Eliana dengan penuh kasih sayang, aku melihat sendiri bagaimana Eliana menatap Arga dengan pandangan yang tidak pernah kulihat pada seorang saudara, pandangan yang penuh kekaguman dan cinta.

Aku pulang ke rumah dalam keadaan linglung dan hancur lebur, sepanjang perjalanan aku terus berusaha mencari-cari penjelasan lain, alasan apa pun yang bisa membenarkan tindakan mereka, meskipun itu alasan yang paling tidak masuk akal sekalipun. Karena jika aku tidak menemukan alasan itu, maka hanya ada satu kemungkinan besar yang tersisa, dan aku belum siap, sama sekali belum siap, untuk menerima kenyataan pahit itu. Saat malam tiba, Arga pulang ke rumah seperti biasa, dengan wajah yang tenang dan sikap yang santai seolah tidak terjadi apa-apa, seolah siang tadi ia tidak menghabiskan waktu berjam-jam di dalam kamar hotel bersama adik tiriku sendiri. Ia bahkan duduk di kursi makan malam dengan rileks dan bertanya dengan nada biasa apa menu yang kami santap malam itu.

Aku menatap wajahnya lama, sangat lama, berusaha mencari jejak rasa bersalah, berusaha melihat tanda-tanda kepanikan, atau berusaha menemukan sesuatu yang janggal di balik senyumnya yang hangat itu. Namun tidak ada apa pun.

Arga terlalu tenang, terlalu dingin, dan terlalu pandai menyembunyikan segalanya. “Kenapa menatapku seperti itu, Sayang? Ada yang salah?” tanyanya dengan nada lembut yang dulu selalu membuatku merasa dicintai, namun kini terasa menjijikkan dan menyakitkan.

Aku perlahan menurunkan sendok yang sedang kugenggam hingga berbunyi nyaring menyentuh piring. “Hari ini kau ke mana seharian ini?” tanyaku langsung, suara ku bergetar namun berusaha tetap tegas.

“Ke kantor saja, seperti biasa. Ada banyak urusan yang harus diselesaikan,” jawabnya cepat dan lancar tanpa ragu sedikit pun. Bohong. Itu adalah kebohongan yang sangat besar dan sangat jelas, dan aku tahu itu karena aku melihatnya sendiri dengan mata kepalaku.

“Benar-benar seharian di kantor?” tanyaku lagi berusaha memancing. “Iya, memangnya kenapa? Ada yang aneh?” tanyanya balik sambil mengangkat alis seolah bingung. “Tidak ada,” jawabku pelan sambil menundukkan wajah agar ia tidak melihat air mata yang hampir jatuh. Aku tidak bisa bertanya lebih jauh, karena jika aku terus menatap wajah penipuan itu, mungkin aku akan langsung meledak dan menuduhnya saat itu juga, sementara aku sadar aku belum cukup kuat untuk mendengar jawaban apa pun yang akan keluar dari mulutnya.

----

Dua hari berlalu dengan perasaan yang semakin menyiksa, hingga kesempatan untuk mengetahui kebenaran lebih dalam itu datang kembali, secara tidak sengaja namun terasa begitu menyakitkan. Saat itu aku sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan besar untuk menghadiri acara peluncuran produk baru dari salah satu anak perusahaan kami. Acara berjalan lancar dan selesai lebih cepat dari jadwal yang ditentukan, dan saat aku berjalan menuju area parkir untuk pulang, pandanganku kembali menangkap sosok yang selama ini menghantuiku: Eliana. Perempuan itu sedang berdiri di dekat pintu keluar belakang yang agak sepi, sedang berbicara santai dengan seseorang yang berdiri membelakangi tubuhku. Aku refleks menghentikan langkah dan segera bersembunyi di balik tiang besar penyangga bangunan, mengintip dengan hati-hati. Beberapa detik kemudian, sosok yang sedang diajak berbicara itu berbalik badan, dan lagi-lagi jantungku terasa remuk. Arga. Mereka berdua langsung masuk ke dalam sebuah mobil sedan hitam yang sama sekali tidak kukenal, bukan mobil keluarga yang biasa kami pakai, bukan pula mobil dinas kantor, melainkan kendaraan pribadi yang asing bagiku.

Dadaku semakin terasa sesak dan nyeri tak tertahankan. Kali ini aku tidak akan membiarkan mereka pergi begitu saja tanpa tahu ke mana tujuan mereka. Aku langsung berjalan cepat menuju kendaraanku sendiri dan memerintahkan sopir pribadi untuk mengikuti mobil hitam itu dari jarak aman tanpa menarik perhatian. Perjalanan itu cukup jauh, membelah jalanan kota yang padat hingga akhirnya mobil itu berhenti di tempat yang sangat aku kenal, tempat yang kini menjadi mimpi buruk bagiku: Hotel Grand Meridian. Jantungku seolah jatuh bebas ke dasar jurang yang paling dalam. Bukan sekali saja, bukan sekadar kebetulan, mereka kembali ke tempat yang sama, melakukan hal yang sama, dan mengulangi rahasia kotor mereka lagi.

Aku turun dari mobil dengan kaki yang gemetar, berjalan masuk ke lobi yang sama, dan sekali lagi melihat pemandangan yang menyakitkan itu. Arga dan Eliana berjalan berdampingan menuju lift pribadi, berjalan begitu dekat, begitu akrab, dan begitu serasi, seolah dunia ini hanya milik mereka berdua saja dan tidak ada orang lain yang berhak mengganggu. Untuk sesaat Eliana menoleh ke belakang seolah merasa diawasi, dan aku langsung bersembunyi di balik tumpukan tanaman hias besar di dekat pintu masuk, beruntung ia tidak melihat keberadaanku. Namun saat aku kembali berdiri tegak dan berniat menuju lift, ponsel di dalam tasku berdering nyaring. Nama Eliana terpampang jelas di layar kaca ponsel itu. Aku membeku di tempat, bingung dan takut, kenapa ia meneleponku saat mereka sedang berada di sini? Dengan tangan yang gemetar hebat aku mengangkat panggilan itu dan mendekatkan alat komunikasi itu ke telinga.

“Halo, Kak?” suara Eliana terdengar begitu ceria, begitu manis, dan begitu polos di seberang sana, berbanding terbalik dengan apa yang baru saja kulihat.

“Kakak sedang berada di mana? Sibuk tidak hari ini?” tanyanya ramah.

Aku memejamkan mata rapat-rapat, berusaha sekuat tenaga mengendalikan emosi yang meluap dan menahan suara agar tidak terdengar bergetar.

“Aku… aku sedang di kantor, ada sedikit pekerjaan yang belum selesai,” jawabku, mengucapkan kebohongan pertama yang keluar dari mulutku padanya.

“Oh, begitu rupanya. Aku hanya ingin menelepon untuk mengajak Kakak makan malam nanti, tapi sepertinya Kakak masih sibuk ya,” ucapnya lagi sambil tertawa kecil, tawa yang kini terasa sangat palsu dan menyakitkan.

Aku menatap layar lift yang baru saja tertutup, tempat di mana Arga dan Eliana menghilang beberapa detik yang lalu menuju lantai tujuh belas, menuju kamar yang sama, dan dadaku terasa sakit luar biasa, sakit yang jauh lebih parah daripada luka fisik apa pun. Karena untuk pertama kalinya dalam hidupku, di tengah semua kebohongan dan kepalsuan ini, aku mulai benar-benar yakin dan curiga akan kenyataan yang ada. Dan hal yang paling menakutkan dari semua ini sebenarnya bukanlah kemungkinan bahwa mereka berselingkuh, melainkan kenyataan pahit bahwa jauh di dalam lubuk hatiku yang paling dalam, jauh sebelum aku menemukan bukti ini, aku sebenarnya sudah mengetahui jawabannya. Aku hanya belum berani mengakuinya, aku hanya belum sanggup menghadapinya, dan aku masih berusaha bertahan dalam kepura-puraan ini.

1
Amidah Anhar
maaak bab selanjutnya pengumuman Meraka udah jadi sepasang suami istri iya..
pengen tahu reaksi mereka 🤣🤣🤣🤣
Miss Typo
aku suka aku suka
aku padamu Sherkan ♥️🫰

apa Sherkan juga mengulang waktu mengulang masa lalu, jadi dia tau semuanya yg disembunyikan Violet? 🤔
Maria Kibtiyah
kayakmya sherkan tau apa yg di alamin violet di masa lalu
Miss Typo
ku pikir Sherkan mau duduk di meja rias trs menarik pinggang Violet untuk memakaikan dasinya itu 🤣
ternyata aku salah dgn pikirin ku sendiri 😁
Ayudya
sherkan suami yg terbalk
Ayudya
lanjut kak
Amidah Anhar
Maaak aku belum move-on dengan nama sherkan nya Elf 🤭🤭🤭🤭
Evve Miss Plot twist: yang ini bakal bikin jauh lebih ga bisa bikin move on makkk😍🤭
total 1 replies
Maria Kibtiyah
sherkan gak ketebak kira2 apa rencana dia
Maria Kibtiyah
semangat mak semakin menarik😍
Maria Kibtiyah: 😍😍😍😍😍
total 2 replies
Silvia
lagi Thor semangat💪💪
Evve Miss Plot twist: ok mak😍
total 1 replies
Nana Colen
semangat thooooor.... lanjut up lagi dan kalau bisa tolong dong lanjutin cerita nya dalam cengkraman badai
Evve Miss Plot twist: siap makkk sudah update lagi 1 bab, tunggu review yah
total 2 replies
Nana Colen
aaah orang kaya mah pasti udah diselidiki duluan ath neng violet... dari makanan favorit hobinya apa dan sebagainya 😁😁😁😁
Nana Colen
thor aku mau tanya... apakah ayahnya violet saat ini sudah berada drumah sakit atau gimana aku kurang nggeuh
Nana Colen
aku ucapkan Terima kasih thor mau berkarya lagi di NT.... aku kangen banget dengan cara dan gaya mu dalam membuat novel selalu banyak kejutan dan takateki 😍😍😍😍😍
Miss Typo
kalian berdua ngegemesin deh 😍

semangat Mak Eva 💪🥰
wiliss
alhamdulilllah saahh? saaahhhhh🥰🙏
Nana Colen
balaslah dengan elegan violet... kamu bukan cewek lemah dan bodoh 💪💪💪💪
Nana Colen
jadi ikutan deh deg an ya... ini violet beda cerita lagi sama violet sherkan ya
Evve Miss Plot twist: beda mak, lagi malas nyari nama pemeran 🤭
total 1 replies
Nana Colen
buanglah suami benalu itu violet
Nana Colen
akhirnya netes juga karya baru nya... semangat thor aku pendukung karya karyamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!