NovelToon NovelToon
Istri Bisu Pilihan Ibu

Istri Bisu Pilihan Ibu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Pembantu / Orang Disabilitas / Cinta setelah menikah / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: penyuka ungu

​Azizah, seorang wanita bisu dari desa yang merantau ke kota untuk bekerja sebagai pembantu baru. Namun kelembutan hatinya justru memikat sang nyonya majikan yang kemudian bersikeras menjodohkannya dengan putra sulungnya, Ezra.

​Ezra menolak keras karena sudah memiliki kekasih, begitu pula Azizah yang tidak ingin menikah tanpa cinta. Namun demi menyelamatkan sang nyonya yang terkena serangan jantung, pernikahan itu terpaksa digelar. Di tengah dinginnya sikap Ezra, mampukah ketulusan Azizah menyentuh hati suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Pertama Bekerja

Keesokan harinya, mentari pagi baru saja menyembul di ufuk timur, memancarkan sinar keemasan yang hangat ke seluruh penjuru perumahan elit. Karena Azizah baru saja tiba kemarin siang setelah menempuh perjalanan jauh yang melelahkan, Amisha dengan penuh pengertian telah memerintahkannya untuk baru mulai bekerja secara resmi pada keesokan harinya. Dan di sinilah Azizah berada sekarang, berdiri di tengah dapur utama yang luas, bersih, dan dilengkapi dengan berbagai peralatan memasak yang modern.

Pagi ini, Azizah bertugas membantu menyiapkan sarapan untuk keluarga besar Amisha. Ia tidak sendiri, melainkan ditemani oleh Iyem, sosok pembantu senior yang paling dihormati di antara para pekerja di rumah itu.

Sembari tangannya dengan lincah mengupas wortel dan memotong sayuran, ingatan Azizah kembali pada kejadian kemarin sore. Setelah waktu salat asar, Dewi mengajaknya ke area belakang untuk berkenalan dengan rekan-rekan kerja yang lain. Ada Diah yang paling cekatan, Gita yang jenaka, dan Lina yang kalem. Menariknya, ketiganya itu ternyata memiliki usia yang hampir sebaya dengan Dewi. Kenyataan itu membuat Azizah sadar bahwa dari total enam orang pembantu di istana megah ini, ia adalah yang paling muda dan kecil di antara mereka semua.

Meski begitu, status sebagai yang paling muda tidak membuat Azizah merasa canggung. Sebaliknya, hal itu justru memicu semangatnya untuk belajar lebih giat lagi.

Iyem yang sedang mengaduk nasi goreng di atas wajan besar sesekali menoleh ke arah Azizah. Wanita paruh baya itu tersenyum kagum melihat cara Azizah memotong sayuran yang begitu rapi, cepat, dan presisi.

“Wah, potongan wortelmu rapi sekali, Zah. Sudah biasa memasak, ya?” puji Iyem ramah.

Mendengar pertanyaan itu, Azizah langsung menghentikan aktivitasnya sejenak. Sadar akan keterbatasan komunikasinya dan fakta bahwa Iyem belum terlalu lancar membaca bahasa isyarat, Azizah segera merogoh kantung celemek yang dipakainya.

Ia mengeluarkan sebuah buku catatan kecil berukuran saku beserta pulpennya. Buku catatan itu adalah pemberian dari Amisha kemarin sore, khusus disediakan sang majikan agar Azizah bisa berkomunikasi dengan lancar kepada siapa saja di rumah ini tanpa perlu merasa bingung.

Dengan cekatan, Azizah menuliskan beberapa kata di atas kertas putih itu, lalu menunjukkannya kepada Iyem sambil tersenyum lebar.

‘Iya, Mbak Iyem. Di desa setiap hari aku selalu memasak membantu nenek.’

Iyem membaca tulisan itu, lalu mengangguk-angguk mengerti dengan mata yang berbinar hangat. Ia menepuk pelan bahu Azizah.

“Bagus, Zah. Kerja yang rajin, ya. Beruntung sekali Nyonya Amisha memberi buku catatan ini, jadi kita tidak bingung mengobrolnya. Ayo, setelah ini kita tata piring-piringnya di meja makan depan.”

Azizah mengangguk patuh. Ia menyimpan kembali buku catatannya ke dalam kantung celemek, lalu membersihkan papan talenan untuk bersiap membawa peralatan makan ke ruang makan utama.

Ia pun membawa piring-piring berisi makanan yang masih mengepulkan uap hangat menuju ruang makan bersama Iyem yang berjalan di depannya. Begitu melangkah masuk, suasana hangat khas keluarga di pagi hari langsung menyambutnya. Keluarga besar Amisha tampak sedang sibuk mengobrol di sekitar meja makan panjang yang mewah.

Di sana sudah duduk Amisha yang tampak anggun seperti biasa, memimpin meja makan. Di sebelahnya, Darel duduk dengan setelan kemeja rapi dan jam tangan yang sudah melingkar, siap untuk berangkat bekerja menuju kantornya. Sang istri, Windy, setia menemani di sampingnya sambil sesekali membetulkan kerah kemeja suaminya yang sedikit terlipat. Sementara itu, si bungsu Clara juga sudah rapi mengenakan seragam SMP-nya, duduk manis sambil menyuap roti panggang dengan sesekali melihat jam di dinding.

Azizah melangkah mendekat dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara berisik dari piring-piring yang dibawanya. Kehadirannya segera disadari oleh Amisha yang langsung melemparkan senyum penyemangat, seolah memberi restu untuk hari pertama kerja wanita itu.

Dengan gerakan yang telaten, Azizah mulai menata piring-piring berisi nasi goreng dan lauk-pauk pelengkap di tengah meja. Aroma masakan yang ia buat bersama Mbak Iyem seketika mengalihkan obrolan keluarga itu.

“Wah, pas sekali, sarapannya sudah siap. Baunya harum sekali, ya,” ujar Darel sambil tersenyum ke arah Azizah.

Azizah menundukkan kepalanya dengan sopan sebagai tanda hormat, lalu melangkah mundur bersama Iyem untuk kembali ke dapur, agar keluarga itu menikmati sarapan dengan khidmat.

Namun, suasana sarapan yang tenang itu tiba-tiba berubah menjadi kepanikan kecil saat Clara menepuk dahinya keras-keras. Wajahnya seketika pucat pasi.

“Mati aku! Aku lupa kalau hari ini ada pengumpulan tugas akhir seni rupa!” serunya panik, membuat semua orang di meja makan menoleh.

Amisha langsung meletakkan sendoknya, menatap bungsu keluarga itu dengan sorot mata mengomel.

“Astaga, Clara! Padahal minggu lalu Mama sudah belikan kanvas dan cat minyak yang kau minta. Kenapa bisa lupa? Kalau kau baru mau melukis sekarang, jam berapa selesainya? Bisa-bisa kau terlambat masuk sekolah!”

Clara merengek, lalu melirik ke arah kakak lak-lakinya dengan pandangan memelas, “Kak Darel... tolongin Clara, dong. Buatkan lukisan abstrak atau apa saja yang cepat, ya? Please...”

Mendengar itu, Darel menggelengkan kepalanya cepat-cepat. Ia bahkan langsung berdiri dari kursinya untuk meraih jas kerja yang sempat ia letakkan di sandaran kursi.

“Jangan harap, ya. Kakak ada rapat penting pagi ini dengan investor, tidak ada waktu untuk bermain cat,” tolak Darel tegas sambil merapikan jasnya.

Clara beralih menatap kakak iparnya dengan sisa harapan, “Kak Windy?”

Windy ikut menggelengkan kepala sambil tersenyum meminta maaf, “Maaf, Clara... Aku juga tidak begitu pandai dalam urusan seni. Jangankan melukis di kanvas, menggambar pemandangan gunung saja aku masih belepotan.”

Bibir Clara langsung cemberut satu senti. Ia ikut berdiri dari kursinya, lalu menghentakkan kaki dengan kesal, “Ih, menyebalkan! Tidak ada satu pun yang mau membantuku!”

“Clara! Jangan malah marah-marah!” tegur Amisha langsung memarahi anaknya dengan nada tinggi, “Itu murni kesalahanmu sendiri. Seminggu ini kau hanya sibuk bermain dan terus-menerus melupakan tugas sekolahmu. Sekarang rasakan sendiri akibatnya!”

Azizah yang posisinya memang belum berjalan jauh dari meja makan otomatis menghentikan langkahnya. Ia mengamati perdebatan keluarga itu. Otaknya langsung berputar cepat. Urusan menggambar dan melukis adalah hal yang paling sering ia lakukan saat bersekolah dulu.

Merasa ini adalah kesempatan untuk membalas kebaikan mereka, Azizah membalikkan badannya dan kembali melangkah mendekati meja makan. Ia merogoh kantung celemeknya, mengeluarkan buku catatan pemberian Amisha, lalu dengan cepat menuliskan sesuatu di sana.

Kedatangan Azizah kembali ke sisi meja makan sontak membuat keriuhan dan perdebatan di sana menguap seketika. Semua mata tertuju pada buku catatan yang disodorkan Azizah. Amisha, Darel, Windy, dan Clara condong ke depan untuk membaca tulisan tangan Azizah yang rapi.

‘Nona Clara, kalau Nona mau, saya bisa membantu menyelesaikannya dalam waktu lima belas menit.’

Membaca tulisan itu, wajah Clara yang tadinya mendung langsung cerah seketika. Ia berseru senang dengan mata berbinar-binar.

“Serius, Mbak Azizah?! Mau, mau banget!”

Tanpa menunggu persetujuan ibunya lagi, Clara langsung menarik tangan Azizah dengan cepat, membimbing wanita itu bergegas menuju tangga untuk naik ke kamarnya yang berada di lantai atas.

Amisha, Darel, dan Windy yang ditinggalkan di ruang makan hanya bisa saling bertatapan satu sama lain. Keheningan sesaat itu pecah saat ketiganya serempak tertawa kecil, menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah heboh Clara. Pemandangan kepanikan dan penyelamatan tidak terduga dari Azizah itu benar-benar menjadi hiburan yang menggelitik di pagi hari bagi mereka.

Di dalam kamarnya yang luas dan bernuansa merah muda, Clara langsung bergerak gesit. Ia mengambil sebuah kanvas putih yang masih terbungkus plastik beserta sekotak besar cat minyak yang diletakkan tergeletak begitu saja di samping sofa santainya. Dengan napas yang masih sedikit memburu, ia menyerahkan peralatan itu kepada Azizah.

Namun bukannya langsung membuka cat, Azizah justru meletakkan barang-barang tersebut dengan rapi ke atas sofa. Ia kemudian merogoh kantung celemeknya, membuka buku catatan kecilnya, lalu menuliskan sebuah pertanyaan untuk diberikan pada Clara.

‘Nona Clara, tema apa yang diperintahkan oleh guru seni rupa Nona untuk tugas ini?’

Clara membaca tulisan itu dengan cepat, “Temanya bebas, Mbak! Apa saja boleh, yang penting dikumpul hari ini,” jawab Clara setengah merengek karena dikejar waktu.

Azizah mengangguk-angguk mengerti. Ia kembali menggoreskan pulpennya di atas kertas, menyusun sebuah ide bijak yang membuat keterbatasan komunikasinya sama sekali tidak menjadi penghalang.

‘Bagaimana kalau kita membuat lukisan yang sederhana saja? Agar Nona Clara juga bisa ikut membantu menaruh warna. Dengan begitu, tugas sekolah ini benar-benar dikerjakan oleh Nona sendiri, bukan murni dibuatkan oleh orang lain.’

Membaca untaian kalimat itu, senyum lebar langsung terbit di wajah manis Clara. Rasa bersalah karena hampir menyontek tugas seketika sirna, digantikan rasa kagum pada kedewasaan pembantu barunya.

“Wah, benar juga! Aku setuju, Mbak. Ayo kita buat yang simpel!” seru Clara bersemangat.

Setelah kesepakatan tercapai, Azizah dengan cekatan membantu Clara mendirikan tiang easel kayu di depan sofa yang memiliki pencahayaan bagus. Sementara keduanya mengambil posisi duduk bersebelahan di atas sofa.

Azizah terlihat mengetuk-ngetuk dagunya dengan pulpen, berpikir sejenak menentukan objek apa yang paling pas. Ia lalu menuliskan sesuatu lagi di bukunya.

‘Apa ada sesuatu atau pemandangan yang sangat disukai oleh Nona Clara akhir-akhir ini?’

Clara tampak menimbang-nimbang sebentar, sebelum matanya berbinar teringat sesuatu, “Oh! Aku baru-baru ini menonton film animasi, judulnya Up. Mbak tahu tidak?”

Ekspresi Azizah langsung berbinar. Ia tentu tahu film mengharukan itu. Di mana salah satu adegan ikonisnya adalah rumah kayu kecil yang terbang tinggi menembus awan karena ditarik oleh ribuan balon gas yang berwarna-warni. Sementara kakek tua dan anak kecil yang menjadi tokoh utamanya.

Imajinasi seninya langsung menangkap poin pentingnya. Dengan senyum tipis, ia menorehkan pulpennya kembali ke buku catatan.

‘Bentuk rumah di film itu cukup sederhana. Bagaimana kalau kita melukis rumah terbang ini beserta balon-balonnya? Nanti saya yang membuat sketsa rumah dan awannya, lalu Nona Clara yang membuat bulatan balon-balon udara warna-warni itu menggunakan kuas bulat besar. Saya yakin Nona pasti bisa.’

Tanpa ada penolakan sedikit pun, Clara langsung mengangguk setuju dengan mata berbinar penuh gairah.

“Setuju banget! Kelihatannya seru!”

Tanpa membuang waktu lagi, keduanya langsung membagi tugas. Dengan sisa waktu yang terus berjalan, mereka berdua bekerja sama dengan sangat kompak di dalam kamar, memadukan coretan Azizah dan sapuan warna-warni dari jemari Clara untuk menciptakan sebuah karya seni yang penuh cerita.

Di sela kesibukan kamar itu, Amisha yang baru saja selesai menyantap sarapannya memilih berdiri diam di luar kamar. Ia memerhatikan pemandangan di dalam dengan seksama. Di sana, Clara dan Azizah tampak begitu tenggelam dalam dunia mereka, mengoleskan warna demi warna pada kanvas dengan penuh tawa tanpa suara.

Dada Amisha seketika berdesir hangat, merasa sangat tersentuh. Walaupun Clara dikenal sebagai anak yang sangat ceria, Amisha tahu betul bahwa putri bungsunya itu memiliki kepribadian yang cukup tertutup dan sulit untuk didekati oleh orang baru. Namun melihat betapa akrabnya Clara bersama Azizah yang bahkan belum genap dua puluh empat jam berada di rumah ini, membuat hati sang ibu dipenuhi rasa lega dan senang.

Tidak lama kemudian, pekik kebahagiaan yang nyaring muncul dari mulut Clara.

“Hore! Akhirnya selesai juga!” serunya sambil bertepuk tangan. Lukisan mereka telah rampung sepenuhnya.

Melihat momen pas itu, Amisha mengetuk pintu pelan lalu melangkah masuk ke dalam kamar. Menyadari kehadiran ibunya, Clara dengan bangga memutar tiang easel kayu itu ke arah Amisha, memamerkan karya seni hasil kolaborasi kilat mereka.

“Mama, lihat! Cantik kan?” tanya Clara dengan mata berbinar-binar, menanti pujian.

Amisha mendekat, menilai lukisan itu dengan mata yang sedikit menyipit demi memperhatikan detailnya. Senyum tipis terukir di bibirnya, “Bagus sekali. Tapi... Mama yakin ini pasti ide dari Azizah. Kau paling-paling hanya membuat bulatan-bulatan balonnya saja kan?” goda Amisha telak.

“Ih, Mama!” Clara langsung merengek manja, mengerucutkan bibirnya karena merasa langsung ketahuan.

Azizah yang berdiri di samping mereka tidak tinggal diam melihat Clara diledek. Ia segera meraih buku catatan di kantung celemeknya, menuliskan sesuatu dengan cepat, lalu menunjukkannya kepada Amisha.

‘Bukan begitu, Nyonya. Ide luar biasa ini murni bersumber dari Nona Clara yang menyukai film ini. Saya hanya membantu mengarahkan kuasnya sedikit saja.’

Amisha membaca tulisan itu lalu terkekeh pelan, “Kau tidak perlu rendah hati begitu, Zah. Pokoknya aku sangat berterima kasih karena kau sudah menyelamatkan anak nakal ini dari hukuman gurunya.”

Azizah tersenyum tulus dan mengangguk. Jemarinya kembali menggoreskan pulpen pada kertas, memberikan sebuah peringatan penting.

‘Sama-sama, Nyonya. Tapi tolong lukisan ini dibawa dengan sangat hati-hati karena cat minyaknya masih basah dan belum kering sepenuhnya.’

Melihat keahlian jemari Azizah, rasa penasaran Amisha pun terusik, “Zah, boleh aku menanyakan sesuatu? Apa sebelumnya waktu di desa kau memang bekerja sebagai seorang pelukis atau seniman?”

Azizah menggelengkan kepalanya pelan sambil melempar senyum tipis. Ia menuliskan jawaban di bukunya.

‘Bukan, Nyonya. Saya tidak pernah bekerja sebagai pelukis. Saya hanya sesekali melukis kalau sedang mengikuti lomba seni rupa di sekolah dulu.’

Raut wajah Amisha seketika berubah sedikit kecewa setelah membaca jawaban itu, “Astaga, sayang sekali... Bakat alami yang luar biasa seperti ini sebaiknya tidak boleh terbuang sia-sia begitu saja.” Amisha terdiam sejenak, menatap lekat wanita tunawicara di hadapannya, “Memangnya, apa kau tidak memiliki niat atau keinginan untuk melanjutkan studimu ke jenjang yang lebih tinggi?”

Mendengar pertanyaan itu, Azizah mendadak terdiam. Gerakan tangannya terpaku di atas buku catatan. Untuk urusan melanjutkan kuliah, sebenarnya ia tidak pernah berani memikirkannya sama sekali di dalam hidupnya. Apalagi dengan kondisi keterbatasan biaya keluarga dan kondisi fisiknya, impian itu terasa terlalu tinggi untuk digapai.

Melihat perubahan ekspresi Azizah yang mendadak muram dan terdiam seribu bahasa, Amisha yang peka langsung merasa tidak enak hati. Ia segera mengulas senyum ramah untuk mencairkan suasana yang sempat menegang.

“Eh, maaf ya, Zah... Aku tidak bermaksud lancang menanyakan hal pribadi seperti itu,” ucap Amisha tulus, mencoba menenangkan hati asisten rumah tangga barunya. Ia kemudian menoleh ke arah Clara untuk mengalihkan pembicaraan, “Ya sudah, Mama keluar kamar dulu sebentar untuk memanggil sopir pribadi di depan. Biar dia yang membungkus dan membawa lukisan ini ke mobil dengan aman supaya tidak merusak catnya. Sekarang cepat rapikan tasmu lalu turun!”

Setelah diangguki oleh Clara, Amisha melangkah keluar kamar dan meninggalkan kehangatan pagi yang baru saja mengukir kedekatan berharga di antara mereka semua di hari pertama Azizah bekerja.

1
Maulidia Okta
ah.... Melow Ya Thor...
Maulidia Okta
jadi ikut mewek /Sob/
Lilik Juhariah
bismillah moga Ezra menerima pernikahan yg yg menyebut nama Allah dan disaksikan para Malaikat, lelaki sejati adalah lelaki yg tak pernah ingkar janji
falea sezi
bkin pergi aja dah males bgt di injak2 terus
falea sezi
buat si bisu di sukain cogan lain😒 biar dia cmburu
falea sezi
laki sialannn😕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!