NovelToon NovelToon
SEBELUM SENJA PAMIT DI AKAR TUA

SEBELUM SENJA PAMIT DI AKAR TUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Healing
Popularitas:456
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

"Kalau kau memang ingin mati, setidaknya selesaikan dulu 7 permintaanku. Setelah itu, aku tidak akan melarangmu gantung diri di pohon ini."
Kehilangan karier, dikhianati sahabat, dan ditinggal tunangan, Gani pulang ke desa masa kecilnya hanya dengan satu tujuan: mati dengan tenang di bawah pohon beringin tua.
Namun, rencananya berantakan saat Kirana—gadis desa yang cerewet, keras kepala, namun memiliki senyum paling tulus—menemukannya di hutan dan memberinya satu kesepakatan gila. Gani terpaksa menyetujui "7 Permintaan" gadis itu sebelum ia diizinkan mati.
Mulai dari mencuri mangga Kepala Desa hingga menari di bawah hujan badai, setiap permintaan justru perlahan mengembalikan warna di hidup Gani yang kelabu.
Namun, saat cinta mulai menunda niat kematiannya, Gani menyadari satu kebenaran yang kejam: Kirana memiliki alasan yang jauh lebih tragis darinya untuk tidak bisa hidup lebih lama lagi.
Kini, mampukah tangan yang pernah hancur itu menyelamatkan satu-

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Hantu Ibukota dan Taman Harapan

​Palu kayu itu diketuk tiga kali.

​Trak! Trak! Trak!

​Suaranya tidak terdengar seperti kayu beradu dengan tatakan kayu, melainkan seperti paku besi yang dipalu satu per satu ke atas penutup peti matinya.

​Gani berdiri di tengah ruang sidang yang terasa begitu sempit dan mencekik. Udara di sekelilingnya seolah disedot habis oleh pendingin ruangan yang berputar terlalu kencang. Ia mengenakan setelan jas Armani hitam yang biasanya membuatnya merasa seperti seorang raja, namun hari ini, jas itu terasa seperti seragam narapidana yang terlalu berat.

​Di bangku pengunjung, kilatan blitz dari puluhan kamera wartawan menyambar-nyambar seperti badai petir di malam hari, membutakan matanya. Suara-suara mereka saling tumpang tindih, meneriakkan pertanyaan-pertanyaan yang menguliti harga dirinya.

​"Saudara Gani, apakah benar Anda yang menginstruksikan penggunaan material di bawah standar?"

"Bagaimana tanggapan Anda mengenai kerugian negara sebesar empat ratus miliar rupiah?"

"Apakah firma arsitektur Anda pada dasarnya hanyalah kedok pencucian uang?"

​"Tidak!" Gani mencoba berteriak, namun suaranya tercekat di tenggorokan, seolah ada sepasang tangan tak kasat mata yang mencekiknya. "Itu bukan tanda tanganku! Raka yang memalsukannya! Raka!"

​Gani menoleh dengan panik ke arah meja pembela. Namun, kursi di sebelahnya kosong. Raka, sahabat yang ia kenal sejak masa kuliah, pria yang selalu memanggilnya 'Saudara', tidak ada di sana. Gani tiba-tiba melihat bayangan Raka berdiri di sudut ruangan, mengenakan kacamata hitam, tersenyum miring ke arahnya sambil mengangkat sebuah koper perak.

​Raka menyunggingkan senyum bajingannya, lalu menggumamkan sesuatu tanpa suara yang bisa dibaca dengan sangat jelas oleh Gani: "Terima kasih atas perusahaannya, Kawan. Nikmati kejatuhanmu."

​Dada Gani serasa dihantam godam. Ia berbalik, mencari satu-satunya wajah yang ia harapkan bisa memberinya kekuatan. Sania. Tunangannya itu duduk di barisan paling depan. Wanita cantik dengan gaun merah marun rancangan desainer itu menatap Gani, namun matanya sedingin es di kutub utara.

​Sania berdiri. Ia melepaskan cincin berlian dua karat dari jari manisnya—cincin yang dibeli Gani dengan hasil jerih payah proyek pertamanya—lalu menjatuhkannya ke lantai marmer ruang sidang. Bunyi dentingan logam kecil itu terdengar lebih memekakkan telinga daripada ketukan palu hakim.

​"Kau bukan lagi pria yang pantas bersanding denganku, Gani," suara Sania menggema, dingin dan tanpa belas kasihan. "Aku butuh pria dengan masa depan. Bukan pecundang dengan tumpukan utang."

​Lantai marmer di bawah kaki Gani tiba-tiba retak. Retakan itu membesar dengan cepat, menjalar ke seluruh penjuru ruangan, sebelum akhirnya hancur sepenuhnya, menarik Gani jatuh ke dalam jurang gelap yang tidak berujung.

​"Tidak!!"

​Gani tersentak bangun. Ia terduduk di atas ranjang papannya dengan napas yang memburu liar. Keringat dingin mengucur deras membasahi kemeja flanelnya. Matanya terbelalak lebar, menatap kegelapan ruang kamar yang gulita.

​Dada kirinya naik turun dengan sangat cepat. Ia mencengkeram kemejanya di bagian dada, merasakan detak jantungnya yang berdentum brutal melawan tulang rusuk. Butuh waktu hampir dua menit penuh hingga otaknya yang masih dipenuhi sisa-sisa adrenalin menyadari bahwa ia tidak lagi berada di ruang sidang Jakarta.

​Tidak ada Raka. Tidak ada Sania. Tidak ada palu hakim.

​Hanya ada suara kokok ayam jago dari kejauhan yang membelah keheningan fajar, serta cahaya biru pucat yang mulai merayap masuk melalui celah papan jendela kamarnya.

​Gani mengusap wajahnya yang basah dengan kedua telapak tangan. Ia mendesah panjang, desahan yang sarat akan rasa frustrasi dan kelelahan mental yang kronis. Trauma itu masih ada di sana, bersarang di bagian terdalam amigdalanya, siap menyergap kapan pun kesadarannya lengah. Memori tentang pengkhianatan dan rasa malu itu adalah hantu yang menolak untuk diusir.

​Dalam kondisi seperti ini pada hari-hari sebelumnya, Gani biasanya akan langsung menelan dua butir pil penenang dan bersembunyi di balik selimut sepanjang hari, atau... memikirkan cara paling efisien untuk mengakhiri penderitaannya.

​Pikiran tentang kematian itu kembali berkelebat selama sepersekian detik. Tali nilon. Pohon beringin.

​Namun, sebelum bayangan gelap itu sempat mengambil alih kewarasannya, sebuah suara lain memotong tajam di kepalanya. Suara Bibi Ratna dari semalam.

​"Kirana itu sakit, Mas. Sakit parah. Jantungnya lemah... Seolah-olah dia mau bikin semua orang ingat sama senyumnya, bukan sama sakitnya."

​Tangan Gani yang masih mencengkeram dadanya perlahan mengendur. Ia merasakan detak jantungnya sendiri yang mulai melambat, berdetak dengan ritme yang kuat, teratur, dan penuh tenaga. Jantung yang sempurna. Otot biologis yang sehat tanpa cacat.

​Ironi yang menyakitkan ini membuat Gani tertawa sumbang di tengah kesunyian kamar.

​Alam semesta memiliki selera humor yang sangat kelam. Dirinya, yang memiliki jantung sekuat mesin diesel, setengah mati memohon agar jantung itu berhenti berdetak. Sementara di luar sana, hanya berjarak beberapa ratus meter dari rumahnya, seorang gadis bernama Kirana mungkin sedang berdoa agar jantungnya yang rapuh bersedia berdetak sedikit lebih lama hari ini.

​"Kau benar-benar egois, Gani," bisiknya pada udara kosong. Rasa bersalah yang ia rasakan semalam kembali menggenang.

​Gani menurunkan kakinya dari ranjang. Hari ini, ia tidak mencari pil penenang. Ia tidak memikirkan Raka, Sania, atau firma arsitekturnya yang bangkrut. Untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, fokus utamanya bukan pada rasa sakitnya sendiri.

​Ia harus melihat gadis itu. Ia ingin memastikan bahwa gadis tiran kecil bergaun kuning yang memaksanya mencuri mangga kemarin sore itu masih ada di sana, bernapas, dan tersenyum.

​Matahari pagi di Desa Karangbanyu tidak pernah gagal memberikan pertunjukan visual yang memukau. Kabut tipis sisa malam masih mengambang di atas hamparan sawah hijau, memantulkan sinar matahari yang keemasan. Udara terasa begitu bersih dan renyah, dipenuhi aroma petrikor dari embun yang menguap.

​Gani melangkah keluar dari rumahnya setelah membersihkan diri dan menghabiskan sisa nasi liwet Bibi Ratna yang sudah mendingin. Ia mengenakan kaus oblong putih sederhana dan celana jin usangnya. Langkahnya tidak lagi terseret-seret seperti saat ia pertama kali tiba di stasiun. Ada sebuah tujuan yang menggerakkan kakinya.

​Ia menyusuri jalanan desa yang mulai hidup. Beberapa petani dengan cangkul di bahu menyapanya dengan anggukan ragu, yang dibalas Gani dengan senyum tipis—sebuah kemajuan besar bagi pria yang biasanya mengabaikan sapaan siapa pun. Ia melewati warung kopi tempat ibu-ibu sedang berbelanja sayur, dan dengan cepat mempercepat langkahnya saat mendengar kata 'mangga' dan 'Pak Kades' disebut-sebut.

​Berdasarkan petunjuk singkat Kirana kemarin—dan konfirmasi dari Bibi Ratna semalam—Gani berjalan menuju pertigaan utama desa. Tak butuh waktu lama baginya untuk menemukan rumah yang dimaksud.

​Itu adalah sebuah rumah sederhana berdinding setengah bata dan setengah anyaman bambu. Namun, yang membuatnya menonjol adalah pekarangannya. Halaman rumah itu dipenuhi oleh ratusan pot tanaman. Mulai dari mawar berbagai warna, melati, kembang sepatu, hingga tanaman herbal yang ditata dengan sangat rapi dan apik.

​Di sebelah kiri rumah, di bawah naungan pohon kersen yang rindang, terdapat sebuah pelataran yang dinaungi atap seng sederhana. Beberapa rak kayu yang dicat warna-warni berjejer di sana, dipenuhi oleh ratusan buku bekas. Buku cerita anak, ensiklopedia bergambar, hingga majalah pertanian. Sebuah papan kayu yang digantung di dahan kersen bertuliskan: "Taman Bacaan Akar Pelangi" dengan tulisan tangan yang sangat rapi.

​Gani menghentikan langkahnya di balik pagar tanaman teh-tehan. Ia tidak langsung masuk. Matanya terpaku pada pemandangan di pelataran tersebut.

​Kirana ada di sana.

​Pagi ini, gadis itu mengenakan dress selutut berwarna biru langit dengan kardigan rajut putih tipis. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai, dihiasi sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia duduk di atas kursi kayu pendek, dikelilingi oleh sekitar delapan orang anak desa berusia antara enam hingga sepuluh tahun yang duduk melingkar di atas tikar pandan.

​Kirana sedang membacakan sebuah buku cerita besar bergambar.

​"...Lalu, burung layang-layang kecil itu berkata pada patung Pangeran Bahagia, 'Aku tidak bisa pergi ke Mesir. Musim dingin sudah tiba, tapi aku akan menemanimu di sini,'" Kirana membaca dengan intonasi yang sangat mendalami, menirukan suara burung yang kecil dan bergetar. Tangannya bergerak-gerak ekspresif, membuat anak-anak di hadapannya menatap dengan mulut setengah terbuka, sepenuhnya tersihir oleh cerita tersebut.

​Gani bersandar pada pagar, mengamati dari jarak sekitar sepuluh meter. Ia tidak bisa mengalihkan pandangannya.

​Kirana terlihat begitu bercahaya. Tawa dan senyumnya saat menjawab pertanyaan polos anak-anak itu terasa sangat nyata, seolah menyebarkan energi kehidupan ke sekelilingnya. Namun, karena Gani kini tahu rahasia di balik senyum itu, matanya menangkap detail-detail yang kemarin luput dari perhatiannya.

​Gani memperhatikan bagaimana Kirana mengambil jeda napas yang sedikit lebih panjang di sela-sela kalimat yang panjang. Ia melihat bagaimana tangan kiri gadis itu sesekali bergerak halus untuk menyentuh dada kirinya, memijatnya perlahan seolah mengurangi rasa ngilu, tanpa membuat anak-anak itu menyadarinya. Ia juga menyadari betapa transparan dan pucatnya kulit di punggung tangan gadis itu, memperlihatkan urat-urat kebiruan dengan sangat jelas.

​Dada Gani terasa perih. Kenyataan itu seperti jarum kecil yang menusuk ulu hatinya berulang kali.

​Berapa banyak kekuatan mental yang dibutuhkan untuk menutupi rasa sakit yang menggerogoti tubuhmu setiap detik? Berapa banyak keberanian yang diperlukan untuk tetap menanam bunga dan membacakan cerita masa depan untuk anak-anak, sementara masa depanmu sendiri mungkin tidak akan pernah tiba?

​Gani merasa egonya kembali ditampar keras. Ia, Gani Raditya, hancur hanya karena kehilangan materi dan pengakuan. Sementara gadis ini, Kirana, terancam kehilangan eksistensinya di dunia, namun ia memilih untuk merayakan setiap detik yang tersisa.

​Gani tenggelam dalam pikirannya sendiri hingga ia tidak menyadari bahwa sesi mendongeng itu telah selesai. Anak-anak kecil itu berhamburan menuju rak buku untuk berebut gambar mewarnai.

​"Kau tahu, mengintip dari balik pagar seperti itu bisa membuatmu dicurigai sebagai penculik anak, atau lebih buruk lagi, garong mangga dari desa sebelah."

​Suara renyah itu mengejutkan Gani. Ia tersentak dan segera menegakkan tubuhnya. Kirana sudah berdiri di dekat pagar, berjarak hanya satu meter darinya. Gadis itu berkacak pinggang, menatap Gani dengan mata sabitnya yang memancarkan binar geli.

​Wajah Gani terasa sedikit memanas karena ketahuan mengawasi diam-diam. "Aku... aku tidak mengintip. Aku baru saja sampai dan tidak ingin mengganggu acara mendongengmu yang sangat... dramatis itu."

​Kirana terkekeh pelan. "Dramatis adalah kunci untuk membuat anak-anak tetap fokus. Kalau tidak, mereka lebih memilih mengejar capung di sawah."

​Gadis itu membuka pintu pagar kayu yang rendah, memberikan isyarat agar Gani masuk. "Masuklah, Komandan. Kau sudah berhasil menemukan markasku."

​Gani melangkah masuk, dengan hati-hati menghindari pot-pot bunga krisan yang berjajar di jalan setapak. Anak-anak yang sedang mewarnai kompak menoleh ke arahnya. Mereka menatap Gani dengan tatapan menilai, seperti sekawanan burung kecil yang waspada terhadap kehadiran burung gagak asing.

​"Kak Kirana, ini siapa?" tanya seorang anak laki-laki gempal dengan sisa cokelat di sudut bibirnya. "Kok mukanya galak kayak Pak RT pas lagi nagih iuran keamanan?"

​Kirana tertawa lepas. Gani hanya bisa mendesah pasrah. Harga dirinya tampaknya memang ditakdirkan untuk diinjak-injak sejak ia tiba di desa ini.

​"Ini Mas Gani, Udin. Panggil saja Paman Gani," Kirana memperkenalkan dengan senyum usil. "Dia orang kota yang baru pindah ke sini. Paman Gani ini aslinya baik, kok. Kemarin dia baru saja—"

​"Jangan berani-berani menceritakan soal mangga itu," potong Gani cepat, nadanya mengancam namun sangat rendah agar hanya terdengar oleh Kirana.

​Kirana mengedipkan sebelah matanya. "—baru saja membantuku membawa pot bunga yang berat," lanjut Kirana dengan lancar, membuat anak-anak itu mengangguk paham. "Nah, anak-anak, lanjutkan mewarnainya ya. Kak Kirana mau buatkan minum untuk Paman Gani dulu."

​Kirana memberi isyarat pada Gani untuk mengikutinya menuju kursi kayu di sudut pelataran yang teduh, agak jauh dari keributan anak-anak. Gani duduk di kursi tersebut, sementara Kirana masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian, ia kembali membawa dua cangkir kaleng enamel berisi teh hangat yang mengepulkan aroma melati.

​"Terima kasih," ucap Gani, menerima cangkir tersebut. Kehangatan menjalar ke telapak tangannya.

​"Kau terlihat mengerikan hari ini, ngomong-ngomong," komentar Kirana jujur, duduk di kursi di seberang Gani. Ia menatap kantung mata Gani yang menghitam. "Kau tidak bisa tidur karena dihantui rasa bersalah karena mencuri, atau karena kau merindukan tali nilonmu?"

​Pertanyaan blak-blakan itu biasa membuat Gani marah, namun kali ini ia tahu Kirana hanya memancingnya.

​"Aku bermimpi buruk," jawab Gani pelan, memilih untuk jujur. Matanya menatap bayangan dirinya di permukaan teh. "Tentang pengadilanku. Tentang orang-orang yang menjatuhkanku."

​Kirana menghentikan senyumnya. Tatapannya berubah menjadi lembut dan penuh pengertian. Ia tidak menanyakan detailnya, dan Gani sangat bersyukur atas hal itu.

​"Mimpi buruk adalah cara pikiranmu membersihkan racun, Gani," ujar Kirana pelan, menyesap tehnya. "Itu artinya kau sedang memprosesnya, bukan lagi melarikan diri darinya."

​Gani terdiam, memikirkan kata-kata itu. Ia mengangkat pandangannya, menatap sekeliling pelataran yang dipenuhi buku, lalu menatap anak-anak yang tertawa bahagia. Kemudian, matanya kembali terkunci pada wajah Kirana.

​"Kenapa kau melakukan semua ini, Kirana?" tanya Gani, nadanya tiba-tiba berubah sangat serius dan dalam.

​"Melakukan apa? Membuat teh? Karena kau tamuku."

​"Bukan. Semua ini." Gani melingkarkan tangannya ke udara, menunjuk Taman Bacaan, bunga-bunga, dan anak-anak. "Kenapa kau menghabiskan waktumu mengurus buku-buku bekas dan anak-anak desa? Kenapa kau tidak menggunakan waktumu untuk dirimu sendiri?"

​Kirana terdiam sejenak. Angin pagi berembus pelan, menggugurkan beberapa helai daun kersen yang jatuh tepat di atas meja di antara mereka. Senyum di bibir Kirana masih ada, namun binar matanya perlahan berubah redup, menyimpan kedalaman lautan yang penuh rahasia.

​Gadis itu menatap anak-anak yang sedang sibuk berebut krayon merah.

​"Karena aku ingin meninggalkan jejak, Gani," jawab Kirana pelan, suaranya hampir menyerupai bisikan angin. "Manusia itu rapuh. Tubuh kita ini bisa rusak kapan saja. Tapi memori... apa yang kau ajarkan pada orang lain, kebahagiaan yang kau bagikan... itu akan bertahan jauh lebih lama dari detak jantungmu."

​Kirana menoleh, menatap tepat ke dalam mata Gani. Tidak ada keputusasaan di sana, hanya ada penerimaan yang teramat sangat indah sekaligus menyayat hati.

​"Aku mungkin tidak punya uang untuk membangun gedung pencakar langit sepertimu agar orang mengingat namaku," lanjut gadis itu. "Tapi jika Udin bisa membaca karena aku mengajarinya, dan dia menggunakan kemampuannya itu untuk sukses di masa depan... maka sebagian dari diriku akan terus hidup bersamanya. Bukankah itu bentuk keabadian yang paling indah?"

​Mata Gani memanas. Tenggorokannya seolah tersumbat. Penjelasan Kirana mengonfirmasi semua yang Bibi Ratna ceritakan semalam. Gadis ini tahu waktunya tidak banyak. Gadis ini sedang bersiap, menanam benih-benih keabadiannya sebelum senja benar-benar pamit dari hidupnya.

​Sebagai seorang arsitek, Gani selalu mendefinisikan 'meninggalkan jejak' dalam bentuk baja, beton, dan kaca. Ia ingin menciptakan sesuatu yang abadi secara fisik. Namun hari ini, seorang gadis desa menyadarkannya bahwa fondasi terkuat yang bisa dibangun oleh manusia bukanlah beton, melainkan cinta dan harapan di hati orang lain.

​Gani menelan ludah, menahan gejolak emosi di dadanya. Ia meletakkan cangkir tehnya di atas meja.

​"Kau benar," ucap Gani parau. "Itu adalah mahakarya yang jauh lebih megah dari bangunan apa pun."

​Senyum cerah kembali mekar di wajah Kirana, seolah ia baru saja memenangkan sebuah perdebatan filosofis. "Tentu saja aku benar. Aku selalu benar."

​Gani terkekeh pelan, menggelengkan kepalanya melihat kembalinya sifat arogan nan jenaka gadis itu. Suasana melankolis itu menguap, digantikan oleh kehangatan sinar matahari yang mulai meninggi.

​"Jadi," Gani bersandar di kursinya, melipat tangan di dada dengan postur santai. Ia menatap Kirana dengan alis terangkat. "Kemarin kita sudah mencuri mangga. Apa jadwal kita hari ini, Tiran Kecil? Menguras empang kelurahan? Atau mencuri ayam jago Pak Kades yang kau kagetkan kemarin?"

​Mata Kirana membulat dengan antusias, seolah ia sudah menunggu Gani menanyakan hal itu sejak tadi. Ia mencondongkan tubuhnya melintasi meja.

​"Oh, aku suka semangatmu, Tuan Kota," goda Kirana, matanya berkedip usil. "Hari ini kita libur dari tindakan kriminal. Hari ini... aku ingin menagih permintaan keduaku."

​Gani menegakkan tubuhnya, instingnya berjaga-jaga. "Apa itu?"

​Kirana menunjuk lurus ke wajah Gani dengan telunjuknya yang lentik. "Aku ingin kau menggunakan otak arsitekmu yang mahal itu. Permintaan keduaku... kau harus ikut denganku ke Balai Desa siang ini. Ada sesuatu yang sangat besar dan sangat rusak yang menunggumu di sana."

​Gani mengerutkan dahi. Sesuatu yang besar dan rusak? Firasatnya mengatakan bahwa tugas ini akan jauh lebih melelahkan daripada berlari menghindari sapu lidi, namun entah mengapa, sudut bibirnya justru terangkat membentuk senyuman tipis.

​"Baiklah," jawab Gani mantap, sebuah keputusan yang menandai bahwa ia secara resmi berhenti melawan arus dan membiarkan Kirana menuntunnya kembali pada kehidupan. "Tunjukkan padaku apa yang rusak, dan aku akan melihat apakah tanganku masih bisa memperbaikinya."

1
Yeni Puspitasari
segar , konyol, keren 😍
Yeni Puspitasari
dari dua novel yg mengerikan Thor, cerita baru mu kali ini membuat ku tertawa lebar🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!