NovelToon NovelToon
Sistem: Suplai Tak Terbatas

Sistem: Suplai Tak Terbatas

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Hari Kiamat / Sistem
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Wan Chen tidak ingin menyelamatkan dunia.

Ia hanya ingin kaya.

Untungnya, saat berada di ambang kematian, ia memperoleh Sistem dengan kemampuan Duplikasi dan Penyimpanan Dimensional.

Dan di dunia yang kekurangan segalanya, tidak ada kemampuan yang lebih menakutkan dari itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 - Keajaiban Duplikasi

Beralih dari bangkai cacat di bawah sepatunya, tatapan Wan Chen mengunci lurus pada panel biru di udara kosong. Layar semi-transparan itu berkedip lambat di depan wajahnya.

Baris teks bertuliskan Fungsi Sistem: Duplikasi seolah menantang akal sehatnya.

'Kalau ini cuma halusinasi karena kehabisan darah, aku benar-benar akan menertawakan diriku sendiri nanti,' batinnya lelah.

Menelan sisa ludah yang terasa seperti debu, ia memusatkan kesadarannya. Tangan kirinya bergerak menembus proyeksi cahaya itu, memilih opsi manipulasi yang belum teruji kebenarannya.

Sistem langsung merespons. Layar antarmuka bergeser cepat menampilkan baris perintah baru.

Kotak peringatan kecil muncul meminta subjek material.

"Target fisik," eja Wan Chen pelan. Suaranya terdengar pecah. "Tentu saja. Kau butuh bahan mentahnya."

Membuka telapak tangan kanannya yang kotor, ia menarik kembali benda berharga yang baru saja disimpannya.

Seketika, sebuah Core monster tingkat satu tergeletak di sana. Benda itu masih hangat. Permukaannya belepotan cairan lengket kemerahan.

Garis pemindai holografik meluncur turun dari udara. Menyorot lurus ke atas telapak tangannya dalam hitungan detik.

Cahaya biru itu membedah susunan material batu kotor tersebut tanpa menyentuh kulitnya.

Muncul deretan teks analisis rumit yang langsung ia abaikan secara sadar. Fokus matanya hanya tertuju pada satu baris peringatan di sudut paling bawah layar.

Syarat eksekusi tercetak sangat jelas. Membutuhkan sebagian energi fisik atau stamina pengguna sebagai bayaran mutlak.

Ia mendengus pelan. Sudut bibirnya yang sobek kembali mengeluarkan sedikit darah segar.

"Jadi fungsi ini tidak gratis sama sekali."

Kalkulasi cepat berputar di kepalanya yang berdenyut. Kondisi tubuhnya sekarang jauh dari kata prima. Pendarahan di sekitar perut memang tidak lagi menyembur, tapi cadangan tenaganya nyaris menyentuh angka nol.

'Berapa banyak tenaga yang akan tersedot?' tanyanya dalam hati. 'Kalau sampai salah perhitungan, aku bisa pingsan di tempat terbuka ini.'

Namun, benda di tangannya hanyalah item tingkat paling rendah. Rantai makanan paling bawah dari anomali mutasi yang membanjiri kota mati ini.

Skala biayanya masih sangat masuk akal untuk tubuh manusia rentan sepertinya. Lagipula, ia tidak punya banyak pilihan lain untuk keluar dari garis kemiskinan yang mencekik.

Menutup mata sesaat, ia menahan napas.

"Eksekusi," perintahnya lugas.

Perkataan itu meluncur tanpa keraguan sisa. Pragmatismenya menang telak atas rasa takut kehilangan nyawa.

Begitu persetujuan lisan diberikan, hawa dingin seketika menyergap pori-pori kulitnya. Bukan dingin dari hembusan angin malam, melainkan sensasi hampa yang memuakkan.

Sesuatu menyedot paksa kehangatan dari sumsum tulangnya. Menguras sisa tenaga layaknya keran air yang dibuka penuh.

Lutut Wan Chen goyah di tempat. Tubuhnya terhuyung ke depan tak terkendali.

Buru-buru ia membuang berat badannya ke dinding beton di sebelahnya. Bahu kirinya menghantam permukaan kasar itu cukup keras, mencegahnya tersungkur memalukan di atas aspal berdarah.

Pandangannya mengabur sementara. Tarikan napasnya menjadi sangat dangkal.

Meski begitu, matanya menolak keras untuk terpejam. Ia menatap lekat ke telapak tangannya.

Sebuah pendar biru pucat yang surealis kini menyelimuti batu kotor tersebut. Cahaya itu bergetar hebat. Mengeluarkan suara dengungan rendah yang merambat masuk hingga ke gendang telinganya.

Lalu, realita di atas kulit tangannya mulai terdistorsi. Udara meliuk aneh.

Wujud fisik Core itu meregang paksa. Terbelah perlahan menjadi dua bagian layaknya sel hidup yang berkembang biak. Membelah materi padat tanpa menyisakan serpihan debu sedikit pun.

Proses itu terjadi begitu senyap dan berakhir sama cepatnya.

Cahaya biru memudar, lalu lenyap seutuhnya ditelan udara malam.

Menyisakan beban ganda yang kini menekan telapak tangannya.

Merapatkan punggungnya pada pilar puing, Wan Chen mengatur ritme napasnya yang putus-putus. Keringat dingin sebesar biji jagung meluncur turun dari pelipisnya.

Di tangannya sekarang tergeletak dua butir kristal keruh. Keduanya memancarkan cahaya abu-abu tipis yang sama persis.

Mencubit salah satunya dengan ujung jari, ia memutar benda ganda itu di depan matanya. Mengamatinya layaknya seorang penilai berlian di pasar gelap.

"Benar-benar bekerja," gumamnya tak percaya. Suaranya lebih menyerupai bisikan angin. "Bobotnya tidak berkurang sama sekali."

Bahkan noda darah hitam yang mengotori permukaannya tercetak pada posisi yang identik. Lengkungan tumor kecil di sisi kirinya pun disalin tanpa cela.

Tidak ada penurunan kualitas energi murni yang terasa di kulitnya. Tidak ada retakan cacat akibat manipulasi paksa.

Ini bukan sekadar ilusi atau barang tiruan murahan. Ini adalah salinan material yang absolut sempurna.

Akal sehatnya nyaris mati rasa menerima fakta di luar nalar ini. Tapi insting sintasannya langsung menendang kewarasan itu ke sudut kepala.

Otaknya tidak berkelana memikirkan potensi mengubah nasib umat manusia dengan kekuatan ini. Tidak ada ambisi kepahlawanan untuk menekan inflasi faksi pusat.

Pikirannya langsung menyusun daftar belanja yang sangat membumi.

'Satu batu ini cukup untuk ditukar dengan jatah ransum padat selama lima hari penuh,' hitungnya taktis. 'Batu kedua ini... aku bisa beli air bersih tanpa radiasi dan segulung perban steril dari lintah darat di sektor D.'

Dengan dua benda bercahaya ini, ia memegang kepastian hidup untuk seminggu ke depan tanpa perlu memulung sisa rongsokan berisiko tinggi. Sebuah bentuk kekayaan instan di tengah pemukiman kumuh yang selalu kelaparan.

Garis bibirnya menegang. Hampir saja ia menyunggingkan senyum puas pertamanya bulan ini.

Hingga sebuah suara memecah keheningan absolut itu.

Panjang. Melengking kasar. Menyayat udara dari arah kegelapan jalan raya yang hancur.

Lolongan itu terdengar samar, terbawa embusan angin dari utara. Namun resonansinya cukup jernih untuk membuat bulu roma di leher Wan Chen berdiri seketika.

Ia langsung menoleh ke arah bangkai hewan buas yang teronggok beberapa meter darinya.

Darah kotor yang tumpah ruah dari rahang monster itu telah menggenang lebar di atas tanah. Bau logam bercampur asam lambung membusuk menguap tebal.

Aroma menyengat itu adalah undangan makan malam terbuka bagi predator lain yang berkeliaran di area terluar reruntuhan kota.

"Waktunya habis," desisnya datar, memperingatkan dirinya sendiri.

Perhitungan ekonomi soal makanan dan air bersih menguap seketika dari kepalanya. Alarm bahaya primitif kini mengambil alih kendali motorik tubuhnya.

'Masuk.'

Dua kristal pembawa kekayaan itu seketika tersedot lenyap ke dalam penyimpanan dimensionalnya. Layar antarmuka holografik meredup dan mati bersamaan dengan hilangnya benda tersebut.

Memaksa otot kakinya yang mati rasa untuk bergerak, Wan Chen beringsut turun. Tangannya meraba tanah berbatu dan memungut kembali gagang pisau patahnya yang berlumuran lendir.

Senjata berkarat ini adalah satu-satunya jaminan yang bisa menahan gigi mutan jika ia tertangkap dalam perjalanan.

Rasa perih kembali menikam sisi perutnya saat ia menegakkan postur sedapat mungkin.

Lolongan kedua kembali memecah malam. Kali ini durasinya lebih pendek namun jaraknya terasa lebih mematikan. Terdengar jelas gesekan cakar berat yang mulai menghantam tumpukan puing-puing beton di ujung jalan.

Tanpa menoleh sedikit pun ke belakang, ia menyeret langkahnya yang pincang. Membawa tubuhnya yang nyaris remuk itu menyusup masuk ke dalam pekatnya bayangan gang sempit untuk segera pulang.

1
Yui
Karya ini sangat luar biasa, setelah baca novel ini aku jadi sedikit mengingat kenanganku yang telah lama menghilang, terimakasih Author 🔥🔥🔥🔥🔥
Ironside: /Toasted/
total 1 replies
Ironside
Ada error /Sweat/, biarlah, nanti di fix Editor
Gege
dan Wang Chen pun jualan obat...🤣😄
HiaTus
/Rose/
Wakana
wow sangat menarik & unik 👀
Ironside: Terima kasih telah membaca, semoga betah /Smile/
total 1 replies
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
‎ ‎ ‎Basah Mas... Sampe Banjir
ada insectnya gak kak?
‎ ‎ ‎Basah Mas... Sampe Banjir: yah, kecewa kak.
total 2 replies
The Ironheart
darkfantasy ini kak☺️
Ironside: /Slight/
total 1 replies
Ironside
Pliss... Like, Subscribe dan Upvote jika kalian menyukai karya ini /Determined/.
Ironside: Mr. Willheim /Scare/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!