NovelToon NovelToon
Titik Tertinggi Mencintai

Titik Tertinggi Mencintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:597
Nilai: 5
Nama Author: Nisaul Mardhiyah

Ketika perbedaan kasta memaksa mereka berpisah dan amnesia menghapus ingatan Neya, akankah kisah cinta delapan tahun yang mereka rajut sejak SMP benar-benar berakhir atau takdir punya cerita lain ?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelindung Dari Masa Lalu

Neya menatap cangkir tehnya, lalu beralih memandang pria tegap di sampingnya itu dengan rasa hormat dan syukur yang tak terhingga. Pria itu memang selalu ia panggil "Kakak", namun di antara mereka berdua tidak mengalir darah yang sama. Dia adalah kakak laki-laki tertua yang dulu merawat, melindungi, dan menjaganya selama mereka tumbuh bersama di panti asuhan. Bagi Neya, pria itulah satu-satunya sosok keluarga nyata yang ia miliki di dunia ini, seseorang yang ketulusannya tidak pernah berubah sejak mereka masih kecil.

Ketika badai kehidupan menghancurkan harga diri Neya di ibu kota, kakak laki-lakinya dari panti itulah yang entah bagaimana caranya berhasil melacak keberadaannya. Mengikuti firasatnya yang kuat, sang kakak tiba tepat di saat kritis malam itu, menarik Neya dari tepi jembatan penyeberangan sebelum gadis itu melakukan tindakan nekat akibat keputusasaan yang mendalam.

"Ney," panggil sang kakak lembut, membuyarkan sisa lamunan masa lalu di mata bulat gadis itu. "Kalau tehnya sudah habis, masuk ya. Angin gunung menjelang malam tidak baik untuk kesehatanmu."

Neya mengangguk patuh. Di tempat terpencil ini, sang kakak melepaskan seluruh kesibukannya demi memastikan adik pantinya ini mendapatkan ruang yang aman untuk menyembuhkan luka batinnya. Rumah kayu ini sengaja dipilih karena jauh dari jangkauan tangan-tangan besi keluarga Kusuma yang dulu memperlakukan Neya seperti mainan yang tidak berharga.

"Terima kasih ya, Kak... karena waktu itu Kakak datang," bisik Neya, suaranya sedikit bergetar menahan haru. "Kalau bukan karena Kakak yang menjemputku malam itu, mungkin aku tidak akan pernah melihat tempat seindah ini."

Pria itu tersenyum hangat, menepuk bahu Neya dengan pelan untuk menyalurkan kekuatan. "Kita ini anak panti, Ney. Sejak kecil kita diajarkan untuk saling menjaga saat dunia luar terlalu keras pada kita. Tugas Kakak adalah memastikan kamu aman. Sekarang, lupakan semua orang di kota itu. Mereka tidak berhak atas air matamu lagi."

Neya menarik napas dalam-dalam, merasakan sejuknya udara malam mulai menggantikan senja. Di bawah perlindungan kakak laki-laki yang sangat menghormati dan menyayanginya sebagai adik panti ini, Neya mulai menata kembali kepingan hatinya. Ia bertekad untuk menjadi lebih kuat, menutup buku masa lalunya bersama Kinan, dan memulai lembaran baru di mana tidak akan ada lagi orang kaya yang bisa menginjak-injak harga dirinya.

Luka di hati Neya nyatanya tidak hanya meninggalkan trauma psikologis, tetapi juga menghantam fisiknya hingga ke titik paling rapuh. Malam tragis di mansion Kusuma beberapa bulan yang lalu—di mana ia diusir, dihina, dan dihancurkan harga dirinya—telah menguras seluruh daya hidup Neya. Tekanan batin yang luar biasa dahsyat itu berujung pada sebuah kenyataan pahit yang harus ia hadapi tak lama setelah ia tiba di kota kecil kaki gunung ini.

Janin yang saat itu sedang dikandungnya—buah dari masa lalu bersama Aris—tidak mampu bertahan. Kondisi fisik Neya yang sangat lemah, ditambah dengan depresi berat setelah malam pengusiran itu, membuat rahimnya tak kuasa menopang kehidupan baru tersebut. Neya mengalami keguguran. Kehilangan calon bayinya menjadi pukulan telak sekian kalinya, membuat Neya merasa dunianya benar-benar telah runtuh dan runtuh lagi. Di saat-saat tergelap itu, Neya menyadari ia tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini yang memiliki hubungan darah dengannya.

Namun, Tuhan tidak benar-benar meninggalkannya dalam kesendirian. Di sampingnya, ada Kak Aldo—kakak angkat sekaligus kakak tertua yang dulu merawatnya di panti asuhan—dan Ishita, adik kandung Kak Aldo yang kini telah menganggap Neya sebagai kakak kandungnya sendiri. Kehadiran dua orang inilah yang menjadi dinding kokoh, menopang Neya agar tidak kembali tumbang menghadapi takdir yang kejam.

Sore itu, Ishita berjalan mendekati teras rumah dengan membawa semangkuk sup ayam hangat. Gadis remaja itu tersenyum manis, mencoba mengalirkan energi positif pada Neya yang masih menatap kosong ke arah hamparan kebun.

"Kak Neya, supnya dimakan ya? Ishita yang masak sendiri, lho. Kak Aldo bilang Kak Neya harus banyak makan makanan bergizi supaya badannya cepat pulih," ucap Ishita lembut sembari meletakkan mangkuk itu di meja kayu.

Neya menoleh, menatap wajah polos Ishita lalu beralih pada Kak Aldo yang baru saja kembali dari pasar membawa beberapa keperluan rumah. Rasa haru mendadak membuncah di dada Neya. Meski mereka bukan keluarga kandung, ketulusan Kak Aldo dan Ishita jauh lebih nyata daripada kehidupan palsu yang dulu ia jalani.

"Terima kasih, Ishita, Kak Aldo..." bisik Neya, suaranya agak serak. "Maaf kalau aku selalu merepotkan kalian."

"Jangan pernah bicara begitu lagi, Ney," sahut Kak Aldo tegas namun penuh kehangatan sembari duduk di dekatnya. "Kita ini satu paket sekarang. Kamu, aku, dan Ishita adalah keluarga."

Neya meletakkan jemarinya di atas perutnya yang kini telah kosong. Di dalam hatinya, sebuah perasaan berkecamuk. Di satu sisi, masih tersimpan rasa cinta yang begitu besar dan mendalam pada Kinan—sebuah rasa yang sialnya tidak bisa hilang begitu saja meski pria itu telah menggoreskan luka yang teramat perih. Namun, di sisi lain, kenyataan hidup telah menamparnya dengan keras. Menjadi orang miskin, tidak punya kekuasaan, dan tidak punya uang memang sangat menyakitkan di dunia ini. Karena kemiskinan itulah, ia bisa diinjak-injak oleh keluarga Kusuma tanpa bisa membela diri.

Neya memejamkan mata erat-erat. Ia berjanji pada dirinya sendiri: cinta pada Kinan harus ia kunci rapat-rapat di sudut hati terdalam. Tujuan utamanya sekarang bukanlah cinta, melainkan meniti hidupnya kembali dari nol, bekerja keras, dan bangkit agar tidak ada lagi orang kaya yang bisa merendahkan martabatnya.

Pikiran Neya mendadak melayang jauh ke belakang, ke masa dua puluh tahun yang lalu saat dirinya masih menjadi bocah kecil yang tidak tahu apa-apa. Sejak bayi, Neya sudah diletakkan di dalam keranjang di depan pintu panti asuhan. Ia tidak pernah tahu siapa orang tua kandungnya, bagaimana rupa mereka, atau mengapa mereka tega membuangnya. Bagi Neya kecil, dunia ini hanyalah ruangan panti yang luas dan dingin.

Hingga pada suatu hari, ketika usianya menginjak 4 tahun, sebuah keajaiban datang. Sepasang suami istri paruh baya yang baik hati, Tuan Abi dan Nyonya Imelda, datang berkunjung ke panti. Mereka adalah pasangan yang telah lama mendambakan seorang anak namun belum dikaruniai keturunan. Saat melihat Neya kecil yang sedang bermain di sudut ruangan, hati Imelda langsung terpikat.

"Anak manis, siapa namamu?" tanya Imelda kala itu dengan senyuman paling hangat yang pernah Neya lihat.

Sebelum Neya menjawab, seorang anak laki-laki berusia sekitar 8 tahun melangkah maju, menghalangi Neya dengan sikap protektif. Anak laki-laki itu adalah Aldo. Sejak Neya masih bayi, Aldo-lah yang selalu menjaganya di panti dari kenakalan anak-anak lain.

"Namanya Neya, Tante. Jangan sakiti adik saya," ucap Aldo kecil dengan berani.

Imelda justru terkekeh lembut, melihat kedekatan kedua anak panti itu. Singkat cerita, setelah melalui proses administrasi yang panjang, Neya akhirnya resmi diadopsi oleh Imelda dan suaminya, Abi. Sore itu menjadi hari paling bahagia bagi Neya, meski ia harus menangis karena berpisah dengan Kak Aldo yang melepasnya di gerbang panti dengan lambaian tangan.

Neya dibawa tinggal di sebuah rumah yang nyaman, dirawat dengan penuh kasih sayang oleh bunda angkatnya, Imelda, dan sang ayah yang ia panggil Abi. Ia merasakan kehangatan sebuah keluarga yang utuh. Namun, kebahagiaan itu berjalan sangat singkat.

Hanya berselang beberapa bulan setelah adopsi itu, tepat ketika Neya masih berusia 4 tahun, sebuah tragedi besar menimpa keluarga baru mereka. Abi mengalami kecelakaan beruntun yang fatal saat pulang bekerja di larut malam. Nyawa suami Imelda itu tidak tertolong, dan ia wafat di tempat kejadian.

Kematian Abi mengubah segalanya. Imelda terpukul hebat dan kondisi ekonomi mereka perlahan-lahan mulai merosot.

Neya membuka matanya perlahan, menghalau sisa-sisa air mata yang sempat menggenang saat mengingat memori masa kecilnya. Masa lalu telah membentuknya menjadi wanita yang tangguh, dan keguguran serta pengusiran ini adalah titik nadir yang harus ia lalui sebelum melangkah naik.

Ia menatap Kak Aldo dan Ishita yang sedang berbincang hangat di depannya. Neya tersenyum dengan tekad yang baru yang kini berkobar di dalam dadanya.

"Kak Aldo, besok aku mau mulai mencari pekerjaan di kota kecamatan," ujar Neya dengan nada suara yang mantap. "Aku tidak mau menyerah. Aku akan buktikan bahwa kita bisa hidup layak dengan usaha kita sendiri."

Kak Aldo menatap adik angkatnya itu dengan binar mata bangga. "Kakak akan selalu ada di belakangmu, Ney. Mari kita mulai lembaran baru."

1
Unicha
apa sebenarnya yang sedang direncanakan Neya?
Unicha
apa yang akan dilakukan sherly setelah membaca pesan itu ?
Unicha
madu ? apakah haris sudah menikah sebelumnya? atau siapa wanita yang mengaku menjadi madu Neya itu ?
Unicha
apakah perlahan Kinan akan mencintai Sherly dan melupakan neya ?
sakura
...
Unicha
Kenapa Imelda menangis ,apa yang Imelda sembunyikan?
Unicha
Siapakah laki laki yang menjadi suami neya itu ? ,apakah neya benar sudah menikah ?
lalu Kinan ?
Unicha
Apakah Kinan dan neya benar benar akan berakhir?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!