Jasmine, penembak jitu Tim Aether, terkunci dalam sangkar emas Axel, kapten posesif yang mengendalikan hidupnya demi obsesi kemenangan. Di tengah tekanan, hadir Liam, barista hangat di seberang jalan yang menawarkan kebebasan tanpa syarat. Pulang sebagai juara dunia, Jasmine kini harus memilih benteng kaku Axel atau kehangatan sejati Liam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ira Herawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Malam itu, setelah sisa minuman lavender dari Liam tandas, suasana di dalam rumah Jasmine bukannya membaik, justru semakin mencekam. Axel tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak melihat lambaian tangan rahasia di balik jendela itu. Ia hanya kembali ke kursinya, mengenakan headset dengan gerakan kasar, dan menatap layar monitor dengan tatapan yang seolah-olah ingin melubangi layar di depannya. Ketegangan antara Axel dan Liam mulai berdampak langsung pada performa tim. Axel menjadi sangat mudah meledak. Kesalahan kecil yang biasanya bisa ia koreksi dengan instruksi taktis, kini ia tanggapi dengan amarah yang meluap-luap. Obsesinya untuk membuktikan bahwa ia adalah satu-satunya otoritas dalam hidup Jasmine mulai mengaburkan logika profesionalnya sebagai seorang kapten.
"Jasmine! Kenapa pergerakan kamu lambat banget?! Kamu terlalu banyak melamun!" bentak Axel melalui saluran suara, membuat Jasmine tersentak kaget hingga tangannya gemetar.
"Maaf, Kak... aku hanya mencoba mengatur napas," jawab Jasmine dengan suara yang nyaris hilang.
"Fokus Jasmine fokus!" Axel membalas tanpa perasaan.
Sesi latihan malam terakhir sebelum keberangkatan ke London itu berubah menjadi neraka. Bryan yang biasanya paling aktif berbicara pun kini memilih bungkam, jari-jarinya menekan tombol keyboard dengan ketakutan. Kenzie berkali-kali mencoba memberikan saran strategi untuk meredam tensi, namun Axel selalu memotongnya dengan kalimat pedas. Puncaknya terjadi ketika mereka melakukan simulasi melawan tim bot dengan tingkat kesulitan tertinggi. Jasmine melakukan kesalahan posisi yang sangat sepele, ia berdiri terlalu dekat dengan area ledakan bom karena matanya yang lelah sempat terpejam sesaat. Karakter penembak jitunya tereliminasi, dan tim mereka dinyatakan kalah dalam simulasi tersebut.
BRAKK!
Axel membanting headsetnya ke atas meja kayu yang malang itu hingga suaranya menggelegar ke seluruh penjuru ruangan. "Apa yang kamu pikirin, Jasmine?! Apa kamu memikirkan pria barista itu lagi?! Apa pikiran kamu udah terbang ke kafe bunga itu sampai kamu lupa bagaimana caranya memegang mouse?!"
Ruangan mendadak hening seketika. Pertanyaan Axel bukan lagi soal profesionalisme, melainkan serangan pribadi yang sangat rendah. Jasmine mematung di kursinya, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia tidak menyangka Axel akan merendahkannya seperti itu di depan anggota tim yang lain.
"Cukup, Axel!"
Suara Ilias terdengar menggelegar, tidak lagi lembut seperti biasanya. Ia berdiri dari kursinya, wajah sabarnya kini hilang sepenuhnya, digantikan oleh ketegasan yang sangat mengintimidasi. "Lo udah keterlaluan. Jasmine ngelakuin kesalahan karena dia manusia yang udah lo paksa berlatih empat belas jam hari ini, bukan karena dia mikirin hal lain! Lo yang buat atmosfer tim ini jadi beracun karena kecemburuan lo yang gak masuk akal!"
"Gue cuma mau kita menang di London, Ilias! Gue gak mau pengorbanan kita hancur gara-gara gangguan dari pria asing itu!" teriak Axel membela diri, wajahnya memerah karena amarah yang bercampur dengan rasa takut kehilangan.
"Kita gak akan menang kalau mental kita hancur duluan oleh kaptennya sendiri," timpal Kenzie dengan suara yang tenang namun menusuk. "Jasmine butuh dukungan, bukan tekanan psikologis yang menghakimi perasaannya. Liam ngasih ketenangan yang gak bisa lo kasih belakangan ini, Axel. Terimalah kenyataan itu."
Jasmine tidak sanggup mendengar lebih banyak lagi. Ia berdiri dari kursinya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dengan langkah terburu-buru, ia keluar dari ruang latihan, mengabaikan panggilan Ilias. Ia berlari menuju balkon lantai dua rumahnya, mencari udara segar untuk paru-parunya yang terasa seperti terbakar. Angin malam tepi danau yang dingin menerpa wajah Jasmine, membawa pergi butiran air mata yang jatuh di pipinya. Ia memegang pagar balkon dengan tangan yang masih gemetar. Rasa hutang budi pada Axel yang selama ini ia junjung tinggi kini terasa seperti beban yang sangat berat, hampir mustahil untuk dipikul lebih lama lagi. Ia merasa seperti burung di dalam sangkar emas yang pintunya selalu dikunci rapat-rapat. Di bawah sana, di jalan setapak yang remang-remang oleh lampu jalan, Jasmine melihat sebuah bayangan tinggi bergerak perlahan. Itu sosok Liam. Pria itu tampak sedang berjalan santai sambil membawa senter, sesekali mengarahkan cahayanya ke bawah semak-semak. Sepertinya, Donald si bebek putih konyol itu lagi-lagi berhasil melarikan diri dari kandangnya di tengah malam yang dingin ini. Liam mendongak, seolah memiliki indra keenam yang memberitahunya bahwa ada seseorang yang sedang menatapnya dari atas. Ia melihat Jasmine berdiri di balkon dengan bahu yang bergetar. Liam tidak memanggil, tidak berteriak, dan tidak mencoba menyeberang jalan karena ia tahu ada 'anjing penjaga' yang sedang mengawasinya dari dalam rumah. Sebaliknya, Liam melakukan sesuatu yang sangat sederhana namun sangat berarti bagi Jasmine. Ia mematikan senternya sejenak, lalu menyalakan lampu kecil di ponselnya. Ia menggerakkan cahaya ponsel itu di udara, membentuk pola lingkaran besar tiga kali, sebuah kode universal yang sering Liam ceritakan saat mereka mengobrol singkat di pagar, yang artinya, "Bernapaslah, semua akan baik-baik saja." Jasmine mengusap air matanya dengan punggung tangan. Melihat keberadaan Liam di sana, di tengah kegelapan malam dengan misi konyol mencari bebeknya, entah bagaimana memberikan kekuatan baru bagi Jasmine. Liam adalah pengingat bahwa di luar dunia game yang kompetitif dan menyesakkan, masih ada dunia nyata yang hangat, sederhana, dan menerima dirinya apa adanya.
"Jasmine..."
Suara Axel terdengar dari ambang pintu balkon. Suaranya sudah melembut, penuh dengan penyesalan yang terlambat. Ia berdiri beberapa meter di belakang Jasmine, tidak berani mendekat karena menyadari jarak emosional yang baru saja ia ciptakan sendiri.
"Maafin aku. Aku cuma... aku cuma takut kamu menjauh dari tim. Aku takut kamu meninggalkan aku setelah semua yang kita bangun," ucap Axel dengan nada yang terdengar sangat rapuh, sebuah sisi dari sang kapten yang jarang sekali diperlihatkan.
Jasmine tetap menatap lurus ke arah jalan setapak, tempat Liam baru saja menghilang di balik kegelapan untuk mengejar Donald. "Kak Axel, aku gak akan ninggalin tim. Tapi tolong jangan buat aku merasa seolah-olah aku adalah milik kakak yang harus kamu kurung."
Axel terdiam. Ia menatap punggung Jasmine yang mungil namun tampak sangat teguh malam itu. Di kejauhan, lampu-lampu kota London di layar monitor tadi sore terasa sangat jauh dibandingkan dengan jarak antara dirinya dan Jasmine saat ini. Malam itu berakhir dengan kesunyian yang dalam. Tim tetap berangkat besok pagi, namun ada sesuatu yang telah retak secara permanen. Di dalam kamarnya, Jasmine mulai mengepak koper kecilnya. Ia memasukkan mouse gaming kesayangannya, namun di saku paling dalam, ia menyimpan botol kaca kosong bekas minuman lavender dari Liam yang diam-diam ia cuci bersih. Seolah-olah botol kosong itu adalah jimat keberuntungannya, pengingat bahwa ada seseorang yang menunggunya kembali ke tepi danau ini, bukan sebagai penembak jitu andalan, melainkan hanya sebagai Jasmine. Sementara di seberang jalan, Liam akhirnya berhasil menemukan Donald yang sedang asyik tidur di dekat akar pohon besar. Ia menggendong bebek itu pulang sambil menatap ke arah kamar Jasmine yang lampunya baru saja padam. "Dua minggu di London, ya? Semoga kamu gak lupa cara tersenyum di sana, Jasmine," gumam Liam pelan, suaranya hilang ditelan angin malam yang membawa janji-janji yang belum terucap.
mampir juga d karyaku ya 🤭😍 "dukunganmu semangatku"
Maaf, jangan tersinggung ya! 🙏🙏🙏 Karena... Novel Kakak Maauk ke Beranda-ku! Di Promosikan Oleh Pihak NovelToon. Jadi, mohon untuk di ubah dulu Kak! 'Kalau Bisa' Karena, aku melihat, Sinopsisnya Kurang mengigit! alias Kurang memunculkan Rasa Penasaran Pembaca! 🙏🙏🙏
Maaf ya Kak! Jangan Tersinggung. 🙏🙏🙏😁
Terima Kasih 🙏🙏🙏