NovelToon NovelToon
Suami Dadakan Untuk Alyra

Suami Dadakan Untuk Alyra

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Hamil di luar nikah
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Lylia Yuu

“Kau itu memang benalu! Mengganggu dan menempel seperti parasit. Gagal mendapatkan kakaknya, sekarang adiknya yang kau incar? Dasar wanita sampah!”

Hidup Alyra hancur hanya dalam satu malam. Semua bermula saat ia memergoki lelaki yang begitu dicintainya tengah bercumbu dengan wanita lain. Alyra memilih pergi, tetapi pria itu tak terima ditinggalkan. Dalam amarah dan ego yang membabi buta, ia merenggut paksa kehormatan Alyra sehingga gadis itu hamil.

Sejak saat itu, hidup Alyra berubah menjadi mimpi buruk. Alih-alih bertanggung jawab, mantan kekasihnya justru menikahi wanita simpanannya. Sementara Alyra, yang menanggung malu seorang diri, dipaksa menerima keputusan dua keluarga untuk menikah dengan adik dari pria yang telah menghancurkan hidupnya.

Bisakah Alyra bertahan dalam ikatan tanpa dasar cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lylia Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SDUA 08

“Aku—”

“Ada apa ini?!” Suara berat Dirham menyela dari pintu masuk ruangan, langkahnya tegas mendekati sang putra. “Apa yang terjadi?”

“Papa?” Ervin mengurungkan jawaban, beralih pada sang papa.

“ASTAGA … GUCI KESAYANGANKU!!” pekik Zaskia seraya menatap lebar pada pecahan porselen di lantai, ia berdiri sambil menganga di dekat suaminya. “Ervin, Velisa, apa-apaan kalian ini? Bertengkar kayak anak kecil aja!”

“Ma, ini ….”

Brak!

Tanpa memberi kejelasan, Velisa berbalik sambil menghentakkan kaki, melangkah menuju kamarnya yang berada di lantai dua.

“Velisa, kita harus bicara.” Ervin memanggil, namun tak mendapat jawaban, istrinya seolah tuli tak mendengar.

Kedua orang tua menatap jengah punggung sang menantu yang berjalan tergesa, menaiki anak tangga ke lantai dua.

“Oh My God ….” Zaskia geleng-geleng kepala, netranya menatap tajam. “Lihat tuh, Pah. Menantu kesayanganmu itu sukanya bikin onar, setiap hari ada … aja gebrakannya,” dengusnya jengkel, menyimpan geram sebab barang antik favoritnya telah menjadi puing-puing layaknya kapal pecah.

“Sudahlah, mungkin dia lelah. Jangan terlalu menekan.” Ia menoleh pada sang istri, tangan menepuk-nepuk lembut bahunya. “Jangan buat istrimu marah, Ervin,” kata Dirham pelan, kini menatap Ervin. Tak ada nada amarah, padahal tadi sorot matanya sudah merah.

“Pah, dia mecahin guci kesayangan mamah, loh. Masa mau dibiarin gitu aja? Kalau nggak dikasih peringatan dia akan semakin seenaknya di rumah kita,” protes Zaskia, wajahnya tampak jengkel, mulai muak berpura-pura ramah di depan menantunya.

“Mah, kalau kita nggak bisa menjaga mood dia dengan baik selama di sini … gimana kalau dia ngadu ke papanya? Bisa-bisa Arya Nugraha akan memutuskan kerja sama, berakhir proyek yang dijalankan Ervin akan terhenti, mangkrak nggak berguna!” bentak Dirham.

Yang dibentak hanya memutar bola mata, melengos, tak bisa berkata-kata. Memang benar, keluarga Velisa cukup berpengaruh bagi proyek film yang kini tengah berjalan, dipimpin Ervin selaku produser utama.

Tak bisa sembarangan, bila sekali saja membuat Arya murka, proyek itu terancam gagal seluruhnya. Terlebih, Dirham adalah sosok yang cukup pelit, enggan menambah anggaran sebagai pimpinan rumah produksi. Hanya mengandalkan uang dari para investor.

“Kamu juga, Ervin. Papa sudah menegaskan untuk mengurus Velisa dengan baik. Apa sulitnya bersikap hangat, beri perhatian lebih, buat dia bahagia. Kalau kamu masih berambisi untuk menjadi CEO … manfaatkan Arya Nugraha sebaik mungkin.” Tatapan setajam silet itu menyorot sang putra. “Kalau dalam satu tahun ini kamu tidak ada perkembangan … maka jangan merengek lagi kepada papa tentang keinginanmu menjadi CEO!”

Yang diperingati menundukan kepala, tangan mengepal di sisi tubuhnya. “Iya, Pah.” Ia akhirnya menjawab dengan lirih.

“Bereskan kekacauan ini, jangan buat keributan lagi.” Dirham langsung memutar badan, memilih untuk beristirahat di ruang kerja yang berada di lantai satu.

‘Kehidupan macam apa ini … aku sudah muak menghadapi Velisa. Dia benar-benar nggak kasih aku ruang untuk bernapas! Wanita sialan itu ...,’ umpat Ervin dalam hati.

.

.

.

Sementara di tempat lain. Deru suara kendaraan terdengar samar, mobil melaju dengan stabil, Erlan tampak mahir mengendalikan kemudi, menyusuri jalanan kota yang malam itu sudah sedikit lengang.

Meski wajah lurus ke depan, namun ekor matanya sesekali melirik ke sebelah kiri, tempat sosok jelita duduk sambil memejamkan mata.

“Setelah mengomel … dia tertidur, dasar perempuan aneh,” gumam pemilik nama Erlando.

Bibirnya mencebik, sebelum ia terdiam tatkala membaca sebuah pesan singkat di ponselnya.

~ “Erlan. Datanglah ke rumah malam ini.”

“Why? Kenapa mendadak memintaku datang?” Alisnya terangkat sebelah.

Tanpa banyak pertimbangan apalagi berpikir panjang, ia segera memutar kemudi ke arah lain. Kembali mengendalikan kendaraan dengan santai, Erlan masih memasang wajah datar.

Beberapa saat kemudian, mobil jeep yang dikendarai sejoli itu berhenti di depan hunian mewah bergaya semi modern. Erlan menatap cukup lama pada pintu masuk yang menjulang, seakan memikirkan banyak hal.

Sementara wanita di kursi sebelah, mulai menggeliat pelan, suara seraknya terdengar disertai menguap pelan.

Alyra perlahan membuka mata, netranya langsung mengarah pada sosok berwajah tampan. Seketika, ia membenahi posisi duduk, mengusap wajah, menyisir ujung rambut.

‘Sial! Aku tertidur? Apa aku mendengkur?’ Ia terlihat panik, takut bila sang suami mengetahui kebiasaan yang enggan ia tunjukan.

Mata amber Erlando menatap dingin. “Turunlah, kita sudah sampai.”

Alyra merubah posisi, duduk tegak di kursi, netra legamnya menyapu sekeliling. “Kenapa kita di sini? Bukannya kembali ke rumahmu?”

“Papa Abi mengirim pesan, memintaku datang ke rumah malam ini,” sahut Erlan, kemudian menekan tuas pintu, keluar dari kendaraan.

“Om Abi?” Pertanyaan itu tak mendapat jawaban. Alyra hendak ikut keluar. “Pak Erlan—”

“Ssttt!” Erlan secepat kilat sudah berdiri dan membukakan pintu, menempelkan jari telunjuk pada bibir ranum Alyra. “Kita berada di rumahmu, rasanya kurang pas kalau kau memanggilku dengan sebutan ‘pak’.”

Alyra menelan ludah, mendongak, menatap bingung pada sosok rupawan. “Lalu, saya harus memanggil apa?”

“Pikirkan dengan cepat. Mama dan papamu pasti sudah menunggu di dalam.”

Alyra diam sejenak, berpikir keras, memikirkan sebuah panggilan manis yang cocok untuk suaminya.

‘Beb? Sayang? Hubby? Rasanya aneh kalau aku memanggilnya begitu, iyeuh!’ Ia mengedarkan kepala, memilih panggilan lain yang tak terdengar menggelikan.

“Mas? Mas Erlan?” Alyra mengangkat alisnya, menunggu persetujuan.

Erlan membuang muka, menyembunyikan sudut bibir yang berkedut, senyumnya nyaris lepas. ‘Mas, katanya ….”

“Gimana, Mas Erlan?” Alyra kembali bertanya.

Yang ditanya perlahan menoleh, berusaha tetap konsisten berwajah datar. “Oke, boleh juga,” sahutnya.

Alyra akhirnya turun. Di sampingnya, sosok bertubuh gagah itu melengkungkan lengan, memberi isyarat agar sang istri menggandengnya.

Perempuan bergaun warna putih itu menatap ragu, namun tangan tetap meraihnya, menggenggam erat lengan suaminya.

Keduanya melangkah bersama seraya mengatur ekspresi wajah, memperlihatkan senyum yang dipaksa.

.

.

.

Di sebuah teras rumah bagian tengah, pintu menghadap langsung ke kolam renang, Abimanyu duduk sendirian di kursi kayu berlapis pelitur keemasan, tangan mengetuk pelan permukaan meja di sampingnya.

Tatapan terpaku pada permukaan kolam yang tenang, benak menerawang entah ke mana, memikirkan banyak hal yang menurutnya cukup janggal.

“Seharusnya aku ospek secara tegas calon menantuku itu, entah mengapa … aku begitu mudah menerima Erlando saat ia datang meminta restu untuk meminang putriku,” gumam Abimanyu, ada gurat sesal di wajahnya.

Di tengah prasangka buruk yang menggelayut, derap langkah kaki tegas mendekatinya.

“Assalamualaikum, Pa.” Erlan dan Alyra memberi salam dengan sopan.

“Waalaikumsalam,” sahut Abi, kini menoleh ke arah pasangan sejoli yang baru saja tiba.

Tatapan tidak ramah seakan membidik Erlan dari dekat, pemuda itu menundukan kepala, batinnya sibuk menerka.

‘Ada apa ini? Firasatku nggak enak.’

“Om, kenapa tiba-tiba meminta kami berdua untuk pulang? Ada urusan mendesak?” Alyra menatap penuh tanya pada ayah sambungnya.

Secepat kilat wajah Abimanyu berubah hangat, menatap penuh kasih kepada sang putri yang sudah belasan tahun dibesarkannya. Dia menikahi Nirmala kala Alyra masih di usia belia — 10 tahun.

“Alyra,” ucapnya lembut. “Om ingin mengobrol dengan suamimu, bolehkan beri kami waktu sebentar?”

“Mengobrol?” Alyra mengangkat alis. Kemudian beralih kepada sang suami. Kepala sedikit miring, bertanya melalui tatapan mata.

Erlan menatap wajah istrinya, lalu mengangguk pelan — tanda bersedia.

“Baik, Om. Kalau gitu … Alyra ke kamar dulu,” katanya, kemudian melerai genggaman tangan, melangkah meninggalkan dua pria dewasa yang masing-masing memasang wajah serius.

Usai wanita itu pergi, kini Abimanyu kembali menatap serius sang menantu. “Erlan, duduklah. Ada banyak hal yang ingin saya bicarakan.”

‘Apa ini? Wajah papa Abi terlihat serius, ada hal penting? Sial! Bikin deg-degan aja.’

*

*

Bersambung.

1
partini
jajat sekali kalian,,tapi orang selalu berhasil wehhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!