NovelToon NovelToon
Villain & Villainess

Villain & Villainess

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Hyacinthus Rainwood

Autumn Isabella, dua puluh dua tahun, memiliki profesi sebagai dokter hewan dan merupakan seorang ahli botani, dibunuh secara brutal oleh tunangannya yang berselingkuh.

Jasper Herasio, dua puluh enam tahun, seorang CEO yang tewas di tangan adik laki-lakinya karena masalah hak waris.

Keduanya, dalam takdir yang saling terikat, terlahir kembali di dalam sebuah novel yang berjudul "Enchanted Rose". Autumn, menjadi villainess utama dalam cerita: Amorette Ysandre Elowen. Jasper, menjadi villain utama dalam cerita: Algernon Leandor Remington.

Pertemuan dari takdir itu memaksa mereka untuk bertahan hidup bersama, sekaligus mengungkap kebusukan para tokoh utama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14: Anger

Kereta kuda yang membawa Amorette bergerak pelan menyusuri jalan utama kota, menuju ke kawasan pertokoan elit. Tujuannya kali ini adalah Rumah Butik Lavender, tempat pertama yang pernah ia datangi sesaat setelah sadar di dunia ini, saat ia masih berusaha beradaptasi dan mencari tempat aman. Saat itu, butik itu tampak suram, sepi, dan kondisinya agak memprihatinkan, hampir saja gulung tikar jika Amorette tidak memesan gaun-gaun khusus dan memberikan modal awal untuk perbaikan.

Kini, saat kereta kuda melambat di depan bangunan itu, mata Amorette berbinar senang. Perubahannya sungguh luar biasa. Cat dindingnya kini berwarna ungu muda yang cerah dan segar, jendela-jendelanya dibersihkan hingga berkilau, dan pajangan gaun di bagian depan kaca terlihat sangat indah dan menawan. Tidak lagi terlihat sepi, justru terlihat beberapa pelanggan sedang masuk dan keluar dengan wajah puas. Nyonya Elmira, sang pemilik, terlihat sibuk namun tersenyum lebar di depan pintu, menyapa setiap tamu yang lewat.

Pengemudi kereta menoleh ke belakang, membuka sedikit tirai jendela.

"Apakah kau akan turun, Tuan Putri? Kita sudah sampai," tanyanya sopan.

Amorette tersenyum lebar, kepuasan dan kebahagiaan terpancar jelas dari wajahnya, sesuatu yang tidak bisa ia sembunyikan sama sekali. Ia menggeleng pelan.

"Tidak, terima kasih. Teruskan perjalanan kembali ke istana saja," jawabnya dengan nada gembira.

Di dalam hatinya, Amorette sudah membuat keputusan besar. Di masa depan, ia berniat untuk menjadi pelanggan tetap butik itu, bahkan mungkin menjadi pelindung utama usaha Nyonya Elmira. Bukan lagi karena rasa kasihan atau ingin menolong semata, seperti awal kedatangannya dulu. Melainkan karena kualitas. Gaun-gaun yang dibuat wanita itu memiliki keindahan dan kualitas yang pantas untuk dipakai oleh seorang putri, dan Amorette tahu betul bahwa di dunia bisnis maupun sosial, berinvestasi pada orang yang berkemampuan adalah keputusan paling cerdas.

Kereta itu kembali melaju, meninggalkan keramaian kota dan perlahan memasuki jalanan yang lebih sepi menuju gerbang besar Istana Elowen.

Sesampainya di halaman depan, kereta Amorette baru saja berhenti dan pintunya dibuka, ketika kereta kuda lain yang berwarna merah muda mencolok melaju masuk dengan kasar dan berhenti tak jauh darinya. Pintu itu terbuka, dan Elarise keluar dengan wajah yang sangat tidak ramah.

Gadis itu berjalan tergesa-gesa sambil menghentakkan kakinya dengan keras ke tanah, setiap langkahnya seolah ingin melampiaskan kemarahan yang meluap-luap. Wajahnya merah padam, matanya menatap tajam ke segala arah, sangat kontras dengan Amorette yang turun perlahan, menata gaunnya dengan anggun, dan berjalan santai seolah tidak ada beban di bahunya.

Sepertinya dia langsung pulang sehabis pesta teh, dan dia sangat marah. Dia pasti akan mengadu pada Ayah atau Ibu Ratu, atau mungkin langsung datang ke kamarku untuk membuat keributan, batin Amorette sambil menghela napas pendek. Ia sudah bersiap siaga. Ia tahu betul sifat Elarise: jika ia kalah atau dipermalukan di tempat umum, ia akan berusaha menebus harga dirinya dengan menindas di tempat pribadi, di mana aturan sopan santun bisa dilanggar sewenang-wenang.

Tanpa mempedulikan Elarise yang meliriknya dengan pandangan membunuh, Amorette berjalan tenang masuk ke dalam istana, diikuti Lily yang juga berjalan cepat mengikuti langkah tuannya. Mereka berdua segera masuk ke kamar tidur Amorette dan mengunci pintu bagian dalam, namun membiarkan pintu depan sedikit tidak tertutup rapat.

"Pastikan pintunya tidak terkunci total, Lily. Biarkan saja jika mereka ingin masuk paksa. Kita tunggu saja drama apa yang akan mereka lakukan hari ini," bisik Amorette dingin, lalu duduk di kursi santai dekat jendela.

Esther segera menghampiri dengan wajah cemas, membungkuk hormat namun matanya penuh kekhawatiran. Wanita paruh baya itu tahu persis bagaimana dunia bangsawan bekerja, apalagi acara seperti pesta teh di mana kata-kata tajam sering disembunyikan di balik senyum manis.

"Yang Mulia... bagaimana di kediaman Duchess Coral? Apakah... apakah Anda baik-baik saja? Saya dengar, di acara-acara seperti itu, sering kali ada saja yang mencibir atau memojokkan orang lain secara terang-terangan, bahkan di luar pengetahuan nyonya rumah," tanya Esther dengan suara bergetar, tangannya sibuk merapikan selimut di atas kasur sambil melirik tuannya.

Amorette tersenyum tipis, mengangguk pelan. Ia menceritakan semuanya secara rinci: bagaimana mereka mencoba menyerang masa lalunya, bagaimana mereka menuduh hubungannya dengan Algernon, hingga bagaimana ia membalas semua itu dan justru memenangkan hati para wanita berpengaruh, serta momen saat ia mempermalukan Melissa dan membuat Elarise diam seribu bahasa.

Esther dan Lily mendengarkan dengan mulut sedikit terbuka, takjub sekaligus bangga. Namun, cerita itu belum selesai, ketika tiba-tiba...

BRUK!!!

Pintu kamar yang berat itu didobrak paksa hingga terbuka lebar dan menghantam dinding dengan bunyi keras. Engselnya terlepas sebagian, membuat pintu itu miring dan hampir jatuh ke lantai.

Esther dan Lily menjerit kaget, mundur ke belakang dengan wajah pucat. Namun, Amorette hanya menghela napas panjang, matanya menatap pintu yang rusak itu tanpa rasa takut atau terkejut sedikit pun. Ia sudah menduga ini akan terjadi.

Di ambang pintu berdiri Cornelius, wajahnya merah padam menahan amarah, dadanya naik turun karena napas yang memburu. Di belakangnya, samar-samar terlihat sosok Elarise yang bersembunyi sambil tersenyum licik, seolah baru saja melepaskan anjing penjaga untuk menggigit musuhnya.

Amorette berdiri perlahan, menatap kakak laki-lakinya itu dengan pandangan datar, bahkan sedikit mengejek. Ia menoleh ke arah Esther yang masih gemetar, lalu berkata dengan suara keras dan jelas, cukup untuk didengar Cornelius dan Elarise yang berdiri di sana.

"Bahkan segala sindiran, fitnah, dan serangan halus yang aku terima di kediaman Duchess Coral tadi... semuanya tidak akan mampu menyaingi kekerasan, ketidaksopanan, dan kejahatan hati dari orang-orang terdekatku. Kakak, adik, bahkan orang tuaku sendiri," ucapnya tegas, matanya berkilat dingin. "Bagiku, apa yang terjadi di pesta teh itu hanyalah satu dari seratus kejahatan yang harus aku hadapi setiap hari di dalam istana ini."

Amorette melangkah maju, berhenti tepat di hadapan Cornelius, menatap lurus ke manik mata kakaknya yang berapi-api itu.

"Fitnah apa lagi kali ini, Kak Cornelius? Atau... kekejaman apa lagi yang ingin kau lakukan padaku atas perintah si pengadu manis di belakang sana?" sindir Amorette, menunjuk sekilas ke arah Elarise yang wajahnya seketika berubah pucat karena tertangkap basah.

Cornelius mengertakkan gigi, menunjuk dada Amorette dengan kasar.

"Kau berani bertanya?! Apa yang kau lakukan tadi, hah?! Di seluruh kota sekarang orang-orang membicarakan betapa lancangnya kau berbicara! Kau mempermalukan nama baik keluarga kita! Kau menghina Nyonya Melissa yang merupakan bangsawan terhormat! Dan yang paling parah... kau berani-beraninya membuat Elarise menangis dan pulang dengan hati hancur karena rasa malunya! Apa masalahmu dengan Elarise, hah?! Kenapa kau selalu ingin menyakiti adikmu sendiri?!"

Suara Cornelius menggelegar di sepanjang lorong, menarik perhatian para pelayan yang berani-beraninya mengintip dari kejauhan.

Amorette tertawa kecil, suara tawanya terdengar dingin dan menusuk. Ia tidak mundur selangkah pun meski kakaknya itu jauh lebih besar dan berotot darinya.

"Menyakiti adikku? Aku yang menyakiti dia?" ulang Amorette pelan, lalu suaranya meninggi kembali. "Kak Cornelius, kau masuk ke kamarku, merusak pintu milik kerajaan, dan berteriak-teriak seperti orang gila hanya karena mendengar cerita sebelah dari gadis di belakangmu itu? Kau tidak bertanya padaku, kau tidak mencari tahu kebenaran, kau langsung menghakimiku. Bukankah itu yang selalu kau lakukan? Dulu, saat aku masih kecil, saat aku yang menangis, kau bilang aku manja. Saat aku yang terluka, kau bilang aku ceroboh. Tapi saat Elarise hanya sedikit tersinggung kata-kata, kau langsung datang dengan pedang terhunus untuk membelaku."

Amorette menatap tajam ke arah Elarise yang kini sudah mulai mengeluarkan air mata buaya.

"Biarkan aku jelaskan sekali saja, Kak. Di pesta teh tadi, mereka semua datang dengan tujuan untuk menyerangku. Mereka mengungkit masa laluku yang buruk, mereka menuduhku merebut pria, mereka meremehkanku habis-habisan. Dan di situlah, Elarise duduk manis sambil tersenyum puas, mengangguk setiap kali ada yang menghinaku, dan diam saja saat aku dipojokkan. Baru saat aku membalas hinaan itu dengan pengetahuan dan kebenaran, saat aku membuat mereka terdiam karena takjub... barulah dia pulang sambil menangis dan mengadu padamu bahwa aku mempermalukannya."

Amorette kembali menatap Cornelius yang tampak mulai ragu, amarahnya sedikit mereda mendengar penjelasan logis itu.

"Dan soal Nyonya Melissa... wanita itu yang pertama kali berbicara kasar dan merendahkan derajatku hanya karena aku berani masuk ke dapur. Dia yang bilang bangsawan tidak boleh bekerja. Aku hanya mengingatkannya bahwa seorang bangsawan yang bodoh dan pemalas akan cepat jatuh miskin. Itu pelajaran ekonomi dasar, Kak. Bukan penghinaan. Tapi mungkin otakmu yang penuh otot ini tidak mampu memahami hal-hal seperti itu."

"Kau... kau berani menghinaku?!" Cornelius kembali marah, tangannya terangkat tinggi hendak menampar Amorette.

Namun, Amorette tidak memejamkan matanya. Ia berdiri tegak, menatap mata kakaknya dengan berani, dan berbicara dengan suara lantang agar semua pelayan di luar sana mendengar jelas.

"Ayo, tampar saja! Hancurkan saja lagi apa yang tersisa di kamar ini! Biar semua orang tahu, bahwa Putri Pertama Kerajaan Elowen diperlakukan seperti sampah oleh kakak kandungnya sendiri hanya karena dia lebih pintar, lebih dihormati, dan lebih berguna daripada adik tirinya yang cuma pandai menangis dan mengadu! Ayo, lakukan! Tapi ingat... jika kau menyentuhku, aku akan langsung menghadap Ayahanda dan minta penilaian resmi. Kita lihat apa yang akan dikatakan Ayah saat tahu kau menghancurkan pintu kamarku dan menyerangku tanpa alasan yang jelas!"

Tangan Cornelius berhenti melayang di udara. Ia tidak berani melakukannya. Ia tahu, belakangan ini Raja Julius mulai memperhatikan Amorette, mulai bangga dengan perubahannya. Jika ia benar-benar menyakiti Amorette, posisinya sebagai pewaris atau kesayangan bisa terancam.

Di belakangnya, Elarise melihat situasi mulai tidak menguntungkan. Ia segera menarik lengan Cornelius, berbisik manja sambil menangis.

"Kak... sudahlah. Jangan bertengkar lagi. Aku tidak apa-apa... biarkan saja Kak Amorette membenci dan memandang rendahku. Mungkin memang aku yang salah karena tidak secerdas dia..."

Kalimat itu kembali memicu amarah Cornelius. Ia menarik tangannya kembali, menatap Amorette dengan pandangan penuh kebencian.

"Ini belum selesai, Amorette. Aku akan melaporkan semua ini pada Ayah dan Ibu Ratu. Kau tidak akan bisa bersikap arogan selamanya. Ingatlah posisimu," ucapnya tegas, lalu berbalik pergi dengan kasar, diikuti oleh Elarise yang sempat melirik Amorette dengan pandangan beracun sebelum menghilang di balik lorong.

Saat mereka pergi, Amorette menghela napas panjang dan merosot duduk di kursi, lelah bukan karena berkelahi, tapi lelah karena harus berhadapan dengan orang-orang yang tidak punya logika selain kebencian dan kecemburuan.

Esther dan Lily segera mendekat, memeriksa keadaan tuannya dengan khawatir.

"Yang Mulia... Anda tidak apa-apa? Mereka sangat keterlaluan..." ucap Lily gemetar.

Amorette tersenyum tipis, mengusap bahunya sendiri.

"Aku baik-baik saja, Lily. Seperti yang kukatakan... ini baru permulaan. Sindiran di pesta teh itu tidak ada apa-apanya dibandingkan racun yang ada di dalam tembok istana ini. Tapi tidak apa-apa," Amorette menatap jendela ke arah langit yang mulai berwarna keemasan. "Mereka boleh menggunakan kekerasan, fitnah, atau air mata buaya. Tapi aku... aku akan terus naik ke atas, semakin tinggi, hingga suatu saat nanti, mereka tidak akan mampu menyentuhku lagi. Dan saat itu tiba... aku akan membalas setiap rasa sakit yang aku terima hari ini, dengan cara yang jauh lebih elegan dan menyakitkan bagi mereka."

Di sudut ruangan, pintu yang rusak itu teronggok miring. Namun bagi Amorette, kerusakan itu hanyalah tanda bahwa ia telah memenangkan ronde kedua hari ini. Dan pertempuran yang lebih besar, melawan Ratu Mirelle, Raja Julius, dan seluruh sistem yang ingin menindasnya, baru saja dimulai.

1
Agus Hidayat
rambutnya Amorette sebenarnya warna pirang apa hitam kok selalu berubah?
cynth: Kayaknya lupa kuubah deh. Seharusnya itu pirang (walau rencana awalnya hitam biar senada sama warna matanya). Terima kasih ralatnya ya, Kak (^-^)/
total 1 replies
kitty ❤
seru thor, lanjutkan 😍🔥
cynth: Thank you Kak (*^^*)
total 1 replies
MayAyunda
keren👍👍
cynth: Terima kasih udah mampir <3!
total 1 replies
cila_aa
baguss banget kak next nunggu chapter selanjutnyaa
cynth: Makasih udah mampir, Kak <3
total 1 replies
Sahabat Oleng
Keren 👍
cynth: Makasih Kak <3
total 1 replies
lidiaaa
semangat Kaa, ceritanya seru
cynth: Makasih Kak <3
total 1 replies
Davina Aurora
menarik ceritanya😍
cynth: Makasih Kak <3
total 1 replies
4revenge
hanssssss
4revenge
ini ni 😍
4revenge
seru padahal baru baca awal awal.
NonaMudaDesi
Kayaknya bagus nih cerita, konspenya kuereennn, tetep semangat kakk, aku mau nabung episode duku
cynth: Hai! Makasih banyak udah mampir <3
total 1 replies
Cattygril
semangat thor
Cattygril: sama-sama👌☺
total 2 replies
T28J
anggur sianida
T28J
kutu kupret juga si hans nih /Angry/
T28J
main catur saja biar akur kak 😂
MayAyunda
keren 👍👍
cynth: Terima kasih <3
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!