NovelToon NovelToon
Sistem: Suplai Tak Terbatas

Sistem: Suplai Tak Terbatas

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Hari Kiamat / Sistem
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Wan Chen tidak ingin menyelamatkan dunia.

Ia hanya ingin kaya.

Untungnya, saat berada di ambang kematian, ia memperoleh Sistem dengan kemampuan Duplikasi dan Penyimpanan Dimensional.

Dan di dunia yang kekurangan segalanya, tidak ada kemampuan yang lebih menakutkan dari itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 - Rasa Makanan yang Sebenarnya

Lumpur basah berbunyi pelan tergilas sol sepatunya. Bau kaldu sapi sintetik bercampur asap arang langsung membajak indra penciumannya.

Kedai tenda berukuran besar itu berdiri arogan di tengah distrik kumuh. Cahaya lampunya benderang. Menantang kegelapan jalanan.

'Tempat elit,' batin Wan Chen.

Penjaga pintunya berbadan tegap. Pakaian mereka bersih tanpa tambalan. Pelanggan di dalam rata-rata memakai zirah mulus atau setelan jaket tebal yang utuh.

Wan Chen terus melangkah masuk. Aroma darah kering dan debu merah dari bajunya langsung merusak harmoni ruangan itu.

Tatapan sinis menembus punggungnya. Mata-mata asing itu menilai penampilannya dengan cepat. Gembel. Mangsa.

"Berhenti di situ," tegur suara parau dari arah kanannya.

Seorang penjaga bertubuh besar memotong jalannya. Tangannya bersedekap rapat menutupi dada.

"Tempat pembagian jatah makanan sisa sudah habis. Jangan mengotori lantai ini dengan lumpurmu."

Wan Chen tidak merespons secara verbal. Ia hanya menatap papan menu gantung di atas meja pesanan. Daging monster panggang utuh. Karbohidrat murni. Sup kaldu kental. Semuanya hidangan tanpa campuran serbuk sintetis.

"Kau tuli ya?"

Penjaga itu menyentuh bahu Wan Chen. Cengkeramannya menguat. Sengaja menekan otot yang letih.

'Selalu saja rutinitas murahan ini,' keluh Wan Chen pelan. Ia menarik napas pendek.

Tangan besar di bahunya ia biarkan saja. Wan Chen justru merogoh kantong pinggangnya lambat-lambat.

Terdengar gesekan logam dan lembaran kertas keras dari dalam sana. Bunyi yang sangat asing bagi seorang gembel pinggiran.

Ia menarik tangannya keluar dengan gerakan tegas. Membanting tumpukan tebal keping cip memori dan uang kertas prabencana langsung ke atas konter kayu di depannya.

Bunyinya nyaring. Keras.

Aktivitas memotong daging di dapur seketika terhenti. Pisau besar si pemilik kedai tertahan di udara.

Cengkeraman penjaga di bahunya otomatis mengendur. Pria berotot itu menganga lebar menatap nominal kekayaan yang berserakan di depan mata.

"Dua porsi daging monster panggang steril. Sup kaldu kental. Karbohidrat murni."

Suara Wan Chen mengalun datar. Sangat kering. Tidak ada sedikit pun nada arogan, murni hanya instruksi transaksi layaknya mesin.

Ia menolehkan kepalanya sedikit. Menatap langsung ke pupil mata penjaga tersebut.

"Bisa singkirkan tanganmu? Atau kau mau menraktir porsiku hari ini?"

Tangan besar itu ditarik mundur seolah baru saja menyentuh bara api. Si penjaga melangkah mundur tanpa suara, membuang muka ke arah jalanan.

Pemilik kedai berdehem cepat memecah kekakuan. Tangannya buru-buru mengusap celemek kotornya. Senyum komersial yang dipaksakan langsung terpasang di wajah tuanya yang keriput.

"S-segera disiapkan, Tuan. Langsung dari panggangan. Silakan menempati meja nomor tiga di sudut sana."

Uang selalu bisa membungkam mulut siapa pun. Tatanan dunia boleh hancur berkeping-keping, tapi hukum dasar perut dan transaksi tetap memegang kendali penuh.

Wan Chen menyeret kakinya menuju meja besi yang ditunjuk. Mengabaikan bisik-bisik tajam pelanggan lain yang duduk di sekitarnya.

Beberapa hunter miskin yang mengintip dari celah tenda luar hanya bisa menelan ludah lekat-lekat. Iri. Dengki. Semua tercetak jelas.

Ia duduk. Tubuhnya menyender kaku pada sandaran kursi. Menunggu dengan sisa kesabaran yang menipis.

Tidak butuh waktu lama. Hidangan disajikan di hadapannya.

Uap panas mengepul tebal dari mangkuk keramik usang. Aroma kaldu gurih seketika menjajah rongga hidungnya. Menggila.

Dinding lambungnya meronta parah. Nyeri robekan serbuan monster tadi pagi tertutup oleh rasa lapar yang mematikan.

Ia meraih sendok kayu di samping mangkuk. Menyendok kuah kecokelatan itu penuh-penuh.

Cairan kental itu masuk ke mulutnya. Mengalir mulus melewati kerongkongannya yang kering kerontang.

Panas. Sangat gurih.

Sensasi itu membakar lambungnya dengan kehangatan absolut. Denyut ngilu di perutnya berubah menjadi reaksi penerimaan kalori besar-besaran.

Wan Chen memejamkan mata sesaat. Tangannya meremas pinggiran meja kayu.

'Sial. Ini namanya hidup.'

Ia mengambil garpu besinya. Menusuk potongan daging panggang seukuran kepalan tangan balita.

Gigitan pertamanya mematahkan serat daging itu dengan mudah. Teksturnya sangat padat. Lemak murni meleleh sempurna di atas lidahnya.

Sama sekali tidak ada rasa pahit asam dari sisa racun radiasi. Daging ini steril. Dicuci bersih.

Ia mengunyah dalam diam. Rahangnya bergerak mekanis dengan tempo konstan. Terus dan terus.

Setiap suapan adalah bahan bakar padat. Setiap tegukan sup adalah cairan penyembuh untuk sel-sel tubuhnya yang sekarat kelaparan.

Orang-orang di seberang meja mungkin mencibir cara makannya yang liar. Persetan dengan mereka.

Dunia luar bisa hancur jadi abu esok hari, asalkan piringnya malam ini terisi penuh.

'Aku tidak akan kembali mengorek sampah. Tidak akan pernah lagi,' sumpahnya tajam dalam relung otaknya.

Pisau dan garpunya beradu dengan dasar piring. Ia menelan potongan karbohidrat terakhir.

Otot-otot lengannya yang tadinya lunglai bak benang basah kini perlahan kembali mengencang. Tenaganya pulih secara signifikan.

Piring kayunya kini bersih mengkilap tanpa sisa saus sedikit pun.

Melihat tamunya selesai, pemilik kedai menghampirinya lagi. Ia membawa sebotol kaca kecil berisi cairan kekuningan.

"Sedikit bonus untuk pelanggan baru kami," tawarnya seraya menaruh botol itu di dekat siku Wan Chen. "Minuman keras sulingan gandum. Bakal bikin tidurmu sangat nyenyak malam ini."

Wan Chen menunduk. Memindai botol tersebut tanpa minat.

'Alkohol merusak akal sehat. Bodoh kalau kuterima di tempat penuh serigala ini.'

"Bawa kembali. Aku tidak butuh."

Ia bangkit berdiri seketika. Meraup sisa keping koin kembalian di pinggir meja, lalu memutar tumitnya menuju pintu keluar tanpa basa-basi lagi.

Udara dingin malam langsung menampar kulit wajahnya begitu melewati batas tenda.

Namun kali ini berbeda. Tubuhnya punya perisai panas dari pasokan kalori tingkat tinggi tadi. Udara di luar tidak lagi terasa seperti pisau es.

Langkahnya melaju teratur menjauhi keramaian area kedai. Mengarah ke sektor utara yang lebih sepi dan gelap.

Ia butuh ruangan tertutup. Beban di saku celananya masih terlalu berat. Koin dan cip ini adalah undangan terbuka bagi para perampok jalanan jika ia nekat tidur di sembarang gang.

Sebuah bangunan beton dengan atap separuh runtuh muncul di ujung persimpangan. Ada plang kayu bertuliskan 'Kamar Aman' yang dipaku sembarangan di dindingnya.

Wan Chen masuk. Menaruh beberapa pelat memori di atas meja resepsionis berdebu.

"Satu malam. Jauh dari jalanan."

Penjaga tua di sana tidak banyak bertanya. Tangan keriputnya mengambil bayaran itu dan melempar sebuah kunci besi berkarat ke atas meja.

"Lantai dua. Ujung lorong sebelah kanan."

Langkah kaki Wan Chen terdengar berat menaiki anak tangga kayu yang berdecit menyedihkan. Bau apak debu basah menyambutnya di atas sana.

Angka 04 tergores di pintu terakhir. Kuncinya dimasukkan.

Klik. Klik.

Dua putaran tuas merespons dengan presisi. Pintu didorong terbuka.

Ruangannya luar biasa sempit. Hanya ada satu kasur lantai tipis dan sebuah meja kayu reyot. Tidak ada jendela sama sekali. Ventilasi hanya berupa celah seukuran telapak tangan di dekat langit-langit.

Sempurna.

Ia melangkah masuk. Menutup pintu di belakangnya rapat-rapat.

Jarinya segera menggeser palang besi pengunci tambahan. Tidak cukup sampai di situ, ia menendang kursi kayu reyot di sudut ruangan untuk mengganjal gagang pintunya dari dalam.

Paranoia adalah pelindung terbaiknya di tempat ini.

Wan Chen menjatuhkan tubuhnya di tepi kasur lantai. Ia menarik napas dalam-dalam.

Udara pengap kamar ini terasa seperti oksigen paling murni saat nyawamu tidak lagi berada di ujung tanduk.

Ia menetralkan ritme pernapasannya. Membuang jauh-jauh kebisingan distrik pasar dari kepalanya.

Pikirannya kini kembali tajam. Sangat fokus.

'Tampilkan.'

Suara dengungan pelan bergetar di dalam tulang tengkoraknya. Layar biru transparan mendadak menyala terang di udara terbuka.

Antarmuka itu mengambang diam tepat di depan wajahnya. Memancarkan pendar cahaya yang memantul di bola matanya yang gelap.

Tatapan Wan Chen terkunci pada satu baris teks menu di sudut bawah layar. Fitur yang sedari tadi terus mengganggu kewarasannya sejak di kios penjual batu.

Menu bertuliskan 'Duplikasi' yang masih menyala redup menunggu perintah eksekusi.

1
Yui
Karya ini sangat luar biasa, setelah baca novel ini aku jadi sedikit mengingat kenanganku yang telah lama menghilang, terimakasih Author 🔥🔥🔥🔥🔥
Ironside: /Toasted/
total 1 replies
Ironside
Ada error /Sweat/, biarlah, nanti di fix Editor
Gege
dan Wang Chen pun jualan obat...🤣😄
HiaTus
/Rose/
Wakana
wow sangat menarik & unik 👀
Ironside: Terima kasih telah membaca, semoga betah /Smile/
total 1 replies
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
‎ ‎ ‎Basah Mas... Sampe Banjir
ada insectnya gak kak?
‎ ‎ ‎Basah Mas... Sampe Banjir: yah, kecewa kak.
total 2 replies
The Ironheart
darkfantasy ini kak☺️
Ironside: /Slight/
total 1 replies
Ironside
Pliss... Like, Subscribe dan Upvote jika kalian menyukai karya ini /Determined/.
Ironside: Mr. Willheim /Scare/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!