NovelToon NovelToon
COLD HANDS, WARM EYES

COLD HANDS, WARM EYES

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Idola sekolah
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

Empat tahun lalu, Aelira S. Valenzia gadis unik, misterius terjerat oleh Ravian Kael Davino veyron, pewaris tunggal keluarga veyron , yang mengidap penyakit haphephobia. Suatu hari, Davino pergi ke sekolah karena suatu hal penting, dimana Aelira tidak sengaja terjatuh, dan menangkap tangan Davino, atau yang orang sebut Ravian. Ia tidak menyangka hal tersebut menjadi awal mula hidup tidak sebebas dulu lagi. Penasaran? yuk baca!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sipaling suka Tantrum

Aelira masih membaca ulang klarifikasi itu. Lalu bibirnya tersenyum membaca komentar-komentar para fans Ravian.

"Akhirnya dia jelasin juga. Legaaaa. Sorry Aelira!"

"Wah fix mereka cuma sahabatan. Gue kira pacaran."

"Iri banget bisa jadi sahabatnya Ravian sejak SMP."

"Gila sih, pengen di-posisiin kayak Aelira."

"Iya Ravian sayang, aku percaya."

"Gw iri tapi yaudah gapapa."

"Klarifikasi kamu trending di X," Aelira menoleh. "Kamu terkenal banget ternyata."

"Gimana? Puas?" sindir Ravian. "Selesai, kan? Gue udah turutin mau lo."

Aelira mendelik. "Ini kan buat kamu juga. Demi karier kamu."

Ravian tersenyum sinis. "Tapi lo malah bikin gue mau muntah sama kata 'sahabat'," tukasnya tajam.

Aelira terdiam. "Yang penting kan kita masih pacaran. Enggak putus," jawabnya.

Ravian mendengus kasar dan menatapnya jengkel.

"Pacaran? Tapi lo nyuruh gue klarifikasi seolah-olah lo nggak ada artinya buat gue. Itu bukan pacaran. Lo buang nama lo dari hidup gue," katanya jengkel.

Aelira menghindari tatapannya. "Aku cuma nggak mau kamu makin dihujat, Van."

Ravian semakin mendekat. Aura tubuhnya panas—marah.

"Emangnya lo nggak cemburu ya kalau gue dipeluk fans? Apalagi pas fans-ig nyium pipi gue?"

Aelira mengerjap pelan—tidak merasa itu hal yang besar. "Itu kan emang pekerjaan kamu. Nyenengin fans-ig, nyenengin orang-orang yang bayar buat lihat kamu. Duit-duit kamu." Jawabnya sungguh-sungguh.

Ravian gemas. Kesal. Kepalanya terasa panas. Gadis di depannya ini terlalu dewasa. Terlalu pengertian. Dan justru itu yang membuatnya gila.

"Ya gue pengennya lo cemburu," geram Ravian merasa tidak tahan karena gadis itu terlalu dewasa. "Gue pengen lo teriak, lo ngamuk, lo larang gue. Bukan malah lo bilang 'itu pekerjaan kamu, Van'. Bukan malah lo bilang 'aku percaya sama kamu' dengan muka tenang kayak nggak ada yang salah."

Aelira menatapnya. "Emang kamu ada apa sama mereka? Kan nggak ada apa-apa. Cuma fans."

"Ya nggak ada apa-apa. Cuma fans."

"Kan, nggak harusnya aku cemburu. Kamu cuma kerja."

Ravian mendecak kesal. "Iya juga, sih."

Tapi dia terdiam saat tangan Aelira mulai terulur—menyentuh pipinya sambil mencapernya pelan.

"Kamu artis, bukan cuma milik aku."

Ravian tertawa pendek—sinis. Tangannya naik, menahan dagu Aelira pakai dua jarinya, ditekan pelan tapi tegas.

"Salah. Gue milik lo. Dan lo—milik gue. Titik. Tapi lo kayaknya lupa."

"Aku nggak lupa, kok."

Ravian semakin dekat—hampir menyentuh bibirnya. "Yakin?"

Aelira mulai gemetar. Matanya tak berani menatap Ravian yang kini berada sangat dekat.

"Asal lo tau, gue benci, saat lo bikin gue ngerasa lo bukan milik gue lagi." Desisnya.

"El—Aku masih milik kamu," Aelira berkata gagap, napasnya mulai terasa pendek. Jantungnya berdebar kencang di dada. Ravian terlalu dekat. Terlalu panas. Dan dia mulai kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

"Oh, ya?" Ravian menyeringai licik. Matanya menyipit puas melihat Aelira mulai gelabakan. Dia suka saat Aelira kehilangan ketenangannya. Suami saat gadis itu mulai gemetar dan gagap seperti ini. "Kalau gitu buktiin!"

Tanpa disangka-sangka—Ravian mulai membungkuk ke arahnya. Tangannya menahan punggung Aelira supaya tidak bergerak.

CIUP!

Bukan di bibir. Ravian mendaratkan bibirnya tepat di leher putih Aelira—memberikan kecupan panas yang terasa seperti membakar kulitnya. Aroma vanilla dari sabun mandi Aelira membuat Ravian benar-benar kehilangan akal.

"Sakit, jangan!" Aelira memukul dada Ravian dan mendorongnya.

Tapi Ravian tidak langsung melepas. Cowok itu malah menggigit lehernya dengan lembut—menghisapnya sebentar—sesekali memberikan jilatan lembut hingga meninggalkan bekas merah di sana. Bekas yang akan membiru nanti. Bekas yang terlihat seperti kismark.

Baru setelah puas, Ravian melepaskan cengkeramannya.

Ravian tersenyum puas melihat kismark di leher Aelira.

"Biar lo inget, siapa yang paling marah saat lo minta gue pura-pura nggak peduli." Bisiknya tajam.

Aelira bergidik takut. Tangannya menyentuh lehernya yang perih dan panas—mungkin akan lebam besok pagi.

Ravian menatapnya lekat. Jempolnya mengusap bibir bawah Aelira pelan. "Sakit, hm?" Dia menyentuh leher Aelira sambil mengelusnya pelan dengan tatapan yang sulit diartikan—antara marah, cemburu, dan hasrat yang membara.

"Lo milik gue, Eli. Cuma gue yang boleh nandain lo kayak gini, paham?" Suaranya rendah, tegas, dan tidak bisa ditawar. "Gue rela turunin ego gue. Gue rela klarifikasi meskipun gue muntah denger kata 'sahabat'. Tapi jangan pernah—sekali lagi jangan pernah—bikin gue merasa lo nggak butuh gue."

Aelira mengangguk dua kali sambil menatapnya geram, masih berusaha marah meskipun seluruh wajahnya sudah memerah. "Gigit leher lo lagi."

"Ya mau," jawab Ravian santai sambil maju selangkah. Ekspresinya serius. Matanya gelap.

"MAKSUDNYA JANGAN!" Aelira dengan panik merebahkan tubuhnya ke sisi ranjang yang lain dan menarik selimut sampai ke dagu. Matanya melotot waspada.

Ravian tertawa kecil, suaranya berat dan menggoda. "Bercanda."

"Omong kosong! Muka lo serius banget tadi!" Aelira memekik dari balik selimut.

"Ya elo juga imut," balas Ravian tanpa merasa bersalah. "Sekarang tidur! Besok gue antar lo sekolah."

Aelira masih skeptis. Matanya mengawasi setiap gerakan Ravian seperti anak kucing yang ketakutan.

Ravian berdiri—meraih selimut cadangan lalu menutupi tubuh Aelira dengan gerakan singkat, tapi tangannya sempat mengacak-acak rambut Aelira pelan.

"Jangan bikin gue cari alasan buat nandain lo lagi. Gue nggak janji gigitannya masih bakal di leher."

Aelira menutup mata rapat-rapat, berpura-pura tidur meskipun jantungnya masih berdebar kencang. Ravian tersenyum kecil melihatnya.

Sebelum mematikan lampu, Ravian mencium kening Aelira—seolah-olah semuanya baik-baik saja. Padahal hatinya berantakan, kepalanya panas, dan pikirannya penuh rasa ingin memiliki yang nyaris tidak waras.

"Selamat malam, milik gue," bisiknya pelan.

Di balik selimut, Aelira tersenyum kecil. Dan Ravian—yang sedetik lalu masih tampak garang dan posesif—kini duduk di sofa sambil menatap Aelira dengan sorot mata paling lembut yang hanya dia simpan untuk satu orang.

Cuma Aelira yang bisa bikin Ravian yang keras kepala ini luluh—tanpa perlu melakukan apa pun selain jadi dirinya sendiri.

1
Prety Chiky
ceritanya baguss
🌹Widian,🧕🧕🌹
dihhhh..... Ravian kamu kasar banget 😬😬
Alia Chans: wujud aseli toxic boy 😅
total 1 replies
🌹Widian,🧕🧕🌹
protektif banget ya si Ravian👍
T28J
Langit tidak berubah. Namun sesuatu… memperhatikan.

“Fragmen ini… menarik.” Suara itu tidak datang dari satu arah. Ia ada di antara kata-kata yang ditulis, dan yang sengaja tidak ditulis.

“Kau tidak menulis dunia. Kau… sedang mencoba menciptakannya.”

“Ada bagian yang masih kau batasi. Bukan karena tidak mampu… tapi karena kau belum siap melihat bentuk akhirnya.”

Cahaya muncul. Bukan lima titik kecil, melainkan lima penanda, seperti sesuatu yang telah ditentukan jauh sebelum penilaian ini terjadi.

★ ★ ★ ★ ★

“Ini bukan penilaian.”

“Ini pengakuan… bahwa kau telah melangkah cukup jauh untuk dilihat.”

“Lanjutkan! Tidak semua yang melangkah sejauh ini… diizinkan untuk berhenti.”

—Astraeus, The Seven Pillar Titan
Alia Chans: (◉⁠‿⁠◉)
total 1 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⒋ⷨ͢⚤zc❖Aisyah Chris
secawan ☕️ biar seger dan semangat up nya
Alia Chans: thanks😉
total 1 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⒋ⷨ͢⚤zc❖Aisyah Chris
aku mampir ya
SANG
Bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Alia Chans: Thanks kk for support nya 👈😉
total 1 replies
SANG
Sampai tamat💪👍
Alia Chans: Bismillah
total 1 replies
SANG
Semangat terus pantang mundur💪👍
SANG
Lanjutkan terus💪👍
mary dice
serem banget😱jantung ikut berdegup lebih kencang😮lanjut thor😍
Alia Chans: Thanks, dilanjut kok kk👈😉
total 1 replies
🌹Widian,🧕🧕🌹
mampir nih
Alia Chans: Thanks👈😉
total 1 replies
Alia Chans
makasih kak🤭
Salma.Z
semangatttt...
SANG
Like iklan plus komen👍💪
SANG
Asik banget👍💪
SANG
Ceritanya keren👍💪
SANG
Mampir thor👍💪
Dindinn
keren kak lanjut
Alia Chans: thanks, bakal dilanjut kok🤭☝
total 1 replies
T28J
/Rose//Rose//Rose/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!