Wu Xuan telah mencapai puncak alam surgawi dan hanya selangkah lagi naik ke alam dewa. Namun saat ia mencoba kembali ke Bumi demi menebus hutang karma kepada kedua orang tuanya, tubuh fananya justru terhempas ke tengah badai kehampaan dimensi.
Dan ketika ia membuka matanya kembali…
Bumi yang ia kenal telah berubah menjadi dunia dungeon dan para hunter.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Leveling
Di bawah bayang-bayang malam Shanghai yang menekan, Wu Xuan berjalan santai keluar dari Ruang Harta dengan pedang hitam tersampir di pundaknya, meninggalkan Xu Xin yang masih gemetar di lantai dengan napas tersengal.
Angin malam yang dingin berhembus menyapu pelataran pangkalan udara bawah tanah Wu Imperial Guild. Cahaya lampu sorot menembus kegelapan, menyoroti barisan kendaraan tempur lapis baja yang selalu siaga.
Sambil berjalan menyusuri lorong beton menuju titik kumpul, Wu Xuan menatap langit malam melalui celah ventilasi raksasa. Di dalam kepalanya, ia mengurai kembali struktur realitas yang mengurung bumi saat ini.
Di pelataran landasan, Xu Xin—yang telah berhasil menekan sisa-sisa keterkejutan mental dari Niat Pedang tadi—berdiri tegak di samping sebuah kendaraan taktis. Di belakang asisten cantik itu, berbaris enam orang Hunter bersenjata lengkap. Mereka adalah tim elit yang mengenakan zirah ringan berlambang naga laut bintang satu.
Saat Wu Xuan mendekat, Wu Jiang dan Wu Yuena juga melangkah keluar dari lift khusus, datang untuk mengawasi kepergian putra tunggal mereka.
"Tuan Muda," sapa Xu Xin dengan nada yang jauh lebih hormat dan hati-hati dari sebelumnya. Ia menunjuk ke arah enam hunter tersebut. "Ini adalah Tim Strike Delta. Rata-rata dari mereka berada di Level 15. Sesuai prosedur standar perlindungan, mereka akan menjadi party yang mengawal Anda di dalam Gate."
Wu Xuan berhenti melangkah. Ia menatap keenam hunter itu sekilas, lalu beralih menatap ibunya.
"Aku akan melakukan solo raid," ucap Wu Xuan datar.
Mendengar itu, wajah Wu Yuena langsung menegang. "Xuan'er! Jangan konyol! Masuk ke dalam dimensi monster sendirian sama saja dengan bunuh diri. Mama tidak akan mengizinkanmu!"
Di belakang Xu Xin, beberapa anggota Tim Delta saling lirik. Meskipun mereka dilatih untuk disiplin, berita siang tadi tentang bakat Kelas E dan nol mana sang Tuan Muda sudah terpatri di otak mereka.
"Lihatlah bocah itu," bisik salah satu hunter pemegang perisai kepada rekan di sebelahnya, suaranya sangat pelan namun cukup untuk memancarkan aura meremehkan. "Dia bahkan menolak memakai armor. Benar-benar beban mati. Kita tidak dikirim untuk berburu, kita dikirim untuk menjadi babysitter pangeran cacat ini agar dia bisa mencicipi sensasi bermain di dalam dungeon."
Bisikan itu mungkin tidak terdengar oleh manusia biasa, tapi pendengaran Wu Xuan yang telah dilapisi Qi menangkap setiap suku kata dengan sangat jernih.
Wu Xuan tidak marah. Ia justru merasa lucu.
'Inilah kelemahan terbesar manusia yang terlalu bergantung pada alat ukur di depan mata mereka,' batin sang tiran dengan humor gelapnya. 'Sungguh menyedihkan.'
Wu Xuan menatap para pengawal itu. Senyumnya tenang, namun sorot matanya tajam. Membuat para hunter yang tadinya berbisik seketika menutup mulut mereka.
"Jika kalian ingin ikut masuk dan melakukan pengawalan demi ketenangan pikiran ibuku, silakan," suara Wu Xuan mengalir perlahan, elegan, dan sangat mematikan. "Tapi dengarkan aturan mainku baik-baik. Jadilah bawahan penjaga yang patuh. Bergeraklah hanya jika aku perintahkan. Jangan ganggu buruanku, dan jangan sentuh mangsaku. Aku ingin leveling sendiri."
Keenam hunter itu menelan ludah serentak. Mereka serempak menundukkan kepala.
"Kami berjanji, Tuan Muda," jawab pemimpin regu itu tegas. "Kami tidak akan mengganggu perburuan Anda."
Puas dengan kepatuhan mereka, Wu Xuan menoleh kembali pada Xu Xin. "Jadi, Gate apa yang kau siapkan untuk pemanasanku?"
Xu Xin segera membuka tablet holografiknya. "Berdasarkan penilaian sistem Anda hari ini, saya telah mengamankan hak akses untuk sebuah Gate Kelas E di distrik perbatasan. Isinya mayoritas adalah kawanan Goblin dan Slime racun tingkat rendah. Sangat aman—"
"Ganti," potong Wu Xuan cepat.
"T-Tuan Muda?"
"Ayolah Xu Xin," ucap Wu Xuan santai. Sub-bakat Pengendali Jiwa yang baru saja ia peroleh membutuhkan material khusus untuk dieksperimenkan. "Carikan aku Gate yang memiliki lawan Undead. Atau apa pun yang memiliki atribut bangkit dari kematian."
Xu Xin melebarkan matanya. "Tuan Muda, itu mustahil! Gate dengan ekosistem Undead tidak ada yang berada di bawah tingkat menengah. Rata-rata dari mereka adalah Gate Kelas C ke atas, dengan rentang level monster minimal 20+. Miasma kematian di dalam sana beracun bagi—"
"Xuan'er, sudah cukup!" suara Wu Yuena akhirnya meninggi, kemarahannya sebagai seorang ibu yang khawatir meledak. Ia melangkah maju. "Kau baru tiga hari sadarkan diri! Mama mengizinkanmu berburu agar kau tidak merasa terkekang, tapi Mama tidak akan membiarkanmu bunuh diri! Gate Kelas C akan merobek tubuhmu dalam hitungan detik!"
Wu Jiang, yang sedari tadi diam menganalisis, akhirnya ikut angkat bicara. Suara sang penguasa terdengar sangat berat, menekan seluruh area pelataran.
"Di era ini, kekuatan harus bisa di buktikan secara langsung, Xuan'er," tegas Wu Jiang, menatap lurus ke dalam mata putranya. "Apakah kau benar-benar yakin dengan apa yang sedang kau minta?"
Wu Xuan menatap kedua orang tuanya. Ia tidak membalas dengan arogansi yang keras, melainkan dengan sebuah kelembutan yang sangat terukur dan dipenuhi percaya diri.
"Pa, Ma," ucap Wu Xuan dengan senyum lembut, menenangkan ketegangan di antara mereka. Ia memiringkan kepalanya sedikit. "Apakah Papa dan Mama meragukan kekuatanku? Bukankah sebelumnya aku sudah menjelaskan kemampuanku?"
Pertanyaan itu diucapkan dengan sangat pelan, namun efeknya membungkam sepasang Country Tier itu. Wu Jiang teringat pada pengetahuan, analisis prasasti, dan metode medis yang dilakukan putranya beberapa jam lalu. Ia tahu putranya memiliki bakat yang spesial. Ada perhitungan di balik semua ini.
Wu Yuena menggigit bibir bawahnya, masih belum rela. Namun ia mengerti bahwa putranya bukanlah anak kecil yang bisa dikurung.
"Jika kau memang bersikeras..." Yuena memberikan syarat mutlaknya, matanya berkaca-kaca namun tegas. "Xuan'er, setidaknya jika kau ingin pergi ke Dungeon tingkat C yang penuh Undead itu... kau harus membuktikan pada Mama bahwa tubuhmu bisa beradaptasi. Tingkatkan levelmu hingga tingkat 10 terlebih dahulu."
Sebuah syarat yang sangat masuk akal bagi standar hunter dunia ini.
Wu Xuan tersenyum. Bukan senyum sinis, melainkan senyum seorang anak yang dengan senang hati menuruti permainan kecil orang tuanya. Level hanyalah sebuah angka fiktif yang diciptakan oleh Sistem Tower untuk membatasi kekuatan manusia. Bagi seorang kultivator yang sedang memadatkan Qi, menaikkan 'angka' itu adalah hal yang sangat remeh.
"Baiklah, Ma. Syarat diterima," jawab Wu Xuan santai, sambil mengelus sarung pedang hitam di pundaknya. "Aku akan berada di level sepuluh besok pagi."
Mata Xu Xin dan para anggota Tim Delta nyaris melompat keluar. Mencapai level 10 dalam waktu satu malam bagi seorang yang memulai dari nol? Itu adalah rekor yang mustahil bagi hunter normal, apalagi bagi mereka yang berpredikat non-kombatan.
"Xu Xin," perintah Wu Xuan, membuyarkan kebingungan asisten tersebut. "Siapkan Dungeon E terdekat sekarang. Kita berangkat."
Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, Wu Xuan berbalik dan melangkah masuk ke dalam kendaraan taktis. Di dalam hatinya, sang pecahan Dao Agung sudah tidak sabar untuk kembali merasakan pertempuran, meskipun hanya darah dari monster rendahan.
Bersambung...