NovelToon NovelToon
Sangkar Merah

Sangkar Merah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:644
Nilai: 5
Nama Author: Mooniecaa_moon

Aletha merupahan remaja yang sangat senang akan dunia malam. Ia juga merupakan anak konglomerat yang terkenal di kota Metropolitan. Tapi kini dirinya harus di hadapkan dengan perjanjian kontrak dengan Danny yang sepertinya menguntungkan? atau malah merugikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Warna yang Kembali—21

Keesokan harinya, Senin pagi di Universitas Pelita Bangsa dimulai dengan atmosfer yang mendadak terasa mencekam di koridor Fakultas Ilmu Komunikasi.

Warna-warna cerah yang beberapa bulan terakhir mulai menghiasi tubuh Aletha menguap tanpa sisa. Hari itu, Aletha berjalan membelah kerumunan mahasiswa dengan langkah pelan, mengenakan dress hitam di bawah lutut dan sebuah pita hitam yang mengikat sebagian rambut hitamnya-nya yang dibiarkan tergerai panjang.

Luka sedalam palung yang ia kira sudah mengering setelah kehadiran teman-temannya, ternyata hanya ditutupi perban tipis tanpa pernah diobati. Dan hari ini, perban itu lepas, memperlihatkan duka yang masih menganga merah.

Chelsea, Angelina, dan Electra yang sedang mengobrol di dekat loker langsung menghentikan tawa mereka begitu melihat presensi Aletha. Aura dominan dan ceria yang biasa memancar dari gadis itu mendadak digantikan oleh kesunyian yang dingin dan hampa.

"Tha... lo kenapa?" tanya Chelsea ragu-ragu, menatap pita hitam di rambut sahabatnya dengan perasaan tidak enak. "Kok... lo pakai baju hitam lagi kayak dulu?"

Aletha mendudukkan dirinya di bangku koridor, menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. Di depan ketiga sahabat yang sudah mengembalikan tawa hidupnya itu, Aletha akhirnya melepaskan topeng keangkuhannya. Dengan suara rendah dan datar, ia menceritakan semuanya—tentang kematian ibunya dua tahun lalu, tentang pengakuan bersalah papanya kemarin di kantor, hingga kemarin ia datang ke pantai dengan 100 tangkai krisan putih di tengah ombak malam yang dingin.

Mendengar cerita jujur yang begitu menyayat hati dari mulut Aletha, Electra menahan tangis, sementara Angelina dan Chelsea langsung memeluk bahu Aletha erat, mencoba menyalurkan kekuatan untuk luka yang ternyata tidak pernah sembuh itu.

Tanpa mereka sadari, dari kejauhan koridor seberang, Cassandra berdiri mematung. Gadis itu baru saja menyelesaikan kelas paginya dan tidak sengaja menangkap sosok calon kakak iparnya yang tampil serba gelap, dikelilingi oleh teman-temannya yang tampak muram.

Sebagai orang yang melihat bagaimana cerianya Aletha di kamar Danny dua hari lalu, Cassandra merasa ada yang tidak beres. Tanpa buang waktu, ia berjalan menjauh ke sudut sepi dan langsung meraba ponselnya, mencari nomor kakak sulungnya.

"Halo, Kak Danny? Kakak harus ke kampus sekarang," ujar Cassandra cepat begitu telepon diangkat. "Kak Aletha... dia aneh banget hari ini. Dia pakai baju serba hitam, pakai pita hitam, dan mukanya pucat banget kayak orang kehilangan arah. Aku takut dia kenapa-napa."

Di seberang telepon, Danny yang sedang memeriksa berkas di kantornya langsung terdiam. Ingatan tentang tangisan histeris Aletha di pelukan Pak Adinata dan binar matanya yang menyimpan duka mendalam langsung terlintas di kepalanya.

"Kakak ke sana sekarang," jawab Danny pendek sebelum memutus sambungan.

Dua jam berlalu, bel tanda kelas siang berakhir pun berbunyi. Aletha yang merasa kepalanya sangat berat dan dadanya sesak memilih pamit ke teman-temannya untuk pergi ke kantin, sekadar mencari angin dan mendinginkan otaknya yang terus-terusan mengulang memori kelam.

Namun, baru saja Aletha melangkah keluar dari area gedung fakultas menuju koridor terbuka, langkah kakinya mendadak terhenti.

Di ujung jalan, berdiri seorang pria jangkung yang sangat ia kenal. Danny Atonio ada di sana. Pria yang biasanya tidak pernah lepas dari setelan jas formal seharga ratusan juta itu, siang ini datang dengan penampilan yang sangat biasa dan kasual—hanya mengenakan kaos oblong putih polos, celana cargo hitam, dan sebuah topi Polo gelap yang menutupi sebagian rambutnya. Ia sengaja berpakaian seperti itu agar tidak memancing perhatian media kampus.

Danny berjalan tegap mendekati Aletha, mengabaikan beberapa pasang mata mahasiswa yang mulai berbisik heran melihat ada pria matang yang luar biasa tampan menghadang jalan Aletha.

Danny berhenti tepat satu langkah di depan Aletha. Sepasang mata elangnya menatap lekat pita hitam di rambut Aletha, lalu turun mengunci manik hitam gadis itu yang tampak meredup.

"Ikut gue," ucap Danny dengan suata lembut.

Aletha tertegun sesaat melihat kedatangan Danny yang begitu tiba-tiba. Ia menoleh ke belakang, menatap Chelsea, Angelina, dan Electra yang menonton dari kejauhan dengan tatapan cemas sekaligus bingung.

Aletha mengembuskan napas perlahan, lalu memberikan isyarat lambaian tangan kepada teman-temannya. "Gue cabut duluan ya, gess. Nanti gue kabarin lagi."

Setelah berpamitan, Aletha kembali menatap Danny dengan sisa-sisa ego dinginnya. "Mau dibawa ke mana lagi gue hari ini?"

Danny tidak menjawab dengan kata-kata. Pria itu justru maju selangkah, dan tanpa memedulikan lingkungan kampus yang ramai, tangan kekarnya bergerak menggenggam erat pergelangan tangan Aletha, menuntun gadis berbaju hitam itu menjauh dari area kampus menuju mobilnya yang terparkir di area parkir kampus. Danny tahu, hari ini Aletha tidak butuh apapun selain gadis ini hanya butuh dibawa pergi dari dunia yang terus-terusan menyakitinya.

Genggaman tangan Danny di pergelangan tangan Aletha tidak terlepas sedikit pun sampai mereka tiba di dalam mobil sport hitam milik Danny yang terparkir di area belakang kampus. Sepanjang perjalanan meninggalkan area Universitas Pelita Bangsa, Aletha kembali mengunci rapat mulutnya. Gaun hitam dan pita hitam yang ia kenakan hari ini seolah menjadi dinding tebal yang memisahkan dirinya dari dunia luar.

Danny fokus mengemudi, membelah jalanan Jakarta dengan kecepatan di atas rata-rata. Aletha tidak bertanya ke mana pria itu akan membawanya, dan Danny pun tidak menawarkan penjelasan. Pria itu tahu, dalam kondisi luka lama yang menganga seperti ini, kata-kata penghibur hanya akan terdengar seperti omong kosong yang tidak berguna bagi seorang Aletha Adinata.

Hingga satu jam kemudian, aroma asin garam dan deru angin yang kencang mulai menyusup masuk melalui celah ventilasi mobil. Aletha tersentak kecil dari lamunannya saat menyadari mobil Danny memasuki kawasan dermaga di pesisir Jakarta.

Danny menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah kapal yacht mewah berukuran sedang yang sudah bersandar. Pria itu turun, lalu membukakan pintu untuk Aletha.

"Turun, Aletha," ucap Danny rendah.

Aletha menatap dermaga, lalu beralih menatap Danny dengan binar mata-nya yang bergetar. "Dan... lo ngapain bawa gue ke laut?" tanyanya, ada nada trauma dan penolakan yang samar dalam suaranya. Laut adalah tempat yang paling ia hindari di siang hari, tempat yang mengingatkannya pada kegelapan palung yang menelan ibunya.

"Ikut gue aja. Gue nggak akan biarkan lo tenggelam sendirian," sahut Danny tegas. Pria itu mengulurkan telapak tangan kekarnya, menunggu sampai jemari lentik Aletha perlahan menyambutnya dengan ragu.

Begitu mereka naik ke atas dek kapal, yacht mewah itu langsung bertolak meninggalkan dermaga, membelah ombak menuju ke tengah laut lepas yang biru bergradasi kehijauan. Angin laut yang kencang menerbangkan rambut panjang Aletha, membuat pita hitamnya berkibar dramatis di udara.

Aletha berdiri di tepi dek, mencengkeram pembatas besi dengan erat. Matanya menatap hamparan air yang luas dengan rasa sesak yang kembali naik ke dada. Bayangan jasad ibunya yang terjebak di palung gelap kembali menghantui pikirannya.

‘Kenapa Danny bawa gue ke sini? Apa dia mau nyiksa gue pake memori ini?’ batin Aletha perih.

Tepat saat air mata Aletha nyaris jatuh, Danny berjalan mendekat dari arah kabin dalam. Pria dengan kaos oblong biasa dan celana cargo itu tidak datang dengan tangan kosong. Di kedua lengan kekarnya, Danny membawa sebuah keranjang anyaman besar yang dipenuhi dengan kelopak bunga tabur beraneka warna, serta puluhan tangkai bunga mawar putih segar yang masih utuh dan cantik.

Aletha menoleh kaku, matanya melebar menatap tumpukan mawar putih tersebut.

"Kemarin lo dateng ke sini malam-malam, sendirian di tempat gelap, nangis sampai meraung-raung tanpa ada yang nemenin," kata Danny, suara baritonnya terdengar begitu lembut di telinganya, beradu dengan suara deru mesin kapal dan deburan ombak.

Danny meletakkan keranjang besar itu di atas meja dek, tepat di samping Aletha. Pria itu menatap lurus ke dalam mata Aletha yang basah.

"Gue tahu dari bokap lo kalau nyokap lo hilang di palung laut dalam. Gue juga tahu kalau selama dua tahun ini, lo nggak pernah dikasih kesempatan buat ngucapin selamat tinggal yang layak karena semua orang menyuruh lo bungkam," lanjut Danny, sepasang mata elangnya memancarkan ketulusan yang belum pernah Aletha lihat sebelumnya dari sosok CEO kaku ini.

Danny mengambil beberapa tangkai mawar putih, lalu menyerahkannya ke tangan Aletha yang gemetar.

"Hari ini, mumpung masih siang, di bawah matahari yang terang... lepasin semuanya, Aletha. Teriaki laut ini sepuas lo. Taburin semua mawar putih ini sebagai tanda penghormatan terakhir yang layak buat nyokap lo. Lo gak usah takut lagi, dan lo gak perlu bungkam mulut lo pakai tangan lagi. Kali ini, ada gue yang bakal berdiri di belakang lo buat jagain lo."

Mendengar kalimat panjang yang keluar dari mulut pria yang awalnya hanya terikat kontrak bisnis dengannya, pertahanan ego Aletha runtuh setotal-totalnya. Luka yang selama ini hanya dibalut perban , sore ini rasanya seperti sedang dibersihkan dengan kejam namun penuh kasih oleh jemari Danny.

Aletha menerima mawar putih itu dengan tangan yang bergetar hebat. Dadanya naik turun menahan isak tangis yang begitu pilu. Ia membalikkan tubuhnya menghadap hamparan laut lepas, memandangi air biru yang kini tidak lagi terlihat menakutkan karena ada sosok Danny yang berdiri kokoh tepat di belakang punggungnya.

Dengan air mata yang mengalir deras membasahi pipinya, Aletha melemparkan tangkai-tangkai mawar putih itu ke dalam gulungan ombak di bawah sana.

"MAMA!!!" teriak Aletha sekencang-kencangnya, melepaskan seluruh sumbatan di tenggorokannya yang selama dua tahun ini ia pendam demi terlihat kuat di depan orang lain. "MAMA, LIHAT ALE, MAH! ALE DATENG SAMA DANNY!!!"

Danny maju selangkah, menaruh kedua tangan kekarnya di atas bahu Aletha yang bergetar hebat karena tangisan yang histeris. Ia meremas bahu gadis itu pelan, menyalurkan seluruh kekuatan yang ia punya agar Aletha tahu bahwa daratan kini telah mengirimkan pelindung sejati untuknya.

Aletha terus menangis meraung-raung di tengah laut lepas, mengambil segenggam demi segenggam bunga tabur dan mawar putih dari keranjang yang disiapkan Danny, lalu menghanyutkannya ke atas permukaan samudra. Ribuan kelopak bunga dan warna putih mawar bergulung bersama ombak, menghiasi permukaan laut yang semula kaku dan dingin, seolah sedang mengirimkan pesan cinta yang paling indah langsung menuju dasar palung terdalam, tempat ibunya bersemayam abadi.

Di bawah terik matahari siang yang hangat di tengah laut Jakarta, untuk pertama kalinya setelah dua tahun berlalu, Aletha akhirnya bisa melepas kedukaannya dengan cara yang paling terhormat. Dan di balik punggungnya, Danny Atonio bersumpah di dalam hati, bahwa ia akan menjadi pria yang menyembuhkan sisa-sisa retakan di hidup gadis ini, tidak peduli seberapa jauh kontrak permainan mereka telah melompat dari jalur yang semestinya.

1
azrinasarah
LANJUTT PLUSSS😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!