Nara mengira kehidupan barunya setelah transmigrasi akan berjalan indah. Nyatanya, dia malah terlempar ke masa kuno dan menjadi anak sulung dari keluarga miskin yang dibenci semua orang karena cacat fisik.
Pemilik tubuh yang asli mati tragis karena memotong jari keenamnya demi mencari keadilan. Kini, dengan jiwa modern yang mengisi tubuh tersebut, Nara bersumpah tidak akan membiarkan ibu dan adiknya diinjak-injak lagi.
bertahun-tahun kemudian "haaaaa mencapai puncak kekuasaan dengan enam jari emang berat"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 makan
Omongan Han Ruo jelas sekali cuma bertujuan untuk memancing keributan.
Raut wajah Nyonya Mu sedikit berubah. Dia melirik Han Ruo dengan tatapan getir, tapi memilih diam dan beralih menatap Nenek Lou dengan perasaan waswas.
Mendengar hasutan itu, wajah Nenek Lou langsung memerah. Dia meletakkan mangkuknya dengan kasar sampai menimbulkan bunyi dentingan yang keras.
"Goreng telur apa? Walaupun perjodohan Yan Ming kemarin gagal, kita tetap harus bayar uang lelah untuk mak comblang," omel Nenek Lou dengan wajah ketat.
"Kita bahkan sampai harus meminjam uang kepada Paman Buyut Ketiga. Telur-telur ini harus disimpan untuk dijual supaya bisa melunasi utang itu!" lanjutnya.
Selesai bicara, dia langsung menoleh ke arah Yan Ling.
"Ibu kan sudah pernah bilang, jadi anak perempuan itu jangan seperti orang kelaparan yang tidak pernah makan enak. Kalau nanti di rumah mertuamu kamu serakah begitu, kamu mau bikin keluarga kita ditertawakan karena dianggap tidak punya tata krama?"
Walaupun Nenek Lou bicaranya kepada Yan Ling, tapi sindiran itu jelas sengaja dialamatkan untuk Nyonya Mu dan kedua putrinya. Nenek Lou seolah mau mengejek kalau Nyonya Mu, Nara, dan Yan Ning adalah orang-orang yang maruk makanan.
Wajah Nyonya Mu langsung memerah menahan malu. Dia cuma bisa menundukkan kepala sambil mengaduk-aduk nasi di mangkuknya menggunakan sumpit.
Sebaliknya, Han Ruo kelihatan girang bukan main karena merasa pancingannya berhasil. Yan Ran bahkan ikut-ikutan melirik Nara dengan tatapan jijik.
Yan Ling sendiri sebenarnya bukannya tidak paham situasi. Dia sengaja memasang wajah manja di depan Nenek Lou sambil memberikan tatapan sinis ke arah Nyonya Mu.
Yan Ning yang melihat itu hampir aja kehilangan kesabaran dan mau mengamuk. Tapi Nara dengan cepat menahan tangan adiknya, lalu menyahut dengan nada suara yang teramat tenang.
"Bibi Ling, ucapan Nenek tadi benar banget," kata Nara santai.
"Kemarin aja aku dengar Siti anak sebelah bilang kalau telur itu makanan paling mewah di dunia. Tapi dia langsung dimarahi oleh Bibi Lastri," lanjut Nara.
"Bibi Lastri bilang, anak perempuan yang menganggap telur sebagai makanan mewah itu pikirannya sempit dan kelihatan murahan. Nanti bisa-bisa malah diremehkan oleh calon mertuanya. Makanya anak perempuan itu harus dibiasakan hidup berkecukupan biar tidak kolot. Pemikiran Bibi Lastri memang luas banget ya."
Yan Ling langsung melongo mendengar kalimat itu. Han Ruo dan Yan Ran juga ikut melotot menatap Nara seolah-olah baru melihat hantu, senyuman mengejek di wajah mereka mendadak kaku.
"Siapa yang kamu sebut murahan?!" bentak Yan Ling dengan mata mendelik marah ke arah Nara.
Nenek Lou ikut mengernyitkan dahi sambil merenungkan omongan cucunya. Walaupun Nara kedengarannya seperti sedang membela ucapan Nenek Lou, tapi kalimat itu sebenarnya telak menyindir balik pemikiran pelit Nenek Lou sendiri.
"Ling, Nara tidak bermaksud begitu kok, dia cuma bercanda aja," potong Nyonya Mu panik. Dia buru-buru menarik ujung baju Nara sambil memberikan kode mata agar putrinya diam.
"Aku tidak bicara dengan kakak, kenapa kakak malah ikut campur?!" semprot Yan Ling kasar kepada Nyonya Mu.
Nyonya Mu langsung terdiam dengan wajah pias. Di posisi itu, Nara merasa darahnya mendadak berdesir panas karena emosi.
Seterbuka apa pun watak Nara sekarang, dia tidak bisa mentoleransi sikap Yan Ling yang sama sekali tidak punya sopan santun kepada orang tua. Apalagi Nyonya Mu adalah istri sah di rumah ini, bukan seorang selir.
Nara bahkan tidak sudi melirik ke arah Yan Ling. Dia memilih menatap langsung ke dalam mata Nenek Lou dengan raut wajah yang sengaja dibuat serba salah.
"Nenek, sebenarnya ada satu hal yang mengganjal di pikiranku. Aku tidak tahu apa ini pantas diucapkan atau tidak," kata Nara pelan.
"Ada apa?" tanya Nenek Lou.
"Begini, Nek. Beberapa waktu lalu pas di luar rumah, aku tidak sengaja mendengar ibu-ibu di desa lagi membicarakan hal yang kurang enak. Di sana bahkan ada Mak Comblang Sela juga," ucap Nara sengaja memancing rasa penasaran.
"Mereka bilang, Bibi Ling itu sikapnya tidak sopan kepada kakak iparnya sendiri. Padahal Ibuku ini kan istri sah yang dinikahi resmi lewat jalur depan Keluarga Yan, bukan seorang selir."
"Tapi Bibi Ling sering membentak-bentak Ibuku. Kata ibu-ibu di luar sana, kakak ipar itu posisinya pengganti ibu, jadi kalau tidak dihormati, berarti Bibi Ling tidak punya tata krama," lanjut Nara dengan nada prihatin yang dibuat-buat.
"Nenek tahu sendiri kan bagaimana mulut orang desa? Kalau omongan ini terus menyebar, orang-orang pasti bakal mengira tabiat Bibi Ling itu buruk."
"Apalagi kemarin Mak Comblang Sela sampai bertanya mendalam soal masalah ini. Jangan-jangan, ada keluarga terpandang yang sengaja menyuruh Mak Comblang Sela untuk menyelidiki kepribadian Bibi Ling sebelum melamar?"
Begitu kalimat Nara selesai diucapkan, suasana di dapur mendadak sunyi senyap. Wajah semua orang yang ada di meja makan langsung berubah drastis.
Han Ruo bahkan sampai menggenggam sumpitnya kuat-kuat karena merasa kalimat Nara tadi ikut menyindir posisinya sebagai istri kedua.
Semua orang tahu betul kalau reputasi adalah nyawa bagi seorang gadis. Kalau kelakuan buruk Yan Ling sampai menjadi buah bibir di luar desa, mana ada keluarga baik-baik yang sudi menjadikannya menantu?