NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Mafia Kejam

Obsesi Sang Mafia Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Mafia / Diam-Diam Cinta
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Rosline gadis berusia 20 tahun yang terlahir bukan dari keluarga berada. Dia memiliki hidup yang sulit, bukan hanya menanggung beban hidupnya sendiri, tapi juga menanggung beban keluarganya. Suatu ketika Rosline mendapat tawaran kerja partime di salah satu rumah mewah untuk menjaga kakek tua, tapi tanpa diduga rumah itu ternyata rumah seorang Mafia kejam...

Rosline semakin bingung harus bertahan atau harus pergi dari sana. Sementara dia sangat butuh uang untuk keluarganya....
Apa yang terjadi selanjutnya dengan Rosline?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5 : Perasaan aneh

Rosline masih berdiri diam sambil mencoba mencerna semua ucapan kepala toko tadi... Mafia. Kata itu terus terngiang di kepalanya.

Ia bahkan masih sulit percaya pria dingin yang tadi mengantarnya ternyata berasal dari keluarga sebesar dan seseram itu.

Salah satu pegawai tiba-tiba mendekat heboh. “Pak, bukannya Tuan Edwin juga punya kakak?”

Kepala toko langsung mengangguk cepat. “Iya. Bara Alexander.”

Beberapa pegawai lain langsung ikut menimpali. “Nah itu!”

“Katanya lebih serem lagi!”

Rosline langsung menoleh penasaran. “Bara Alexander?”

Kepala toko menghela napas pelan sebelum kembali berbicara. “Kakaknya Tuan Edwin. Tidak kalah tampan… tapi auranya lebih mengerikan.”

Salah satu kasir perempuan langsung nyeletuk pelan. “Tampannya kayak aktor luar negeri…”

“Iya tapi kalau lihat fotonya bikin takut didekati.”

Mereka mulai heboh sendiri.

Rosline hanya mendengarkan bingung.

“Kabarnya Bara Alexander lebih sering turun langsung mengurus dunia gelap keluarga mereka,” lanjut kepala toko dengan suara pelan.

“Kalau Tuan Edwin lebih banyak pegang perusahaan legalnya.”

“Tapi dua-duanya tetap berbahaya.”

Rosline makin menelan ludah gugup. Entah kenapa sekarang ia mulai sadar kalau dirinya benar-benar masuk ke dunia orang-orang yang sangat jauh darinya.

“Ros…” salah satu temannya menyenggol pelan. “Kamu jangan sampai dimarahin orang kayak mereka ya…”

“Iya. Takut banget sumpah.”

Rosline tertawa kecil kaku. Padahal dalam hati ia juga takut. Namun anehnya... saat bersama Edwin tadi, ia justru tidak merasa pria itu jahat.

Dingin, menyeramkan. Tapi tidak seperti yang orang-orang bicarakan.

“Eh tapi serius…” teman kerjanya kembali heboh. “Tuan Edwin tadi ganteng banget.”

“Iya! Aku sampai salah fokus!”

“Kalau Bara Alexander juga ganteng berarti keluarga itu visualnya keterlaluan ya…”

Rosline langsung memukul pelan lengan temannya malu. “Kalian apaan sih…”

Namun tanpa sadar bayangan wajah Edwin kembali muncul di kepalanya. Tatapan tajam, rahang tegas. Dan suara dinginnya yang selalu terdengar tenang.

Rosline buru-buru menggeleng kecil. Apa yang dia pikirkan sih?!

***

Sementara itu di tempat lain, sebuah mobil sport merah berhenti di depan club elit pusat kota.

Pintu mobil terbuka perlahan.

Seorang pria tinggi keluar dengan jas hitam mahal melekat sempurna di tubuhnya. Wajahnya tampan dengan senyum tipis yang terlihat berbahaya.

Tatapan matanya tajam dan penuh permainan. Beberapa pria berbadan besar langsung menunduk hormat.

“Tuan Bara.”

Pria itu hanya memasukkan tangan ke saku celana sambil berjalan santai masuk ke dalam club.

Ponselnya bergetar.

Nama Edwin muncul di layar. Bara langsung mengangkat sambil tersenyum miring.

“Ada apa?” suara Bara terdengar santai di seberang telepon. Musik club yang keras samar-samar terdengar di belakangnya.

“Kau sedang di mana?” tanya Edwin dingin. “Opa dari tadi menanyakanmu terus.”

Bara tersenyum tipis sambil berjalan melewati lorong VIP club itu. Beberapa wanita langsung menoleh terpaku melihatnya.

“Aku di club.”

Edwin langsung mengernyit kesal. “Apa?”

“Aku sedang memantau tempat ini,” jawab Bara santai sambil duduk di sofa VIP. “Ada sedikit masalah dengan salah satu pemasok.”

Tatapan Bara berubah tajam sesaat saat beberapa pria datang membungkuk hormat di depannya.

“Tapi semuanya hampir selesai.”

Edwin menghela napas kasar. “Kau bilang begitu dua minggu lalu.”

Bara hanya tertawa kecil. “Tenang saja. Setelah semua pekerjaan selesai aku pulang.”

“Sudah hampir dua bulan kau tidak pulang ke rumah.” Suara Edwin mulai terdengar lebih dingin. “Opa bahkan tidak pernah menerima telepon darimu.”

Bara terdiam sesaat. Tatapan pria itu perlahan berubah samar saat mendengar nama kakeknya.

“Aku sibuk.”

“Itu bukan alasan.”

Bara menyandarkan tubuhnya santai di sofa kulit hitam. “Kalau aku tidak turun langsung, bisnis kita bisa berantakan.”

“Dan kalau kau terus menghilang, Opa akan makin marah.”

Bara tertawa kecil lagi. “Opa selalu marah.”

“Tapi kali ini berbeda.”

Keheningan sesaat memenuhi sambungan telepon mereka.

Edwin kembali bicara pelan. “Dia mulai sering lupa.”

Senyuman kecil di bibir Bara perlahan menghilang. Tatapan matanya berubah lebih gelap.

“Dokter bilang kondisinya semakin menurun?”

“Mm.”

Bara mengusap pelan rahangnya sambil menatap keramaian club tanpa fokus. Meski keluarganya berantakan dan keras. Kakek Alberto tetap orang yang paling mereka hormati.

Pria tua itu yang membesarkan mereka sejak kecil. Namun Bara memang selalu lebih sulit menunjukkan rasa pedulinya dibanding Edwin.

“Besok aku usahakan pulang,” ucap Bara akhirnya.

“Bukan usahakan.” Nada Edwin terdengar tegas. “Tapi harus pulang.”

Bara mendecak pelan sambil tersenyum miring lagi. “Kau makin cerewet sekarang.”

“Aku serius.”

“Baiklah, baiklah…”

Bara akhirnya berdiri dari sofa lalu berjalan menuju balkon VIP club. Lampu kota terlihat berkilauan di depan matanya.

Sementara Edwin berdiri di dekat jendela kamarnya sambil menatap gelap halaman rumah yang mulai sepi. “Ada satu hal lagi,” ucap Edwin akhirnya.

“Hm?” sahut Bara singkat dari seberang sana.

“Soal perawat baru Opa...”

Namun belum sempat Edwin melanjutkan ucapannya…

“Tuan Bara.”

Suara pria lain terdengar dari arah sana.

Bara langsung menoleh. Beberapa pria berbadan besar terlihat berdiri di depan pintu balkon VIP dengan wajah serius.

“Ada masalah?” tanya Bara dingin.

“Salah satu orang pelabuhan membuat keributan.”

Tatapan Bara langsung berubah tajam dalam sekejap. Aura santainya menghilang begitu saja.

“Aku segera kesana.” Pria itu kembali mengangkat ponselnya. “Sudah dulu. Aku ada urusan.”

“Bara...”

TUTTT

Sambungan telepon langsung terputus.

Edwin langsung menurunkan ponselnya perlahan sambil mendecak kesal. “Dasar menyebalkan…”

Pria itu mengusap pelan pelipisnya. Sudah hampir dua bulan Bara terus sibuk mengurus pekerjaan di luar rumah. Bahkan pria itu hampir tidak pernah tidur di mansion keluarga lagi.

Kalau bukan karena urusan bisnis gelap keluarga Alexander, mungkin Edwin sudah menyeret kakaknya pulang secara paksa.

Namun Edwin juga tahu, Bara memang sengaja menyibukkan dirinya sendiri. Sejak kondisi Alberto semakin memburuk, Bara justru semakin jarang pulang ke rumah.

Pria itu selalu terlihat santai dan suka bercanda. Tetapi sebenarnya Bara paling tidak bisa menghadapi kenyataan kalau orang yang mereka sayangi mulai melemah.

Edwin menghela napas panjang sebelum akhirnya berjalan keluar kamar. Saat melewati lorong lantai dua, langkahnya tiba-tiba terhenti.

Tatapan pria itu mengarah pada kursi roda kosong milik Alberto yang masih berada dekat balkon kamar.

Dan entah kenapa, bayangan wajah panik Rosline kembali muncul di kepalanya. Gadis itu memang aneh. Canggung, ceroboh, terlihat bodoh. Tapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Kakek Alberto terlihat tertawa lagi.

Malam semakin larut.

Rumah besar keluarga Alexander kembali sunyi seperti biasanya. Hanya suara langkah Edwin yang terdengar pelan di lorong lantai dua.

Pria itu berhenti sejenak di depan pintu kamar Alberto. Dari celah pintu yang sedikit terbuka, Edwin bisa melihat pria tua itu sudah tertidur di atas ranjang besarnya. Selimutnya bahkan hampir jatuh ke lantai.

Edwin menghela napas kecil lalu berjalan masuk perlahan. Dengan hati-hati pria itu membenarkan selimut Alberto tanpa membangunkannya.

Namun baru saja Edwin ingin pergi...

“Edwin…”

Langkah pria itu langsung terhenti.

“Iya, Opa.”

Ternyata Alberto belum tidur sepenuhnya. Tatapan pria tua itu terlihat samar menatap keluar jendela malam.

“Mana gadis kurus itu?”

Edwin diam beberapa detik.

“Dia sudah pulang.”

Alberto langsung mengerutkan wajah seperti anak kecil. “Kenapa dipulangkan?”

“Dia masih bekerja disini.”

"Hmm...” Pria tua itu terlihat tidak puas.

Edwin menatap kakeknya pelan. “Opa suka padanya?”

Alberto mendengus kecil. “Dia lucu.”

Jawaban sederhana itu justru membuat Edwin sedikit terdiam. Karena biasanya Alberto selalu mengusir semua orang baru yang mendekatinya.

Bahkan beberapa perawat profesional tidak pernah bertahan lebih dari tiga hari di rumah itu. Namun Rosline baru datang beberapa jam, dan pria tua itu sudah mencarinya.

“Besok dia datang lagi,” ucap Edwin akhirnya.

Wajah Alberto langsung sedikit berubah cerah. “Benarkah?”

“Iya.”

“Kalau begitu suruh dia buatkan aku teh besok.”

Edwin hampir tersenyum kecil melihat perubahan mood pria tua itu yang begitu cepat. “Baik. Opa.”

Tak lama kemudian Alberto benar-benar tertidur.

Edwin akhirnya keluar kamar dan berjalan menuju ruang kerjanya. Namun baru saja pria itu duduk di kursi…

Ponselnya kembali bergetar.

Kali ini sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.

“Maaf Tuan… ini Rosline.”

Tatapan Edwin langsung berhenti pada layar ponselnya.

Pesan lain kembali masuk.

“Saya hanya ingin memastikan… besok saya benar datang jam tujuh pagi?”

Kini Sudut bibir Edwin sedikit terangkat tipis. Gadis itu ternyata benar-benar gugup. Jari panjang Edwin bergerak pelan membalas pesan tersebut.

“Iya, jangan sampai terlambat.”

Di kamar kos kecilnya…

Rosline langsung membelalakkan mata saat membaca balasan singkat itu.

“Hufttt…”

Gadis itu langsung menjatuhkan tubuhnya ke kasur tipis sambil memeluk bantal kecilnya erat. Hari ini benar-benar terasa seperti mimpi.

Pagi tadi ia masih pegawai minimarket biasa. Sekarang, ia justru akan bekerja di rumah keluarga mafia paling berpengaruh di kota itu.

Dan yang paling membuat Rosline bingung. Kenapa setiap mengingat tatapan dingin Edwin, jantungnya malah berdetak aneh seperti ini?

1
Arditya
wiihh, jadi ini yang namanya victor. tangkap bara jangan kasih ampun😄
It's me Sky: terimakasih ka🙏
total 1 replies
Indri
Sukaaaa🤣
It's me Sky: wkwkwkkw/Proud/
total 1 replies
Keenan41
semangat thor
It's me Sky: Pasti dong, mksh dukungannya✌🏻/Hey/
total 1 replies
Hennyy exo
semangat rosaline🤭🤭
It's me Sky: Hihihihi, mksh/Smile/
total 1 replies
Hennyy exo
wow sampai sini alurnya bagus thor
It's me Sky: terimakasih bnykk/Smile/
total 1 replies
Amoera
semakin menegangkan thoor, lanjutkan dong😍
It's me Sky: hrs dong/Chuckle/
total 1 replies
Amoera
ceritanya sangat menarik, lanjutkan ceritanya thoor... semangat ratusan bab
It's me Sky: psti dong, mksh/Doge//Rose/
total 1 replies
Amoera
woww... ada cerita baru nih, wajib baca sih kayanya... semangat thoor😍
It's me Sky: iya dong, sni¹ mmpir/Hey/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!