NovelToon NovelToon
DIKIRIM KE PESANTREN, MALAH JATUH CINTA PADA ANAK KYAI

DIKIRIM KE PESANTREN, MALAH JATUH CINTA PADA ANAK KYAI

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:912
Nilai: 5
Nama Author: putra ilham

Reno Wijaya, CEO muda yang tampan, kaya, dan sangat dingin. Baginya, semua perempuan itu sama saja: matre dan cuma mengincar hartanya. Karena keras kepala dan selalu menolak dijodohkan, Ayah menghukumnya dengan mengirim Reno masuk ke Pesantren Al-Falah di pedalaman Kalimantan.

Awalnya Reno benci sekali, menganggap tempat ini neraka dan isinya orang kampung semua. Sikapnya masih sombong, angkuh, dan meremehkan semua orang. Sampai ia bertemu Zahrana, anak Kyai yang cantik sederhana, lembut, dan tulus. Untuk pertama kalinya, Reno bertemu perempuan yang sama sekali tidak peduli siapa dirinya dan apa kekayaannya.

Perlahan rasa benci berubah jadi penasaran, lalu tumbuh jadi cinta yang mengubah hidupnya total. Reno belajar menjadi rendah hati, berprinsip, dan setia. Meski kembali memimpin perusahaan besar dan dikelilingi banyak wanita cantik, hatinya tetap utuh hanya untuk Zahrana.

Dulu dikirim sebagai hukuman karena sifat buruknya, ternyata justru di sanalah Reno menemukan jati dirinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 5

Pagi itu, suara kentongan kayu kembali memecah keheningan malam tepat pukul tiga dini hari. Biasanya, suara ini adalah hal yang paling dibenci Reno, dianggapnya sebagai teror dan penyiksaan yang tak masuk akal. Namun pagi ini, saat suara itu terdengar bergema dari ujung ke ujung kawasan pesantren, bukannya menggerutu, membalikkan badan, atau menatap langit-langit dengan tatapan penuh amarah, Reno justru membuka matanya perlahan. Ia bangkit duduk dengan gerakan tenang, napasnya teratur, dan wajahnya tak lagi berkerut masam seperti bulan-bulan sebelumnya. Ada perbedaan besar yang terlihat jelas dari sorot matanya; tatapan yang tadinya dingin, tajam, dan penuh penghinaan, kini mulai berubah menjadi tatapan yang lebih lembut, lebih tenang, dan penuh perhatian.

Reno melangkah keluar kamar, berjalan menyusuri koridor kayu yang dingin. Udara pagi yang menusuk tulang tak lagi membuatnya menggerutu atau mengeluh. Ia menuju tempat wudhu, mengambil air sungai yang sedingin es, dan membasuh anggota badannya satu per satu dengan tertib. Dulu, ia melakukan ini semua dengan terburu-buru, asal jadi, dan penuh rasa terpaksa. Tapi hari ini, setiap gerakannya dilakukan dengan sadar dan perlahan. Ia melihat santri-santri lain yang sudah berbaris rapi menuju masjid, wajah mereka bersinar penuh semangat, dan untuk pertama kalinya Reno merasa dirinya adalah bagian dari kelompok ini, bukan lagi orang asing yang merasa paling tinggi dan paling berbeda.

Saat memasuki ruang shalat, Reno tak lagi memilih duduk di pojok paling belakang atau di tiang paling ujung agar tak terlihat dan tak disuruh-suruh. Kali ini, ia melangkah maju dan berdiri di barisan tengah, di antara santri-santri lain. Gerakannya mengikuti imam dengan khusyuk, meski bacaan dan gerakannya belum sempurna dan masih sering tertinggal, namun hatinya hadir sepenuhnya. Di dalam sujudnya yang panjang, pikirannya melayang pada kejadian beberapa hari yang lalu, saat ia terbaring lemah, saat ia merasakan ketulusan yang tak pernah ia temukan di mana pun. Dan nama Zahrana kembali terngiang di benaknya, bukan lagi sebagai objek rasa penasaran atau tantangan ego, melainkan sebagai sosok yang menjadi alasan ia mulai melihat dunia dengan kacamata baru.

Selepas shalat Subuh, biasanya Reno akan langsung kabur ke tempat sepi untuk merokok dan menghindari kegiatan kerja bakti. Kebiasaan itu sudah ia lakukan sejak hari pertama kedatangannya, menjadikan dirinya sosok yang paling malas dan paling sulit diatur. Namun pagi ini, Reno tak bergerak ke arah hutan atau semak-semak. Ia berdiri tegak di barisan santri yang akan berangkat ke ladang pertanian. Ketua kelompoknya, Dani, yang selama ini paling sering menghadapi sikap kasar dan penolakan Reno, menatapnya dengan tatapan tak percaya, seolah tak yakin apa yang dilihatnya ini nyata atau hanya mimpi semata.

“Mas Reno… ikut kerja bakti pagi ini?” tanya Dani ragu-ragu, takut kalau-kalau salah bicara dan membuat Reno marah lagi.

Reno mengangguk pelan, lalu tersenyum tipis, sebuah senyum yang jujur dan tulus, sesuatu yang hampir tak pernah Dani lihat sebelumnya. “Iya, Dani. Aku ikut. Ajari aku ya kalau aku salah atau belum bisa. Aku… aku mau belajar melakukan hal yang benar.”

Mulut Dani menganga kaget, matanya membulat tak percaya. Ia mengedipkan mata berkali-kali, memastikan sosok di hadapannya ini benar-benar Reno Wijaya yang terkenal angkuh dan sombong itu. “Be… benar, Mas? Maksud Mas Reno serius?”

“Serius. Aku minta maaf selama ini aku susah diatur dan kasar sama kalian. Aku sadar aku salah. Jadi mulai sekarang, biar aku perbaiki semuanya,” jawab Reno tegas, suaranya tenang namun penuh keyakinan.

Dani langsung tersenyum lebar hingga menampakkan giginya, wajahnya bersinar senang luar biasa. “Tidak apa-apa Mas! Semua orang pasti berubah kok kalau hatinya mau terbuka. Ayo kita berangkat, hari ini kita mau memanen jagung di ladang sebelah timur.”

Sepanjang perjalanan menuju ladang, Reno berjalan mengikuti Dani dan santri lainnya. Ia tak lagi berjalan dengan dagu diangkat tinggi, pandangan menatap ke bawah seolah semua orang di tanah ini adalah debu. Ia berjalan sejajar, sesekali mengajukan pertanyaan, mendengarkan cerita mereka, dan tertawa kecil mendengar candaan sederhana mereka. Hal ini sungguh mengagetkan seluruh santri yang ada di sana. Bagi mereka, perubahan Reno ini ibarat keajaiban yang turun dari langit. Sosok yang dulu dianggap masalah terbesar pesantren, kini perlahan berubah menjadi sosok yang mulai bisa diterima dan bahkan diharapkan kehadirannya.

Sampai di ladang, Reno mengambil sebilah sabit dan keranjang anyaman seperti yang lain. Tangan kasarnya yang penuh kapalan itu masih terasa kaku saat memegang gagang kayu yang kasar. Dulu, ia akan langsung melempar alat ini dengan jijik dan mengeluh sekeras-kerasnya. Tapi kali ini, ia menatap alat itu lekat-lekat, lalu mencoba mengikuti gerakan Dani. Ia memetik tongkol jagung satu per satu, memisahkannya dari batangnya yang kering. Keringat segera membasahi seluruh tubuhnya, menetes deras dari dahinya, masuk ke mata hingga perih, dan membasahi punggung bajunya. Otot-otot bahu dan lengannya terasa nyeri, pegal, dan terasa mau copot karena tak terbiasa melakukan gerakan berulang ini.

Namun, anehnya, rasa lelah dan sakit itu tak lagi membuatnya marah atau benci. Justru, ada rasa lain yang tumbuh di dalam dadanya. Rasa bangga. Rasa berharga. Dan rasa syukur yang perlahan muncul. Saat ia melihat tumpukan jagung yang makin tinggi hasil kerjanya dan teman-temannya, saat ia melihat hasil bumi yang tumbuh subur dari tanah yang diolah dengan keringat dan tenaga, Reno sadar betul satu hal: Bahwa apa yang didapatkan dengan usaha dan keringat sendiri rasanya jauh lebih nikmat, jauh lebih berharga, dan jauh lebih membanggakan daripada apa pun yang diterima begitu saja tanpa perjuangan.

Ia teringat hidupnya dulu. Segala yang ia mau, tinggal jentikkan jari, semuanya datang terhampar rapi di depannya. Uang melimpah, fasilitas lengkap, semua orang melayani. Ia merasa itu hebat, merasa itu kekuasaan. Tapi ternyata, itu semua justru membuatnya menjadi manusia yang lemah, kosong, dan tak tahu arti hidup. Di sini, dengan tangan kotor, baju berdebu, dan tubuh yang lelah, ia justru merasa jauh lebih hidup, jauh lebih nyata, dan jauh lebih punya harga diri.

Di tengah pekerjaan itu, pandangan Reno tak sengaja menangkap sosok yang sedang berjalan membawa nampan besar berisi air kelapa muda dan minuman segar dari kejauhan. Jantungnya langsung berdegup kencang, seolah ada arus listrik yang menyambar sekujur tubuhnya. Itu Zahrana.

Gadis itu berjalan melintasi jalan setapak di pinggir ladang, wajahnya teduh, senyumnya menghiasi bibirnya, menyapa satu per satu santri yang sedang bekerja. Ia tampak begitu cantik, begitu anggun, dan begitu bersinar di bawah terik matahari siang itu. Saat mendekat ke arah Reno, langkahnya melambat, dan tatapan matanya yang bening menatap Reno dari ujung kaki sampai kepala.

“Mas Reno? Wah, hari ini ikut kerja bakti ya?” tanya Zahrana dengan nada terkejut namun juga senang luar biasa. Matanya membulat indah, menatap Reno dengan pandangan bangga yang membuat dada Reno terasa mekar dan penuh.

Reno mengangguk, menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan, lalu tersenyum malu-malu, senyum yang membuat wajah tegasnya menjadi jauh lebih ramah dan muda. “Iya, Zahra. Aku… aku mau belajar. Aku mau melakukan apa yang kalian lakukan. Ternyata tidak seburuk yang aku bayangkan dulu. Justru rasanya enak, rasanya puas.”

Zahrana tersenyum makin lebar, senyum yang menjadi obat paling ampuh bagi segala rasa lelah Reno. “Bagus sekali. Lihat kan, Mas Reno sebenarnya bisa kok. Hanya saja dulu belum mau mencoba dan membuka hati. Nah, ini minum dulu ya. Air kelapa muda, segar sekali, langsung dipetik dari kebun belakang. Hilangkan dahaga dan lelahnya.”

Ia menuangkan air bening itu ke dalam gelas bambu, lalu menyerahkannya pada Reno. Saat tangan mereka tak sengaja bersentuhan sekilas, rasa dingin dan halus kulit tangan Zahrana membuat Reno menahan napas sejenak. Rasanya ada getaran halus yang menjalar dari ujung jarinya sampai ke ubun-ubun. Ia menerima gelas itu dengan hati-hati, seolah sedang memegang benda paling berharga di dunia ini.

“Terima kasih, Zahra. Kamu selalu ada saja di saat yang tepat,” ucap Reno pelan, matanya menatap dalam ke manik mata gadis itu.

“Memang tugas kita saling melengkapi dan menolong kan? Santri bekerja di ladang, perempuan yang menyiapkan minuman dan makanan. Semua saling butuh, semua punya bagian masing-masing. Tidak ada yang lebih tinggi, tidak ada yang lebih rendah,” jawab Zahrana santai, lalu melangkah pergi melayani santri lainnya dengan penuh keramahan.

Kalimat sederhana itu kembali meresap ke dalam hati Reno. Semua saling butuh. Semua punya bagian masing-masing. Di dunia bisnisnya dulu, konsepnya adalah berkuasa dan dikuasai, bos dan bawahan, memberi perintah dan menjalankan perintah. Ada yang di atas dan ada yang diinjak di bawah. Tapi di sini? Semua setara, semua bekerja sama, semua bahu-membahu demi kebaikan bersama.

Siang itu saat jam istirahat makan siang, perubahan lain kembali terlihat jelas pada Reno. Dulu, ia selalu mengambil porsi makan, duduk jauh di pojok, menjauh dari semua orang, makan dengan cepat dan kasar, tak mau bicara satu patah kata pun. Hari ini, Reno justru mencari tempat duduk di tengah kerumunan santri. Ia duduk bersila dengan sopan, mengambil nasi dan lauk seadanya, dan bahkan ia sendiri yang membagikan lauk ke teman-teman di sebelahnya.

“Silakan, ambil dulu ya. Jangan sungkan,” katanya ramah, membuat teman-temannya saling pandang dengan takjub namun senang.

Saat sedang makan, Kyai Ahmad datang berkeliling menengok santri. Beliau berjalan santai, menyapa satu per satu, dan saat sampai di dekat Reno, beliau berhenti sejenak. Beliau menatap Reno lekat-lekat, menatap perubahan raut wajah dan sikapnya yang begitu drastis dalam waktu singkat ini.

“Alhamdulillah… teranglah pelita itu,” gumam Kyai Ahmad pelan, senyum bahagia mengembang di wajah keriputnya. Beliau menepuk bahu Reno dengan lembut namun kuat. “Bagus sekali, Nak. Bukan hanya badanmu yang bekerja, tapi hatimu pun sudah mulai ikut bergerak. Inilah inti dari semuanya. Bekerja itu bukan cuma cari hasil, tapi membentuk jiwa supaya jadi kuat dan rendah hati.”

Reno menunduk hormat, merasa malu namun bangga mendengar pujian itu. “Terima kasih, Kyai. Semua ini karena bimbingan Bapak, dan karena… ada orang yang membuka mataku.” Reno tak berani menyebut nama Zahrana, tapi hatinya tahu betul siapa yang dimaksudnya.

“Tuhan mengirimkan guru dan pelajaran lewat jalan apa saja, Nak. Terkadang lewat nasihat, kadang lewat sakit, kadang lewat orang-orang yang ada di dekatmu. Belajarlah terus, jangan berhenti. Masih banyak yang harus kau ambil di sini, jauh lebih berharga daripada emas dan permata,” ujar Kyai Ahmad bijaksana, lalu melangkah pergi.

Sore itu, selepas kegiatan selesai, Reno tak langsung pulang ke kamar. Ia berdiri di pinggir sungai, menatap air yang mengalir tenang, membiarkan angin sore menyisir rambutnya. Ia merenungi kembali perjalanan hidupnya. Dulu, ia mengira hidupnya sempurna. Tapi hari ini ia sadar, hidupnya baru benar-benar mulai terasa hidup sejak ia menginjakkan kaki di sini. Dan sosok yang paling bertanggung jawab atas kebangkitan jiwanya ini adalah Zahrana.

Reno sadar, perasaannya pada gadis itu bukan lagi sekadar rasa kagum atau rasa terima kasih biasa. Ia sadar, setiap kali melihat Zahrana, jantungnya berdegup tak karuan, bahagianya meluap-luap, dan rindunya terasa menusuk jika lama tak berjumpa. Ia sadar, ia telah jatuh cinta. Jatuh cinta bukan pada wajah cantik atau tubuh indah semata, tapi jatuh cinta pada jiwanya, pada ketulusannya, pada kelembutannya, dan pada ketinggian akhlaknya. Ia jatuh cinta pada sosok wanita yang membuktikan kepadanya bahwa dunia ini tidak seburuk yang ia bayangkan, bahwa masih ada kebaikan murni, dan bahwa cinta sejati itu ada, bukan sekadar transaksi dagang.

Namun di sisi lain, Reno juga sadar betul siapa dirinya dulu dan siapa dirinya sekarang. Ia sadar, dulu ia adalah manusia yang buruk, sombong, dan penuh noda. Ia sadar, ia belum pantas berdiri di samping gadis setulus dan semulia Zahrana.

“Aku harus berubah lebih jauh lagi. Aku harus jadi orang yang jauh lebih baik. Aku harus layak untuknya. Aku harus menjadi pria yang bisa melindunginya, membahagiakannya, dan sejalan dengannya. Aku mau berjuang, demi diriku, demi Ayah, dan demi Zahrana,” tekadnya dalam hati, sebuah tekad yang membara kuat dan menjadi bahan bakar semangat barunya.

Hari itu menjadi tonggak sejarah baru bagi Reno Wijaya. Ia bukan lagi Reno Wijaya si CEO yang dingin dan angkuh. Ia mulai menjadi Reno yang baru, Reno yang mau belajar, Reno yang mau bersusah payah, dan Reno yang mulai mengenal arti cinta dan ketulusan. Dan kisah panjangnya di Pesantren Al-Falah ini baru saja sampai di awal bab yang paling indah. Masih banyak hal yang akan ia pelajari, masih banyak rintangan yang akan ia hadapi, dan masih banyak rasa yang akan ia rasakan. Tapi satu hal yang pasti: ia tak lagi benci tempat ini. Ia malah bersyukur pernah dikirim ke sini. Karena di sini, ia menemukan dirinya sendiri, dan ia menemukan wanita yang akan ia jaga dan cintai seumur hidupnya.

Saat langit mulai berubah jingga dan senja mulai turun, Reno melangkah kembali ke halaman pesantren dengan langkah yang ringan dan hati yang penuh harapan. Di kejauhan, ia melihat bayangan Zahrana yang sedang masuk ke rumahnya, dan ia tersenyum sendiri. Tunggu aku, Zahra. Aku akan berjuang sampai aku benar-benar pantas memilikimu.

1
Rima R P
katanya anak kiyai dan pesantren ko ga pake hijab ka di liatin cowo bukan nya buru" nyari hijab ini santuy aja 🤣
T28J
baiklah 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!