NovelToon NovelToon
LOOP ZERO

LOOP ZERO

Status: tamat
Genre:Action / Sistem / Fantasi / Tamat
Popularitas:792
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Vero terjebak dalam Time Loop. Dia adalah satu-satunya orang yang mengingat ledakan itu. Dia harus menemukan pelakunya, menjinakkan bom, dan menyelamatkan seisi kota Jakarta. Namun, takdir memiliki aturan main yang kejam: Setiap kali Vero gagal dan mati, waktu yang dimilikinya berkurang satu menit.
​Loop pertama: 60 menit.
Loop kedua: 59 menit.
Loop ketiga: 58 menit.
​Dengan waktu yang terus tergerus, Vero dipaksa belajar menjadi detektif, tentara, dan penyusup dalam hitungan jam yang berulang. Di tengah kepanikan massal dan teror psikologis, dia menyadari satu hal mengerikan: Pelakunya mungkin bukan orang asing, dan ledakan ini hanyalah permulaan.
​Ketika hitungan mundur mendekati nol, Vero tak hanya bertaruh nyawa—dia bertaruh pada keberadaan itu sendiri.
​Bisakah dia menghentikan kiamat kecil ini sebelum waktunya habis total?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: SANG PEMBAWA PESAN

07:04:05

Vero tidak berteriak. Dia tidak mengumpat. Dia bahkan tidak menoleh ke arah wanita tua di sebelahnya.

Begitu matanya terbuka, tubuhnya langsung bergerak. Seperti mesin yang sudah diprogram, dia melompat dari kursi, nyaris menabrak pelajar SMA di depannya, dan melangkah lebar menuju kursi Sarah.

Dia tidak punya waktu untuk drama "botol jatuh" atau "lagu Bento". Dia butuh jalan pintas. Cheat code.

Vero tiba di samping Sarah tepat saat wanita itu baru saja membuka laptopnya.

"Jangan menoleh," bisik Vero cepat, menunduk sedikit agar suaranya hanya didengar Sarah. "Tetap ketik artikelmu tentang 'Skandal Korupsi Dana Bansos'."

Jari Sarah membeku di atas keyboard. Matanya melirik tajam ke arah Vero. "Apa—"

"Dengarkan," potong Vero, suaranya mendesak. "Dalam satu menit, bosmu—kontak bernama 'Bos Redaksi'—akan menelepon marah-marah soal deadline. Namaku Vero. Aku terjebak dalam Time Loop. Kereta ini akan meledak pukul 8 pagi karena bom bunuh diri di Gerbong 4. Pelakunya pria berjaket hitam, tas ransel hijau."

Sarah menatapnya dengan mulut ternganga. "Kau orang gila yang—"

"Aku tahu kau skeptis. Aku tahu ini gila," cecar Vero. "Tapi aku tahu kau pakai kemeja flanel karena kau buru-buru tadi pagi dan belum sempat menyetrika blus kerjamu. Aku tahu kau baru putus dari pacarmu seminggu lalu karena kau masih pakai cincin di jari manis tapi ada bekas tan di jari tengahmu." (Vero mengarang bagian cincin ini berdasarkan observasi kilat di loop sebelumnya, tebakan jitu alias Cold Reading yang dia pelajari dari keputusasaan).

Sarah terdiam. Tebakan itu meleset sedikit soal pacar, tapi soal blus kerja itu tepat sasaran.

"Dan sekarang," Vero menunjuk saku kemeja Sarah. "Ponselmu."

Bzzzt. Bzzzt.

Sarah mengambil ponselnya dengan tangan gemetar.

Layar menyala: BOS REDAKSI.

Dia menatap Vero dengan horor. "Siapa kau?"

"Aku sudah bilang. Aku orang mati yang hidup lagi. Kita tidak punya waktu," Vero melirik jam tangannya. 07:05. "Aku butuh bantuanmu. Di loop sebelumnya kita gagal karena aku ketahuan memotret pelaku. Dia paranoid. Dia punya pemicu manual."

Sarah mematikan panggilan bosnya tanpa menjawab. Dia menutup laptop, naluri jurnalisnya mengambil alih sepenuhnya. Rasa takut itu ada, tapi rasa ingin tahu lebih besar.

"Oke," kata Sarah, suaranya bergetar tapi tegas. "Anggap aku percaya. Apa rencananya?"

"Aku harus melihat jenis bomnya," kata Vero. "Aku perlu tahu kabel mana yang harus dipotong, atau setidaknya model pemicunya. Tapi aku tidak bisa mendekat tanpa memicu kecurigaannya. Dia mengenali wajahku dari loop... ah, tunggu. Di loop ini dia belum pernah melihatku."

Vero sadar. Di timeline ini, dia belum menyerang pria itu. Dia belum berteriak. Bagi si Pria Jaket Hitam, Vero hanyalah penumpang asing biasa.

"Aku bisa mendekat," gumam Vero. "Tapi aku butuh cara untuk melihat isi tas itu tanpa membuka ritsletingnya secara kasar."

Sarah merogoh tas selempangnya. Dia mengeluarkan sebuah cermin rias kecil berbentuk bulat.

"Pakai ini," katanya, menyodorkan cermin itu. "Teknik dasar investigasi. Jangan lihat target langsung. Lihat pantulannya."

Vero mengambil cermin itu. "Cerdas."

"Hati-hati," pesan Sarah. "Kalau kau mati..."

"...kau akan lupa lagi. Aku tahu. Tunggu di sini. Kalau aku berhasil, aku akan kembali dengan deskripsi bomnya. Kau cari cara jinakkannya di internet."

Vero berbalik, menyusup ke kerumunan menuju Gerbong 4.

Jantungnya berdegup kencang, tapi langkahnya stabil. Dia melewati sambungan gerbong. Hawa di Gerbong 4 terasa lebih dingin, atau mungkin itu hanya perasaannya saja.

Pria Jaket Hitam itu ada di sana. Posisi yang sama. Tas hijau di lantai, di antara kakinya. Tangannya di dalam saku jaket—memegang pemicu.

Vero tidak berhenti. Dia berjalan melewatinya dengan santai, berpura-pura mencari pegangan tangan yang kosong di dekat pintu seberang. Dia berdiri membelakangi pria itu, jaraknya hanya sekitar satu meter.

Perlahan, sangat perlahan, Vero mengeluarkan cermin rias Sarah dari saku celananya. Dia menggenggamnya di telapak tangan, mengarahkannya ke bawah, mengatur sudut pantulan.

Gambar di cermin itu kecil dan bergoyang, tapi jelas.

Tas kanvas hijau itu sedikit terbuka di bagian atas—mungkin karena si pelaku sering mengeceknya.

Vero menyipitkan mata, fokus pada pantulan di cermin kecil itu.

Dia melihat bungkusan-bungkusan yang dilakban cokelat. C-4.

Dia melihat sebuah kotak sirkuit kecil dengan layar digital merah.

Dan dia melihat jalinan kabel. Banyak sekali kabel.

Merah. Biru. Kuning. Hitam.

Semuanya terhubung ke sebuah detonator pusat yang terlihat seperti ponsel modifikasi.

Rumit, batin Vero. Ini bukan bom rakitan amatir. Ini rakitan pro.

Tiba-tiba, kereta berguncang keras saat mengerem sedikit.

Tas hijau itu miring. Isinya bergeser.

Dari celah tas yang miring itu, Vero melihat sesuatu yang lain. Di bawah tumpukan C-4, ada sebuah tabung kaca kecil berisi cairan bening.

Cairan?

Bom kimia? Atau akselerator?

Vero terpaku pada detail itu, mencoba memahaminya. Dia terlalu fokus pada cermin.

"Apa yang kau lihat?"

Suara itu terdengar tepat di telinga Vero. Dingin. Datar.

Vero membeku.

Dia menaikkan pandangannya dari cermin. Di pantulan kaca jendela kereta di depannya, dia melihat Pria Jaket Hitam itu sudah berdiri tepat di belakang punggungnya.

Pria itu tidak melihat ke arah Vero. Dia melihat ke arah tangan Vero yang memegang cermin. Sudut cermin itu mengarah tepat ke selangkangan pria itu—ke arah tasnya.

"Suka mengintip, ya?" bisik pria itu.

Vero memutar tubuh, siap memukul. Tapi dia kalah cepat.

Tangan kiri pria itu—tangan yang tidak memegang pemicu—bergerak secepat kilat. Sebuah pisau lipat kecil menancap di perut Vero.

"Ukh!"

Vero terkesiap. Rasa sakit yang tajam dan panas menyebar di perutnya.

Pria Jaket Hitam itu mendekap tubuh Vero, seolah-olah menolong penumpang yang sakit, menutupi pisau itu dengan tubuhnya. Orang-orang di sekitar mereka tidak sadar apa yang terjadi.

"Diam," bisik pria itu di telinga Vero. "Atau aku tekan tombolnya sekarang. Kita semua mati. Termasuk ibu-ibu di sana. Termasuk anak sekolah itu."

Vero merasakan darah hangat merembes membasahi kemejanya. Napasnya mulai pendek.

"Kau... sakit jiwa..." desis Vero.

"Waktunya belum tiba," kata pria itu tenang. "Masih 45 menit lagi. Jangan rusak momenku."

Pria itu mencabut pisaunya dengan gerakan menyentak, lalu mendorong Vero ke lantai.

Vero jatuh berlutut. Darah mengucur deras.

Penumpang mulai berteriak.

"Darah! Ada yang tertusuk!"

"Ya ampun!"

Vero terbatuk, darah keluar dari mulutnya. Pandangannya mulai kabur. Dia melihat Sarah berlari dari gerbong sebelah, menerobos kerumunan dengan wajah panik.

"Vero!" teriak Sarah.

Vero menatap Sarah. Dia ingin bicara. Dia ingin memberitahu tentang tabung cairan itu. Tentang kabel warna-warni itu.

Tapi suaranya hilang. Dingin mulai merayap dari ujung kaki ke kepala.

Vero melihat jam tangannya untuk terakhir kali di loop ini.

07:18:00

Dia tidak mati karena ledakan. Dia mati karena kehabisan darah.

Pria Jaket Hitam itu masih berdiri di sana, tersenyum tipis, memegang saku jaketnya, menahan siapapun yang mencoba mendekat dengan ancaman tatapan matanya.

Kesadaran Vero memudar. Gelap.

...****************...

...Bersambung.......

...Terima kasih telah membaca📖...

...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...

...****************...

1
yumin kwan
keren.... serasa menonton film. ga kebayang mengulang waktu terus, matinya kena bom pula. Terima kasih Kak author....
Ai Emy Ningrum
Vero yg mati berkali kali..aku yg capek 😅😅 time loop kek di pilem Hollywood...
about a time,project almanac ,edge of tomorrow,the butterfly effect,until dawn dsb...time loop sendiri didunia nyata mustahil terjadi ..🤔🤔🤔
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
masih loading kejadian yg menimpa vero
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
mati berulang kali ver
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!