(Tokoh utama Pria+Wanita)
Raka Pradipta adalah seorang suami yang selama menikah hanya menjadi alat penghasil uang bagi keluarga istrinya, ia di paksa membiayai kehidupan seluruh keluarga istrinya. Tapi karena rasa cinta yang sangat besar Raka menjalani kehidupannya dengan sepenuh hati tanpa mengeluh sedikitpun. Namun, ketika sebuah kenyataan pahit menghantamnya, rasa sayang yang selama ini hanya ia simpan untuk istrinya lenyap seketika ketika istrinya lebih memilih berkhianat dengan seorang pria yang lebih segalanya darinya, Raka pun di paksa menceraikan sang istri lalu ia di usir tanpa hormat oleh keluarga istrinya itu.
Namun, tak ada yang menyangka jika Raka adalah seorang anak dari penguasa jaringan bisnis di negaranya, dan apakah identitas aslinya itu akan di ketahui keluarga mantan istrinya?
ayo simak cerita baru author yang satu ini, semoga para reader suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Sebuah kebetulan
Suara raungan dua Ducati itu perlahan mereda ketika Raka membelokkan motornya ke sebuah jalan yang jauh lebih ramai, lampu-lampu kota mulai menyala menjelang sore, memantulkan warna keemasan pada kaca gedung dan deretan kendaraan yang memenuhi jalanan.
Beberapa menit kemudian, laju motor Raka melambat di depan sebuah kafe bergaya industrial yang ada di sudut jalan. Tempat itu tampak lebih modern dibanding beberapa tahun lalu, tetapi papan nama dan suasananya masih terasa sama.
Raka mematikan mesin motornya perlahan lalu melepas helm, tatapannya tertuju pada bangunan itu cukup lama, seolah sedang menarik kembali potongan masa lalu yang pernah tertinggal.
“Masih sama rupanya,” gumamnya pelan.
Jack yang turun dari motor di belakang ikut memperhatikan sekitar. “Tempat lama Tuan muda?” tanyanya hati-hati.
Raka mengangguk kecil. “Dulu aku sering ke sini sama teman-teman ku. Kalau sedang bosan, biasanya kita disini hingga larut malam.”
Dua pengawal yang mengikuti dari belakang segera mengambil posisi tidak terlalu jauh, menjaga jarak tanpa mengganggu.
Raka melangkah masuk ke dalam kafe dengan tenang, aroma kopi dan musik pelan langsung menyambut, suasana ramai tetapi tidak terlalu bising. Beberapa pelanggan sibuk dengan obrolan masing-masing, sementara pelayan bergerak mondar-mandir membawa pesanan.
Namun langkah Raka mendadak berhenti, di sudut dekat jendela, seseorang yang terlalu familiar tertangkap oleh matanya.
Rasti.
Wanita itu duduk dengan pakaian yang jauh lebih mencolok dibanding biasanya, tertawa kecil sambil memainkan sedotan minuman di tangannya. Di depannya duduk seorang pria muda berpakaian mahal yang terlihat santai sambil bersandar di kursi.
Tangan pria itu sesekali menyentuh jemari Rasti tanpa penolakan sedikit pun, Raka hanya berdiri dalam diam beberapa detik.
Ekspresinya tidak berubah, tidak ada lagi amarah yang seperti malam sebelumnya. Yang tersisa justru ketenangan yang membuat Jack tanpa sadar memperhatikan wajah tuan mudanya lebih lama.
Tatapan itu terlalu dingin dan datar, membuat siapa saja yang menatapnya akan enggan bertatapan secara langsung.
Jack mengikuti arah pandangan Raka dan rahangnya langsung mengeras ketika menyadari siapa yang duduk di sana.
“Kurang ajar...” gumamnya pelan.
Belum sempat keduanya memutuskan bergerak, Rasti lebih dulu melihat keberadaan mereka, senyum di wajah wanita itu langsung memudar.
Namun alih-alih panik atau merasa bersalah, ekspresinya justru berubah kesal, ia berdiri cepat lalu berjalan mendekat dengan langkah tergesa.
“Kamu?” ucapnya tajam sambil menyilangkan tangan di dada. “Ngapain ngikutin aku sampai sini, Mas?”
Raka hanya menatapnya tenang. “Aku tidak mengikuti siapapun, termasuk kamu,” jawabnya datar.
Rasti mendecak pelan. “Jangan bohong deh, kamu datang ke rumah marah-marah, terus sekarang muncul di sini. Kamu pikir aku nggak punya kehidupan?”
Pria yang duduk bersama Rasti ikut berdiri lalu berjalan mendekat dengan ekspresi meremehkan.
“Oh, ini suami miskin mu itu?” tanyanya sambil tersenyum tipis, tatapannya naik turun mengamati pakaian sederhana Raka.
Jack langsung melangkah satu langkah maju, wajahnya berubah dingin. “Tutup mulutmu,” ucapnya rendah.
Pria itu mengangkat alis. “Wah, bawa bodyguard sekarang?” katanya sambil tertawa kecil. “Padahal katanya hanya kerja serabutan.”
Tatapan Jack mengeras, jemarinya mengepal refleks.
Rasti malah mendengus kesal sambil menunjuk Raka. “Mas, aku capek tau sama sikap kamu. Bukannya introspeksi diri malah bikin drama kayak gini. Aku juga berhak cari kebahagiaan.”
Raka tetap diam, tatapannya bahkan tidak lagi menunjukkan kemarahan atau rasa kecewa, hal itu justru membuat Rasti semakin tidak nyaman.
“Kenapa diem?” lanjut Rasti tajam. “Kamu pikir dengan pasang muka kayak gitu aku bakal merasa bersalah?”
Pria di sampingnya terkekeh kecil sambil menyandarkan tangan di bahu kursi. “Sudahlah, sayang. Orang kayak begini nanti juga ngemis-ngemis minta balikan.”
Kalimat itu membuat Jack bergerak maju lagi, kali ini lebih cepat. “Tuan muda...” ucapnya dengan rahang mengeras.
Namun sebelum situasi berubah, tangan Raka terangkat pelan menghentikannya. “Sudah,” ucap Raka singkat.
Jack menoleh, jelas masih menahan kesal.
Raka mengalihkan pandangan kembali pada Rasti dan pria di sebelahnya, ekspresinya tetap datar.
“Aku tidak datang untuk bertengkar,” katanya pelan. “Lanjutkan saja urusan kalian.”
Rasti terlihat sedikit terpancing oleh ketenangan itu.
“Jangan sok deh, Mas,” katanya dengan nada meninggi. “Kalau kamu marah, bilang aja marah. Jangan pura-pura hebat kaya gitu.”
Namun Raka hanya memasukkan kedua tangannya ke saku jaket sambil memandang mereka beberapa detik.
Tatapannya singkat, dingin, dan terlalu asing. Seolah ia tak mengenal Rasti.
“Kamu membaca pesanku kan, aku sudah mengurus perceraian kita, dan ingat kamu sudah tidak ada hubungan apapun lagi denganku,” ucapnya nyaris tanpa nada.
Entah kenapa mendengar itu Rasti merasa gelisah, dan mulutnya seperti terkunci dan tak bisa mengatakan apapun untuk membalas perkataan Raka itu.
Di sisi lain, Jack berdiri sambil mengepalkan tangan kuat-kuat, jelas sulit menerima bagaimana seseorang masih bisa berbicara seperti itu tanpa mengetahui siapa pria yang sedang mereka remehkan sebenarnya.
Sementara Raka tetap tidak bereaksi, membiarkan keduanya terus berbicara tanpa terlihat sedikit pun tertarik untuk membela diri.
Suasana di sekitar meja dekat jendela itu mendadak terasa aneh, musik pelan yang sejak tadi terdengar samar seolah menghilang di tengah ketegangan yang tidak terlihat itu. Beberapa orang mulai melirik sekilas, penasaran dengan percakapan yang tampak semakin memanas.
Rasti berdiri mematung selama beberapa detik, kalimat Raka tadi terus terngiang di kepalanya, dan anehnya jauh lebih menusuk dibanding bentakan apa pun yang pernah ia bayangkan.
Pria di sampingnya tampak mendecak pelan sebelum melangkah lebih dekat dengan ekspresi meremehkan. Tangannya masuk ke saku celana sambil menatap Raka dari atas ke bawah.
“Perceraian?” ulangnya sambil tertawa kecil. “Bagus dong, jadi lo nggak perlu pura-pura jadi suami lagi. Jujur aja, gue heran juga kenapa Rasti bisa tahan hidup sama orang kayak lo.”
Tatapan Jack berubah semakin tajam, rahangnya mengeras jelas menahan diri. Namun Raka tetap berdiri tanpa perubahan ekspresi sedikit pun.
Pria itu kembali tersenyum sinis. “Lagipula, mau ngasih apa lo ke dia? Hidup pas-pasan, kerja nggak jelas, penampilan kayak begini. Kalau gue jadi lo sih malu.”
Rasti yang sejak tadi diam akhirnya ikut bersuara, meski nada suaranya tidak setajam sebelumnya.
“Mas... mungkin memang ini jalan terbaik,” katanya sambil menghindari tatapan Raka. “Aku capek hidup susah terus. Aku juga pengen hidup normal, pengen punya masa depan yang jelas kayak orang-orang.”
Raka memperhatikannya beberapa saat tanpa menyela tidak ada perubahan pada wajahnya, hanya keheningan yang membuat siapa pun sulit membaca isi pikirannya.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia mengangguk kecil. “Kalau itu keputusanmu,” ucapnya pelan, “ya sudah.”
Jawaban sederhana itu justru membuat Rasti semakin tidak nyaman, tidak ada amarah, tidak ada usaha untuk menahan, bahkan tidak ada pertanyaan kenapa, seolah pria di depannya benar-benar telah selesai dengan dirinya.
Pria di sebelah Rasti terkekeh pelan lalu merangkul bahu wanita itu dengan sengaja.
“Nah gitu dong, sadar diri,” katanya santai. “Tenang aja, mulai sekarang Rasti sama gue. Nggak perlu hidup susah lagi.”
Jack mengepalkan tangan lebih keras sampai urat di lehernya sedikit menegang, dua pengawal di dekat pintu bahkan mulai bergerak waspada, membaca perubahan situasi.
Namun Raka hanya melirik singkat ke arah tangan pria itu di bahu Rasti sebelum kembali menatap wajah mantan istrinya.
Tatapannya tetap tenang, tetapi terasa sangat jauh.
“Ada satu hal lagi,” ucapnya datar.
Rasti mengernyit kecil. “Setelah surat perceraian selesai, semua urusan keuangan yang pernah kubantu juga selesai,” lanjut Raka tanpa emosi. “Tagihan rumah, kebutuhan bulanan, cicilan, dan biaya sekolah Doni akan aku urus langsung tanpa melalui siapa pun.”
Wajah Rasti berubah sedikit. “Maksud mu apa, Mas?” tanyanya cepat.
“Aku tidak akan lagi mengirim uang ke rumah itu,” jawab Raka tenang. “Kalau Doni butuh sesuatu, dia bisa menghubungiku sendiri.”
Kalimat itu seperti membuat sesuatu tersangkut di tenggorokan Rasti, untuk pertama kalinya sejak tadi, ekspresinya berubah gelisah.
“Mas, kamu nggak bisa seenaknya begitu, dong!” katanya dengan nada meninggi. “Mama gimana? Rumah gimana?”
Raka menatapnya tanpa berkedip. “Bukankah kalian bilang rumah itu tidak membutuhkan laki-laki sepertiku?” tanyanya tenang. “Jadi seharusnya kalian baik-baik saja.”
Rasti langsung terdiam.
Sementara pria di sampingnya kembali mendecak kesal. “Hal kecil aja dibesar-besarin,” katanya sambil mencibir. “Paling juga duit receh.”
Sudut bibir Jack bergerak kecil, kali ini bukan marah melainkan seperti sedang menahan sesuatu.
Raka justru tersenyum tipis, tipis sekali sampai nyaris tak terlihat. “Kalau begitu bagus,” ucapnya santai. “Berarti kamu bisa bantu semuanya.”
Pria itu langsung berhenti bicara sesaat, dan untuk pertama kalinya sejak tadi, suasana terasa sedikit berbalik.
kite cuhi2 waktu bace
masih sj menyalahkan raka
pdhal! sjk nikah raka jd sapi perah di kel rasti, tp msh tetep diam sj
Hati hati Doni mending ditabung saja, kalau perlu deposito kan.
hati 2 lo ilang, lagian raka bukannya kasih ATM sj lbh simpel ya, ni dion pergi2 bw uang banyak lo, takutnya di smbil. nenek. lampir
siap2 ya farhan km nanggung hutang jel rasti🤣🤣🤣puyeng puyeng deck km