NovelToon NovelToon
Di Balik Kilau Mutiara

Di Balik Kilau Mutiara

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kehidupan di Kantor
Popularitas:896
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Di bawah kilau kemewahan, Sherina Mutiara tetap berpijak sederhana, mengubur rasa cinta pada Darren Mahendra yang kandas oleh perbedaan. Ia lalu meniti jalan hidupnya sendiri di Mutiara Group, tempat ia bertemu Arsya Abrisam—pemuda jenius yang melepas jas dokter akibat luka masa lalu, dingin dan tertutup. Di antara tantangan kerja dan konflik perbedaan pendapat, benih rasa tumbuh di antara mereka, menyembuhkan luka dan mengajarkan arti bangkit. Namun, takdir membawa Darren Mahendra kembali dengan penyesalan, sementara Arsya diuji oleh pilihan tentang menegakkan keadilan atau tetap di tempat. Di persimpangan jalan, Sherina juga harus memilih: kembali pada mimpi lama, atau melangkah maju bersama sosok yang mengajarkannya bahwa cinta sejati adalah tentang tumbuh, bersinar, dan berani menjadi diri sendiri. Sebuah kisah tentang hati yang belajar memilih, dan jiwa yang menemukan cahayanya di balik luka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Pagi itu, mentari baru saja mengangkasa separuh langit, memancarkan cahaya keemasan yang berkilauan di permukaan kaca-kaca gedung pencakar langit Mutiara Group. Bangunan megah itu berdiri kokoh di tengah jantung kota, bagai tiang utama yang menopang perputaran roda ekonomi di kawasan itu. Kaca-kaca jendelanya memantulkan bayangan awan putih yang berarak pelan, seolah turut menyaksikan setiap detik perjalanan hidup orang-orang yang beraktivitas di dalamnya.

Di dalam lobi utama yang luas dan dingin, aroma wangi penyejuk ruangan bercampur dengan wangi kesibukan dan profesionalisme, menciptakan suasana yang tegas namun tertata rapi.

Di sudut dekat pintu masuk, berdiri sosok Sherina Mutiara. Penampilannya pagi itu sangat sederhana namun rapi dan berwibawa. Ia mengenakan kemeja kerja berwarna putih bersih, dilengkapi dengan blazer berwarna biru dongker yang pas di badan, serta rok selutut berwarna senada. Rambut hitam panjangnya diikat rapi ke belakang, memperlihatkan wajah yang tenang namun menyimpan rasa gugup yang tersembunyi. Tidak ada perhiasan berkilauan yang ia kenakan, hanya jam tangan sederhana dan senyum tulus yang selalu menghiasi bibirnya.

Ia sengaja memilih pakaian yang persis sama dengan seragam standar karyawan baru, menyingkirkan segala sesuatu yang bisa menjadi pembeda atau tanda keistimewaan. Di dalam tas kerjanya yang berwarna cokelat polos, tersimpan berkas-berkas administrasi dan catatan kecil yang telah ia persiapkan sejak malam sebelumnya.

Hati Sherina berdebar kencang, bukan karena takut, melainkan karena rasa hormat dan kesungguhan yang mendalam. Gedung ini adalah karya besar ayahnya, tempat di mana mimpi-mimpi ayahnya dibangun dan diwujudkan.

Namun hari ini, ia tidak melangkah masuk ke sini sebagai putri pemilik perusahaan. Ia datang sebagai Sherina Mutiara, staf baru yang siap bekerja keras, belajar, dan membuktikan kemampuannya setara dengan siapa pun juga.

Dengan napas panjang untuk menenangkan diri, Sherina melangkah masuk melewati pintu putar kaca. Suasana di dalam gedung itu begitu hidup dan bergerak cepat. Orang-orang berjalan hilir mudik dengan langkah tegap dan wajah yang fokus, tangan mereka membawa berkas-berkas tebal atau perangkat gawai yang sibuk berbunyi.

Suara langkah kaki bergema berirama di atas lantai marmer yang mengkilap, bercampur dengan suara deru lift yang bergerak naik turun dan suara percakapan singkat yang padat. Di sana terasa semangat kerja yang tinggi, disiplin yang ketat, dan budaya profesionalisme yang sudah tertanam kuat sejak lama.

Bagi Sherina, suasana ini bagai dunia baru yang terbuka lebar, berbeda jauh dengan suasana tenang di perpustakaan kampus atau keheningan taman tempat ia biasa melamun dulu. Di sini, waktu terasa begitu berharga, setiap detiknya seolah membawa tanggung jawab besar.

Ia berjalan menuju meja resepsionis, menyampaikan niat kedatangannya dengan sopan dan ramah. Petugas di sana menyambutnya dengan senyum profesional, lalu mengantarnya menuju ruang divisi tempat ia akan mengabdikan tenaganya mulai hari ini.

Sepanjang perjalanan menuju ruangan kerjanya di lantai tengah gedung, Sherina mengamati segala hal dengan saksama. Ia melihat papan nama departemen yang berbaris rapi, ruang-ruang rapat yang kaca-kacanya tembus pandang tempat orang-orang berdiskusi dengan serius, hingga rak-rak besar berisi dokumen dan sejarah perusahaan yang tersusun rapi.

Di setiap sudut, ia merasakan jejak perjuangan ayahnya yang tertanam dalam tatanan sistem yang kokoh ini. Rasa bangga kembali menyelinap di hatinya, namun segera ia tepis pelan. Ia harus tetap rendah hati, tetap menjadi bagian kecil dari roda besar ini, hingga waktunya tiba nanti.

Sampailah ia di ruang Divisi Pengembangan Produk. Ruangan itu cukup luas, dipenuhi deretan meja kerja yang berhadapan satu sama lain, dipisahkan oleh sekat-sekat rendah. Di dinding-dindingnya menempel peta pasar, diagram alur kerja, serta tulisan-tulisan motivasi yang mengingatkan akan pentingnya inovasi dan kualitas. Jendela-jendela besar di satu sisi ruangan membiarkan cahaya matahari pagi masuk melimpah, menerangi berkas-berkas, buku catatan, dan layar komputer yang sedang berkedip-kedip.

Udara di ruangan itu terasa sejuk namun penuh dengan energi yang panas. Suara ketikan keyboard terdengar terus-menerus, sesekali terputus oleh suara diskusi kecil antarteman kerja atau suara telepon yang berdering. Semuanya bergerak serentak, seperti mesin raksasa yang berjalan presisi.

Seorang wanita paruh baya dengan penampilan tegas namun ramah menyambutnya. Dia adalah Ratna, Asisten kepala divisi yang akan menjadi pembimbingnya. Wanita itu menatap Sherina dari ujung kaki hingga kepala, menilai penampilan dan sikap gadis baru itu dengan pandangan yang tajam dan berpengalaman. Tidak ada sedikit pun keraguan atau perlakuan istimewa dalam tatapan itu. Bagi Ratna, Sherina hanyalah satu dari sekian banyak lulusan baru yang datang mencari pengalaman dan berkarier.

"Selamat pagi, Saudari Sherina. Selamat bergabung di Divisi Pengembangan Produk," ucap Ratna dengan suara lantang dan jelas, berjabat tangan dengan tegas.

"Di sini kami bekerja dengan sangat ketat. Ketepatan waktu, ketelitian, dan kreativitas adalah kunci utama. Kami bertugas menciptakan hal-hal baru, memperbaiki apa yang sudah ada, dan memastikan produk-produk Mutiara Group selalu menjadi yang terbaik dan paling dibutuhkan masyarakat. Jangan harap ada kemudahan atau pekerjaan ringan di sini. Semuanya harus dikerjakan dengan usaha maksimal."

Sherina mengangguk hormat, matanya bersinar penuh semangat. "Siap, Ibu. Saya siap belajar dan bekerja sebaik mungkin. Saya sadar saya masih banyak kekurangan dan kurang pengalaman, namun saya berjanji akan memberikan yang terbaik, sama seperti rekan-rekan yang lain."

Jawaban sederhana dan rendah hati itu tampaknya membuat Ratna sedikit tersenyum tipis. Ia kemudian mengantar Sherina ke sebuah meja kerja kosong di sudut ruangan, berdekatan dengan beberapa karyawan muda lainnya. Meja itu sederhana, hanya ada satu unit komputer, tumpukan berkas pengantar, dan alat tulis lengkap. Di sanalah, mulai detik itu, Sherina akan menuliskan babak baru perjuangannya.

Rekan-rekan kerja di sekitarnya menyambutnya dengan ramah namun tetap sibuk dengan tugas masing-masing. Ada yang menyapanya sekilas, ada yang memperkenalkan diri singkat, namun semuanya berjalan dalam irama kerja yang cepat.

Sherina duduk di kursinya, menghela napas panjang, lalu segera menyalakan komputernya. Ia mulai membaca berkas-berkas yang ada di hadapannya, mencoba memahami struktur kerja, sejarah produk yang telah dihasilkan, serta rencana-rencana besar yang sedang disusun divisi ini untuk masa depan.

Tugas-tugas awal yang diberikan kepadanya memang sederhana namun mendetail. Sherina mulai mengumpulkan data pasar, merangkum hasil survei konsumen, hingga memeriksa kelengkapan dokumen.

Pekerjaan itu membutuhkan ketelitian tinggi dan kesabaran yang besar. Banyak orang mungkin menganggap tugas-tugas ini remeh atau membosankan, namun bagi Sherina, setiap lembar kertas, setiap angka, dan setiap catatan adalah pintu gerbang menuju pemahaman yang lebih dalam. Ia mengerjakannya dengan sungguh-sungguh, teliti, dan cermat. Ia tidak segan-segan bertanya jika ada hal yang belum dimengerti, dan selalu berterima kasih atas setiap petunjuk yang diterimanya.

Di sela-sela waktu istirahat, rekan-rekan kerjanya mengajaknya mengobrol. Di sana, di ruang rehat yang sederhana, Sherina mendengarkan cerita mereka tentang perjuangan, tentang lelahnya bekerja, tentang ambisi dan harapan mereka.

Tidak ada satu pun dari mereka yang tahu siapa ayah Sherina. Mereka menganggapnya sebagai gadis biasa yang rajin, cerdas, dan sopan. Ada yang menyarankan cara kerja yang lebih efisien, ada yang berbagi trik mengatasi tekanan pekerjaan. Sherina menerima semuanya dengan hati terbuka, merasa bahagia karena akhirnya ia bisa benar-benar dianggap setara, dinilai dari sikap dan kerajinannya, bukan dari nama besar yang melekat di belakang namanya.

Hari itu berlalu dengan sangat cepat. Sinar matahari yang tadinya terang benderang kini mulai meredup, berganti menjadi rona jingga keemasan senja yang menerobos masuk lewat jendela kantor. Kesibukan mulai mereda, suara ketikan keyboard semakin jarang terdengar, dan para karyawan mulai membereskan meja kerja masing-masing. Sherina menutup komputernya dengan rasa puas yang mendalam. Tubuhnya terasa lelah, matanya sedikit perih menatap layar seharian, namun hatinya terasa ringan dan bahagia.

Ia melangkah keluar dari ruangan itu dengan langkah yang lebih tegap dibanding saat ia masuk pagi tadi. Di sepanjang lorong yang kini mulai sepi, di antara deretan ruangan yang pintunya mulai ditutup, Sherina merasa telah memenangkan satu pertempuran kecil dalam hatinya. Ia telah berhasil masuk ke dunia kerja, telah beradaptasi dengan hiruk-pikuk dan disiplin yang tinggi, dan yang paling penting, ia telah berhasil menempatkan dirinya pada posisi yang wajar dan sederhana.

Di Divisi Pengembangan Produk ini, di tengah tumpukan data dan gagasan baru, Sherina tahu persis di sinilah tempatnya sekarang. Di sinilah ia akan tumbuh, belajar, dan perlahan namun pasti, membuktikan kepada semua orang terutama kepada dirinya sendiri, bahwa ia mampu bersinar dengan cahayanya sendiri, di bawah naungan nama besar ayahnya, namun berdiri dengan kekuatan kakinya sendiri.

Langit senja di luar sana semakin indah warnanya, seolah ikut merayakan langkah pertama yang berani dan tegas itu.

1
Elisabeth Ratna Susanti
like plus iklan 👍
Elisabeth Ratna Susanti
suka yang tegas dan berani seperti ini
Elisabeth Ratna Susanti
teduh banget pastinya kalau kita menatap wajahnya 🥰
Elisabeth Ratna Susanti
top banget👍
Elisabeth Ratna Susanti
aku suka bau tanah yang basah terkena hujan.....rasanya membawa damai 🥰 aku suka hujan🥰
Rocean: baunya enak memang kak. candu dan damai 😍
total 1 replies
Elisabeth Ratna Susanti
semakin seru👍
Siti Sarfiah
semangat bekerja , siapa tau di Divisi pembangun produk ada cowok yg naksir sherina🤭
Siti Sarfiah
bangkitlah dengan usahamu sendiri , tunjukkan pada nilai yg engkau capai semangat terus
Siti Sarfiah
wujudkan tekadmu , suatu saat akan terwujud apa yg engkau cita"kan , semangat💪
Siti Sarfiah
tunggu daren menyelesaikan pendidikannya d luar negri nanti kembali untuk sherina juga
Siti Sarfiah
sukses selalu , terus berjuang dan lanjut lagi ceritanya
Siti Sarfiah
tetap rendah hati dan semangat
Siti Sarfiah
masya Allah anak sultan yg rendah hati👍
namice
aku mampir kak
namice: 👍👍, semangat kak💪💪💪
total 2 replies
Elisabeth Ratna Susanti
keren banget pemilihan diksinya 🥰👍
Elisabeth Ratna Susanti
like plus subscribe plus iklan 👍
Rocean: mantappp🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!