Arumi Kurnia Ningsih seorang gadis berusia dua puluh tahun. Dia bercita-cita ingin menjadi desainer terkenal. Namun harapan itu pupus ketika sang ayah menjodohkannya dengan anak juragan teh.
Bagaimanakah hari-hari yang dijalani Arumi setelah menikah, akankah bahagia atau menderita. Yuk segera baca🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon feby_mb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Arumi dan Rani bingung mau pilih yang mana. Semua baju di sana bagus-bagus semua. Mereka berdua segan untuk mengambil karena harga bajunya mahal-mahal.
Arumi pernah sekali membeli baju mahal, dan itu harganya cuma lima puluh lima ribu. Sedangkan ini harga bajunya diatas seratus ribu.
" Kenapa belum di pilih bajunya?"
" Iya Buk, ini lagi milih mau ambil yang mana"
" Kalian berdua nggak usah lihat harganya, hari ini ibuk yang traktir. Jadi pilih baju yang kalian mau"
Arumi mengambil baju kaos berwarna mocca. Sedangkan Rani memilih baju berwarna hijau tosca dengan motif bunga sakura.
" Sendalnya sekalian"
" Ini aja Buk"
" Ambil sendalnya juga. Mbak tolong cariin sendal yang cocok untuk mereka berdua"
" Baik Buk"
Arumi dan Rani tidak bisa menolak lagi. Mereka berdua pun mengikuti pelayan toko.
" Silakan dicoba"
" Makasih mbak"
Kedua gadis cantik itupun mencoba sendal yang cocok untuk mereka. Arumi dan Rani memilih sendal yang simpel.
Harga baju dan juga sendal ditoko tiga kali lipat mahalnya dari kaki lima. Makanya Arumi dan Rani lebih senang belanja di kaki lima. Selain harganya murah, kualitasnya juga nggak kalah dari yang di toko-toko.
" Kita ambil yang ini aja mbak"
" Baik, sebentar ya"
Pelayan toko memasukan sendal milik kedua gadis itu ke dalam kotak. Kemudian ia membawa ke kasir untuk di total.
Selesai membayar belanjaan kedua gadis itu. Buk mandor keluar dari toko, diikuti sama Arumi dan Rani.
" Makasih Buk sudah beliin kita baju sama sendal" ucap Arumi dan Rani.
" Sama-sama, itu hadiah untuk kalian berdua karena sudah mau nemenin ibuk belanja"
Buk mandor tidak membeli buah-buahan. Karena mau buat acara sambutan, jadi dia mau langsung membeli ke kebunnya saja. Di kampung mereka juga banyak buah-buahan segar.
Karena belanjanya sudah selesai, mereka memutuskan untuk pulang. Arumi dan Rani pulang di antarkan buk mandor pakai mobilnya.
Di kampung Arumi bisa dihitung dengan jari yang punya mobil mewah.
Beberapa petani punya mobil, itupun mobil pick up yang bisa mereka pakai untuk membawa hasil panen mereka. Jadi mobil itu disesuaikan dengan fungsinya. Apalagi jalan di kampung mereka masih belum aspal semua.
Jalan ke kebun-kebun masih banyak yang tanah. Jadi kalau hujan becek dan cukup berbahaya untuk dilewati pakai mobil. Tapi kalau jalan masuk kampung sudah agak bagus.
Buk mandor menghentikan mobilnya di depan rumah Arumi.
" Makasih Buk "
" Sama-sama Rum. Eh Rumi tunggu "
" Kenapa Buk"
" Upah jahitnya"
Ibuk mandor memberikan lima lembar uang kertas seratus ribu.
" Ini kebanyakan Buk"
" Nggak apa-apa, ini rezeki kamu"
" Makasih banyak Buk"
" Sama-sama Rum, ibuk lanjut jalan ya"
" Iya Buk, hati-hati"
Buk mandor melanjutkan perjalanannya. Sedangkan Arumi dan Rani ngobrol sebentar di teras rumah Arumi.
" Dikasih berapa Rum"
" Lima ratus ribu Ran"
" Banyak banget"
" Iya, uangnya tolong masukan ke tabungan aku ya Ran"
" Ok, aku akan amankan uangnya. Belanja tadi habis berapa tuh duit buk mandor"
" Pastinya banyak Ran"
" Kalau untuk beli bahan masak, kira-kira uangnya diganti nggak ya sama pak bos"
" Nggak tau juga Ran, mungkin diganti sih"
" Orang kaya mah bebas mau ngeluarin duit berapa aja. Beda sama kita yang duitnya pas-pasan. Mau beli sesuatu harus lihat harga"
" Tapi senang juga nemenin buk mandor belanja. Pedagang juga terlihat bahagia saat dagangan mereka dibeli buk mandor "
" Gimana nggak bahagia, si ibuknya beli nggak nawar"
" Bagus dong Ran, memang seharusnya begitu. Masa orang kaya belanja mau nawar juga"
" Iya sih, tapi ada lho orang kaya yang nawar "
" Orang kaya pelit itu namanya. Lagipula kalau kita banyak duit ngapain harus nawar. Hitung-hitung kita sedekah"
" Kapan ya Rum, kita jadi orang kaya. Kerjaan ada, tapi tetap aja nggak kaya-raya "
" Kalau kamu mah masih bisa jadi orang kaya Ran. Lha aku gimana mau bisa kaya, tabungan aja aku nggak punya "
" Itu mah orang tua sama kakak kamu aja yang serakah "
Rani segera menutup mulutnya. Ia tidak menyangka kalau mulutnya akan keceplosan begitu. Untungnya orang tua Arumi nggak dengar.
" Tumben di rumah kamu sepi, Rum "
" Nggak tau"
" Dengar-dengar mbak Nita udah kerja "
" Iya, baru mulai hari ini"
" Syukur deh, jadi nanti dia bisa bantu-bantu keuangan rumah juga"
" Semoga aja Ran"
" Nanti sore mau bawa adonan bakwan nggak?"
" Bawa aja, tapi jangan banyak-banyak. Buat setengah kilo tepung aja"
" Apa nggak terlalu sedikit "
" Nggak, kemarin kan ada pertandingan. Sekarang kan nggak ada, jadi yang datang paling cuma anak-anak yang mau latihan bola aja. Minuman aja banyakin "
" Ok, nanti kita tambah rasa minumannya. Oh iya Rum, kalau tabungan kamu udah cukup banyak coba sewa ruko "
" Rencananya gitu Ran. Tapi kalau fokus jahit aja di tempat kita kan nggak terlalu banyak "
" Jualan kue atau gorengan. Sekarang jualan gorengan menjanjikan "
" Jualannya bareng kamu ya"
" Pasti dong, kan kita best friend forever "
" Sejak kapan kamu bisa bahasa inggris "
" Denger dari acara televisi "
Kedua gadis itupun tertawa. Hanya Rani lha yang selalu menghibur Arumi. Rani juga yang menemani Arumi disaat dia sedang bersedih. Bagi Arumi sahabatnya itu segalanya.
" Besok kita pake baju baru ya Rum"
" Iya Ran "
" Kapan lagi kita pake baju baru "
" Kita nggak bantu buk mandor masak"
" Bantu, kan kita masaknya pagi. Siangnya kita baru ganti baju"
" Maksud kamu kita ganti baju di rumah buk mandor "
" Nggak, kita pulang dulu lha"
" Kirain aku bawa baju ganti "
" Ya nggak lha, di rumah buk mandor kan lagi rame. Jadi mana bisa kita mandi di sana"
" Iya juga sih "
" Seperti apa ya aura bos besar. Apakah aroma tubuhnya aroma duit"
" Emang duit ada aromanya"
" Maksud aku itu aroma parfum mahal, yang wanginya nggak ilang-ilang sampe seminggu"
" Awet banget tuh wangi ya"
" Iya, parfum orang berduit memang beda dengan parfum kita. Kalau kita mah nggak sampe sejam udah ilang tuh wanginya"
Arumi geleng-geleng kepala mendengar ucapan sahabatnya. Arumi memang tidak tau macam-macam parfum, dan juga aromanya. Karena Arumi jarang pakai parfum. Walaupun jarang pakai parfum, Arumi selalu wangi. Arumi hanya memakai sabun dan shampoo saja.
" Aku pulang dulu ya Rum "
" Iya Ran "
" Sampai ketemu nanti sore"
" Nanti aku bantu buat adonan bakwannya "
" Nggak usah, kerjaan kamu udah banyak. Jadi biarkan sahabat kamu ini yang menyiapkan adonannya "
" Baiklah "
Setelah berpamitan dengan sahabatnya, Rani pun pulang ke rumahnya. Arumi baru masuk ke dalam rumahnya setelah Rani sudah tidak terlihat lagi dari pandangannya.
To be continued.
Sudah up 2 bab ya, jangan lupa tinggalkan jejak sayang kalian 🤗🤗
Happy reading guys 🤗 🤗
ibuk macam apa itu pilih kasih..
Arumi diruh itu ini diambik lagi gajinya..
Memeras aja kerjanya.. huh..