NovelToon NovelToon
After Reuni

After Reuni

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: rachmaraaa

Mita tidak pernah menyangka, satu ajakan sederhana dari suaminya akan mengubah segalanya.
Reuni sekolah yang seharusnya menjadi malam biasa justru membuka luka yang tak pernah ia sadari sebelumnya. Di tengah keramaian, Mita berdiri di samping Rio--namun terasa seperti tidak pernah ada. Terlebih saat Rio kembali bertemu dengan cinta pertamanya... dan memilih tenggelam dalam masa lalu.
Ditinggalkan tanpa penjelasan, Mita justru dipertemukan dengan Adrian-teman lama sekaligus rekan kerja Rio. Sosok yang dulu hanya sekadar kenangan, kini hadir sebagai satu-satunya orang yang benar-benar melihatnya.

Dan Reuni itu mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rachmaraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Perjalanan menuju ke Jakarta ditemani oleh hujan deras sepanjang perjalanan. Adrian yang duduk di samping supir, pun hanya menatap lurus ke depan dan terkadang ke samping. Sibuk dengan pikirannya sendiri. Terutama tentang pertanyaan Rio dua jam lalu di rest area.

"Eh, bukannya Lo kenal sama Mita ya, Dri? Lo kakak kelasnya kalau gak salah, ya kan?"

Adrian tidak langsung menjawab. Ia menjeda dan mengangguk pelan.

"Sebenarnya bukan kakak kelasnya langsung. Gue dulu dikenalin Mita dari temen. Waktu itu gue udah SMA, Mita masih SMP. Terus sempet main juga bareng-bareng dan lost contact gitu aja. Karena temennya Mita udah nggak main lagi sama gue."

"Oh, gue pikir emang kakak kelasnya. Cuma kenalan ternyata. Ngomong-ngomong kenalin lah calon Lo ke gue." Rio penasaran.

"Nanti deh ya. Masih pedekate soalnya. Mudah-mudahan aja jodoh," jelas Adrian dengan penuh harapan baik.

"Sip, sip. Eh udah kumpul tuh. Ayo deh masuk, gue udah kaga sabar pengen sampe rumah," ucap Rio yang berjalan lebih dulu untuk mencapai mobil dari divisinya.

Adrian bernapas lega ketika akhirnya Rio menjauh. Ada rasa sedikit tidak enak pada Rio, mengenai hubungannya dengan Mita. Mungkin karena dirinya sedikit tahu masa kelam keduanya bagaimana. Di sisi lain ada perasaan ingin mencapai sesuatu dengan Mita. Supaya bisa membuat Rio merasakan sakit atas hubungannya dengan Mita dulu. Balas dendam kecil-kecilan, ibaratnya.

Tepat pukul tujuh, akhirnya rombongan pun tiba di halaman depan perusahaan. Karena belum sholat magrib, Adrian memutuskan untuk sholat lebih dulu sebelum pulang. Setelah sholat ia pun membawa tasnya juga buah tangan untuk Mita ke parkiran motor.

"Pak Adrian!"

Suara itu lagi. Adrian menggerutu dalam hati. Ia bergeming dan merapikan barang bawaan ke bagasi motor. Karena tidak cukup, sebagian lagi ia letakkan di bagian ruang depan.

"Pak, diem aja sih. Aku panggil juga." Tiara sudah memakai jaket dan kedua tangannya penuh oleh barang bawaannya. "Nebeng sampai lampu merah ma-"

"Pesen ojol aja ya," jawab Adrian datar. "Saya buru-buru soalnya." Adrian memakai jaket dan masker.

"Ih, Pak Adrian gitu... Aku udah siap mau nebeng sama Bapak lho!"

Adrian menatap Tiara dengan kening yang mengerut. "Emang harus sama saya? Ojol banyak!"

"Jangan gitu lah, Pak. Udah malem ini, kalau naik ojol nanti saya diculik gimana?" Tiara masih berusaha menanggapi dengan santai dan senyumnya yang centil.

Adrian jengah, ia mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi ojol yang ia miliki. "Biar saya pesenin."

Tiara buru-buru menahan tangan Adrian dan cemberut. "Bapak kenapa sih sama saya gitu banget! Benci banget kayaknya sama saya! Saya ada salah sama Pak Adrian? Jelasin yang mana salah saya, biar saya bisa bertanggung jawab."

Melihat Tiara yang sepertinya masih belum juga memahami situasi Adrian. Ia pun menggeleng pelan.

"Tolong jangan ganggu saya, Tiara. Silakan kamu ganggu yang lain, tapi jangan saya! Saya sudah punya tunangan, insyaallah tahun ini kami akan menikah. Saya sedang menjaga diri dan perasaan calon istri saya. Saya juga risih dengan kamu yang selalu merendeng saya. Jadi, tolong mengerti dan paham. Saya duluan." Adrian naik ke atas motor, langsung dinyalakan dan melaju tanpa menoleh lagi.

Sedangkan Tiara merasa bingung, malu, kesal dan kecewa. Ia menghentakkan kakinya ke aspal dan meremas bawaannya untuk melampiaskan kekesalannya pada Adrian.

"Yang udah nikah aja bisa kegoda sama aku! Apalagi yang masih tunangan. Kita lihat aja nanti, Adrian!" Tiara tersenyum miring dengan siasat liciknya yang memenuhi kepalanya.

◉⁠‿⁠◉

Mita sedang asyik menonton drama di salah satu aplikasi berbayar dengan serius di ipadnya. Sedangkan ponselnya ia charger tak jauh dari posisinya saat ini. Dengan secangkir teh hangat tanpa gula juga cemilan kering menemani sisa hari liburnya.

"Ih, kok tega banget sih. Kesel deh sama nih cewek!" Mita mengomentari salah satu tokoh dalam drama tersebut lalu terdistraksi oleh ponselnya yang berdering.

Mita melirik, nama Adrian tertera di layar. Bibirnya otomatis tersenyum lalu segera menggeser ikon hijau di ponselnya.

"Halo, Assalamualaikum."

"Wa'alaikumsalam, Ta. Lagi tidur ya?"

"Nggak, Mas. Lagi nonton. Udah pulang ya, Mas?" Entah mengapa jantung Mita berdebar.

"Iya, udah pulang. Nih sekarang di depak kost kamu."

"Hah?" Mita berdiri dan berlari ke arah jendela lalu mengintip. Saat itu matanya bertemu dengan Adrian yang sedang melambai padanya. "Aku keluar."

Ada security sedang ngobrol dengan salah satu penghuni kos lain di pos jaga. Mita yang kamarnya berada di lantai dua agak sedikit engap karena ia turunnya berlari kecil. Terlalu senang melihat Adrian datang.

"Eh... Neng Mita. Saya kira tidur, makanya saya suruh mas nya telepon aja," ucap bapak security bernama Park Adi.

"Lagi rebahan aja, Pak. Tapi, nggak tidur," jawab Mita. "Saya ajak masuk nggak apa-apa ya, Pak?" Izin Mita dan Pak Adi mengangguk.

"Eh, serius nggak apa-apa saya masuk?" Adrian menatap Mita lalu ke Pak Adi.

"Nggak apa-apa, Mas. Yang penting jangan nginep. Saya di sini jaga sampai pagi, berkunjung aja mah nggak apa-apa. Motornya parkir di garasi aja, Mas. Soalnya penghuni banyak yang belum pulang. Ada yang bawa mobil soalnya, kalau di sini takut ngehalangin jalan," tutur Pak Adi dengan sopan.

"Baik, Pak. Makasih banyak. Oh, ini ada temen ngemil." Adrian mengeluarkan keripik pisang dari dalam kantong untuk pak Adi.

"Waduh, Mas... Alhamdulillah. Rezeki satpam soleh nih. Makasih ya, Mas. Jadi ngerepotin," ujar Pak Adi lagi sambil menerima keripik pisang dengan senang.

"Yok Pak, izin masuk ke dalam." Adrian masuk sambil mendorong motornya ke garasi.

Mita yang sejak tadi tersenyum akhirnya sadar dan langsung melipat bibirnya masuk ke dalam. Menunggu Adrian yang sedang parkir motor.

"Yuk, udah. Ini oleh-oleh buat kamu." Adrian menghadap ke Mita dan memberikan sekardus ukuran sedang untuknya.

"Heh, banyak amat?" Mita menatap kardus yang dipegang.

"Dikit. Bisa kamu bagi ke temen kerja."

Mita mengangguk dan langsung mengajak Adrian ke lantai dua. Dalam perjalanan ke arah kamar, mereka berdua berbasa-basi tentang kabar dan kegiatan selama tidak bertemu. Sampai akhirnya mereka berhenti di depan kamar yang menghadap ke arah depan. Mita mengeluarkan semacam kartu kecil dan mengetap dibagian kunci pintu.

"Wah, keren ya. Aksesnya udah pakai kartu dan pin." Adrian sedikit lega dan senang ketika pintu terbuka.

"Ayo, masuk. Maaf berantakan." Mita masuk lebih dulu.

Adrian langsung disambut dengan kesejukan pendingin ruangan dicampur aroma segar dari parfum yang sering Mita pakai. Nuansa kamar kost yang nyaman, cat dinding berwarna cream dipadu dengan interior serba coklat dan kamar mandi dalam. Tidak ada yang istimewa di kamar itu, selayaknya kamar kost biasanya. Hanya ada kasur, meja dan kursi belajar, lemari dan sedikit ada space untuk memasak. Kamar itu dibuat nyaman oleh Mita.

"Mas, kok bengong!" Mita berdiri di depan Adrian dengan membawa air mineral dingin dari mini kulkas.

"O-oh, haha... Maaf. Aku agak terkesima." Adrian salah tingkah dan menggaruk tengkuknya.

"Duduk di lantai nggak apa-apa ya, Mas..."

"Ya nggak apa-apa dong." Adrian langsung duduk di atas karpet berbulu lembut. Rasanya nyaman banget. Dan ia melihat di atas kasur ada iPad yang masih menyala. "Lagi nonton apa?"

Mita menoleh dan terkekeh, "nonton drama Korea."

"Oh, suka juga toh." Adrian menyandarkan punggungnya pada dipan kasur.

"Lho, Mas Adrian juga suka nonton?"

"Bukan itu maksudnya, Ta... Aku suka nonton, tapi bukan drama juga. Itu teman-teman di kantor pas jam istirahat kadang suka Mabar. Makanya aku tau," jelasnya dan menenggak air.

"Oh, kirain." Mita tersenyum dan menatap lekat Adrian yang sedang minum.

Netra mereka bertemu, Mita salah tingkah lalu menunduk. Sedangkan Adrian malah terkekeh melihat sosok didepannya tersipu.

Adrian menarik napas dalam. Pikirannya kembali bertanya-tanya. Tentang apa yang selama ini membuatnya gelisah. Kalau hanya dibayangan saja, memang rasanya selalu resah dan merasa agak berat. Tapi, kenyataannya, saat bersama Mita, ia justru menjadi lebih tenang.

"Ta..."

"Ya, Mas?"

"Ehm... Aku boleh jujur ya?" Jantung Adrian berpacu lebih cepat.

"Boleh, soal apa?" Mita merasa takut.

"Aku... Suka sama kamu." Adrian menjawabnya dengan mantap, tegas dan penuh kejujuran.

Mendengar itu, Mita mengerjap dua kali. Jari-jarinya mencubit bulu karpet di sisi sampingnya karena terkejut.

"Aku juga, Mas," ucap Mita dengan lembut dan langsung menunduk lagi.

Kali ini Adrian yang shock. Ia nggak akan nyangka kalau Mita juga akan mengutarakan perasaannya. Dadanya meletup, seolah ada banyak kembang api yang sedang menari-nari di dalamnya.

"Serius, Ta? Kamu suka juga sama aku?" Adrian memastikan.

Mita mengangguk dan menahan senyumnya.

"Waah!" Adrian mengusap wajahnya. "Alhamdulillah," lanjutnya.

Keduanya sama-sama salah tingkah dan malu. Tapi mereka senang dengan perasaan yang mereka miliki saat ini.

"Kita jadian ya, Ta?" Adrian menatap Mita penuh harap.

"Iya, Mas."

Tidak tahan dengan rasa bahagia yang dimiliki, Adrian langsung menggeser posisi duduknya dan merebahkan kepalanya di bahu Mita. Lalu, menarik tangan Mita untuk digenggam.

"Maaf lancang, tapi tolong begini dulu lima menit aja. Sebagai rasa terima kasih karena kamu juga memiliki perasaan yang sama ke aku." Adrian mendengar Mita mengatakan 'iya' dengan lembut.

Setelah sekian lama, akhirnya Adrian memiliki sandaran yang nyaman. Rasa lelahnya pun seketika hilang digantikan dengan rasa bahagia yang sulit diungkapkan. Malam itu, keduanya kembali membuka hati satu sama lain untuk saling mengisi kekosongan hati mereka selama ini. Tentunya dengan harapan yang lebih baik dari sebelumnya. Terutama untuk Mita.

[]

1
riza
haduuh 🧐
riza
mudah²an nggak terjadi apa-apa sih sama Mita 🥺
riza
kok nyesek ya 🥺
riza
iya betul 🥺 sebelum semua terlambat, mending di obrolin dari skrg 🥰
riza
uhuuuuyy 🤭🤭
Secilia Cindy
bacanya sambil meriang2 ka..🤭
Dila Dilabeladila
hadehhhhhh udah langsung ajak k KUA aja bias bisa nambah dengam bebas🤣🤣
riza
hot ya kak 🔥🤭
riza
si Rio sakit emang
riza
lah dasar si Rio tolil
riza
fitnah jir
riza
eh gila si Rio
riza
lah sama mas ... saya yg baca juga udh GK sabar ini 🤭
riza
mulai deh ngeselinnya
riza
mas Adrian maunya mewah ya 🤭
Ika Alif
tak tunggu sampai end aja bacanya😍
riza
nanggung sekali ya 🤭
riza
setuju nih
riza
ceritanya bagus kak. semoga karyamu banyak yg baca dan laris manis ya kak 😍
rachmaraaa: aamiin 🙏
total 1 replies
riza
ciee... mereka jadian juga 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!