NovelToon NovelToon
Romansa Malam Di Jogjakarta

Romansa Malam Di Jogjakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintapertama / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Di tengah guyuran hujan Kota Senja, Arya menemukan lebih dari sekadar buku sejarah di perpustakaan tua—ia bertemu dengan Naya, seorang gadis misterius yang secara tak terduga membuat hatinya berdebar. Pertemuan yang terasa seperti kebetulan itu berubah menjadi awal dari sebuah misteri besar, ketika Arya menemukan foto tua tersembunyi yang mengungkapkan hubungan tak terduga: wajah Naya sangat mirip dengan wanita yang terlihat bersama ibunya, yang menghilang secara misterius setahun lalu tanpa meninggalkan jejak.

Dibakar oleh rasa penasaran dan keinginan untuk menemukan kebenaran di balik hilangnya ibunya, Arya mulai menyelidiki masa lalu keluarga-keluarga besar di kota itu. Semakin ia menggali, semakin ia menyadari bahwa pertemuan dengan Naya bukanlah kebetulan belaka. Di balik ketenangan Kota Senja, tersimpan rahasia kelam, persekutuan tersembunyi, dan kekuatan yang selama ini berusaha ditutup-tutupi. Arya harus berhati-hati, karena setiap langkahnya menuntunnya lebih dekat pada bahaya—dan pada kenyataan yang bisa mengubah seluruh hidupnya selamanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Malam semakin larut, langit tertutup awan hitam tebal hingga tak ada satu pun bintang yang terlihat. Angin malam berhembus dingin menusuk tulang, membawa serta bau lumpur dan air sungai yang keruh. Arya dan Naya masih terduduk di balik gudang reyot pinggir sungai itu, tubuh mereka gemetar—bukan hanya karena dingin, tapi karena guncangan hebat yang baru saja mereka alami.

Suara tembakan, teriakan, dan bunyi kaca pecah di rumah Wijaya masih bergaung di telinga mereka seolah kejadian itu baru berlangsung semenit yang lalu. Naya masih menangis diam-diam, bahunya berguncang hebat di dalam pelukan Arya. Pikirannya penuh dengan bayangan mengerikan: ayahnya dipukuli, disiksa, atau bahkan dibunuh oleh orang-orang kejam itu. Rasa bersalah melilit hatinya seperti ular piton yang mencekik.

"Ayah... Ayah pasti mati karena aku..." isak Naya parau, suaranya serak habis. "Kalau aku tidak nekat minta cari barang-barang lama, kalau aku diam saja seperti biasa... Ayah tidak akan terluka. Rumah tidak akan diserang. Semua karena aku. Semua salahku."

Arya mengeratkan pelukannya, mengusap rambut kusut gadis itu dengan lembut namun tegas. Ia mengangkat wajah Naya dengan kedua tangannya, memaksa gadis itu menatap matanya. Wajah Naya kotor terkena debu dan noda tanah, air mata membuat jalur bersih di pipinya, ada goresan luka kecil di dahi dan pipi akibat cakaran semak duri.

"Dengar aku, Naya. Ini bukan salahmu," ucap Arya tegas, matanya menatap tajam namun penuh kasih. "Orang-orang itu sudah ada, mereka sudah mengintai, mereka sudah merencanakan ini sejak lama. Malam ini kita cuma mempercepat waktu. Apa yang terjadi adalah konsekuensi dari apa yang dilakukan orang tua kita dua puluh tahun lalu. Kamu tidak bersalah. Kamu korban, sama sepertiku."

"Tapi Ayah..." Naya tak sanggup melanjutkan kalimatnya, tangannya menutup mulutnya menahan isakan.

"Ayahmu masih hidup. Aku yakin itu," potong Arya cepat. "Lihat logikanya, Naya. Kalau mereka cuma mau bunuh dia, mereka bisa tembak dia begitu masuk pintu. Tapi mereka bawa banyak orang, mereka menggeledah rumah, mereka cari-cari. Artinya? Mereka butuh dia. Mereka butuh informasi darinya. Mereka butuh tahu di mana letak sesuatu yang belum mereka dapatkan. Selama dia berguna, dia aman. Dia hidup."

Penjelasan logis Arya sedikit berhasil menenangkan kekacauan di kepala Naya. Gadis itu mengangguk lemah, menarik napas panjang dan gemetar. Arya benar. Pembunuhan bukan tujuan utama. Informasi adalah tujuannya. Dan itu berarti ayahnya masih punya harapan.

"Terus... kita sekarang mau ke mana?" tanya Naya lirih, menatap sekeliling tempat kotor dan asing itu. "Rumahku sudah jadi medan perang. Aku tidak punya tempat pulang. Kalau aku pulang, mereka pasti masih ada di sana atau menunggu di sana. Aku... aku takut."

Arya terdiam. Ia juga berpikir hal yang sama. Membawa Naya ke rumahnya yang kecil di pinggiran kota? Itu ide berisiko. Orang-orang itu pasti akan segera mencari anak perempuan Hendrawan Wijaya. Mereka pasti tahu Naya tidak ada di rumah saat penyerbuan. Rumah Arya adalah alamat pertama yang akan mereka lacak, mengingat Hendrawan tahu hubungan mereka. Tetapi, ini satu-satunya tempat aman yang Arya tahu, tempat yang tidak terhubung secara resmi dengan nama besar Wijaya.

"Kita tidak bisa ke hotel, tidak bisa ke rumah kerabat, semua bisa dilacak," gumam Arya berpikir keras. Ia menatap Naya lekat-lekat. "Satu-satunya tempat yang mereka tidak akan sangka kamu ada di sana... adalah rumahku. Tempat sederhana, kecil, terpencil, dan nama ibuku sudah lama hilang dari catatan resmi. Di sana aman untuk sementara."

Naya menatap Arya dengan tatapan penuh ketergantungan mutlak. Ia tidak punya pilihan lain. Arya adalah satu-satunya jangkar, satu-satunya keluarga, dan satu-satunya harapannya saat ini.

"Aku ikut kamu. Ke mana saja," jawab Naya pelan namun mantap.

Arya membantu Naya berdiri, membersihkan sisa daun kering dan tanah dari pakaian gadis itu. Ia lalu merangkul bahu Naya, melindunginya dari angin dingin, dan mereka mulai berjalan kaki menyusuri jalanan sepi menuju arah timur, jauh dari kawasan elit, jauh dari pusat kota. Motor Arya yang tadi diparkir jauh di luar pagar rumah Wijaya sudah pasti tidak bisa diambil lagi, terlalu berisiko.

Perjalanan itu terasa panjang, sunyi, dan berat. Sepanjang jalan, mereka melihat beberapa mobil patroli polisi melaju kencang dengan sirene meraung ke arah kawasan rumah Wijaya. Berita tentang penyerbuan di rumah orang kaya itu pasti sudah cepat sampai ke telinga pihak berwajib.

Setelah berjalan hampir satu jam, mereka sampai di sebuah gang sempit beraspal rusak di pinggiran timur kota. Di sini rumah-rumah penduduk padat berjejalan, sederhana, dan jauh dari kemewahan. Arya membuka pintu pagar besi kecil yang berkarat, lalu masuk ke halaman rumah mungil yang dipenuhi tanaman pot dan rumput liar.

"Ini rumahku," ucap Arya pelan saat membuka pintu kayu rumah berlantai semen itu.

Lampu dinyalakan, menerangi ruang tamu kecil yang sederhana. Furniturnya tua, sudah usang, tapi bersih dan rapi. Ada aroma khas: bau kayu, tanah, dan sedikit aroma vanili—aroma ibunya.

Naya melihat sekeliling. Rumah ini sangat kontras dengan istana dingin tempat ia dibesarkan. Di sini terasa hangat, hidup, dan berisi cinta. Ada foto-foto keluarga kecil yang tergantung di dinding, ada taplak meja rajutan tangan, ada keset kaki yang warnanya sudah pudar. Mata Naya kembali berkaca-kaca. Ia sadar, meski kaya raya, ia tidak pernah memiliki 'rumah' seperti ini. Ia hanya punya bangunan.

"Masuk, istirahat dulu. Kamu pasti lelah dan kedinginan," Arya mempersilakan Naya duduk di sofa kain yang empuk. Ia lalu mengambil selimut tebal dari kamar, menyelimuti tubuh gadis itu. "Aku ambilkan air hangat dan obat untuk lukamu."

Sementara Arya pergi ke dapur, Naya duduk diam, memeluk selimut erat-erat. Matanya jatuh ke jaket kulit Arya yang tergeletak di meja. Jaket yang tadi dipakai Arya saat lari. Ingatannya kembali ke momen saat Arya memasukkan barang-barang dari kotak rahasia itu ke dalam saku jaketnya.

Barang bukti.

Naya meraih jaket itu, meraba saku bagian dalam yang tebal dan menggembung. Tangannya gemetar saat ia mengeluarkan isinya.

Tiga benda.

Pertama: Sebuah buku harian bersampul kulit hitam, pinggirannya sudah rusak dimakan waktu, bertuliskan di sampul depan dengan tinta emas yang pudar: Sari Wijaya, 1995.

Kedua: Satu lembar surat yang terlipat rapi, amplopnya tertulis jelas tulisan tangan Hendrawan: Untuk Dewi, cintaku yang tak pernah tergapai.

Ketiga: Sebuah kaset video besar (VHS), warnanya sudah kekuningan, labelnya ditulis spidol hitam tebal: Bukti. 12 Oktober 1998. Hancurkan jika aku mati.

Jantung Naya berdegup kencang. Ini barang-barang berharga yang nyaris membuat mereka kehilangan nyawa. Ini kuncinya. Ini saksi bisu dari masa lalu yang dibungkam.

"Kamu sudah lihat," suara Arya terdengar dari balik punggungnya.

Naya menoleh. Arya berdiri di sana membawa dua gelas air hangat dan kotak P3K. Matanya menatap barang-barang itu dengan pandangan serius. Ia meletakkan gelas di meja, lalu duduk di samping Naya.

"Ya. Ini semua yang kita selamatkan," ucap Naya pelan, tangannya menyentuh kaset video itu dengan takjub. "12 Oktober 1998... Itu tanggal kematian Ibuku. Hari di mana aku lahir."

Arya menelan ludah. Ini makin jelas. Tanggal itu adalah hari bersejarah kelam bagi kedua keluarga. Hari di mana satu nyawa hilang, satu nyawa lahir, dan semuanya berubah selamanya.

"Kita harus tahu isinya. Sekarang. Malam ini juga," ucap Arya tegas. Ia menunjuk kaset video itu. "Tapi masalahnya, ini kaset VHS. Zaman sekarang jarang ada pemutarnya."

Naya tiba-tiba teringat sesuatu. Matanya berbinar samar di tengah keputusasaannya.

"Ayah... Ayah punya pemutar lama di gudang. Dia tidak pernah buang barang-barang elektronik tua. Dia bilang barang lama lebih awet," Naya berkata cepat, lalu wajahnya kembali murung. "Tapi sekarang barang itu pasti sudah hancur atau dijarah orang-orang itu di rumah."

Arya menggeleng. "Tidak perlu ke sana. Aku ingat... di pasar loak dekat stasiun, Pak Hadi, teman ayahku dulu, dia kolektor barang antik dan elektronik jadul. Dia pasti punya pemutar VHS. Dan dia orang terpercaya, dia tahu aku anak Andi, dia tidak akan curiga atau bicara ke orang lain."

"Besok kita ke sana?" tanya Naya.

"Besok terlalu lama. Dan sekarang sudah larut malam, berbahaya keluar lagi. Kita mulai dari yang bisa kita baca dulu," Arya mengambil surat yang bertuliskan namanya ibunya. Ia membukanya pelan, kertasnya rapuh, tintanya mulai memudar, tapi tulisan tangan tegak bersambung Hendrawan masih terbaca jelas.

Bersama-sama, di bawah cahaya lampu kuning remang di rumah kecil itu, mereka mulai membaca kata-kata yang ditulis dua puluh delapan tahun lalu. Kata-kata dari hati seorang pria yang hancur, tergila-gila, dan penuh dosa.

Untuk Dewiku,

Aku tulis ini dengan tangan gemetar dan hati yang remuk. Mungkin kamu sudah membenciku, mungkin kamu sudah menganggapku musuh. Tapi aku tidak peduli. Aku harus katakan sekali lagi, sebelum aku melakukan hal bodoh yang mungkin akan membuatku dipenjara atau mati.

Dewi, aku mencintaimu. Bukan suka, bukan sekadar sayang. Aku mencintaimu sampai aku rela menyerahkan nyawaku, kehormatanku, bahkan jiwaku sendiri untukmu. Sejak pertama kali aku melihatmu di kampus, aku tahu kamu milikku. Tapi takdir jahat. Kamu memilih Andi. Pria miskin, polos, dan lemah itu. Kenapa, Dewi? Kenapa kamu tidak melihat aku? Aku punya segalanya. Aku bisa memberimu dunia.

Lalu Sari datang. Sari yang mencintaiku mati-matian. Aku menikahinya karena aku pikir aku bisa melupakanmu. Aku pikir aku bisa menggantikanmu. Tapi salah. Semakin aku dekat dengan Sari, semakin aku teringat padamu. Sari tahu. Dia tahu aku tidak pernah mencintainya. Dia tahu hatiku milikmu. Dia menderita, Dewi. Dia menderita karena kesalahanku.

Sekarang, Andi dan aku sedang bekerja sama dalam proyek besar. Proyek yang akan membuat kita semua kaya raya. Tapi ada masalah, Dewi. Uang investor hilang. Banyak sekali. Dan bukti mengarah ke Andi. Polisi akan menangkapnya besok. Dia akan dipenjara seumur hidup.

Aku punya pilihan, Dewi. Aku bisa diam dan membiarkan Andi hancur, jadi kamu akan bebas darinya dan akhirnya jadi milikku. Atau aku bisa menolong dia, tapi aku akan hancur, nama baikku hilang, bisnisku bangkrut.

Tapi ada cara ketiga. Cara agar Andi selamat, aku selamat, dan kita bisa lari bersama. Tinggalkan semua ini. Tinggalkan Sari, tinggalkan Andi. Ikut aku. Aku sudah siapkan uang, paspor, rumah di luar negeri. Kita bisa mulai hidup baru.

Tolong, Dewi. Ini satu-satunya kesempatan kita. Kalau kamu menolak, aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan. Aku sudah gila karena cinta. Aku bisa jadi monster. Ingat, aku tahu semua rahasia Andi. Aku tahu semua rahasiamu juga.

Tunggu kabarku. Atau datanglah padaku. Sebelum terlambat.

Selalu milikmu,

Hendrawan.

Suasana di ruang tamu kecil itu menjadi hening total, hanya terdengar suara napas berat mereka berdua. Udara terasa berat dan dingin, seolah surat tua itu mengeluarkan aura jahat yang mencekam.

Naya merinding dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tangan yang memegang surat itu gemetar hebat.

"Monster..." bisik Naya parau. "Ayahku... dia bukan sekadar pria yang patah hati, Arya. Dia orang yang obsesif, posesif, egois, dan manipulatif. Dia rela menghancurkan orang lain demi keinginannya sendiri. Dia... dia benar-benar gila."

Arya mengatupkan rahangnya kuat-kuat. Amarah meluap di dadanya, bukan hanya karena masa lalu, tapi karena ia membayangkan betapa menderitanya ibunya hidup di bawah bayang-bayang pria seperti Hendrawan.

"Dan bagian tentang 'uang hilang'..." Arya bergumam, matanya tajam menganalisis. "Surat ini ditulis sebelum kejatuhan bisnis Wijaya. Surat ini mengonfirmasi apa yang aku curigai. Dulu, ayahku dituduh mencuri uang, dituduh korupsi, lalu bisnis Wijaya hancur. Tapi dari surat ini... terdengar seolah Hendrawan sendiri yang mengaturnya. Dia yang jebak ayahku supaya ayahku dipenjara, supaya ibuku bebas."

"Artinya... Ayahku lah yang sebenarnya pencurinya? Dia yang ambil uangnya, lalu tuduhkan ke Ayahmu?" Naya menyambung, matanya membelalak ngeri.

"Kemungkinan besar. Dan ayahku, Andi, dia orang jujur, polos. Dia pasti tidak tahu apa-apa. Dia jadi kambing hitam," Arya mengepal tangannya hingga buku jarinya memutih. "Lalu kecelakaan ayahku... yang dianggap kecelakaan tunggal itu... aku yakin itu bukan kecelakaan, Naya. Itu pembunuhan. Hendrawan membunuh ayahku supaya mulutnya bungkam selamanya, supaya ibuku terpaksa lari, dan supaya dia bisa punya kesempatan."

Naya merasa dunia berputar. Ia merasa mual. Pria yang selama ini ia anggap ayah, pahlawan, dan satu-satunya pelindungnya... ternyata adalah seorang penjahat, pembunuh, dan dalang di balik segala penderitaan keluarganya sendiri.

"Dan Ibumu... Dewi... dia tahu semua ini. Makanya dia lari. Makanya dia sembunyi. Dia tahu kalau dia tetap di sini, Hendrawan akan membunuhnya juga atau mengurungnya selamanya," Naya menyimpulkan dengan suara nyaris tak terdengar.

"Benar. Ibuku lari bukan karena takut polisi, tapi takut sama Hendrawan. Dan dia menyembunyikan aku, supaya aku tidak jadi sasaran dendamnya," Arya menatap Naya lekat-lekat. "Dan sekarang, Naya... sekarang aku paham kenapa Hendrawan melarang kamu bertemu siapa-siapa. Kenapa dia melarang kamu keluar. Dia takut. Dia takut kamu tahu kebenaran. Dia takut kamu membencinya. Dan mungkin... dia juga takut kalau kamu dekat sama aku, dia akan kehilangan kamu sama seperti dia kehilangan ibuku."

Naya menunduk dalam, air mata jatuh lagi membasahi sampul buku harian milik ibunya sendiri, Sari Wijaya.

"Kasihan Ibu..." isak Naya pelan. "Ibu menikah dengan monster ini. Dia tahu suaminya cinta mati sama wanita lain. Dia tahu suaminya pembohong dan penjahat. Dia hidup dalam neraka setiap hari. Dan akhirnya... dia mati muda saat melahirkanku. Apakah... apakah kematian Ibu juga bukan kecelakaan, Arya?"

Pertanyaan itu menggantung di udara, tajam dan mematikan. Mereka berdua sama-sama takut menjawabnya.

"Mari kita buka buku harian Ibumu, Naya. Mungkin di sini, Ibumu sendiri yang akan menjawabnya," ucap Arya lembut, tangannya menyentuh bahu Naya, memberi kekuatan.

Dengan tangan gemetar, Naya membuka halaman pertama buku harian kulit hitam itu. Tulisan tangan ibunya, rapi, halus, dan cantik, namun penuh dengan emosi yang meluap-luap.

1 Januari 1995

Aku menikah dengan pria yang aku cintai sejak kuliah. Hendrawan Wijaya. Orang paling tampan, paling kaya, dan paling dicari di kota ini. Orang-orang bilang aku beruntung. Mereka bilang aku menang lotere cinta. Andai mereka tahu... andai mereka tahu pernikahan ini sebenarnya adalah pemakaman hidup-hidup.

Hendrawan menikahiku bukan karena dia cinta aku. Dia menikahiku karena dia kalah taruhan. Dia menikahiku karena wanita yang dia cintai menolaknya dan memilih pria lain. Wanita itu bernama Dewi. Sahabatku sendiri. Orang yang aku cintai seperti saudara kandung.

Aku bodoh. Aku tahu semua ini sebelum menikah. Tapi aku pikir cinta aku cukup besar untuk mengubahnya. Aku pikir aku bisa menggantikan posisi Dewi di hatinya. Ternyata tidak. Tidak pernah bisa. Dia melihat aku, tapi dia melihat Dewi. Dia memegang tanganku, tapi dia membayangkan tangan Dewi. Aku adalah pengganti murahan. Aku adalah boneka yang dipakai untuk menutupi rasa malunya.

Dewi, maafkan aku. Aku benci kamu. Tapi aku juga tidak bisa hidup tanpa kamu. Kamu sahabatku, tapi kamu juga musuhku. Kamu punya segalanya: cinta Hendrawan, cinta Andi, ketulusan, kebaikan. Sementara aku cuma punya uang dan suami yang membenciku.

Air mata Naya mengalir deras membasahi halaman kertas itu, mengaburkan tulisan ibunya. Rasa sakit yang dirasakan ibunya dua puluh delapan tahun lalu, kini dirasakannya juga dengan sangat nyata.

10 Oktober 1998

Aku hamil. Aku sudah hampir sembilan bulan. Hendrawan tidak senang. Dia tidak mau anak ini. Dia bilang anak ini beban. Dia bilang anak ini bukti dosa kami. Padahal aku tahu, di lubuk hatinya, dia berharap anak ini adalah anak Dewi.

Ada sesuatu yang buruk terjadi. Hendrawan pulang malam-malam, wajahnya pucat, bajunya kotor, dia gemetar ketakutan. Dia bilang bisnis kami hancur. Uang investor hilang milyaran. Dia bilang Andi, suami Dewi, yang mencurinya. Dia bilang polisi akan menangkap Andi besok. Dia bilang Dewi dan Andi akan dipenjara.

Tapi aku tahu Hendrawan. Aku kenal dia lebih dari siapapun. Dia berbohong. Dia yang ambil uang itu. Dia yang atur semua ini. Dia mau hancurkan Andi supaya dia bisa ambil Dewi. Dia gila. Dia benar-benar sudah gila karena cinta.

Aku berdebat hebat sama dia malam ini. Aku teriak, aku bilang aku akan lapor polisi siapa pelaku sebenarnya. Aku bilang aku akan bilang ke Dewi kebenaran tentang suaminya sendiri. Lalu... dia pukul aku. Pertama kali dalam hidupnya, dia angkat tangan ke aku. Dia dorong aku sampai aku jatuh keras ke lantai ubin. Perutku sakit sekali. Sakit luar biasa. Darah keluar di celana aku.

Aku tahu. Bayi ini... anak perempuan yang aku kandung... dia akan lahir malam ini. Tapi aku rasa... aku tidak akan selamat. Aku merasa nyawaku merembes keluar bersama darah ini.

Hendrawan panik luar biasa. Dia bawa aku ke rumah sakit swasta, dokter pribadinya, orang yang bisa dibayar tutup mulut. Dia menangis, dia minta maaf, dia bilang dia tidak bermaksud. Terlambat. Aku sudah tahu siapa dia sebenarnya. Monster bertopeng manusia.

Dewi, sahabatku... kalau kamu baca ini nanti, tolong jaga anakku. Namakan dia Naya. Artinya cahaya. Semoga dia jadi cahaya di dunia gelap ini. Semoga dia tidak punya nasib sepertiku. Jauhkan dia dari Hendrawan. Jauhkan dia dari keluarga ini. Lari, Dewi. Lari sejauh mungkin. Karena Hendrawan tidak akan pernah berhenti mengejarmu sampai dia mati.

Aku rasa ini tulisan terakhirku. Aku lemah sekali. Tapi aku lega. Akhirnya aku bebas dari neraka ini. Aku cuma sedih... aku tidak akan pernah melihat wajah anakku.

Sampai jumpa di surga, sahabatku.

- Sari

Buku harian itu tertutup.

Keheningan mencekam kembali menyelimuti ruangan. Kisah tragis, indah, mengerikan, dan menyedihkan itu selesai dibaca. Kebenaran terakhir terungkap: Ibu Naya, Sari, tidak mati karena sakit biasa atau komplikasi persalinan. Ia mati karena dipukul dan didorong oleh suaminya sendiri. Hendrawan Wijaya adalah pembunuh istri kandungnya sendiri.

Naya tidak menangis lagi. Air matanya sudah kering. Wajahnya pucat pasi, kosong, namun di matanya terbakar api kemarahan yang sedingin es. Rasa sayang, hormat, dan kasih sayang yang ia miliki untuk ayahnya, lenyap seketika, terbakar habis menjadi abu. Yang tersisa hanyalah rasa jijik, benci, dan keinginan kuat untuk keadilan.

"Dia bunuh Ibu..." bisik Naya, suaranya datar, dingin, dan mengerikan. "Ayahku... pembunuh Ibu."

Arya memegang bahu Naya erat, merasakan perubahan drastis pada gadis itu. Naya yang manja, lembut, dan penakut sudah mati malam ini. Lahirlah Naya yang baru: wanita yang terluka, bertekad baja, dan siap berperang.

"Iya, Naya. Dia monster. Dan sekarang kita tahu kenapa orang-orang tadi malam menyerang. Mereka bukan cuma penagih hutang. Mereka mungkin adalah orang-orang yang dulu dibayar Hendrawan untuk melakukan kerja kotor. Atau mungkin mereka adalah keluarga korban yang uangnya dicuri Hendrawan. Mereka mau balas dendam," ucap Arya pelan. Ia lalu menunjuk kaset VHS di meja. "Dan ini... ini rekaman yang dibuat Ibumu. Dia bilang 'Bukti'. Dia pasti merekam kejadian malam itu. Dia pasti merekam pengakuan Hendrawan atau perbuatannya. Ini bukti mutlak, Naya. Ini senjata kita."

Naya menatap kaset itu dengan tatapan tajam. "Besok. Besok kita ke Pak Hadi. Kita tonton rekaman ini. Dan apapun yang ada di dalamnya... kita akan gunakan untuk menghancurkan Hendrawan Wijaya. Demi Ibu. Demi Ayahmu. Demi ibumu. Dan demi diri kita sendiri."

Malam itu, di rumah kecil yang sederhana itu, dua jiwa yang terluka bersatu dalam satu tujuan tunggal: Kebenaran dan Pembalasan.

Namun, di tempat lain, di ruang bawah tanah gelap dan lembab di pinggir kota, Hendrawan Wijaya terbaring di lantai beton dingin, tubuhnya penuh memar dan darah, tangannya terikat erat di belakang punggung. Di depannya berdiri seorang pria tua kurus, berwajah keras, matanya tajam seperti elang, merokok cerutu sambil tersenyum sinis.

"Jadi, Hendrawan... anakmu kabur sama anak laki-laki Dewi, ya?" gumam pria tua itu, menghembuskan asap tebal. "Dan mereka bawa barang-barang berharga kamu, ya?"

Hendrawan mendongak susah payah, mulutnya penuh darah, matanya merah menyala penuh kebencian.

"Kamu jangan sentuh mereka, Bimo!" geram Hendrawan parau. "Kalau kamu berani sentuh sehelai rambutpun dari Naya atau Arya... aku akan bunuh kamu. Aku akan hancurkan kamu!"

Pria bernama Bimo itu tertawa terbahak-bahak, suara tawanya parau dan seram.

"Kamu masih berani ancam aku, hahaha? Kamu yang di sini tahanan, Wijaya! Dan tahu apa? Justru karena mereka kabur dan bawa barang itu... sekarang mereka jadi prioritas utama kita. Lebih penting dari kamu. Karena di kaset itu, ada rekaman yang bisa mengirim kita semua ke tiang gantungan." Bimo membungkuk mendekat ke wajah Hendrawan. "Sekarang, kita punya target baru. Temukan anak-anak itu. Tangkap hidup-hidup. Dan ambil kembali kaset itu. Biarpun harus obrak-abrik seluruh Kota Senja."

Hendrawan berteriak marah, berguling di lantai mencoba menyerang, tapi tendangan keras Bimo ke ulu hati membuatnya terbatuk darah dan terguling tak berdaya.

"Carilah mereka, anak-anak manis. Mainan kita baru saja mulai."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!