NovelToon NovelToon
Sumpah Badai

Sumpah Badai

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Action / Fantasi
Popularitas:257
Nilai: 5
Nama Author: andre kurnia

11 tahun Yuse dilatih jadi ksatria. Tugas pertamanya membawanya ke Desa Angin yang hancur misterius 5 tahun lalu. Di sana ia bertemu Yamaika, gadis pengendali badai yang menyimpan trauma. Ternyata kehancuran desa itu bukan bencana... tapi pengkhianatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andre kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelajaran jahil untuk kerbau pemalas

Bibi Liana dan Brisa mengakhiri obrolan berat itu dengan helaan napas panjang. Rahasia besar mengenai Kitab Janma Manunggal dan tanda Kumaliti menyisakan keheningan yang pekat di antara mereka.

Liana perlahan bangkit dari duduknya, berusaha mencairkan suasana yang sempat menegangkan.

"Sudahlah, Brisa. Jangan terlalu membebani pikiranmu untuk saat ini. Mari kita lihat bagaimana hasil pekerjaan bocah ceroboh itu."

Brisa mengangguk pelan, menyeka sisa kecemasan di wajahnya, lalu berjalan di samping Bibi Liana menuju selasar yang menghadap langsung ke halaman utama. Mereka berdua ingin memastikan apakah halaman sudah bersih dari dedaunan kering seperti perintah yang diberikan.

Namun, begitu pandangan mereka jatuh ke area halaman bawah, Bibi Liana langsung memijit pelipisnya, sementara Brisa terpaku sejenak sebelum akhirnya menutup mulutnya untuk menahan tawa.

Di ujung halaman, tepat di bawah pohon besar yang rindang, Yuse Yattama sama sekali tidak sedang memegang sapu. Alat kebersihan itu tergeletak begitu saja di tanah, sementara dedaunan kering kembali berserakan liar tertiup angin.

Sang ksatria petir legendaris itu justru sedang berbaring telentang dengan sangat nyaman di atas rumput. Kedua tangannya dijadikan bantalan di belakang kepala, matanya terpejam rapat, dan mulutnya sedikit terbuka—tertidur sangat lelap di bawah angin siang yang sejuk. Bukannya menyelesaikan hukuman, Yuse malah memilih pergi ke alam mimpi dengan wajah polosnya yang tanpa dosa.

"Anak itu... benar-benar minta ditampar dua kali," desis Bibi Liana sambil mengerutkan dahi menahan kesal, urat kemarahan mulai terlihat di pelipisnya.

Brisa yang berdiri di sebelahnya hanya tersenyum manis, memandangi wajah tidur Yuse yang tampak begitu damai. Sisi konyol pemuda itu seolah menjadi penawar yang instan bagi Brisa, setelah hatinya sempat dihantam badai kenyataan pahit tentang kekuatannya sendiri.

Bibi Liana masih menatap Yuse dengan dahi yang makin berkerut. Saat ia hendak melangkah turun untuk memberi pelajaran, Brisa tiba-tiba menahan lengan jubahnya pelan.

Liana menoleh, melihat seulas senyum manis namun penuh kelicikan terukir di wajah gadis berambut perak itu.

"Tetua, bagaimana kalau kali ini biar saya saja yang memberinya sedikit pelajaran?" bisik Brisa dengan mata yang berkilat jenaka. "Anggap saja ini latihan penguasaan elemen angin dasar yang Anda minta tadi."

Mendengar tawaran itu, kekesalan di wajah Bibi Liana seketika hilang, digantikan oleh senyuman penuh arti. Ia melipat kedua tangannya di dada dan mengangguk setuju.

"Ide bagus, Brisa. Silakan. Mari kita lihat seberapa kreatif kamu bisa membangunkan kerbau malas itu."

Brisa melangkah perlahan tanpa suara menuruni tangga selasar, mendekati pohon besar tempat Yuse sedang asyik mendengkur. Dalam tidurnya, pemuda itu sama sekali tidak menyadari bahwa bahaya konyol sedang mengintainya. Wajahnya terlihat begitu tenang, sangat kontras dengan tumpukan daun yang berantakan di sekelilingnya.

Brisa berhenti sekitar tiga langkah di depan tubuh Yuse. Ia menarik napas dalam-dalam, menenangkan dirinya, lalu perlahan mengangkat tangan kanannya ke udara. Dengan kendali yang sangat halus—agar tidak memicu naluri bertarung Yuse—ia mulai memanipulasi aliran udara di sekitar halaman.

Ia tidak menciptakan angin kencang. Brisa justru mengumpulkan puluhan daun kering yang berserakan, lalu menggerakkannya perlahan melayang ke atas tubuh Yuse. Satu per satu dedaunan itu dijatuhkan tepat di wajah, hidung, dan mulut pemuda yang sedang menganga itu.

"Eungh..." Yuse melenguh dalam tidurnya, merasa hidungnya gatal. Tangannya refleks mengibas udara, lalu kembali tidur pulas.

Melihat Yuse yang masih keras kepala tidak mau bangun, Brisa menahan tawanya. Ia memutuskan untuk menaikkan tingkat kejahilannya. Kali ini, ia mengarahkan aliran angin yang sangat kecil namun tajam tepat ke lubang hidung Yuse, sembari menerbangkan segumpal debu dan serbuk daun kering ke arah wajahnya sekaligus.

Wush!

"Haa... Haa... HHIIATTCCHHIIIUUU!!!"

Yuse bersin dengan sangat keras hingga seluruh tubuhnya tersentak kencang di atas tanah. Matanya langsung terbelalak seketika. Akibat kekuatan bersin itu, ia kehilangan keseimbangan dan berguling ke samping, hingga wajahnya langsung menubruk gundukan tanah basah sisa gerimis pagi tadi.

Bruk!

"Uhuk! Uhuk! Aduh, apa-apaan ini?!" serunya panik sambil buru-buru duduk tegak.

Wajah Yuse kini benar-benar berantakan. Pipinya penuh corengan lumpur hitam, selembar daun besar menempel tepat di dahinya, dan beberapa helai rumput tersangkut di rambutnya. Ia mengerjap-ngerjap masih terasa mengantuk, berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi.

Di depannya, Brisa sudah tidak bisa menahan tawa lagi. Gadis itu tertawa lepas dengan sangat manis sambil memegangi perutnya, melihat rupa sang ksatria petir yang mengenaskan. Di atas selasar, Bibi Liana juga terdengar terkekeh puas menyaksikan keponakannya yang baru saja terkena imbas kelalaiannya.

Yuse menatap Brisa dengan wajah cemberut dan kesal.

"Brisa! Kamu menjahiliku ya?!" tuduhnya sambil menunjuk dengan jari yang juga kotor.

"Aku tidak menjahilimu, Yuse. Aku hanya membantu mengumpulkan daun-daun ini ke tempat yang tepat... yaitu di wajahmu," jawab Brisa di sela tawanya, dengan tatapan mengejek yang sangat menggemaskan.

Meskipun kesal karena tidurnya diganggu dan penampilannya berantakan, Yuse tidak bisa benar-benar marah saat melihat binar kebahagiaan yang tulus di mata Brisa. Setidaknya kejahilan konyol siang itu berhasil menghapus sisa-sisa kesedihan dan ketegangan yang sempat menyelimuti hati mereka.

Bibi Liana menggelengkan kepala melihat keadaan keponakannya. Dengan langkah yang anggun namun tegas, ia berjalan turun dari selasar menuju tempat mereka berada.

"Sudah bangun, Tuan Muda Yuse?" sindirnya sambil berkacak pinggang di depan pemuda itu.

Yuse buru-buru melepaskan daun yang menempel di dahinya.

"Aduh Bibi... Aku tadi tidak sengaja tertidur karena anginnya terlalu sejuk," jawabnya dengan alasan yang terdengar sangat lemah.

"Tidak sengaja atau memang sengaja malas-malasan?" potong Bibi Liana ketus, membuat Yuse langsung menunduk dan tidak berani membantah lagi. "Halaman belum bersih, wajahmu sudah penuh lumpur. Ksatria macam apa yang perilakunya seperti kerbau malas begini?"

Brisa yang berdiri di samping hanya tersenyum menahan geli, menikmati pemandangan di mana sang ksatria perkasa sama sekali tidak berkutik di depan bibinya.

Namun setelah menghela napas panjang untuk meredakan kekesalannya, sorot mata Bibi Liana mendadak melunak. Kemarahan di wajahnya hilang, berganti dengan tatapan hangat seorang keluarga yang penuh perhatian. Ia menatap lekat-lekat wajah Yuse yang masih penuh noda tanah.

"Yuse..." panggilnya lembut. "Sudah sebelas tahun kamu menempa diri di padepokan sepi ini. Kemarin kamu juga baru saja menempuh perjalanan jauh dan berbahaya ke utara. Katakan pada Bibi, apa kamu tidak merindukan ibumu?"

Mendengar pertanyaan itu, gerakan tangan Yuse yang sedang menyeka wajahnya terhenti seketika. Ingatan tentang senyum ibunya yang penuh kekhawatiran malam sebelum ia berangkat belasan tahun lalu kembali melintas jelas di benaknya.

"Aku... tentu saja aku sangat merindukan Ibu, Bibi," jawabnya jujur, suaranya melembut tanpa nada candaan lagi.

Bibi Liana tersenyum tipis, lalu menepuk pundaknya dengan penuh kasih sayang.

"Kalau begitu, kenapa kamu tidak pulang ke rumah? Ibumu pasti setiap hari menunggu kabar dan menanti kepulangan anak satu-satunya itu."

Yuse terdiam, matanya menatap ke tanah.

"Bersihkan badanmu, lalu selesaikan sisa pekerjaanmu hari ini," perintah Bibi Liana dengan nada tegas namun hangat. "Besok pagi-pagi sekali, kamu harus pulang menemui ibumu. Sampaikan padanya bahwa kamu sudah tumbuh menjadi ksatria yang sangat kuat dan hebat."

Yuse mendongak, matanya berbinar senang mendengar izin itu.

"Baik Bibi! Terima kasih banyak!"

Brisa yang menyimak percakapan itu ikut tersenyum hangat. Ia menyadari bahwa di balik aturan ketat, hukuman, dan sikap galak Bibi Liana, sebenarnya tersimpan ikatan kasih sayang keluarga yang sangat kuat dan tulus. Rencana kepulangan Yuse esok hari pun menjadi awal babak baru yang akan membawa pemuda itu kembali ke pelukan rumah dan orang yang paling ia cintai.

1
broken home
semoga lebih diperbaiki kosakata dan penempatan katanya
andara
berikan saran kalian terhadap karya ini, pendapat kalian adalah kunci ku untuk terus maju agar lebih berkembang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!