Dengan langkah lemah, Farin mencoba pulang dan meninggalkan semua kenangan tentang lelaki yang pernah menyelamatkannya. Namun baru beberapa langkah menjauh dari pematang sawah, tiba-tiba sebuah suara lirih memanggil namanya dari balik hutan.
“Farin…”
Tubuhnya seketika membeku.
Suara itu… suara yang dulu menemaninya di saat gelap, saat luka dan ketakutan hampir merenggut hidupnya. Suara Althaf.
Jantung Farin berdegup tak karuan. Dengan mata berkaca-kaca ia menoleh cepat ke arah hutan lebat di seberang sawah, berharap menemukan sosok yang selama ini terus ia cari dalam doa-doanya.
Tapi tak ada siapa-siapa.
Hanya angin, dedaunan yang bergoyang pelan, dan keheningan yang terasa begitu menyakitkan.
Air mata Farin jatuh tanpa bisa ditahan. Nama itu kembali menggema dalam hatinya, memenuhi dadanya dengan rindu yang selama ini ia kubur sendirian.
Di tengah sesak yang menghancurkan dadanya, tubuh Farin perlahan melemah. Pandangannya kabur, lututnya tak lagi mampu menopang luka dan rindu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosy_Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tinggal Kenangan
Meskipun secara medis Farin telah dinyatakan pulih, ia masih sesekali menjalani kontrol ke rumah sakit untuk memastikan penglihatannya benar-benar stabil. Namun ada satu hal yang tak pernah ia lewatkan, ramuan herbal yang dulu diberikan Althaf kepadanya.
Ramuan sederhana itu kini menjadi bagian dari hari-harinya, setiap tegukannya selalu membawa kembali kenangan tentang seseorang yang hadir di titik paling gelap hidupnya… seseorang yang merawatnya dengan tulus ketika ia tak mampu melihat dunia, lalu pergi diam-diam tanpa meninggalkan nama ataupun jejak.
Tiga bulan telah berlalu sejak operasi dan masa perawatan panjang itu.
Kini Farin bisa melihat dunia kembali dengan jelas. Matanya yang dulu dipenuhi gelap perlahan kembali menangkap warna-warna kehidupan. Langkahnya yang dahulu lemah dan tertatih kini mulai mantap, meski sesekali hatinya masih terasa rapuh ketika mengingat semua yang telah ia lalui.
Perjuangan panjang, rasa sakit, tangis, dan doa-doa di sepertiga malam itu akhirnya terbayar setiap kali Farin bercermin, menatap langit sore, atau melihat wajah orang-orang yang ia cintai.
Namun kesembuhan itu ternyata bukan hanya mengembalikan penglihatannya, kesembuhan itu juga mengubah hatinya. Farin menjadi pribadi yang lebih lembut, lebih kuat, dan lebih pandai mensyukuri hal-hal kecil yang dulu sering ia abaikan.
Dan di balik semua itu, ada seseorang yang diam-diam terus hidup dalam doanya.
Namun, semakin hari rasa ingin tahu yang Farin pendam perlahan berubah menjadi kerinduan yang sulit dijelaskan. Ada bagian dalam hatinya yang belum benar-benar tenang.
Hingga suatu malam, dengan suara pelan dan hati yang berdebar, Farin akhirnya memberanikan diri bertanya kepada ibunya. “Bu… dulu aku pertama kali dirawat di mana?”
Tatapannya terlihat berbeda, bukan sekadar penasaran. Farin seperti sedang mencari sesuatu yang tertinggal di masa lalunya. Bukan hanya sebuah tempat… tetapi seseorang yang pernah menjadi alasan ia mampu bertahan hidup.
Ibu Halimah menggenggam tangan putrinya perlahan, mencoba menahan haru sebelum akhirnya menjawab lirih, “Nak… kamu pertama kali dirawat di Klinik Karang Asih.”
Beliau menarik napas panjang, seolah sedang mengumpulkan kekuatan untuk mengingat kembali hari yang nyaris merenggut putrinya.
“Kamu dibawa ke sana oleh seorang lelaki yang bahkan tidak pernah menyebutkan namanya,” ucap Ibu Halimah lirih. “Dia hanya berkata kalau kamu ditemukan dalam keadaan lemah… tubuhmu penuh luka, dan matamu tak bisa melihat.”
Suara beliau mulai bergetar pelan, dipenuhi haru yang sulit disembunyikan. “Perawat di sana bilang, lelaki itu menemukanmu di tebing Pantai Watu Anyar. Dia membawamu dari tempat sejauh itu… menjaga kamu sepanjang perjalanan, lalu pergi begitu saja setelah memastikan kamu ditangani.”
Hening seketika memenuhi ruangan, seolah ada jejak seseorang yang tertinggal di antara kata-kata itu, seseorang yang datang seperti pertolongan, lalu menghilang sebelum sempat dikenang dengan layak.
Air mata Farin jatuh perlahan, dadanya terasa sesak oleh rasa yang tak mampu ia jelaskan. “Terus… siapa yang kasih kabar ke rumah?” tanyanya lirih.
“Itu temannya, Nak,” jawab Ibu Halimah lembut. “Katanya dia diminta mencari keluarga kamu dari alamat yang sempat kamu sebutkan.”
Farin menunduk, tangisnya pecah perlahan. “Bu…” suaranya bergetar. “aku bahkan nggak pernah tahu siapa namanya. aku juga belum pernah lihat wajahnya…”
Ia menarik napas panjang, mencoba menahan sesak yang memenuhi dadanya. “Bu.. aku cuma ingat cara dia merawat ku… suaranya… dan rasa tenang waktu dia ada. Dia baik banget, Bu…”
Air matanya jatuh semakin deras. “Dia yang Allah kirim untuk menyelamatkan aku… tapi pergi begitu aja. Seperti angin yang datang sebentar… lalu hilang tanpa bisa digenggam.”
Ibu Halimah akhirnya tak mampu lagi menahan tangisnya. Beliau memeluk Farin erat, membiarkan putrinya menangis di pelukannya seperti anak kecil yang kehilangan sesuatu yang berharga.
“Kalau dia datang dengan ketulusan, Nak… maka doamu sudah lebih dari cukup untuk membalas semua kebaikannya,” bisik Ibu Halimah pelan. “Allah tahu isi hatimu. Dan kalau memang sudah takdir… suatu hari nanti Allah bisa saja mempertemukan kalian kembali.”
Farin mengangkat wajahnya perlahan. Matanya sembab dan dipenuhi air mata, namun di dalam sorot yang rapuh itu masih tersisa harapan kecil yang terus ia jaga sendirian.
“Bu…” suaranya lirih, nyaris tenggelam oleh sesak di dadanya. “Boleh ya… kalau aku coba mencari jejak orang yang dulu nyelametin aku?”
Tangannya menggenggam jemari sang ibu erat, seolah sedang menahan sesuatu agar tidak benar-benar runtuh di dalam hatinya.
“aku cuma ingin tahu siapa dia bu…” ucapnya terbata, air matanya jatuh satu per satu. “Dia yang hadir, dia yang Allah kirim untuk datang waktu aku hampir kehilangan segalanya… tapi pergi diam-diam setelah menyelamatkan aku.”
Ia menunduk, bahunya bergetar pelan.
“Setidaknya… aku ingin mengucapkan terima kasih. Sekali saja. Sebelum semuanya benar-benar tinggal jadi kenangan yang nggak pernah bisa aku gapai lagi bu.”