Di dunia di mana kekuatan kultivasi menentukan segalanya, di mana kemampuan dan kekuasaan menjadi ukuran keberhasilan, ada seorang pemuda yang namanya perlahan mulai menancapkan akarnya dan menimbulkan getaran di seluruh wilayah. Dia adalah Xiao Xuan—pria yang tenang, penuh perhitungan, dengan tatapan mata yang tajam yang bisa menilai setiap situasi dalam sekejap, namun menyimpan kelembutan dan perlindungan yang hanya terlihat bagi orang-orang yang dia sayangi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24.Gemuruh Ungu di Atas Altar Pengujian
Tujuh hari berlalu bagai kedipan mata seorang kultivator dalam meditasinya. Hari yang dinantikan oleh seluruh lapisan masyarakat Kota Glory akhirnya tiba—hari pembukaan gerbang spiritual Akademi Shenglan.
Sebagai pusat dari persemaian bakat dan pilar pertahanan kota, akademi yang luas ini tampak begitu megah dengan jajaran menara batu kuno dan Lapangan Uji Coba yang membentang luas. Namun, ada yang berbeda dengan atmosfer tahun ini. Mengikuti cetak biru kebijakan baru yang digagas secara senyap, koridor-koridor akademi kini tidak hanya dipenuhi oleh jubah sutra mewah anak-anak bangsawan, melainkan juga riuh oleh langkah kaki anak-anak dari kalangan jelata yang mengenakan pakaian kain katun sederhana. Kebijakan pendidikan gratis tanpa pungutan biaya telah resmi ditegakkan.
Di bawah langit pagi yang bersih, Xiao Xuan melangkah membelah Lapangan Seni Bela Diri. Di sampingnya, Wakil Kepala Sekolah Ye Sheng berjalan dengan punggung sedikit membungkuk, menunjukkan gestur pemandu yang teramat menghormati sang pemuda.
"Siapa pemuda berbaju hitam di samping Wakil Kepala Sekolah Ye Sheng itu? Mengapa auranya begitu asing namun menekan?" bisik seorang murid senior dari kalangan jelata di tepi lapangan.
"Kau meremehkan penglihatanmu sendiri," seorang guru muda yang berdiri di dekatnya menyahut dengan suara rendah, matanya terpaku pada sosok Xiao Xuan. "Pria tua di sebelah kiri adalah Wakil Kepala Sekolah kita, Ye Sheng. Dan pemuda di sebelah kanannya... dia adalah Tuan Muda Utama dari Keluarga Xiao, Xiao Xuan."
"Tuan Muda Keluarga Xiao dan Wakil Kepala Sekolah datang bersamaan! Lihat ke arah sana!" teriak seseorang di tengah kerumunan yang kian menyemut.
Dalam sekejap, laksana riak air yang dijatuhi batu, ratusan pasang mata di Lapangan Seni Bela Diri serentak berputar, mengunci pandangan mereka pada sosok Xiao Xuan yang berjalan dengan keanggunan yang tenang.
"Bawahan memberi salam, Tuan Muda Xiao. Salam, Wakil Kepala Sekolah Ye Sheng," para instruktur dan murid senior mulai menundukkan kepala satu per satu, menciptakan gelombang kepatuhan organik di sepanjang jalur yang dilewati Xiao Xuan.
Xiao Xuan menghentikan langkahnya tepat di tengah lapangan. Dia merapikan lipatan jubah hitamnya yang bersulam benang perak, lalu membalikkan tubuh menghadap massa yang menyemut. Sepasang matanya yang gelap menatap mereka dengan tatapan matang seorang pria dewasa, tanpa menyiratkan sedikit pun keangkuhan mekanis.
"Saudara-saudara sekalian, mohon angkat kepala kalian. Tidak perlu formalitas yang mengekang di tempat ini," suara Xiao Xuan mengalun bariton, jernih, dan merata memenuhi lapangan. "Izinkan aku memperkenalkan diri secara resmi; aku Xiao Xuan. Beberapa dari kalian mungkin akrab dengan nama klan yang kusandang, atau bahkan pernah mendengar rumor-rumor miring mengenai rekam jejak pribadiku di masa lalu. Namun, hari ini aku memohon dengan sangat agar kalian menepikan sekat kasta atau status sosial tersebut. Di dalam gerbang Akademi Shenglan ini, aku tidak berbeda dengan kalian semua—hanya seorang pencari ilmu yang berjalan dengan pikiran terbuka. Jika di masa depan kalian menghadapi kebuntuan spiritual atau kendala hidup yang tak terselesaikan, pintu paviliunku selalu terbuka. Selama itu berada dalam batas intuisi dan kemampuanku, aku pasti akan mengulurkan tangan."
Kalimat yang sarat akan kerendahan hati taktis itu seketika memicu bisik-bisik kekaguman di antara murid-murid jelata.
"Tuan Muda Xiao ternyata begitu hangat dan penuh perhatian! Beliau memperlakukan kita yang berdarah rendah ini dengan setara, sama sekali tidak memiliki kesombongan busuk seperti para pesolek klan bangsawan lainnya."
"Hei, kau rupanya belum mendengar berita terdalam?" seorang murid bertubuh tegap menyenggol bahu temannya dengan wajah penuh rahasia. "Kerabat dekatku bekerja di bagian logistik Istana Penguasa Kota. Dia membisikkan bahwa kebijakan pembebasan biaya kuliah bagi anak-anak jelata tahun ini murni lahir dari gagasan emas Tuan Muda Xiao Xuan dalam pertemuan pasca-perang! Penguasa Kota bahkan rela tidak tidur berhari-hari demi mewujudkan idenya. Ini adalah informasi tingkat tinggi, seratus persen akurat!"
"Aku juga sempat mendengar desas-desusnya!" "Ternyata beliau adalah penyelamat masa depan kita..."
Riak kekaguman dan rasa syukur yang mendalam mulai menjalar di antara akar rumput, sementara Xiao Xuan sendiri sudah melangkah pergi menuju area pengujian, dengan anggun menyembunyikan kontribusi besarnya di balik punggung, membiarkan legenda pribadinya tumbuh secara organik di hati rakyat.
“Tuan Muda Xiao Xuan, silakan melangkah ke mari untuk melakukan pengujian struktur Kekuatan Jiwa Anda,” ucap seorang instruktur wanita yang bertugas di depan altar batu giok.
Xiao Xuan menghentikan langkahnya, menatap wajah sang penguji sejenak sebelum seulas senyum tipis yang sarat makna terukir di bibirnya. "Mengapa nada suara ini terdengar teramat akrab di telingaku?"
Wanita itu membungkuk anggun, jubah sutra ungunya berdesir lembut. "Bawahan memberi salam, Tuan Muda. Saya, Shen Xiu, telah resmi mendaftar dan diterima sebagai instruktur di Akademi Shenglan, dengan spesialisasi mengajar di Kelas Prajurit Pemula semester ini. Kebetulan yang indah, Tuan Muda telah ditempatkan di bawah bimbingan kelas saya. Namun Anda tidak perlu cemas, saya tahu batasan saya dan tidak akan pernah berani mengusik kenyamanan urusan pribadi Anda."
Mendengar pengaturan rahasia dari Keluarga Suci ini, Xiao Xuan tidak menunjukkan keterkejutan yang berlebihan. Intuisi dewasanya sudah membaca arah permainan rubah tua Shen Hong sejak kemarin.
"Tidak perlu ada perlakuan khusus atau persiapan fasilitas yang berlebihan, Guru Shen Xiu," jawab Xiao Xuan tenang, tatapannya menyiratkan ketegasan yang tak boleh dibantah. "Aku hanya memiliki satu aturan sederhana: perlakukan aku secara adil layaknya murid-murid lainnya di dalam kelas. Seperti yang kukatakan tadi, tujuanku kemari adalah menyerap ilmu dengan kepala dingin. Di tempat ini, Anda adalah guru yang memegang otoritas akademik—bagaimana mungkin seorang murid yang baik mendiktekan persyaratan kepada pengajarnya?"
Mendengar kalimat yang begitu dewasa dan menempatkan posisinya dengan sangat terhormat, rasa kagum di hati Shen Xiu tumbuh seketika. "Guru Shen Xiu menerima wejangan Tuan Muda."
"Mari kita mulai pengujiannya," Xiao Xuan melangkah mendekati meja giok tempat Kristal Jiwa diletakkan.
"Selanjutnya, Xiao Xuan dari Keluarga Xiao!" seru instruktur pencatat dengan lantang.
Sebelum Xiao Xuan mengulurkan tangannya, dia melirik sekilas pada batu kristal berukuran kepalan tangan di atas meja. "Wakil Kepala Sekolah Ye Sheng, melihat struktur lautan jiwaku yang sedikit tidak stabil akhir-akhir ini, apakah tidak sebaiknya Anda mengganti media pengujian ini dengan *Kristal Jiwa Tingkat Lanjutan*?"
"Ah, tentu saja! Kehati-hatian yang sangat matang, Tuan Muda," Ye Sheng dengan sigap meraba cincin spasialnya, mengeluarkan sebuah bola kristal bening yang memancarkan pendaran aura perak murni yang jauh lebih pekat, lalu meletakkannya di atas dudukan giok.
Xiao Xuan menarik napas dalam-dalam, mengendurkan otot-otot lengannya, lalu menempelkan telapak tangan kanannya pada permukaan dingin kristal tersebut.
*Wuuush!*
Udara di sekitar altar pengujian mendadak berdesir hebat, suhu ruangan turun satu derajat secara instan. Di dalam beningnya kristal raksasa itu, seberkas cahaya ungu pekat yang teramat megah meledak keluar, berputar-putar laksana pusaran galaksi purba yang menuntut kepatuhan. Pendaran ungu itu begitu kuat hingga memantulkan bayangan mistis di langit-langit aula.
Instruktur pencatat yang berdiri paling dekat melangkah mundur setengah langkah, matanya membelalak lebar dengan bibir yang bergetar hebat saat membaca fluktuasi energi yang tertera pada indikator giok. "Xiao... Xiao Xuan! Hasil pengujian: **Ranah Emas Bintang 2**, dengan atribut... **Lautan Jiwa Ungu absolut**!"
*Deg!*
Bukan hanya para murid, bahkan Wakil Kepala Sekolah Ye Sheng yang telah menyaksikan ribuan bakat jenius pun merasakan jantungnya melewatkan satu ketukan. Wajah tuanya memucat karena rasa takjub yang luar biasa.
*Lautan Jiwa Ungu*. Sebuah anomali spiritual yang hanya tercatat dalam mitologi kuno pendirian Kota Glory; sebuah simbol potensi tanpa batas yang belum pernah menampakkan wujudnya sejak fondasi kota ini diletakkan ribuan tahun silam. Urusan ini teramat sensitif dan memiliki bobot politik yang masif. Tanpa membuang waktu, Ye Sheng segera memerintahkan seorang kurir bayangan untuk memacu kuda spiritualnya menuju Istana Penguasa Kota demi melaporkan temuan kosmis ini kepada Tetua Ye Mo dan Ye Zong.
Setelah kegemparan badai ungu itu mereda, prosesi pengujian kembali dilanjutkan dengan suasana yang masih diliputi sisa-sisa ketakjuban. Satu per satu nama-nama besar dari garis keturunan bangsawan dipanggil ke depan:
"Ye Ziyun, hasil pengujian: Ranah Perunggu Bintang 4, Lautan Jiwa Biru."
"Shen Qingqiu, hasil pengujian: Ranah Perunggu Bintang 4, Lautan Jiwa Biru."
"Xiao Ning'er, hasil pengujian: Ranah Perunggu Bintang 1, Lautan Jiwa Hijau."
"Shen Yue, hasil pengujian: Ranah Perunggu Bintang 1, Lautan Jiwa Hijau."
"Du Ze... Lu Piao... Nie Li..."
Setelah satu paruh pagi yang sibuk dan melelahkan, seluruh rangkaian pengujian akhirnya rampung diselesaikan. Akibat intervensi taktis dan manipulasi gelombang monster yang dilakukan oleh Xiao Xuan seminggu lalu, dinamika bakat para penerus klan ini mengalami pergeseran yang signifikan. Beberapa anak bangsawan memiliki peringkat dasar yang sedikit lebih tinggi dari garis waktu aslinya akibat tekanan psikologis pasca-perang. Sementara itu, karena Nie Li belum mengalami peristiwa reinkarnasi spiritual dalam lingkaran takdir ini, dia tidak lebih dari sekadar anak biasa dari faksi luar yang tidak menarik perhatian sedikit pun. Tragisnya, beberapa pemuda yang seharusnya menjadi pengikut setia Du Ze di masa depan, telah lebih dulu binasa dalam senyap di bawah cakar monster Angin-Salju malam itu.
Sembari bersandar santai di pembatas koridor lantai dua, Xiao Xuan memicingkan matanya, membuka antarmuka kesadarannya untuk memeriksa grafik penerimaan dan pengaruh sosialnya yang baru saja diperbarui.
Indikator ketertarikan psikologis pada diri Ye Ziyun dan Shen Qingqiu masing-masing melonjak sebanyak 10 poin akibat pesona kedewasaan dan aura ungunya yang mendominasi. Sementara itu, Lu Piao naik sebanyak 30 poin, dan Du Ze secara mengejutkan melesat menyentuh angka 50 poin—sebuah kepatuhan bawah sadar yang lahir karena klan kecilnya tanpa disadari menerima alokasi kompensasi logistik terbesar dari kebijakan santunan Keluarga Xiao pasca-bencana kemarin. Sisa murid lainnya rata-rata tertahan di angka kepatuhan 20 poin.
[ Sistem Penjahat Takdir: Ding! 🔮 👑 Waaaah, Tuan Rumah, pertunjukan dominasi absolut yang sungguh elegan! Menancapkan taring pengaruhmu di jantung institusi pendidikan dan memenangkan pemujaan massal dari rakyat Kota Glory. Hadiah: 1.000.000 Poin Penjahat telah dicairkan ke dalam tabungan jiwamu! Dengan total 4.300.000 Poin saat ini, kau benar-benar telah menyandera masa depan kota ini di bawah telapak tanganmu! 🪙🔥* ]
Mendengar roasting bercampur kepuasan dari suara gaib bernada tsundere itu, Xiao Xuan hanya mengulas senyum tipis yang dingin di sudut bibirnya. Di dunia kultivasi ini, hierarki lautan jiwa konvensional memang membagi bakat dari tingkatan terendah hingga tertinggi berdasarkan spektrum warna: Merah, Oranye, Kuning, Hijau, Sian, Biru, dan Ungu. Semakin tinggi tingkatannya, semakin cepat pula laju akumulasi energinya—sebuah dogma hukum alam yang kelak di masa depan mungkin akan coba digugat oleh teori-teori Nie Li.
Namun bagi Xiao Xuan yang anti-naif, sebelum anak itu sempat membuka mulutnya untuk menggugat hukum dunia, dia telah lebih dulu mengunci panggung utamanya. Langkah pertamanya di Akademi Shenglan telah menorehkan tinta emas yang kokoh, dan rantai takdir kini bergerak sepenuhnya di bawah kendali sang penjahat kelas tertinggi.