NovelToon NovelToon
SENTUHAN SANG MAFIA

SENTUHAN SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mafia
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

"Jika besok pria tua itu datang lagi untuk menagih jawabanmu, katakan padanya kau lebih memilih membusuk di sel ini," suaranya rendah, nyaris seperti desisan yang berbahaya.

Aku tersentak, mencoba mencerna kalimatnya. "Apa? Kau... kau menyuruhku tetap di penjara ini?"

"Ya," sahutnya pendek. "Aku tidak ingin menikah. Terlebih lagi, aku tidak ingin menikah denganmu. Kau tidak tahu apa yang akan kau hadapi jika melangkah masuk ke mansion utama sebagai istri seorang Grisham. Di sana, kau tidak akan hanya melihat darah, tapi kau akan mandi di dalamnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8

...****************...

Gerbang besi setinggi tiga meter terbuka perlahan, menyambut mobil kami masuk ke pelataran mansion pribadi Darrel. Bangunan itu berdiri angkuh dengan arsitektur modern yang didominasi dinding beton abu-abu dan kaca gelap. Meski terlihat sangat mewah, atmosfernya tidak jauh berbeda dengan penjara bawah tanah Erlan: dingin, sunyi, dan mengintimidasi.

Puluhan penjaga berseragam hitam berdiri tegap di sepanjang jalan masuk, sementara di depan pintu utama, barisan maid sudah menunggu dengan kepala tertunduk.

"Turun," ucap Darrel singkat tanpa menoleh padaku.

Aku turun dengan langkah gontai. Gaun pengantinku yang kini kotor di bagian bawah terasa sangat berat, seberat beban yang menghimpit dadaku. Seorang maid senior melangkah maju.

"Marta, antar dia ke kamarnya di sayap barat. Pastikan semua kebutuhannya terpenuhi, tapi jangan biarkan dia keluar tanpa izinku," perintah Darrel dingin.

Langkahku terhenti. Aku menatap punggung tegap Darrel yang hendak melangkah menuju ruang kerjanya. "Tunggu, Darrel."

Darrel berhenti, namun ia tidak berbalik. "Apa lagi?"

"Kenapa kamarku di sayap barat? Bukankah... bukankah kita baru saja menikah?" tanyaku dengan suara gemetar. "Kenapa kita harus tidur terpisah?"

Darrel memutar tubuhnya perlahan. Matanya menyipit tajam, menatapku dengan tatapan yang sangat menghina. Suasana di lobi mansion itu mendadak membeku. Para pelayan semakin menundukkan kepala, seolah takut terkena percikan amarah sang tuan muda.

"Kenapa? Kau sudah tidak sabar ingin menjalankan peranmu sebagai istri?" desisnya. Ia melangkah mendekat, auranya begitu menyesakkan hingga aku terpaksa mundur satu langkah.

"Bukan begitu, maksudku—"

"Ternyata di balik wajah polosmu, kau sangat berambisi untuk naik ke ranjangku, ya?" potongnya dengan tawa sinis yang meremehkan. "Kau pikir dengan menyerahkan tubuhmu padaku, kau bisa mengendalikan klan Grisham? Jangan bermimpi, Lily. Kau hanyalah beban yang dipaksakan ayahku kepadaku."

Aku terperangah. Dadaku terasa sesak. Aku ingin menjelaskan bahwa pertanyaanku murni karena ketakutanku akan ancaman Erlan. Jika kami tidak satu ranjang, bagaimana mungkin aku bisa hamil dalam tiga puluh hari? Dan jika aku tidak hamil, Nenek Zela akan mati. Tapi Darrel sudah terlanjur menganggapku sebagai wanita murahan yang haus akan sentuhan pria kaya.

"Aku tidak bermaksud seperti itu! Aku hanya memikirkan—"

"Diam!" bentak Darrel, membuatku terlonjak kaget. "Aku tidak peduli apa yang kau pikirkan. Jangan pernah berpikir kau punya tempat di kamar pribadiku. Pergi ke kamarmu sebelum aku berubah pikiran dan mengirimmu kembali ke sel bawah tanah!"

Ia berbalik dan berjalan cepat menaiki tangga, mengabaikan aku yang mematung dengan air mata yang mulai mengenang. Rasa malu dan terhina bercampur menjadi satu. Aku mengekorinya dari bawah, menatap punggungnya dengan perasaan campur aduk.

"Darrel, dengarkan aku dulu!" teriakku dari lantai bawah.

Darrel berhenti di lantai dua, ia mencengkeram pagar pembatas dan menatapku dari atas dengan sorot mata penuh kebencian. "Satu kata lagi keluar dari mulutmu tentang satu ranjang atau sentuhan, aku akan memastikan kau menyesal pernah dilahirkan. Marta, bawa dia pergi!"

Aku hanya bisa berdiri terpaku saat Marta menarik lenganku dengan sopan namun memaksa. Aku ingin berteriak bahwa aku melakukan ini demi nyawa orang yang kusayangi, bukan karena aku menginginkan tubuhnya yang dingin itu. Namun, di mata Darrel, aku kini tak lebih dari seorang wanita oportunis yang menjual harga diri demi posisi di keluarga Grisham.

Marta membawaku melewati lorong panjang yang sunyi menuju sayap barat. Begitu sampai di depan sebuah pintu kayu besar, ia membukanya.

"Ini kamar Anda, Nyonya. Saya akan menyiapkan air hangat untuk mandi," ucap Marta pelan.

***

Pintu kamar kayu ek yang berat itu terbuka pelan, menampakkan Marta bersama tiga orang maid muda yang membawa nampan berisi minyak aromaterapi, handuk bersih, dan jubah mandi sutra. Mereka melangkah mendekat dengan kepala tertunduk, seolah kehadiran mereka di sana adalah sebuah protokol yang tak boleh diganggu gugat.

"Nyonya, biarkan kami membantu Anda membersihkan diri. Air hangat sudah siap di bak mandi," ucap Marta dengan suara yang sangat halus.

Aku tersentak dan mundur selangkah, tanganku secara refleks memegang kerah gaun pengantin yang kotor ini. "Tidak perlu. Aku bisa mandi sendiri."

"Tapi Nyonya, Tuan Darrel memerintahkan kami untuk memastikan Anda dalam keadaan terbaik. Luka di pergelangan tangan Anda juga harus dibersihkan dengan hati-hati oleh tenaga terlatih," balas salah satu maid muda dengan nada cemas yang sangat kentara.

"Aku bilang tidak!" suaraku meninggi, membuat mereka semua terlonjak. "Aku belum lumpuh. Aku masih punya tangan dan kaki yang bisa bergerak. Kumohon, tinggalkan aku sendiri."

Para maid itu saling pandang, wajah mereka memucat. Ketakutan di mata mereka sangat nyata, seolah-olah jika aku menolak, mereka yang akan menerima cambukan dari Darrel atau kemarahan Erlan. Namun, aku tetap bersikeras. Aku sudah kehilangan harga diriku di kapel tadi; aku tidak ingin kehilangan privasi terakhirku di kamar mandi ini.

"Marta, kumohon. Katakan pada Tuanmu aku bisa melakukannya sendiri. Aku tidak akan kabur lewat jendela lagi," bisikku, nadanya lebih ke arah memohon.

Marta menghela napas panjang, lalu memberikan isyarat kepada pelayan lainnya untuk meletakkan perlengkapan mandi di meja. "Baiklah, Nyonya. Tapi jika Tuan Muda bertanya, Anda harus mengatakan bahwa Anda yang memaksa kami keluar. Kami akan menunggu di depan pintu jika Anda butuh sesuatu."

Setelah mereka keluar dan pintu tertutup rapat, aku segera menuju kamar mandi. Air hangat dengan aroma mawar menyambutku, namun pikiranku tetap kalut. Aku membersihkan tubuhku dengan perlahan, sangat hati-hati saat menyentuh perban di pergelangan tanganku yang mulai sedikit mengering.

Setelah selesai, aku menatap cermin besar di kamar mandi. Wajahku terlihat sangat menyedihkan—pucat, dengan lingkaran hitam di bawah mata karena kurang tidur dan tangis yang tak henti. Aku tidak ingin terlihat lemah di depan Darrel. Aku mengambil alat rias yang sudah disediakan di meja rias dan mulai memoles wajahku. Sedikit perona pipi dan lipstik berwarna merah lembut untuk menyembunyikan bibirku yang gemetar. Aku ingin dia melihat bahwa aku belum hancur sepenuhnya.

Ketukan pintu kembali terdengar. "Nyonya, makan malam sudah siap. Tuan Muda sudah menunggu Anda di ruang makan," suara Marta terdengar dari luar.

Jantungku berdegup kencang. Makan malam dengan pria yang baru saja menghinaku sebagai wanita murahan? Aku menarik napas dalam-dalam, merapikan gaun rumahan berwarna krem yang baru saja kupakai, lalu melangkah keluar.

Ruang makan mansion itu begitu luas, dengan meja panjang yang terbuat dari kayu mahoni gelap. Di ujung meja, Darrel duduk dengan santai. Ia sudah mengganti jasnya dengan kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka, memperlihatkan sedikit dadanya. Ia tampak sangat sibuk memainkan ponselnya, mengabaikan piring-piring mewah yang sudah tersaji di depannya.

Aku berjalan mendekat dengan langkah ragu. Suara gesekan sepatuku di lantai marmer membuat Darrel mendongak sejenak. Matanya yang tajam menilaiku dari bawah ke atas, lalu kembali ke ponselnya tanpa ekspresi.

"Duduk," ucapnya pendek.

Aku menarik kursi yang berada cukup jauh darinya, namun ia berdeham pelan. "Lebih dekat. Di sini." Ia menunjuk kursi di sebelah kanannya.

Dengan tangan gemetar, aku berpindah tempat duduk. Suasana begitu sunyi hingga aku bisa mendengar detak jantungku sendiri. Pelayan mulai menuangkan minuman dan meletakkan hidangan utama.

"Makanlah. Aku tidak ingin kau pingsan lagi di meja makanku. Itu akan sangat merepotkan," katanya dingin sambil meletakkan ponselnya dan mulai memotong daging steak di piringnya.

Kami makan dalam keheningan yang menyesakkan. Setiap dentingan garpu dan pisau terdengar seperti lonceng peringatan di telingaku. Aku memaksa diri untuk menelan makanan itu, meski rasanya hambar karena rasa takut yang menguasai.

Setelah beberapa menit, aku memberanikan diri untuk bicara. "Darrel..."

Ia tidak menyahut, tapi gerakannya berhenti sebentar.

"Aku... aku ingin minta maaf soal tadi siang. Di depan pintu utama. Aku tidak bermaksud seperti yang kau pikirkan," ucapku dengan suara rendah. "Dan aku ingin memohon padamu... tolong bawa aku menjenguk Nenek Zela. Aku ingin memastikan sendiri keadaannya. Aku tidak akan tenang jika belum melihatnya langsung."

Darrel meletakkan garpunya dengan pelan, lalu menoleh ke arahku. Wajahnya tetap datar, namun matanya mengamati setiap inci wajahku. "Kau sudah memoles wajahmu hanya untuk meminta ini?"

Aku terdiam, merasa tertangkap basah.

"Nenekmu ada di rumah sakit terbaik milik Grisham. Dia aman," lanjutnya. Melihat wajahku yang hampir menangis lagi, ia menghela napas panjang. "Baiklah. Aku akan mengusahakannya besok atau lusa. Tergantung pada jadwal ayahku. Aku tidak ingin dia tahu aku terlalu lunak padamu."

Mendengar itu, sedikit beban di dadaku terangkat. "Terima kasih, Darrel."

"Jangan senang dulu. Ingat, ada harga untuk setiap kebaikan di sini," timpalnya sinis.

Aku menelan ludah, lalu memberanikan diri untuk mengajukan permohonan kedua. Ini adalah tentang masa depanku yang hampir hancur. "Satu hal lagi... tentang kuliahku. Aku sudah masuk semester akhir. Aku ingin menyelesaikannya. Bolehkah aku pergi ke kampus?"

Darrel langsung meletakkan gelas wiskinya dengan dentuman yang cukup keras di meja. "Pergi ke kampus? Di tengah situasi seperti ini? Apa kau sudah gila, Lily?"

"Tapi aku hanya perlu datang untuk bimbingan skripsi dan beberapa kelas—"

"Tidak!" bentaknya, suaranya menggema di ruang makan yang sepi itu. "Kau sekarang adalah Nyonya Grisham. Di luar sana, musuh ayahku—orang-orang Winston—sedang mengincar siapa pun yang berhubungan dengan nama ini. Pergi ke kampus tanpa pengawalan ketat adalah cara tercepat untuk mati atau diculik."

"Tapi pendidikanku—"

"Aku tidak bilang kau harus berhenti belajar," potong Darrel, suaranya kini lebih rendah namun sangat otoriter. "Aku akan menghubungi pihak kampusmu besok pagi. Aku akan memberikan sumbangan besar agar mereka memberikan izin belajar jarak jauh untukmu. Kau akan belajar di sini, di bawah pengawasanku dan penjagaan pengawal. Guru besar atau dosen pembimbingmu bisa datang ke sini jika diperlukan."

Aku tertunduk lesu. Itu artinya aku benar-benar terpenjara di mansion ini. Tidak ada kampus, tidak ada teman, tidak ada udara segar di luar tembok tinggi ini.

"Kau harus mengerti satu hal, Lily," Darrel memajukan tubuhnya, menatapku dengan intensitas yang mengerikan. "Dunia lamamu sebagai penjual bunga yang bebas pergi ke mana saja sudah mati. Di mansion ini, kau aman, tapi kau adalah milikku. Setiap langkahmu, setiap orang yang kau temui, harus melalui izinku. Paham?"

Aku hanya bisa mengangguk pelan. "Paham, Darrel."

Ia bangkit dari tempat duduknya, merapikan kemejanya. "Habiskan makananmu, lalu kembali ke kamar. Dan jangan pernah terpikir untuk mengetuk pintuku malam ini jika kau tidak ingin dihina lebih jauh."

Ia melangkah pergi begitu saja, meninggalkan aku sendirian di meja makan yang sangat panjang itu. Aku menatap makanan yang tersisa di piringku. Aku punya tempat tinggal mewah, makanan mahal, dan jaminan keselamatan untuk keluargaku. Tapi di saat yang sama, aku telah kehilangan diri sendiri. Aku hanyalah seorang tawanan yang diberi gelar 'Nyonya', hidup di bawah bayang-bayang seorang pria yang hatinya sekeras beton di mansion ini.

***

Bersambung...

1
Syarwiti Aulia
episode ny sdikit,,bttul Nungguin ny lma bnget
MissSHalalalal: baik, Author usahakan lebih banyak lagi. 🙏
total 1 replies
Mia Camelia
semangat thor😄👍
makin seruu dan bikin penasaran🥰
double up dong biar makin puas 😂
Tuti Handayani
bagus banget
MissSHalalalal: terimakasih kk🙏
total 1 replies
Mia Camelia
lanjut thor🥰🥰🥰
Mia Camelia
thor ceritaiin dong siapa ortu nya liliy???? kepoo nih thor🥰🥰🥰🥰
Mita Paramita
lagi Thor update 🔥🔥🔥
apakah Lily juga anak dari klan mafia juga? jadi penasaran 🤨🤨🤨
Vanni Sr
semkiin kereen yaaaa , mungkin lily ank angkt org tua nya dlu py kuasa
Mia Camelia
darel kejam gak mau denger penjelasan lily😔
Nanik Arifin
mengertilah Lily, Darrel hanya ingin melindungimy. dr awal hanya itu yg ingin Darrel lakukan, tapi kamu aj yg keras kepala, pakai acr kabur segala. sepertinya Darrel ingin memutus generasi klan ini. sepak terjang klan ini tak sejalan dg rasa kemanusiaan Darrel yg begitu besar. nyata dia seorang dokter yg empati & jiwa menolongnya tinggi.
Lily ikuti kata Darren, cukup kamu tersiksa 30 hari + 9 bulan. setelahnya kamu bisa bebas ( mungkin 🤔)
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Mia Camelia
semangat thor, 🥰🥰🥰
Erna Tazmania
seru..semangat tor
Mita Paramita
lagi Thor update lagi 😘😘😘
seru banget ceritanya
Vanni Sr
kereeeen darrel mulai cmburuu
Mia Camelia
gak sabar mau ngliat pesta nya , mpe lily merasa tertekan😂
Mia Camelia
ceritaiin sedikit thor tentang kaka nya darel ky gimana ??? jdi penasaran😂
Mia Camelia
seru banget thor🥰, ayoo update lgi yg banyak☺😄
Mita Paramita
lagi Thor 🤣🤣🤣seru banget ceritanya
Mia Camelia
seru banget ini👍🥰😄
Fariza Imut: seru aku suka ceritanya
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut lagi double up 🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!