Rian seorang pemuda yang bertahan hidup di kiamat zombie di khianati oleh temannya yang selalu dia percayai , ketika tiba-tiba dia kembali ke masalalu.
dengan kekuatan dan pengetahuan dari masa depan ,aku ,akan membalas perlakuan semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alu feed, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAMPAI DI MARGONDA DEPOK
Satu jam kemudian, Rian dan kelompoknya akhirnya tiba di wilayah Margonda, Depok.
Mobil tua yang mereka gunakan terus melaju melewati jalanan yang dipenuhi kendaraan terbengkalai.
Beberapa bangunan di sepanjang jalan menunjukkan bekas pertempuran.
Ada dinding yang runtuh.
Ada toko yang hangus terbakar.
Dan sesekali terlihat mayat zombie yang sudah mengering tergeletak di pinggir jalan.
Namun dibandingkan wilayah yang mereka lewati sebelumnya, area ini terlihat jauh lebih teratur.
Setidaknya tidak ada gerombolan zombie dalam jumlah besar yang berkeliaran di jalan utama.
Hal itu membuat Rian sedikit waspada.
Biasanya kondisi seperti ini menandakan ada kelompok penyintas yang cukup kuat menguasai wilayah tersebut.
---
Di saat yang sama.
Di lantai atas Apartemen Evita.
Seorang perempuan berambut pendek sedang berdiri di dekat jendela sambil memegang teropong.
Tatapannya terus mengawasi jalan di bawah.
Tiba-tiba matanya menangkap sebuah mobil tua yang bergerak mendekati apartemen.
"Hei, seseorang sedang berkendara mendekat kemari."
Ucapannya membuat seorang pria berkacamata yang sedang menyantap makanan menoleh.
"Jika mereka mendekat dan ingin masuk ke sini, usir saja."
Nada suaranya terdengar dingin.
Jelas terlihat bahwa ia tidak mudah mempercayai orang asing.
Namun perempuan itu tidak langsung mengangguk.
Sebaliknya, ia terus mengamati kelompok yang berada di dalam mobil tersebut.
Beberapa detik kemudian, ekspresinya berubah.
"Tunggu..."
"Ada apa?" tanya pria itu.
Perempuan tersebut menurunkan teropongnya perlahan.
"Dari yang kulihat, mereka semua adalah evolver."
Pria berkacamata itu tidak terlalu terkejut.
Banyak penyintas kuat mulai bermunculan akhir-akhir ini.
Namun kalimat berikutnya membuatnya langsung menegakkan badan.
"Energi yang mereka pancarkan cukup besar."
"Bahkan beberapa di antara mereka sepertinya hampir mencapai Tingkat 1 Menengah."
"Apa?!"
Pria itu langsung tersedak.
Batuk keras beberapa kali sebelum berdiri dari kursinya.
"Yakin?"
Perempuan itu mengangguk.
"Aku cukup yakin."
Pria berkacamata itu langsung berjalan ke arah jendela.
Kemudian mengambil teropong dari tangannya.
Beberapa saat kemudian, wajahnya berubah serius.
"Kau benar."
Tatapannya tertuju pada sosok Rian yang sedang duduk di kursi pengemudi.
Instingnya mengatakan bahwa pemuda itu bukan orang biasa.
Orang seperti itu tidak mungkin bisa bertahan hidup hanya dengan keberuntungan.
"Jika mereka berhenti di depan apartemen..."
Pria itu terdiam sejenak.
"Lalu?"
Perempuan itu menunggu jawabannya.
"Buka gerbang basement."
"Kita biarkan mereka masuk."
Perempuan tersebut sedikit terkejut.
Biasanya pria itu sangat berhati-hati terhadap orang asing.
Namun kali ini ia mengambil keputusan berbeda.
"Orang-orang seperti mereka lebih baik dijadikan teman daripada musuh."
Pria berkacamata itu kembali melihat ke arah mobil yang mendekat.
"Mungkin mereka juga pernah memasuki dungeon."
"Dan kemungkinan besar memiliki senjata langka seperti kita."
---
Sementara itu.
Rian menghentikan mobilnya di depan Apartemen Evita.
Bangunan tinggi itu menjulang di hadapan mereka.
Lebih dari dua puluh lantai.
Dinding luarnya masih terlihat kokoh.
Bahkan sebagian besar kacanya masih utuh.
"Tempat ini terlihat bagus."
Budi keluar dari mobil sambil melihat ke atas.
"Kalau ada penyintas yang menguasainya, aku tidak heran."
Ridho mengangguk setuju.
Posisi apartemen itu memang cukup ideal.
Mudah dipertahankan.
Memiliki banyak ruang.
Dan kemungkinan besar masih memiliki cadangan sumber daya.
Rian sendiri tidak langsung turun.
Tatapannya menyapu area sekitar.
Tidak ada zombie.
Tidak ada monster.
Terlalu bersih.
'Memang ada orang di sini.'
Pikirnya.
Tidak lama kemudian.
Terdengar suara mesin dari arah samping gedung.
Grmmm...
Semua orang refleks mengangkat senjata.
Namun yang muncul bukanlah monster.
Melainkan gerbang basement yang perlahan terbuka.
Rahma terlihat terkejut.
"Mereka sengaja membukanya?"
"Sepertinya begitu."
Jawab Rian.
Di dalam basement yang gelap, beberapa sosok manusia mulai terlihat.
Mereka tidak mengangkat senjata.
Tetapi tetap berjaga dengan penuh kewaspadaan.
Jelas mereka juga sedang mengamati kelompok Rian.
Kedua belah pihak saling menilai dalam diam.
Beberapa detik berlalu.
Lalu seorang pria berkacamata melangkah keluar dari dalam basement.
Ia mengangkat kedua tangannya sebagai tanda tidak memiliki niat buruk.
"Selamat datang."
Suaranya bergema pelan di area parkiran.
"Kalian pasti sudah menempuh perjalanan yang cukup jauh."
Rian menatap pria itu tanpa mengendurkan kewaspadaannya.
Begitu juga dengan anggota kelompok lainnya.
Di dunia seperti sekarang, kepercayaan adalah barang mewah.
Salah memilih teman bisa berakhir dengan kematian.
Namun setelah mengamati pria itu beberapa saat, Rian menyadari sesuatu.
Aura energi yang dipancarkan pria tersebut cukup kuat.
Bahkan tidak kalah jauh dari Ridho.
Artinya...
Kelompok ini juga bukan kelompok penyintas biasa.
Dan untuk pertama kalinya sejak memasuki wilayah Margonda, Rian merasa bahwa perjalanannya mungkin akan menjadi jauh lebih menarik daripada yang ia perkirakan sebelumnya.