Di tengah guyuran hujan Kota Senja, Arya menemukan lebih dari sekadar buku sejarah di perpustakaan tua—ia bertemu dengan Naya, seorang gadis misterius yang secara tak terduga membuat hatinya berdebar. Pertemuan yang terasa seperti kebetulan itu berubah menjadi awal dari sebuah misteri besar, ketika Arya menemukan foto tua tersembunyi yang mengungkapkan hubungan tak terduga: wajah Naya sangat mirip dengan wanita yang terlihat bersama ibunya, yang menghilang secara misterius setahun lalu tanpa meninggalkan jejak.
Dibakar oleh rasa penasaran dan keinginan untuk menemukan kebenaran di balik hilangnya ibunya, Arya mulai menyelidiki masa lalu keluarga-keluarga besar di kota itu. Semakin ia menggali, semakin ia menyadari bahwa pertemuan dengan Naya bukanlah kebetulan belaka. Di balik ketenangan Kota Senja, tersimpan rahasia kelam, persekutuan tersembunyi, dan kekuatan yang selama ini berusaha ditutup-tutupi. Arya harus berhati-hati, karena setiap langkahnya menuntunnya lebih dekat pada bahaya—dan pada kenyataan yang bisa mengubah seluruh hidupnya selamanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Matahari baru saja terbenam, melukis langit Kota Baru dengan warna ungu gelap dan merah darah, saat alarm diam bergetar di pergelangan tangan Raga Wijaya.
Jam menunjukkan pukul 18.45 malam.
Di ruang kerja pribadi lantai 28, suasana tenang dan mewah seperti biasa. Musik klasik mengalun pelan dari speaker tersembunyi. Aroma cerutu mahal dan kopi Arabica bercampur wangi mawar segar memenuhi udara.
Di sofa kulit putih raksasa, Sari Dewi sedang bersandar santai, kaki kecilnya terangkat ke atas meja kopi, jari-jarinya membolak-balik majalah mode internasional dengan malas. Rambut pendek ikalnya diatur rapi, wajahnya bersinar lembut dalam cahaya lampu kuning hangat. Di sebelahnya, Andri Andalan duduk di ujung sofa, badannya sedikit condong ke arah cucunya, matanya tak lepas dari wajah gadis itu, siap meladeni apa saja yang dia minta—air, selimut, atau sekadar pandangan mata.
Di seberang ruangan, berdiri tegak di dekat pintu, Raga Wijaya. Tubuhnya kaku. Rahangnya mengeras. Otot lehernya menegang. Dia merasakan getaran halus lagi dari jam tangan pintar modifikasi militer itu. Pesan terenkripsi, singkat, padat, dan sangat buruk.
"Grup Hitam. 4 Truk. 28 Orang Bersenjata Lengkap. Bergerak dari Arah Selatan. Target: Menara. ETA: 15 Menit."
Raga melirik cepat ke arah Andri. Biasanya, ini saatnya sang Bos Besar mengambil keputusan, memberi perintah, mengerahkan pasukan. Tapi Raga tahu, lebih baik siapa pun di gedung ini tahu: Andri Andalan sudah tidak memimpin lagi. Dia cuma boneka yang cantik dan berbahaya. Pemimpin sesungguhnya ada di sofa itu, sedang membaca majalah remaja dengan wajah bosan.
Raga melangkah maju dua langkah, sepatu bot militernya tak bersuara di atas karpet beludru tebal. Dia membungkuk sedikit, mendekat ke telinga Sari Dewi, suaranya rendah, tegas, dan serius.
"Nona. Kita punya masalah. Besar."
Sari Dewi tidak berhenti membalik halaman majalah. Matanya tetap menatap foto model pakaian renang. Alisnya sedikit terangkat, acuh tak acuh.
"Masalah apa, Paman? Apakah es krim cokelatnya habis? Atau internetnya lemot?" suaranya manja, santai, seolah sedang membahas hal remeh.
"Lebih buruk dari itu, Nona," bisik Raga. "Grup Macan Hitam. Mereka datang. Pasukan penuh. Senjata berat. Mereka berani masuk ke wilayah kita. Mereka mau serang gedung ini sekarang."
Akhirnya, Sari Dewi berhenti. Jarinya berhenti di tengah halaman majalah.
Keheningan yang panjang, berat, dan mencekam menyelimuti ruangan. Musik klasik terdengar makin keras dan menyeramkan di telinga semua orang.
Perlahan, sangat perlahan, Sari Dewi menutup majalah itu. Dia meletakkannya di meja dengan gerakan halus dan presisi, tanpa bunyi. Lalu, dia menurunkan kakinya dari meja, duduk tegak, punggung lurus, bahu rileks.
Saat dia mengangkat wajahnya, Gadis Kecil itu lenyap.
Yang muncul adalah Komandan Tertinggi.
Matanya yang besar dan indah itu berubah menjadi dua butir kaca hitam pekat, dingin, tajam, tanpa dasar, dan penuh perhitungan matematis yang rumit. Tidak ada rasa takut. Tidak ada kaget. Tidak ada panik. Hanya fokus mutlak dan logika murni.
Andri Andalan di sebelahnya tersentak, tubuhnya gemetar hebat. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin langsung membasahi dahi tuanya.
"Macan... Macan Hitam?!" seru Andri parau, suaranya pecah karena ketakutan. "T-tidak mungkin! Mereka gila?! Siapa yang berani?! Mereka tahu ini markasku! Mereka tahu ini bentengku! Mereka tahu konsekuensinya!!"
Andri bangkit berdiri dengan terhuyung, panik, matanya liar melihat ke arah jendela besar yang menghadap kota malam.
"Itu pasti kerjaan Riko Surya! Kepala Macan Hitam! Dia dendam sama aku sejak aku ambil pelabuhan utara lima tahun lalu! Dia mau balas dendam! Dia mau bunuh aku! Dia mau ambil alih segalanya!!" Andri berjalan mondar-mandir seperti binatang kurungan tua, tangan gemetar menyisir rambut putihnya. "Raga! Siapkan pasukan! Panggil semua orang! Tutup gerbang! Kirim pesan ke polisi! Minta bantuan militer! Kita dikepung! Kita akan mati di sini!!"
Teror lama, insting bertahan hidup lama, dan trauma masa lalu mengambil alih otak Andri. Dia kembali menjadi diri lamanya: Pria paruh baya yang keras, tapi di bawah tekanan ekstrem, dia rapuh, emosional, dan reaktif. Dia berteriak, memberi perintah acak, panik, dan kacau.
KLIK.
Suara jari jentikkan halus terdengar tajam di udara. Satu kali. Keras. Jelas.
"Sudah."
Satu kata. Lembut. Tenang. Tapi bermuatan kekuatan hipnotis yang luar biasa.
Suara Andri terpotong di tenggorokannya. Langkah kakinya terhenti. Mulutnya masih terbuka, matanya terbelalak menatap cucunya.
Sari Dewi duduk diam, bersedekap di dada, menatap kakeknya dengan tatapan menghina, bosan, dan tidak sabar.
"Duduk, Kakek." Perintahnya pelan tapi mutlak. "Berhenti teriak. Kamu bising. Kamu bikin aku sakit kepala. Dan yang paling penting... kamu malu-maluin."
Air mata ketakutan dan rasa malu menggenangi mata Andri. Dia menunduk, tubuhnya lemas, lututnya gemetar. Tanpa kata, dia kembali duduk di sofa, mengecilkan diri, menundukkan kepala seperti anak kecil yang dimarahi gurunya.
"Ma... maaf, Sayangku... maafkan aku... aku cuma... aku takut kamu kenapa-napa..." bisik Andri pelan, suaranya hancur.
Sari Dewi mengabaikannya sepenuhnya. Dia memutar kepalanya 90 derajat ke kiri, menatap ke arah sudut ruangan, ke arah pintu kecil yang mengarah ke lorong belakang, ke arah dua orang yang dia paksa hadir di sana setiap saat.
"Ayah," panggil Sari Dewi. Suaranya jernih, tajam, memerintah.
Pintu itu terbuka.
Masuklah Arya Pratama dan Naya Andalan.
Mereka terlihat sama menyedihkannya seperti biasa: Pakaian lusuh, wajah lelah, kurus, mata cekung. Tapi saat Arya melangkah masuk, saat dia mendengar nama "Macan Hitam", ada sesuatu yang berkedip di matanya yang mati. Sebuah sisa-sisa nyala api tua. Insting lama. Otak strategis yang pernah membuatnya menjadi komandan terbaik di angkatan bersenjata.
Arya berhenti lima meter di depan sofa. Dia tidak menunduk. Dia menatap lurus ke arah putrinya. Tatapan mereka bertemu. Dua pasang mata yang sama persis, tapi berisi jiwa yang saling memusuhi sampai mati.
"Kamu kenal mereka, kan, Ayah?" tanya Sari Dewi santai, jari telunjuknya mengetuk-ngetuk pelan lengan sofa, irama teratur, menenangkan, tapi mengancam. "Macan Hitam. Riko Surya. 28 orang. Bersenjata AK-47, granat, mungkin RPG. Datang malam-malam, berani serang pusat kekuasaan Wijaya-Andalan. Analisismu apa, Komandan?"
Ada nada ejekan tajam di kata "Komandan". Tapi Sari Dewi butuh otak itu. Dia jenius, dia brilian, dia licik... tapi dia baru 13 tahun. Dia belum punya pengalaman taktis tempur nyata. Dia belum tahu pola, kebiasaan, psikologi musuh lama. Dan Arya Pratama adalah buku referensi hidup untuk semua itu.
Arya terdiam sejenak. Dia menelan ludah tenggorokannya yang kering. Dia melihat Andri yang gemetar ketakutan di sofa. Dia melihat Raga yang berdiri tegap tapi menunggu perintah. Dia melihat Naya yang gemetar di belakangnya. Dan dia melihat putrinya. Monster kecil yang sedang duduk santai di tengah badai.
Arya tahu posisinya. Dia tahu ini jebakan. Dia tahu kalau dia memberi strategi, dia membantu putrinya membunuh orang, dia membantu monster menang. Tapi dia juga tahu: Kalau dia diam, kalau dia tolak, kalau dia biarkan Sari kalah... Sari mati. Dan kalau Sari mati, mereka semua mati. Riko Surya dikenal sadis. Dia tidak akan tinggalkan saksi. Dia akan bunuh Andri, dia akan bunuh Raga, dia akan bunuh Arya dan Naya dengan cara paling kejam.
Jadi, pilihan Arya sederhana: Bantu monster menang, atau mati di tangan iblis lain yang lebih kasar dan bodoh.
Arya menghela napas panjang. Bahunya yang bungkuk perlahan tegak sedikit. Tulang belakangnya menegang. Otak lamanya, otak militer, otak taktisnya hidup kembali, mengambil alih emosi dan rasa bencinya.
"Analisis sederhana," suara Arya parau, berat, tapi jelas dan tegas. Suara Komandan kembali terdengar.
"Pertama: Jumlah pasukan. 28 orang. Itu tidak cukup untuk serangan frontal total ke gedung sebesar ini. Gedung ini punya 3 lantai bawah tanah, 4 pintu masuk utama, sistem keamanan canggih, dan 60 penjaga bersenjata di dalam. 28 orang gila kalau mau serang habis-habisan. Itu bunuh diri."
Arya melirik tajam ke arah Raga.
"Kedua: Waktu dan Cara. Mereka datang malam, pakai truk, diam-diam, bukan konvoi terbuka. Artinya... Mereka tidak mau perang terbuka. Mereka tidak mau polisi datang. Mereka tidak mau publik tahu. Mereka tidak mau menghancurkan aset berharga (gedung ini bernilai ribuan miliar). Mereka mau Masuk Diam, Bunuh Target Utama, Keluar Cepat. Operasi Khusus. Assassination. Pembunuhan Sasaran."
Arya kembali menatap Sari Dewi. Matanya tajam, analitis.
"Ketiga: Siapa Targetnya? Logikanya: Andri Andalan. Kepala ular. Kalau Andri mati, kerajaan ini pecah, lemah, mudah dirampas. Itu target utamanya. Tapi..."
Arya berhenti sejenak, matanya menyipit, menganalisis situasi yang aneh ini.
"...tapi ada yang salah. Riko Surya pengecut. Dia licik, dia jahat, dia pembunuh... tapi dia tidak berani menyerang Andri Andalan secara langsung, di rumahnya sendiri, kecuali... dia punya alasan besar. Kecuali dia yakin Andri lemah. Kecuali dia tahu Andri sudah berubah. Kecuali dia dapat info dari dalam kalau Andri sudah tidak punya mental, sudah gila, sudah lembek, sudah dikendalikan anak kecil."
Kalimat itu jatuh seperti batu besar ke lantai.
INFO DARI DALAM.
Ruangan hening mencekam. Raga langsung meraih gagang pisau di pinggangnya, matanya menyala marah.
"Pengkhianat," desis Raga dingin. "Ada tikus di rumah ini."
Sari Dewi tersenyum tipis. Bukan senyum takut. Senyum puas.
Dia menoleh ke arah Raga. "Ayah benar, Paman. Sangat benar. Ini bukan serangan acak. Ini serangan terencana, terjadwal, dan terinformasi dengan baik. Musuh tahu persis di mana kita, jam berapa kita makan, jam berapa kita tidur, jam berapa kita lengah. Mereka tahu Andri tidak lagi memimpin operasi lapangan. Mereka tahu pertahanan kita kacau."
Sari Dewi bangkit berdiri. Dia berjalan perlahan melintasi ruangan, melewati Andri yang masih gemetar, melewati Naya yang menangis diam, berhenti tepat di depan ayahnya. Dia mendongak, menatap mata Arya, matanya sejajar, menatap tepat ke dalam jiwa pria itu.
"Bagus, Ayah. Otakmu masih jalan. Bagian yang berguna dari dirimu ternyata belum mati sepenuhnya." Sari tersenyum jahat. "Nah, pertanyaannya jutaan dolar: Mereka mau masuk. Mereka mau bunuh kita. Dan mereka tahu kita lemah. Pertanyaanmu, Pak Komandan... bagaimana kita membunuh mereka semua? Bagaimana kita ubah serangan tikus kecil ini menjadi hari kiamat bagi seluruh organisasi Macan Hitam?"
Arya menatap putrinya dengan tatapan campuran kekaguman ngeri dan rasa jijik yang mendalam. Gadis ini. Di tengah bahaya maut, di tengah ancaman pembunuhan, di tengah ketakutan semua orang... dia tidak takut. Dia tidak mau lari. Dia tidak mau sembunyi. Dia tidak mau minta tolong polisi. Dia mau membalas. Dia mau menghancurkan. Dia mau jadikan ini perang habis-habisan.
"Kamu mau perang total?" tanya Arya pelan. "Kalau kita lawan, Riko akan bawa lebih banyak orang. Dia akan bakar gedung ini. Dia tidak peduli nyawa orang lain. Dia psikopat sejati."
"Bagus," potong Sari Dewi cepat, matanya berbinar. "Psikopat lawan Psikopat. Itu pertandingan yang adil. Aku suka." Dia mendekatkan wajahnya ke wajah ayahnya, bisikannya penuh racun dan gairah perang. "Dengar aku baik-baik, Ayah. Kita tidak mau cuma selamat malam ini. Kita mau akhir dari Riko Surya. Kita mau akhir dari Macan Hitam. Kita mau besok pagi, kepala Riko dipajang di gerbang pelabuhan, dan namanya jadi cerita seram anak-anak kecil. Dan aku mau KAMU yang buat rencananya. Kamu yang susun jebakannya. Kamu yang beri aku peta jalur masuk mereka."
Sari Dewi mengangkat jari telunjuknya, menusuk dada bidang ayahnya yang kurus itu.
"Karena kalau kamu berhasil... aku janji. Malam ini, kamu dan Bunda akan makan makanan enak. Daging sapi panggang, sup krim, anggur merah. Kamu akan tidur di kasur empuk lagi. Kamu akan mandi air hangat bersih. Tapi kalau kamu gagal... atau kalau kamu sengaja kasih rencana bodoh supaya kita mati... aku janji, Ayah. Aku akan potong-potong Bunda hidup-hidup di depan matamu. Aku akan biarkan kamu makan dagingnya. Dan aku akan buat kamu hidup seribu tahun lagi dalam neraka di sini. Mengerti?"
Ancaman itu diucapkan dengan nada ceria, manja, dan riang. Tapi isinya adalah janji neraka yang paling nyata.
Darah Arya mendidih. Dia ingin mencekik gadis ini. Dia ingin meremas leher kecil ini sampai patah. Tapi dia melihat Naya di belakang. Dia melihat mata istrinya yang penuh air mata dan ketakutan. Dia tidak punya pilihan.
"Baik," desis Arya melalui gigi gemeretak. "Aku buat rencananya. Tapi ingat... kamu main api. Kamu main dengan monster yang jauh lebih kotor dan lebih berdarah dari Andri."
"Aku suka api," jawab Sari Dewi santai, lalu berbalik memerintah Raga. "Paman Raga! Bawa peta lantai, denah saluran udara, denah sistem keamanan, posisi kamera, posisi senjata, dan daftar nama semua penjaga kita. Sekarang! Dan kunci semua pintu. Tidak ada yang masuk atau keluar kecuali aku izinkan. Kita cari siapa tikusnya nanti."
10 menit kemudian.
Meja rapat besar di ruang kerja tertutup penuh kertas, peta besar, denah, dan penanda merah biru.
Di sekeliling meja berdiri:
- Sari Dewi: Duduk di ujung kepala, wajah serius, fokus, seperti jenderal perang berpengalaman 40 tahun. Dia memegang pena merah, menandai titik-titik dengan cepat dan akurat.
- Arya Pratama: Berdiri di sebelahnya, wajah tegang, keringat dingin mengalir di pelipis, menjelaskan jalur, kelemahan, kekuatan, dan kebiasaan musuh. Dia bekerja otaknya habis-habisan, meski hatinya berdarah. Dia merancang kematian manusia demi keselamatan monster yang dia ciptakan sendiri. Ironi terbesar di dunia.
- Raga Wijaya: Tangan di pinggang, mata tajam, mendengarkan setiap kata, menghafal setiap instruksi, siap eksekusi.
- Andri Andalan: Duduk di pojok, diam, takut, tidak berdaya, hanya menatap cucunya dengan kekaguman fanatik.
- Naya Andalan: Berlutut di sudut ruangan, berdoa dalam hati, menangis diam.
"Riko Surya orangnya sombong, arogan, dan suka jalan pintas," jelas Arya cepat, jari telunjuknya menunjuk peta area parkir bawah tanah dan tangga darurat timur. "Dia pasti masuk lewat bawah. Lewat jalur servis. Dia tahu kamera di sana ada titik buta di jam-jam tertentu. Dia akan bagi pasukannya jadi tiga kelompok:
1. Kelompok Penghalang: 8 orang. Tutup pintu keluar utama, blokir jalan, jaga pos.
2. Kelompok Pencari: 10 orang. Cari ruang Andri, bersihkan penjaga di jalan.
3. Kelompok Pembunuh: 10 orang elit. Dipimpin Riko sendiri. Langsung naik lift servis atau tangga darurat ke lantai 28. Target langsung: Ruang kerja ini."
Arya menatap putrinya. "Dia yakin kamu, Andri, dan semua orang penting ada di sini. Dia yakin kita panik, sembunyi, dan tidak siap bertempur."
Sari Dewi tersenyum lebar. Senyum serigala muda yang melihat mangsanya masuk kandang.
"Sempurna," bisik Sari Dewi. "Dia persis seperti yang aku harapkan. Bodoh. Sombong. Dan penuh percaya diri."
Dia mengambil pena merahnya, menarik garis tebal melingkari area Tangga Darurat Timur dan Lantai Bawah Tanah 3.
"Jadi, begini rencananya," suara Sari Dewi berubah rendah, dingin, dan mematikan. "Ini bukan pertahanan. Ini Jebakan. Kita tidak akan sembunyi. Kita tidak akan lari. Kita tidak akan minta tolong polisi."
Dia menatap Raga.
"Paman, instruksiku:
Satu: Tarik semua penjaga dari lantai bawah dan lantai 1 sampai 27. Semua orang mundur ke lantai 28. Kosongkan lantai bawah. Matikan semua lampu di bawah. Biarkan gelap gulita. Biarkan mereka masuk dengan tenang. Biarkan mereka merasa aman. Biarkan mereka merasa kita panik dan kabur."
Raga mengangguk, merekam setiap kata.
"Dua: Di Tangga Darurat Timur dan koridor lantai 3 bawah... pasang 'pesta penyambutan'. Gunakan bahan peledak C4 yang kita simpan di gudang senjata, pasang di langit-langit dan kusen pintu. Jangan meledakkan saat mereka masuk. Tunggu sampai seluruh 28 orang masuk ke dalam gedung, sampai mereka berkumpul di area lobi bawah tanah, sampai mereka merasa sudah aman dan mulai naik ke atas. Tunggu sinyalku."
Mata Raga berbinar. Dia mengerti. Jebakan Tertutup. Tutup pintu kandang setelah semua serigala masuk.
"Tiga: Saluran Udara & Ventilasi. Ayah bilang saluran udara terpusat di ruang mesin tengah gedung. Benar kan, Ayah?" Sari melirik Arya. Arya mengangguk kaku.
"Bagus. Paman, siapkan tabung gas air mata dan gas tidur yang kita ambil dari gudang polisi korup bulan lalu. Masukkan semua ke saluran udara utama bawah. Saat mereka sudah terperangkap di dalam, pintu keluar diblokir ledakan... semprotkan gas itu. Aku tidak mau mereka mati seketika. Aku mau mereka pingsan. Aku mau mereka lumpuh. Aku mau mereka hidup. Aku mau tanya mereka sesuatu."
"Kamu mau tangkap mereka hidup-hidup?" potong Arya kaget, matanya membelalak. "Sari, itu 28 orang pembunuh terlatih! Bahkan kalau mereka pingsan, itu bahaya!"
Sari Dewi tertawa renyah. "Tenang, Ayah. Kalau mereka bangun, mereka akan terikat cantik sekali. Dan percayalah... setelah aku selesai sama mereka, mereka tidak akan pernah mau bangun lagi. Mereka akan berharap mereka mati saja saat itu juga."
"Empat: Posisi kita. Paman Raga ambil 30 orang terbaikmu, bersenjata lengkap, posisikan di atas tangga darurat, di balik pintu baja, di posisi menembak atas ke bawah. Saat gas menyebar, saat mereka pusing, muntah, jatuh... kalian turun. Tapi jangan tembak. Tangkap hidup-hidup. Tangan ikat punggung. Mulut sumpal. Bawa ke ruang bawah tanah rahasia B3. Kamu tahu tempatnya, kan, Ayah? Ruang interogasi lama Kakek."
Arya menelan ludah. Dia tahu ruang itu. Ruang tanpa jendela, kedap suara, dingin, penuh rantai dan alat 'medis'. Ruang di mana Andri dulu menghilangkan musuh-musuhnya tanpa jejak.
"Lima: Tikus. Sementara perang terjadi di bawah, kita cari siapa yang kasih tahu Riko jadwal kita. Riko tidak akan tahu aku ada di sini, Andri lemah, dan pertahanan kosong... kecuali orang terdekat kita yang bilang. Orang yang ada di gedung ini. Orang yang ada di meja rapat tadi. Atau orang di staf Andri."
Sari Dewi menoleh tajam ke arah Andri.
"Kakek, siapa orang yang paling sering keluar masuk kantormu akhir-akhir ini? Siapa yang paling sering tanya jadwalku? Siapa yang paling senang kalau kamu terlihat stres atau sakit?"
Wajah Andri memucat lagi, tapi kali ini bukan karena takut mati, tapi karena takut mengecewakan Sari. Dia berpikir keras.
"A-ada... ada Bimo. Asisten pribadiku. Dia... dia aneh akhir-akhir ini. Dia sering telat. Dia sering hilang. Dia... dia dulu anak buah Riko sebelum aku beli dia 3 tahun lalu."
Senyum miring jahat terbit di bibir Sari.
"Ah... Bimo. Anak kesayangan. Ternyata. Paman Raga, saat operasi berjalan, kirim dua orang diam-diam ke kamar staf. Tangkap Bimo. Bawa ke sini. Jangan bunuh. Aku mau bicara sama dia duluan sebelum aku serahkan ke Ayah."
"Kenapa ke aku?" tanya Arya tajam, suaranya bergetar.
""Karena Ayah mantan interogator terbaik militer, kan?" ejek Sari manis. "Ayah tahu 1001 cara bikin orang bicara tanpa membunuh mereka. Dan aku yakin... Ayah pasti senang sekali bantu aku bikin si Bimo bicara. Karena kalau dia bicara... kita tahu siapa lagi yang pengkhianat. Dan makin banyak pengkhianat mati... makin cepat Ayah dapat makan enak. Transaksinya jelas, kan?"
Arya merasa mual. Dia merasa jiwanya dikikis habis setiap detik dia berada di ruangan ini. Dia menjadi algojo bagi putrinya sendiri. Dia menjadi anjing peliharaan monster. Tapi dia mengangguk. Keputusannya sudah bulat. Selama Naya selamat, selama mereka hidup, dia akan melakukan apa saja. Dia akan menjual jiwanya ke neraka.
"6 MENIT LAGI SAMPAI," suara operator lewat radio di tangan Raga terdengar serak dan tegang.
"Semua siap?" tanya Sari Dewi. Matanya bersinar terang, pupilnya melebar, adrenalin membanjiri otaknya, membuatnya merasa hidup, kuat, dan mahakuasa.
"Siap, Nona," jawab Raga hormat, matanya penuh kekaguman suci.
"Siap..." gumam Arya pelan, matanya menatap putrinya dengan pandangan yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya. Pandangan seorang ayah yang sadar dia telah melahirkan iblis terbesar di muka bumi.
"Baik." Sari Dewi melompat naik ke atas meja rapat besar itu. Dia duduk di tengah meja, kaki kecilnya menjuntai, di atas peta, di atas denah, di atas nasib nyawa 30 orang. Dia duduk seperti Ratu di atas takhta medan perang.
Dia mengambil radio komunikasi, menekan tombol bicara, suaranya tenang, jernih, riang, dan dingin, terdengar di telinga semua 60 orang pasukan di dalam gedung.
"Halo, anak-anakku... Ini Nona Sari. Dengarkan baik-baik. Malam ini, ada tamu tak diundang datang berkunjung. Mereka nakal. Mereka jahat. Mereka mau sakiti aku dan Kakekku. Kita tidak suka orang jahat, kan? Kita mau ajar mereka sopan santun. Ikuti perintah Paman Raga persis. Jangan salah langkah. Jangan bunuh siapa pun sebelum aku bilang. Ingat: Hidup lebih berharga daripada mati. Karena orang hidup bisa merasakan sakit. Selamat bekerja, sayangku."
Dia meletakkan radio. Dia menoleh ke arah Andri yang masih gemetar di pojok.
"Kakek. Sini."
Andri berjalan terhuyung mendekat.
"Duduk di sini." Sari menepuk meja di sebelah pantatnya. Di atas peta, di atas denah, di tengah medan perang.
Andri duduk patuh.
Sari Dewi merangkul lengan kakeknya, menyandarkan kepalanya di bahu tua itu, menatap jam tangan dinding yang berdetak lambat.
"Nah... sekarang kita tunggu, Kakek. Ayo kita nonton pertunjukannya. Ini akan jadi film paling seru, paling berdarah, dan paling indah yang pernah kita tonton berdua."
Detik demi detik berlalu. Suasana tegang sampai ke ubun-ubun.
Di bawah sana, di dalam kegelapan gedung yang mati lampu, 28 anggota elit Macan Hitam berjalan diam-diam, langkah ringan, senjata siap, tersenyum puas. Mereka melihat gedung kosong. Mereka melihat lampu mati. Mereka mendengar keheningan.
Andri tua itu panik. Dia kabur. Dia lemah. Mudah sekali, pikir Riko Surya, pria besar bertato naga di wajah itu, tersenyum kejam di kegelapan. Malam ini aku jadi Raja Kota Baru. Malam ini aku makan cucu kecil cantik Andri sebagai pesta kemenanganku.
Mereka masuk. Semua masuk. Semua 28 orang.
Mereka berkumpul di lobi bawah tanah, tertawa pelan, bersiap naik tangga.
Di lantai 28, jarum jam bergerak.
TING.
Sari Dewi mengangkat tangan kecilnya.
"SEKARANG."
Perintah satu kata.
Di detik yang sama, di bawah sana:
BOOOOMMMM!!!!
Ledakan dahsyat mengguncang seluruh gedung, dari fondasi sampai atap. Langit-langit di pintu masuk utama dan pintu belakang runtuh. Balok beton dan besi baja jatuh menutup rapat semua jalan keluar. Debu, asap, dan suara jeritan memenuhi udara.
Gedung itu menjadi Kubah Baja Tertutup. Tidak ada yang bisa masuk. Tidak ada yang bisa keluar.
Sebelum Riko dan anak buahnya sempat sadar, sempat menembak, sempat melihat apa yang terjadi...
SSSSSSHHHHHHH....
Suara desisan halus terdengar dari segala arah. Dari ventilasi, dari lubang kecil di dinding, dari celah langit-langit. Awan kabut putih tipis mulai menyebar cepat, memenuhi ruangan besar itu.
"Apa ini?! Gas!! Lari!!" teriak Riko serak, berusaha menutup mulut dan hidungnya dengan jaket. Tapi terlambat. Gas itu berat, cepat, dan kuat.
Dalam hitungan detik, suara batuk, muntah, tercekik, dan tubuh jatuh bergemuruh terdengar. Mata perih, hidung terbakar, pusing hebat, otot lemas. Satu per satu, 28 serigala ganas itu ambruk ke lantai beton keras, tidak sadarkan diri, tidak berdaya, terkapar seperti karung beras.
Keheningan kembali menyelimuti gedung. Hanya suara desisan gas yang perlahan berhenti.
Di lantai 28, Sari Dewi bertepuk tangan pelan.
CLAP.. CLAP.. CLAP..
"Indah sekali," bisiknya dengan mata berbinar. "Seni yang sempurna. Efisien. Bersih. Tanpa darah di tangan kita."
Dia menoleh ke Raga yang sudah berdiri di pintu, bersenjata lengkap, topeng taktis menutupi wajah.
"Paman, giliranmu. Ajak teman-teman kita masuk. Ikat mereka cantik-cantik. Jangan sampai ada yang lari. Dan ingat... cari si Bimo dulu. Bawa dia ke atas. Aku mau bicara sama tikus kecil itu."
"Siap, Nona." Raga membungkuk, lalu menghilang di balik pintu lift darurat, diikuti 30 bayangan hitam bergerak turun ke neraka di bawah.
Sari Dewi turun dari meja. Dia merapikan roknya, menyisir rambutnya dengan jari, wajahnya kembali menjadi gadis kecil manis, polos, dan ceria. Dia menoleh ke arah Arya dan Naya yang masih berdiri kaku di sudut ruangan, wajah mereka pucat pasi, syok luar biasa melihat betapa mudah dan dinginnya Sari menghancurkan 28 nyawa manusia.
"Nah, Ayah, Bunda..." seru Sari riang, berjalan mendekati mereka, tangan kecilnya merangkul lengan ayah dan ibunya, menarik mereka mendekat. "Pertunjukan baru saja dimulai. Bagian terbaiknya masih belum datang. Sekarang kita tahu siapa musuh luarnya. Sekarang kita akan tahu siapa musuh dalamnya. Dan percayalah... malam ini akan jadi malam yang takkan pernah kalian lupakan sampai hari kalian mati."
Dia menatap mata mereka satu per satu, senyumnya mekar indah namun penuh kengerian.
"Karena malam ini, kalian akan belajar pelajaran paling penting di dunia: Bahwa melawan Sari Dewi... adalah kesalahan terakhir yang akan kamu buat di hidupmu."
Lift darurat berbunyi di bawah.
Dan di kejauhan, suara teriakan panik dan jeritan ketakutan terdengar samar-samar naik dari kedalaman bumi.
Malam itu, Menara Wijaya-Andalan bukan lagi gedung kantor.
Malam itu, gedung itu resmi menjadi Istana Penyiksaan Sang Ratu Kecil.