Kisah romansa antara Sulthan Aditama, CEO perusahaan emas yang tampan, dingin, dan hidup dalam kemewahan, dengan Nurlia, gadis sederhana yang bekerja keras sebagai pelayan restoran demi menghidupi adiknya setelah orang tua mereka meninggal.
Berawal dari pertemuan tak terduga dan insiden kecil, Sulthan mulai tertarik pada ketulusan, keramahan, dan kekuatan mental Nurlia yang berbeda dari wanita-wanita elit yang biasa ia temui. Perlahan, pria yang hatinya beku itu mulai mencair. Ikuti perjalanan cinta mereka yang harus melewati rintangan perbedaan status sosial, rasa minder, dan cemoohan orang lain demi membuktikan bahwa cinta sejati bisa menyatukan dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MrRabbit_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Pagi hari yang cerah seperti biasa. Nurlia sudah berada di tempat kerjanya sejak pukul setengah tujuh. Dia menyapa teman-teman di dapur, membantu menyiapkan bumbu, mengelap meja, dan bersiap menyambut pelanggan yang mulai berdatangan. Rutinitasnya berjalan lancar, hingga menjelang siang, sebuah kelompok besar datang dan duduk di meja panjang di area tengah.
Nurlia mendapat giliran untuk melayani meja tersebut. Awalnya biasa saja, tapi begitu pesanan dicatat dan makanan datang, masalah pun mulai muncul.
Salah satu pria di meja itu, tampaknya pemimpin kelompoknya, mulai bertingkah. Mukanya masam, suaranya keras, dan omongannya sangat tidak sopan.
"Heh! Mbak-mbak! Ini soto kuah kurang kental! Masak encer gini? Kamu masaknya pake air got ya?!" teriaknya tanpa dosa, padahal kuah soto itu warnanya pekat dan aromanya wangi.
Nurlia menelan ludah, berusaha sabar. "Mohon maaf, Pak. Kalau kurang kental, boleh saya minta ke dapur untuk ditambahkan daging atau bumbunya lagi?"
"Enggak mau! Ribet! Kamu aja yang kerjanya asal-asalan! Lihat nih piringnya masih ada bercak minyak! Kamu cuci piringnya pake kaki apa gimana?!" serangnya lagi, kali ini sambil menunjuk-nunjuk wajah Nurlia dengan jari telunjuknya yang kasar.
Teman-teman satu mejanya hanya diam, ada yang tersenyum sinis, seakan menikmati melihat Nurlia dipermalukan.
"Maaf, Pak, saya akan ganti piringnya yang baru..." jawab Nurlia masih berusaha tenang, meski dadanya sudah terasa sesak.
Tapi pria itu tidak berhenti. Dia terus memaki, mengomentari penampilan Nurlia yang dianggapnya tidak rapi, sampai menjelek-jelekkan seluruh restoran ini dengan kata-kata kotor yang sangat menyakitkan hati.
"Dasar pelayan murahan! Gaji sedikit tapi kerjanya lelet! Kalau gue jadi bos lo, udah gue pecat dari kemarin-kemarin! Nggak becus kerja!"
Itu lah titik baliknya. Kesabaran Nurlia yang selama ini setebal bambu akhirnya habis sudah. Dia tidak bisa membiarkan dirinya dihina begitu saja, apalagi sampai dinyatakan tidak becus bekerja padahal dia sudah berusaha sebaik mungkin.
BRAAKK!!!
Dengan tenaga yang luar biasa, Nurlia menggebrak meja itu dengan sangat keras. Suaranya begitu nyaring dan memekakkan telinga, membuat piring-piring di atasnya bergoyang dan gelas-gelas berisik.
Seluruh restoran seketika hening total. Suara dentingan sendok, obrolan, semua berhenti. Semua mata tertuju ke arah sana.
Pria yang tadi bawel itu pun kaget setengah mati, tubuhnya tersentak mundur kaget, wajahnya pucat melihat mata Nurlia yang kini memancarkan api kemarahan.
"SUDAHHH!!" teriak Nurlia dengan suara lantang dan bergetar menahan emosi. "Bapak sudah makan, bayar, tapi mulutnya tidak dijaga! Saya sudah minta maaf berkali-kali, saya sudah tawarkan solusi, tapi Bapak malah makin menjadi-jadi menghina saya dan tempat ini!"
Nurlia menatap tajam ke arah pria itu, matanya tidak berkedip.
"Saya kerja sebagai pelayan itu karena saya punya harga diri! Saya cari uang halal! Bukan berarti saya boleh dipijak dan dimaki seenaknya! Kalau Bapak merasa paling hebat dan paling kaya, kenapa makan di sini? Kenapa tidak makan di restoran bintang lima yang pelayannya bisa Bapak perintah sesuka hati?!"
Napas Nurlia memburu. "Dan soal kerjaan saya, jangan sok tahu! Saya bekerja jauh lebih keras daripada orang yang cuman bisa duduk manis memaki orang lain! Sekarang Bapak mau makan atau mau pergi? Kalau mau cari masalah, saya tidak takut!"
Suasana menjadi sangat tegang. Pria itu hanya bisa mangap-mangap seperti ikan kering, tidak bisa berkata apa-apa. Dia terlihat malu sekali karena dimarahi oleh seorang pelayan wanita di depan banyak orang.
Setelah ledakan emosi itu mereda, Nurlia menarik napas panjang lalu berbalik badan dan pergi meninggalkan meja itu dengan wajah datar namun penuh wibawa.
Di restoran itu, reaksi orang-orang terbagi dua.
Sebagian besar pelanggan lain dan teman-teman kerjanya justru kagum setengah mati. Mereka berbisik-bisik.
"Wah, berani banget ya Mbak itu... Gue salut sih, akhirnya ada yang berani lawan orang sombong kayak gitu."
"Iya tuh, emang kadang ada pelanggan yang kalau gak dilawan malah ngerasa paling benar. Keren dia!"
"Cewek biasa aja tapi berani banget gebrak meja depan orang banyak. Respect!"
Mereka menganggap Nurlia hebat karena bisa membela diri dan menegur ketidakadilan dengan gagah berani.
Namun, ada juga sebagian orang—terutama yang berfikiran terlalu kaku atau yang memang mendukung sikap 'pelayan harus selalu tunduk'—yang menggeleng-gelengkan kepala dan berkomentar negatif.
"Aduh, kasar banget sih... Masa pelayan gebrak meja gitu. Nggak sopan sekali."
"Iya tuh, namanya juga kerja melayani ya harus sabar. Emosi gitu kan ngerusak citra restoran."
"Dasar cewek galak, nggak tahu diri jadi pelayan."
Nurlia mendengar bisikan-bisikan itu, tapi dia pura-pura tidak tahu. Dia masuk ke dapur, bersandar di dinding, dan memejamkan mata. Dadanya masih berdegup kencang, campuran antara marah dan takut akan konsekuensi yang mungkin dia terima.
Tapi dalam hati, dia lega. Setidaknya hari ini dia membuktikan bahwa meski dia hanya seorang pelayan, dia punya martabat yang tidak boleh diinjak-injak sembarangan.
Tangan dan kaki Nurlia terasa gemetar hebat, bercampur antara adrenalin yang masih memuncak dan rasa lelah yang luar biasa. Dia menunduk, mencoba menenangkan napasnya yang masih memburu.
Belum sempat dia duduk, Rina dan Sari—teman-teman kerjanya yang selama ini paling dekat—langsung menghampiri dengan wajah cemas.
"Ya ampun Lia... kamu keren banget sih tadi! Berani banget lawan omongan dia!" seru Rina sambil menepuk-nepuk bahu Nurlia pelan.
"Tapi Lia..." sambung Sari dengan nada lebih lembut dan khawatir. "Kamu jangan gitu dong kalau marah. Kami tahu dia emang keterlaluan, mulutnya sampah banget. Tapi kan kamu pelayan, Lia. Kalau sampai gebrak meja gitu, nanti kalau dia lapor ke Pak Hartono atau Pak Budi, bisa-bisa kamu kena masalah besar lho."
Rina mengangguk setuju. "Iya bener kata Sari. Sabar ya, sayang. Emang bikin naik darah sih orangnya, tapi kamu kan orang baik. Jangan sampai karena ulah orang jahat, kerjaan kamu jadi terancam. Nanti gimana Adelia kalau kamu dipecat?"
Nasihat itu masuk akal dan menyentuh hati Nurlia. Mendengar nama Adelia disebut, Nurlia perlahan membuka matanya. Dia menarik napas panjang lalu menghela napasnya.
"Makasih ya, Rin, Sar. Aku tahu aku salah juga udah emosi. Tapi keterlaluan banget tau nggak? Dihina seenaknya," jawab Nurlia lirih, suaranya terdengar lelah sekali. "Aku janji nggak bakal ngulangin lagi. Aku cuman lagi capek banget aja hari ini."
"Udah gapapa, tenang aja. Kita ngerti kok. Minum air dulu yok, biar adem," kata Sari sambil menyodorkan segelas air putih.
Nurlia menerima gelas itu dan meneguknya perlahan, berusaha mendinginkan kepalanya. Situasi mulai sedikit membaik, teman-temannya mencoba mengalihkan pembicaraan agar Nurlia tidak terlalu stres memikirkan kejadian tadi.
Namun, di sudut lain, ada seorang teman kerja bernama Dewi. Sejak tadi dia memang memandang Nurlia dengan tatapan iri dan sinis. Dia tidak suka melihat Nurlia diperhatikan banyak orang, dan dia juga merasa senang saat melihat Nurlia dimarahi pelanggan tadi.
Dewi membawa nampan berisi gelas-gelas bekas minuman pelanggan yang sudah kosong, sisa-sisa air teh dan es batu masih ada di dalamnya, lengkap dengan bekas lipstik dan tentu saja bekas air liur orang yang meminumnya.
Dengan sengaja, dia berjalan mendekati Nurlia yang sedang berdiri mematung sambil menatap lantai.
"Eh, maaf... nggak sengaja!" teriak Dewi dengan nada yang sama sekali tidak terdengar menyesal.
BYURRR!!!
Dewi "tidak sengaja" menyenggol bahu Nurlia, dan seluruh isi gelas bekas minuman itu tumpah ruah tepat ke atas kepala dan rambut panjang Nurlia.
Air teh yang keruh, sisa-sisa gula, dan es batu berceceran membasahi seluruh kepala dan punggung Nurlia. Bau anyir dan manis bercampur menjadi satu. Rambut indah Nurlia yang biasanya rapi kini basah kuyup, kotor, dan berantakan.
Nurlia terpaku. Dia tidak bergerak, tidak berteriak, tidak juga menangis. Tubuhnya kaku, rasanya campur aduk antara jijik, marah, dan kelelahan yang luar biasa.
"Ya Allah! Dewi! Kamu itu ngapain sih?!"
Rina dan Sari langsung meledak. Mereka mendorong tubuh Dewi dengan kesal.
"Lihat tuh! Rambut Lia basah kuyup kena air bekas minum orang! Kamu sadar nggak sih itu jijik banget?!" marah Sari sambil mengambil tisu dan lap untuk membersihkan Nurlia.
"Iya nih! Kalau jalan ngeliat pakai mata dong! Jelas-jelas Lia berdiri di sini kok disenggol sengaja! Kamu itu dendam ya sama Lia?!" bentak Rina tidak terima, matanya menatap tajam ke arah Dewi.
Dewi hanya mengangkat bahu acuh tak acuh, wajahnya memasang ekspresi paling tidak bersalah yang bisa dia buat.
"Yaelah, apasih heboh banget. Kan aku bilang aku nggak sengaja. Lantai kan licin, aku terpeleset dikit. Emang salahku apa?" jawabnya santai padahal matanya menyimpan rasa puas melihat Nurlia kotor dan menderita. "Lagian juga cuman air teh doang, kan bisa dicuci lagi."
"Bukan soal air teh atau apa! Itu air bekas ludah orang banyak! Jijik tau nggak! Kamu itu jahat banget sih asli!" Sari semakin emosi.
Di tengah keributan dan kemarahan teman-temannya itu, Nurlia hanya diam.
Dia tidak melawan. Dia tidak membalas. Dia bahkan tidak menatap Dewi. Matanya kosong, menatap lantai keramik yang dingin. Air bekas minuman itu menetes dari ujung rambutnya ke lantai, seolah ikut menangis bersamanya.
Hatinya terasa sangat perih. Sudah habis kesabarannya melawan pelanggan kasar, sekarang dikhianati dan dipermalukan oleh teman sendiri. Rasanya ingin pulang, rasanya ingin berhenti saja menjadi orang baik. Tapi dia ingat Adelia, dia ingat tagihan listrik, dia ingat masa depan.
"Udah Rin, Sar... udahin aja..." suara Nurlia bergetar pelan, sangat pelan. "Aku nggak apa-apa. Aku ke kamar mandi dulu ya..."
Dengan langkah gontai dan kepala tertunduk dalam, Nurlia berjalan menyusuri lorong sempit menuju kamar mandi karyawan yang terletak di bagian paling belakang restoran. Air bekas minuman itu masih menetes-netes dari ujung rambutnya, membuat bajunya ikut basah dan lengket. Rasanya sangat tidak nyaman dan ingin segera membersihkan diri.
Saat hendak mendorong pintu kamar mandi, dia berpapasan dengan Riski, salah satu teman kerjanya yang laki-laki. Riski bekerja sebagai waiter juga, pria yang biasanya terlihat pendiam tapi sering kali memandang Nurlia dengan tatapan yang sulit diartikan.
Melihat penampilan Nurlia yang berantakan, wajahnya pucat, dan rambutnya basah kuyup dengan sisa-sisa teh, Riski langsung terlihat kaget dan khawatir.
"Lia..., kamu kenapa? Kok basah dan berantakan gini?" tanya Riski sambil melangkah mendekat, tangannya terangkat seolah ingin menyentuh bahu Nurlia tapi urung. "Wajahmu juga basah... kamu nangis ya?"
Nurlia hanya menggelengkan kepala. Mulutnya terasa berat untuk bicara. Dia tidak punya tenaga lagi untuk menceritakan semua kesialan yang menimpanya hari ini. Tanpa menjawab sepatah kata pun, Nurlia langsung mendorong pintu dan masuk ke dalam.
Kamar mandi di tempat ini memang dibuat satu ruangan besar untuk karyawan, namun ada sekat atau pembatas area cuci muka dan toilet. Jadi laki-laki dan perempuan bisa masuk bersama asalkan tetap menjaga batas dan sopan santun.
Nurlia langsung berjalan menuju wastafel, memutar keran air dingin dengan kencang. Seketika air mengalir deras membasahi wajahnya dan membasahi rambutnya, berusaha menghilangkan rasa kotor dan jijik yang menempel di kulit kepalanya.
Namun, yang tidak disangkanya, Riski ternyata ikut masuk ke dalam dan menutup pintu kamar mandi kembali dari dalam.
Klik.
Suara pintu terkunci terdengar jelas, membuat suasana di dalam ruangan itu seketika menjadi sunyi.
"Kamu kenapa sih, Lia? Jangan diam aja dong..." suara Riski terdengar lirih tapi juga terdengar aneh, tidak seperti nada khawatir biasa.
Nurlia tidak menoleh, dia terus mengucek rambutnya dengan kasar menggunakan sabun cuci tangan yang ada di sana, berusaha membersihkan sisa-sisa kotoran. "Keluar dulu ya, Ris. Aku mau bersih-bersih. Nanti kalau udah selesai baru ngobrol," ucap Nurlia lemas.
Tapi Riski tidak bergerak. Malah sebaliknya, dia semakin mendekat. Langkah kakinya pelan namun pasti, hingga kini punggung Nurlia bisa merasakan aura tubuh pria itu yang sangat dekat.
"Ah, udahlah... capek kan kerja? Sini aku temenin," bisik Riski tepat di telinga Nurlia.
Sebelum Nurlia sempat bereaksi atau berbalik menolak, tangan kekar Riski tiba-tiba mencekal kedua lengan Nurlia dengan kuat. Dengan gerakan cepat dan kasar, Riski memutar tubuh Nurlia hingga berhadapan dengannya.
"Riski! Ngapain sih?! Lepasin! Aku mau keluar!" Nurlia kaget setengah mati, berusaha mendorong dada pria itu sekuat tenaga.
Namun Riski tidak melepaskan. Matanya memandang wajah Nurlia dengan tatapan lapar dan penuh nafsu.
"Cantik banget sih kamu, Lia... dari dulu aku suka sama kamu. Lihat, basah gini malah makin menggoda..." gumam Riski parau.
Dan tanpa peringatan apa pun, Riski mendekatkan wajahnya. Dia mencium bibir Nurlia dengan paksa!
Mmmph!!
Nurlia mematung kaget. Rasanya seperti disambar petir. Bibirnya disorot dengan kasar, lidah Riski bahkan berusaha masuk dengan liar. Nurlia merasa mual, merasa kotor, dan sangat marah!
"AKH!! LEPASIN!! JAHAT!!"
Dengan tenaga yang tersisa, Nurlia mendorong dada Riski sekuat tenaga hingga pria itu tersentak mundur beberapa langkah karena kaget.
Nurlia gemetar hebat, tangannya menutup mulutnya yang baru saja dicuri ciuman itu, matanya memancarkan api kemarahan dan rasa jijik yang luar biasa.
"GILA YA KAMU, RISKI?! AKU KIRA KAMU TEMEN, TAUNYA KAMU JAHAT BEGITU?!BERANI-BERANINYA KAMU!" teriak Nurlia dengan suara pecah, air mata akhirnya tumpah deras. "KAMU KIRA AKU INI WANITA GAMPANGAN YA?! DASAR COWOK MESUM!"
Riski masih berdiri mematung, sedikit tersadar dari aksinya barusan, wajahnya terlihat gugup. "Eh Lia, aku... aku cuma sayang sama kamu, aku nggak tahan lihat kamu cantik gini..."
"CIH!! SAYANG APA NAFSU?! JANGAN DEKET-DEKET!" Nurlia tidak mau mendengar alasan apa pun lagi. Dia merasa dunianya runtuh hari ini. Dihina pelanggan, dikerjain teman, dan sekarang dilecehkan di tempat sendiri.
Tanpa menunggu lama, Nurlia langsung berlari menuju pintu, membukanya dengan kasar, dan lari sekencang-kencangnya keluar dari kamar mandi itu, meninggalkan Riski yang sendirian di dalam dengan perasaan campur aduk. Nurlia merasa hari ini adalah hari terburuknya selama berkerja di restoran Pak Hartono.