Vero terjebak dalam Time Loop. Dia adalah satu-satunya orang yang mengingat ledakan itu. Dia harus menemukan pelakunya, menjinakkan bom, dan menyelamatkan seisi kota Jakarta. Namun, takdir memiliki aturan main yang kejam: Setiap kali Vero gagal dan mati, waktu yang dimilikinya berkurang satu menit.
Loop pertama: 60 menit.
Loop kedua: 59 menit.
Loop ketiga: 58 menit.
Dengan waktu yang terus tergerus, Vero dipaksa belajar menjadi detektif, tentara, dan penyusup dalam hitungan jam yang berulang. Di tengah kepanikan massal dan teror psikologis, dia menyadari satu hal mengerikan: Pelakunya mungkin bukan orang asing, dan ledakan ini hanyalah permulaan.
Ketika hitungan mundur mendekati nol, Vero tak hanya bertaruh nyawa—dia bertaruh pada keberadaan itu sendiri.
Bisakah dia menghentikan kiamat kecil ini sebelum waktunya habis total?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: KODE OMEGA
07:13:05
Vero tidak berlari kali ini. Dia meluncur.
Dia bergerak dengan fluiditas air, menghindari bahu penumpang, melompati tas yang menghalangi jalan, dan mendarat tepat di kursi kosong di samping Sarah.
Sebelum Sarah sempat menoleh, Vero sudah menahan tangan wanita itu yang hendak membuka laptop.
"Jangan buka email dari Redaksi," kata Vero cepat, suaranya rendah dan mendesak. "Jangan angkat telepon bosmu. Dan jangan tanya aku siapa. Kita sudah melewati fase perkenalan dua belas kali."
Sarah ternganga, menarik tangannya. "Kau—"
"Triad Industries," potong Vero. "Tulis itu. Triad Industries. Project Omega. Unit 02-Alpha."
Mata Sarah menyipit mendengar nama-nama itu. Insting jurnalisnya bereaksi lebih cepat daripada kebingungannya. Nama-nama itu terdengar spesifik. Terdengar berbahaya.
"Itu nama perusahaan?" tanya Sarah, tangannya melayang di atas keyboard.
"Kontraktor militer swasta," jelas Vero. "Mereka menaruh satu kontainer penuh bom kimia dan C-4 di kereta kargo yang berjalan di sebelah kita. Ada tentara bayaran elit di sana. Ada sensor biometrik. Aku baru saja mati karena gas saraf mereka."
Vero menatap Sarah lurus-lurus. "Aku tidak bisa menjinakkannya dengan tangan. Aku butuh kode pembatalan. Aku butuh Kill Code."
Sarah menatap Vero selama tiga detik. Dia melihat keringat di pelipis pria itu, pupil matanya yang mengecil karena trauma, dan urgensi yang tidak dibuat-buat.
Ponsel Sarah bergetar. BOS REDAKSI.
Sarah mematikan panggilan itu tanpa melihat layar.
"Oke," kata Sarah. Jari-jarinya mulai menari di atas keyboard. "Triad Industries. Aku pernah dengar rumornya. Perusahaan hantu yang biasa menangani 'pembersihan' untuk korporasi tambang di Afrika."
Layar laptop Sarah menampilkan baris-baris kode pencarian. Dia tidak menggunakan Google. Dia masuk ke deep web melalui browser Tor yang sudah terpasang di laptop kerjanya.
"Koneksi lambat," keluh Sarah. "Tapi aku masuk ke database bocoran 'Panama Papers' versi lokal yang kami dapat tahun lalu."
Vero menunggu, jantungnya berpacu.
07:15.
"Ketemu," gumam Sarah. Matanya bergerak cepat membaca teks di layar. "Triad Industries memenangkan tender rahasia tiga bulan lalu. Pengadaan sistem keamanan kargo logistik untuk jalur kereta Jawa."
"Mereka yang pasang pengamannya, jadi mereka tahu cara membobolnya," simpul Vero. "Ironis."
"Project Omega..." Sarah mengetik lagi. Wajahnya memucat. "Ini bukan proyek pengamanan. Ini proyek Likuidasi Aset. Deskripsinya: 'Protokol pemusnahan total bukti biologis dalam skenario kompromi'."
"Mereka mau menghilangkan bukti?" tanya Vero. "Bukti apa?"
"Limbah," jawab Sarah, suaranya bergetar. "Ada skandal limbah medis ilegal yang sedang diselidiki Kejaksaan Agung. Limbah itu dikirim lewat kereta kargo. Triad disewa bukan untuk melindungi limbah itu... tapi untuk memusnahkannya beserta saksi mata dan infrastrukturnya, seolah-olah itu kecelakaan teroris."
Vero mengepalkan tangan. "Jadi ribuan orang di stasiun ini cuma collateral damage? Cuma korban sampingan untuk menutupi kejahatan korporasi?"
"Tepat," kata Sarah. "Dan Unit 02-Alpha yang kau sebut... itu nama kode untuk perangkat pemicunya."
"Bisakah kau meretasnya?" tuntut Vero.
Sarah menggeleng frustrasi. "Tidak dari sini. Server mereka terenkripsi militer tingkat 4. Aku butuh kunci fisik. Atau setidaknya akses ke jaringan internal mereka."
Vero teringat Pria Jaket Hitam di Gerbong 4.
Di loop sebelumnya, pria itu bilang dia punya pemicu manual untuk bom kecilnya. Tapi bagaimana dia berkomunikasi dengan tim di kereta kargo? Bagaimana dia tahu kapan harus meledak?
"Pelaku di Gerbong 4," kata Vero. "Dia pasti punya alat komunikasi. Dia koordinator lapangannya."
"Kalau dia punya device yang terhubung ke jaringan Triad..." Sarah berpikir cepat. "Dan kalau aku bisa menyambungkan device itu ke laptopku..."
"...kau bisa masuk ke sistem mereka dan membatalkan hitungan mundur di kereta sebelah?" sambung Vero.
"Mungkin. Peluangnya 60%," kata Sarah. "Tapi aku butuh device itu utuh. Jangan dirusak."
Vero melihat jam tangannya.
07:17.
"Aku akan mengambilnya," kata Vero. "Siapkan kabel datamu. Siapkan program peretasmu."
Vero bangkit. Kali ini, misinya bukan membunuh. Misinya adalah mencuri.
Dan mencuri dari seorang teroris paranoid jauh lebih sulit daripada membunuhnya.
Vero berjalan cepat ke Gerbong 4. Dia tidak mengambil gunting dari ibu perajut. Dia tidak butuh senjata tajam yang bisa merusak gadget. Dia butuh tangan kosong.
Dia melihat Pria Jaket Hitam itu.
Vero menarik napas panjang, mengubah postur tubuhnya. Dia membungkukkan bahu, memasang wajah panik, dan berlari kecil ke arah pria itu sambil berteriak.
"Tolong! Ada copet! Tolong!"
Vero menabrakkan dirinya ke Pria Jaket Hitam itu, seolah-olah dia korban yang sedang lari ketakutan.
"Woy! Hati-hati!" bentak pria itu, kaget.
Vero memeluk pria itu, menahan tangannya agar tidak bisa mengambil pisau atau pemicu.
"Tolong Pak! Di belakang ada orang gila bawa pisau!" Vero berbohong, menciptakan kekacauan.
Sambil meracau, tangan Vero yang terlatih (setelah 13 kali loop) meraba saku-saku jaket pria itu dengan kecepatan pesulap.
Saku kanan luar: Pemicu bom kecil (abaikan).
Saku kiri dalam: Pisau (abaikan).
Saku dada kiri: Ponsel.
Ini dia.
Sebuah smartphone tebal dengan casing militer yang kokoh.
Vero menarik ponsel itu keluar.
Pria Jaket Hitam itu menyadarinya. "HEI!"
Pria itu mencoba menendang, tapi Vero sudah melepaskan pelukan dan melompat mundur.
"Dapat," seringai Vero.
"KEMBALIKAN!" Pria Jaket Hitam itu melupakan bomnya sejenak. Ponsel itu jelas sangat penting. Dia mencabut pisaunya, tidak peduli lagi dengan penyamaran.
"TERORIS!" teriak Vero sambil menunjuk pisau di tangan pria itu, membalikkan situasi agar penumpang lain memihaknya. "DIA BAWA PISAU!"
Penumpang menjerit dan mundur, menciptakan barikade manusia antara Vero dan si pelaku.
Vero memanfaatkan kekacauan itu untuk lari kembali ke Gerbong 2.
"Sarah! Tangkap!"
Vero melempar ponsel militer itu ke arah Sarah.
Sarah menangkapnya dengan sigap. Dia langsung menghubungkan ponsel itu ke laptopnya menggunakan kabel USB-C yang sudah dia siapkan.
"Tahan dia!" teriak Sarah tanpa melihat ke atas, jari-jarinya langsung mengetik perintah di terminal laptop.
Vero berbalik. Pria Jaket Hitam itu datang menerobos kerumunan dengan mata nyalang dan pisau terhunus.
"MATI KAU!"
Vero tidak punya senjata. Dia hanya punya tangan kosong dan kemarahan.
Dia menyambar sebuah tas ransel berat milik penumpang yang sedang tidur.
Saat pria itu menusuk, Vero mengayunkan tas itu sebagai tameng.
Bruk! Pisau menancap di tas.
Vero menendang perut pria itu.
Pria itu mundur, tapi segera maju lagi, mencabut pisaunya dari tas. Gerakannya terlatih. Dia bukan preman pasar; dia kombatan.
"Berapa lama lagi?!" teriak Vero sambil menghindar dari sabetan yang nyaris memotong lehernya.
"Enkripsinya gila!" balas Sarah, matanya terpaku pada layar. "Aku butuh sidik jarinya! Ponsel ini terkunci biometrik!"
"Sialan," umpat Vero.
Dia harus membawa jempol pria itu ke laptop Sarah.
Atau membawa laptop Sarah ke jempol pria itu.
"Menjauh darinya!" Vero berteriak pada penumpang lain.
Dia membiarkan pria itu menyudutkannya ke arah kursi Sarah. Ini pertaruhan nyawa.
Pria Jaket Hitam itu menerjang, pisaunya mengarah ke jantung Vero.
Vero menangkap pergelangan tangan pria itu dengan kedua tangan. Pisau itu berhenti lima sentimeter dari dadanya.
Mereka beradu kekuatan. Otot-otot Vero bergetar hebat. Pria itu jauh lebih kuat secara fisik.
Ujung pisau perlahan turun, mendekati kulit.
"Sarah! Sekarang!" teriak Vero.
Sarah mengerti. Dia tidak menunggu Vero melumpuhkan pria itu. Dia bangkit, membawa ponsel yang terhubung kabel ke laptopnya, dan menempelkan sensor sidik jari ponsel itu ke jempol si Pria Jaket Hitam yang sedang sibuk mencengkeram kerah baju Vero.
Pria itu kaget, mencoba menarik tangannya, tapi Vero menahannya sekuat tenaga.
Bip.
Layar ponsel menyala hijau.
ACCESS GRANTED.
"Masuk!" teriak Sarah. Dia melompat mundur, kembali ke kursinya.
Pria Jaket Hitam itu menyadari kesalahannya. Dia meraung marah, melepaskan Vero, dan berbalik hendak menyerang Sarah.
"Jangan sentuh dia!" Vero melompat ke punggung pria itu, memiting lehernya dengan teknik Rear Naked Choke.
"Cari Project Omega!" teriak Vero sambil mengeratkan pitingan. Pria itu meronta liar, menyikut rusuk Vero berkali-kali. Krak. Vero merasakan tulang rusuknya retak, tapi dia tidak melepaskan.
Sarah mengetik dengan kecepatan dewa.
"Aku di dalam! Aku terhubung ke jaringan lokal kereta kargo!"
Layar laptop Sarah menampilkan antarmuka yang sama dengan yang dilihat Vero di dalam kontainer di loop sebelumnya.
T-MINUS: 00:30:45 (Waktu sinkron).
"Matikan! Matikan!" teriak Vero.
"Aku mencoba!" Sarah menekan tombol Override.
Layar laptop berkedip merah.
ERROR. HARDWARE LOCK ENGAGED.
MANUAL RESET REQUIRED ON UNIT 02-ALPHA.
Sarah menatap layar dengan putus asa. "Vero... aku tidak bisa mematikannya dari sini."
"Apa?!"
"Sistemnya dikunci secara fisik (Hardware Lock). Seseorang di sana mengaktifkan mode manual. Kita bisa membatalkan kodenya lewat komputer, TAPI tombol reset fisik di mesinnya harus ditekan bersamaan."
Vero masih bergulat dengan Pria Jaket Hitam yang mulai lemas karena kehabisan oksigen.
Jadi, tidak ada jalan pintas total.
Dia butuh Sarah di sini untuk meretas kodenya.
Dan dia butuh dirinya sendiri di sana untuk menekan tombol.
Kerjasama real-time.
Satu di kereta komuter. Satu di kereta kargo.
Vero mematahkan leher Pria Jaket Hitam itu dengan satu sentakan keras. Kejam, tapi perlu. Pria itu terkulai tak bernyawa.
Vero menjatuhkan mayat itu ke lantai. Napasnya tersengal. Rusuknya sakit luar biasa.
"Dengar," kata Vero pada Sarah, sambil menatap mata wanita itu dalam-dalam. "Di loop berikutnya..."
"...kau harus ke kereta sebelah," sambung Sarah, wajahnya muram. "Dan aku harus tetap di sini, melawan orang ini, mengambil ponselnya, dan meretasnya sendirian."
Vero mengangguk.
Itu tugas yang berat untuk Sarah. Sarah harus melawan pembunuh terlatih sendirian, sementara Vero menghadapi pasukan elit di kereta sebelah.
"Kau bisa melakukannya?" tanya Vero.
Sarah menatap mayat di lantai, lalu menatap pistol yang terselip di pinggang mayat itu. Dia mengambil pistol itu. Tangannya gemetar, tapi dia memegangnya dengan benar.
"Ajari aku," kata Sarah. "Ajari aku cara membunuhnya dalam 10 detik."
Vero tersenyum bangga, sekaligus sedih.
"Oke. Lihat jam. Kita punya waktu 10 menit sebelum kita meledak. Aku akan mengajarimu cara menggunakan Glock 19 dan cara melumpuhkan orang yang lebih besar darimu."
"Lalu?"
"Lalu kita mati. Dan kita mulai perang yang sebenarnya di jam 7 nanti."
Vero mulai melatih Sarah di sisa waktu yang ada. Dia tahu loop ini sudah gagal, tapi ini adalah investasi untuk kemenangan di masa depan.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
about a time,project almanac ,edge of tomorrow,the butterfly effect,until dawn dsb...time loop sendiri didunia nyata mustahil terjadi ..🤔🤔🤔