NovelToon NovelToon
DIAMNYA MENJAHIT LUKA YANG PERNAH MEREKA ROBEK

DIAMNYA MENJAHIT LUKA YANG PERNAH MEREKA ROBEK

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:571
Nilai: 5
Nama Author: Rienza27

SINOPSIS

Gretta Alesia Nobara, 18 tahun, pindah ke SMA Binara 2 untuk melarikan diri dari trauma perundungan di sekolah lama. Ia mengubah penampilannya agar lebih percaya diri dan bertekad memulai hidup baru dengan fokus pada pelajaran.
.
Gian Leminzo cowok pemalas di kelas bahkan sering tidur saat guru menerangkan, di snagat tampan dan di sukai banyak cewe tapi dia selalu menghiraukan cewek-cewek yang mendekatinya.

Namun pertemuan Gretta dengan Gian menjadi sebuah hal yang tidak terduga di antara keduanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 UKS

Gretta yang sudah tidak kuat menahan rasa pusing dan trauma visual dari warna merah di tangannya, perlahan menutup mata. Tubuhnya terkulai lemas. Mengetahui Gretta pingsan, Gian tidak berpikir dua kali. Tanpa permisi, ia langsung merengkuh tubuh Gretta, menggendongnya, lalu berlari sekencang mungkin menuju ruang UKS.

Mata teman-temannya sekelas tidak berhenti berkedip, memandang kepergian Gian dengan mulut menganga. Mereka benar-benar syok melihat cowok sedingin es batu itu tiba-tiba bisa menunjukkan rasa khawatir yang begitu besar. Biasanya, kalau ada kejadian serupa, Gian paling hanya akan melirik sekilas lalu pergi ke kantin membeli minuman.

Sesampainya di ruang UKS yang bernuansa putih dan berbau minyak kayu putih, Gian langsung mendobrak pintu dengan bahunya.

"Ibu! Tolong!" panggil Gian ketus tapi penuh desakan pada penjaga UKS yang sedang merapikan obat.

 "Tolong periksa dia sekarang." Setelah itu, dengan hati-hati Gian membaringkan tubuh Gretta di atas ranjang UKS.

"Astaga, ada apa ini? Kenapa bisa sampai pingsan?" tanya petugas UKS, seorang perawat sekolah berwajah ramah, terkejut melihat noda merah di dahi Gretta.

"Kepalanya terbentur bola voli pas saya smash," jawab Gian, mencoba mengembalikan nada suaranya menjadi santai walau napasnya masih memburu karena berlari.

Perawat itu segera mengambil kotak pertolongan pertama, dengan cekatan memeriksa kondisi Gretta, membersihkan luka kecil di dahinya, lalu menempelkan plester bermotif kartun kelinci untuk menutupi luka tersebut.

Gian yang masih mengenakan baju olahraga abu-abu yang basah oleh keringat, memilih berdiri di sudut ruangan. Matanya tidak lepas memperhatikan wajah Gretta yang terbaring lemas dengan napas yang mulai teratur.

Beberapa menit berlalu, pintu UKS terbuka kasar. Ruby dan Nana masuk dengan napas ngos-ngosan, disusul oleh Pak Dodo dan Reo di belakang mereka. Tepat saat itu, kelopak mata Gretta bergerak pelan. Ia akhirnya terbangun, mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya lampu.

"Grettta! Kamu sudah bangun?!" ucap Ruby dan Nana berbarengan. Mereka berdua yang duduk disampingnya langsung memeluk tubuh Gretta yang masih lemas di atas kasur.

"Aduh... pelan-pelan, Na, By... kepalaku masih agak muter," ringis Gretta pelan.

Pak Dodo melangkah mendekat, lalu menatap Gian yang berdiri di pojokan. TAK! Pak Dodo menjitak kepala Gian pelan dengan ujung jarinya. "Kamu ini, Gian. Lain kali kalau main bola jangan membanting terlalu kuat! Ini lapangan sekolah, bukan ajang olimpiade internasional!"

"Iya, Pak, maaf," ujar Gian sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal, menerima pasrah jitakan sang guru.

"Sekarang, minta maaf yang benar pada Gretta sana," perintah Pak Dodo tegas.

Gian melangkah mendekati ranjang. Ia melirik Gretta dengan pandangan yang kembali dingin, seolah-olah rasa panik luar biasa yang diperlihatkannya beberapa menit lalu hanyalah halusinasi fiktif. Cowok itu malah diam seribu bahasa.

"Hee, Gian! Buruan minta maaf, jangan bersikap angkuh begitu jadi orang!" bisik Reo gemas sambil menyenggol pinggang Gian dari belakang.

Gian menghela napas panjang, menatap mata Gretta langsung. "Iya, iya. Aku minta maaf ya, Gre. Nggak sengaja."

"Ya... tidak apa-apa kok, Gian. Lagian aku yang kurang fokus tadi," sahut Gretta lemas dengan senyum tipis dipaksakan.

Melihat kondisi sudah kondusif, Pak Dodo berbalik menghadap murid-murid yang lain. "Sudah, sekarang kalian semua yang tidak berkepentingan, silakan kembali ke kelas dan ganti baju olahraga kalian.

 Biarkan Gretta di sini dulu sama petugas UKS untuk istirahat sampai kondisinya benar-benar pulih."

"Udah dulu ya, Gre. Kita masuk kelas duluan buat ganti baju. Nanti pas jam istirahat kami langsung ke sini lagi, sekalian bawain kotak bekal makan siangmu," ujar Nana dan Ruby bergantian sambil mengelus lengan sahabatnya itu.

"Iya Nana, Ruby... makasih banyak ya," pekik Gretta pelan dengan suara serak.

Mereka berempat pun melangkah keluar dari ruang UKS secara beriringan. Namun, sesaat sebelum melintasi ambang pintu, Gian menghentikan langkahnya sebentar. Ia menoleh ke belakang, menatap Gretta dengan dahi berkerut penuh keheranan di dalam benaknya.

Ada satu hal yang mengganjal di pikiran Gian: luka di dahi Gretta itu tergolong luka kecil yang bahkan tidak terlalu dalam. Tapi kenapa hanya karena melihat setitik cairan merah itu, Gretta bisa langsung panik luar biasa hingga pingsan seketika? 'Sebenarnya apa yang ada di pikiran cewek itu?' tanya Gian dalam hati.

Saat menyadari Gretta tiba-tiba membuka mata dan balik melihat ke arahnya, Gian dengan cepat memalingkan pandangannya ke depan. Dengan langkah lebar, ia segera menghilang di balik pintu UKS, meninggalkan UKS.

Bel istirahat berdentang nyaring, memecah keheningan koridor sekolah.Wajahnya yang biasa cerah kini sepucat kertas kalkir. Bau besi dari darah di lapangan tadi benar-benar menjadi pemicu yang kejam, memutar kembali pita rekaman memori lama yang mati-matian ingin ia kubur.

Ruby dan Nona masuk dengan langkah tergesa, membawa kotak bekal berwarna pastel.

"Greee, bangunn!" seru Nona, menepuk-nepuk pundak Gretta pelan.

Gretta mengerjap, memijat pelipisnya yang berdenyut seolah ada palu tak kasat mata di dalam sana. "Iya, Nona..." gumamnya lirih, berusaha menegakkan punggung.

Nona dengan sigap menyodorkan kotak bekalnya. "Nih, makan dulu sedikit. Biar ada tenaga."

Bukannya menerima, Gretta justru kembali memegangi kepalanya yang mendadak berputar hebat. Ruangan UKS seolah bergoyang ke kanan dan ke kiri.

"Gree, kamu masih pusing banget, ya?" tanya Nona, ikut duduk di tepi brankar dengan raut wajah yang kini berubah seratus persen menjadi cemas.

Ruby yang sejak tadi memperhatikan dari sisi lain akhirnya angkat bicara. "Gree, lebih baik kamu pulang saja. Kondisimu beneran nggak memungkinkan buat ikut pelajaran selanjutnya. Biar aku yang minta izin ke Bu Karin."

Gretta menghela napas panjang, menatap kedua sahabatnya dengan mata sayu. "Sepertinya... aku pulang saja, Ruby. Kamu bener. Kepalaku masih pusing banget," pekiknya pelan, meremas ujung seragamnya menahan rasa mual yang tiba-tiba naik ke tenggorokan.

"Oke, tunggu sebentar. Aku ambil tasmu dulu di kelas," ujar Ruby sigap.

Ruby berlari kecil koridor menuju kelas. Di dalam kelas yang mulai sepi karena jam istirahat, ia langsung menuju meja Gretta dan merogoh laci untuk mengambil tas ransel sahabatnya. Gerakan terburu-buru Ruby itu ternyata tak luput dari sepasang mata tajam.

Gian, yang sejak tadi duduk bersandar sambil memutar-mutar ponselnya, langsung menegakkan tubuh. Tanpa mengucap sepatah kata pun, cowok itu berdiri dan melangkah lebar-lebar, mengikuti Ruby dari belakang seperti bayangan. Sementara itu Reo sama sekali tidak menghiraukan gerak-gerik Gian. Ia justru asyik bergosip dengan anak-anak cowok di barisan depan tentang pertandingan bola semalam.

Sesampainya di depan pintu UKS, Ruby langsung melosos masuk. Gian menghentikan langkahnya tepat di samping kusen pintu. Menggunakan postur tubuhnya yang tinggi, ia bersandar di tembok, pura-pura melihat koridor padahal telinganya dipasang tajam-tajam untuk menguping pembicaraan di dalam.

"Ini tasmu, Gree," suara Ruby terdengar samar dari dalam. Nona dengan cepat menyambar tas tersebut, membuka resletingnya untuk menjejalkan kotak bekal ke dalamnya.

"Nanti aku izinkan ke Bu Karin, Gree. Kamu pulang naik apa? Mau kuantar?" tanya Ruby lagi, nadanya sarat akan kekhawatiran seorang sahabat.

"Nggak usah, Ruby. Aku masih bisa jalan sendiri. Makasih ya buat semuanya," sahut Gretta. Dengan sisa-sisa kekuatannya, ia mengayunkan kaki turun dari brankar dan menyampirkan tas ranselnya ke bahu.

"Beneran kamu nggak apa-apa pulang sendiri? Muka kamu itu sudah kayak hantu tahu!" pekik Nona, masih tidak yakin.

Gretta hanya membalas dengan senyum tipis yang dipaksakan. Tak lupa, ia berpamitan dan mengucapkan terima kasih kepada petugas medis UKS yang berjaga, lalu melangkah menuju pintu keluar. Langkah kakinya sedikit tertatih, seolah bumi yang ia pijak tidak rata.

Satu langkah. Dua langkah. Tepat saat jemari Gretta menyentuh gagang pintu, lututnya mendadak lemas seperti jeli. Keseimbangannya hilang total, dan tubuhnya ambruk ke depan.

Gretta memejamkan mata, bersiap merasakan dinginnya lantai koridor. Namun, rasa sakit itu tidak pernah datang. Sebuah lengan kokoh dengan sigap menangkap pinggangnya, menarik tubuh lemasnya dalam satu sentakan cepat hingga masuk ke dalam dekapan hangat.

Gretta membuka mata dengan terkejut. Netranya langsung bertubrukan dengan manik mata hitam milik Gian. Untuk beberapa detik, waktu seolah berhenti berputar. Udara di antara mereka mendadak dipenuhi kecanggungan yang padat. Mereka saling menatap—Gretta dengan keterkejutan yang polos, dan Gian dengan tatapan datarnya yang sulit diartikan.

Di ambang pintu, Ruby dan Nona serempak melotot sempurna. Kedua tangan mereka kompak menutup mulut yang menganga lebar.

1
Miska
semangat terus author, ceritamu keren👍
Nora
ceritanya bagus bnget aku suka
Nora
Ceritanya bagus dan menyentuh hati tapi adegan pertama sungguh kejam , semngat terus author aku menunggu kelanjutannya.💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!